Rabu, 09 Juni 2010

SETIAP ANAK TERLAHIR MENJADI FILOSOF

Anak-anak terlahir menjadi filosof. Perhatikanlah anak-anak. Mereka selalu ingin tahu. Mereka selalu bertanya kenapa, terus mencari alasan, pembenaran, dan pola-pola tertentu. Pencarian mereka tidak kenal batas. Di belakang setiap jawaban, mereka kembali menemukan pertanyaan lain yang akan ditanyakan.
Asal mula filsafat berangkat dari rasa ingin tahu manusia. Menarik sekali bagaimana Jostein Gaarder dalam novelnya Dunia Sophie memadukan karya fiksi dengan pelajaran sejarah filsafat dari perkembangan awalnya di Yunani sampai pemikiran filsafat mutakhir abad duapuluh satu. Dalam novel dengan teknik cerita berbingkai ini, seorang guru filsafat memberikan pelajaran filsafat pada seorang gadis cilik usia belasan dengan berkirim surat secara rahasia. Kata sang guru misterius ini pada si gadis cilik Sophie, “Satu-satunya yang kita butuhkan untuk menjadi filosof yang baik adalah RASA INGIN TAHU“. Inilah yang dipunyai anak semenjak lahir.
Kepekaan akan rasa takjub dan rasa ingin tahu inilah yang dipunyai oleh para filosof dan anak-anak. Tidak butuh waktu yang lama bagaimana mereka bisa menggali dasar-dasar kepercayaan atau keyakinan dan konsep-konsep yang sudah tertanam sebelumnya. Anak-anak melempar pertanyaan-pertanyaan tak terduga pada orang tua mereka yang kedengarannya naif namun berisi, seperti: Siapa yang menciptakan aku? Dulunya aku dimana? Kenapa semesta ini ada? Darimana melakukan ini baik dan itu buruk? Kenapa orang bisa saling bunuh? Kenapa begini, kenapa begitu? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini juga yang diajukan para filosof sepanjang zaman?
Ironisnya, karena kita orang dewasa telah begitu tenggelam dalam rutinitas keseharian pemenuhan segala kebutuhan dunia nyata, kita pun kehilangan rasa takjub dan kagum seperti cara pandang anak-anak memandang diri mereka dan dunia semesta. Padahal rasa takjub dan kagum pada segala sesuatu yang meski kelihatan sederhana adalah dasar dari keyakinan dan pengetahuan tentang Ketuhanan. Rudolf Otto seorang ahli Perbandingan Agama menamakan getar takjub dan kagum ini dengan tremendus et fascinatum.
Kehidupan rata-rata orang dewasa kebanyakan dangkal. Mereka tidak ada perhatian lagi pada hal-hal yang mendasar dalam hidup. Orang dewasa tenggelam dalam rutinitas kehidupan pemenuhan kebutuhan hidup dan menghindari pertanyaan-pertanyaan filosofis dengan alasan tidak praktis dan pragmatis. Lain dengan anak-anak, mereka punya banyak waktu untuk mempertanyakan semua itu. Dengan insting dan imajinasi mereka selalu bertanya dan tanpa didahului oleh konsep-konsep pandangan dunia. Mereka murni dari segala doktrinasi segala macam ide, terbuka pada gambaran dunia yang lebih luas. Lantas, apa reaksi kita saat sang anak mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti di atas? Bagaimana menjawabnya? Sayangnya, ketika filosof cilik ini bertanya, seperti, “Kenapa Big Bang terjadi?” godaan jawaban kita orang dewasa biasanya selalu menipu, atau malu mengakui tidak tahu.
Salah satu cara jawaban menipu yang kita orang dewasa berikan pada si anak adalah karena tujuan pertanyaan semacam ini hanyalah membuang-buang waktu saja. Sang filosof cilik mungkin akan mendapatkan jawaban sekenanya, atau mungkin juga kena damprat seperti: “Ya, memang begitu adanya. Bodoh sekali pertanyaanmu”. Kalau si anak belajar bahwa pertanyaan-pertanyaan filosofis tersebut berujung dengan jawaban yang tidak mengenakkan perasaan si anak, barangkali, bahkan dengan omelan tersebut, tentu si anak akan berhenti bertanya lagi, dan pergi menonton televisi, main Play Station atau berselancar di dunia maya internet.
Cara lain bagaimana kita menipu anak-anak yang mengajukan pertanyaan diatas yaitu dengan menjawabnya dengan lebih serius tapi dengan kepura-puraan bahwa mereka akan menerima jawabannya dengan mudah, dan hanya sampai di situ saja. Indoktrinisasi agama menyediakan penopang paling memadai di sini, bahkan bagi yang tidak punya atau percaya pada agama sekalipun. Darimana asalnya semesta ini? Tuhan lah yang bikin. Kenapa melakukan ini-itu salah? Karena begitulah yang dikatakan Tuhan. Jawaban-jawaban seperti ini mungkin bisa memuaskan anak-anak, untuk sementara waktu, tapi jawaban-jawaban ini kebanyakan tidak memadai lagi. Jawaban seperti ini tidak betul-betul berhubungan dengan misteri kekaguman anak-anak yang mereka selalu ingin cari jawabannya, atau kalau tidak begitu, mereka akan menggantikan misteri tersebut dengan hal lain yang tidak kurang mengagumkan mereka.
            Sebagai contoh, jika si anak bertanya dalam semangat pertanyaan yang rasional tentang asal usul semesta, jawaban yang tersedia diberikan dengan suatu nuansa otoritas bahwa Tuhan lah yang membuat, seakan-akan jawaban itu sudah final. OK, cukup! Kamu tidak boleh lagi bertanya, apalagi kalau pertanyaannya nanti berlanjut dengan – Lalu? Tuhan dari mana asalnya? Kamu sudah berdosa menanyakan hal itu. Bagaimana bisa anak-anak berdosa karena bertanya? Atau, orang dewasa lalu berusaha berbohong atau mengalihkan perhatian si anak dengan menawarkan eskrim rasa vanilla atau coklat. Tidakkah kita orang dewasa di sini sudah seperti mencekik dan membunuh rasa ingin tahu si anak, dengan memberikan jawaban otoritatif agama? Kenapa harus menipu anak-anak? Alasan yang jelas di sini adalah karena kita orang dewasa sendiri tidak tahu jawabannya dan ketidak-pedulian kita bisa menjadi sesuatu yang keras yang kita miliki, khususnya pada anak-anak kita sendiri.
            Alasan selanjutnya adalah pertanyaan filosofis memang susah untuk dipikirkan. Kebanyakan orang dewasa jarang yang tertarik untuk memikirkannya dibanding kebanyakan anak-anak. Tentunya akan berat, susah, bikin sakit kepala bertanya jawab dengan anak-anak kita sendiri. Lalu, kita orang-orang dewasa pun mengakhiri pencarian makna hidup yang sebenarnya.
            Alasan lainnya adalah karena kita menemukan pertanyaan filosofis tidak begitu nyaman untuk dipikirkan. Ini tidak hanya karena ada orang yang menentang kita dengan kefanaan hidup dan kemungkinan ketidak-berartian hidup yang singkat ini. Pertanyaan filosofis bisa juga menimbulkan gangguan syaraf intelektual. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa jadi menyingkapkan bahwa apa yang menjadi dasar pijakan hidup kita – apa yang kita indera dan kelihatan sudah jelas semua – hanyalah ilusi. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa jadi mengungkapkan nantinya bahwa kita tercerabut pada omong kosong intelektual. Kenapa? Karena berpikir secara filosofis adalah mendorong segala daya pikir untuk mencari kebenaran dan arti kehidupan hakiki.
            Apapun alasan kenapa kita menghentikan pertanyaan filosofis anak-anak, TIDAK SEHARUSNYA itu dilakukan, paling tidak dalam jangka waktu lama. Kenapa? Pertama, karena orang yang sudah terkondisi untuk tidak mempertanyakan segala sesuatu, atau yang terjebak dalam penjelasan agama absolut berarti hidup dalam kemiskinan. Itu berarti kita tidak mensyukuri anugerah akal yang diberikan Tuhan pada manusia dengan tidak menggunakannya semaksimal mungkin. Sama saja mereka hidup seperti ikan mas dalam toples kaca yang telah kehilangan indera bahwa diluarnya ada kehidupan tak terbatas, orang yang tidak punya rasa akan misteri yang melingkupi hidupnya di luar kehidupan keseharian mereka. Hidup yang tidak dipikirkan, tidak ada inrospeksi adalah tidak layak dijalani.  
            Kedua, dan yang lebih penting lagi, karena orang yang tak pernah melihat ke belakang, yang hidup tanpa sama sekali melakukan introspeksi, berpikir akan hidup, tidak hanya hidup dangkal, tapi juga sangat mengundang bahaya. Mereka mudah tergelincir jatuh mengambil sikap dan kebiasaan mental tanpa mempertanyakannya dan tidak menguji semua asumsi yang ada disekelilingnya, seperti menjadi pengikut moral sapi. Moral sapi tentu saja bisa melakukan hal yang benar. Tapi mereka tidak melakukannya karena hal itu benar. Mereka melakukannya karena hal itulah yang dilakukan sapi lainnya. Kalau kumpulan sapi lainnya membuka arah akan kemana, apakah akan berkelana menuju daerah kebencian dan permusuhan, moral sapi mengikutinya. Suatu masyarakat dengan moral sapi pastinya sangat membahayakan.
            Ketiga, adanya anggapan umum bahwa keahlian berpikir filosofis tentang pertanyaan mendasar kehidupan bisa membahayakan secara langsung nilai pragmatis dalam hidup. Tapi yang sebenarnya adalah dengan latihan berpikir filosofis akan tercipta keahlian berpikir kritis, tidak hanya menerima pendapat orang lain, mencerna dan menimbang, memformulasikan pernyataan yang tepat, mengikuti jalur berpikir logis atau menjawab sesuatu dengan masuk akal yang sangat berguna dalam menjalani kehidupan. Kemampuan ini dapat menghasilkan imunisasi seumur hidup melawan virus lidah beracun para salesmen, giur iklan di televisi dan rayuan fanatis kelompok  agama.
            Berpikir memaksimalkan kemampuan akal tentang pertanyaan mendasar kehidupan adalah bagian penting dalam hidup. Memang benar, kemampuan akal manusia terbatas, tapi siapa yang tahu dimana batasnya. Malahan, dalam kitab suci Al-Qur’an sendiri banyak sekali ayat yang memerintahkan, mendorong, dan menantang manusia untuk selalu memikirkan segala sesuatu dalam hidup. Karena dengan berpikir dan bertanya lah yang membuat kita sepenuhnya menjadi manusia. Tidak seharusnyalah kita membendung pertanyaan-pertanyaan kritis dan memadamkan rasa ingin tahu anak-anak. Justru kita seharusnya mendorong mereka dengan aktif, menjadi manusia yang mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.
            M. Isran, Instruktur Bahasa Inggris LBPP-LIA 

Postmodernisme – Sebuah Gambaran

Postmodernisme sulit didefenisikan, karena pendefenisian akan melanggar dasar pemikiran postmodern itu sendiri, karena istilah yang pasti, batasan-batasan, atau kebenaran absolut sebenarnya tidak ada. Istilah “posmodernisme” tetap kabur, karena siapa saja yang mengaku orang-orang posmodern punya kepercayaan dan pendapat yang beragam tentang hal ini.

Apakah nasionalisme, politik, agama, dan perang hasil dari mentalitas manusia primitif? Apakah kebenaran hanya sebuah ilusi? Bagaimana bisa Kristianitas mengklaim sebagai yang unggul atau pendikte moral? Daftar pertanyaan prihatin yang senada akan terus bergulir khususnya bagi yang menggeluti filsafat postmodern dan gaya hidup. Bagi beberapa orang, pertanyaan ini berakar dari hilangnya kepercayaan dalam dunia Barat yang korup. Bagi yang lainnya, kebebasan dari otoritas tradisional lah isunya. Perhatian mereka berkisar pada tetap bergantungnya Barat pada moral agama tradisional, nasionalisme, kapitalisme, sistem politik yang tidak masuk akal, serta praktik dan dampak promosi “perdagangan/trade-off” yang tidak bijak dan merugikan antara sumber daya energi dan lingkungan, untuk perolehan ekonomis semata
Bagi posmodernis, gaya hidup masyarakat dunia Barat sudah ketinggalan jaman. Mereka berselubung di bawah birokrasi umum tak berwajah. Posmodernis tanpa henti mengkritik masyarakat modern bahwa masyarakat Barat harus bergerak maju meninggalkan ke-primitif-an pikiran dan praktik tradisional kuno mereka.
Perhatian masyarakat barat, seperti contoh, seringkali berhubungan dengan pembangunan gedung-gedung dan penggunaan senjata penghancur massa, mendorong konsumerisme tanpa batas yang mengakibatkan masyarakat melakukan pembuangan sia-sia dengan mengorbankan sumber daya alam dan lingkungan, sementara itu pada saat yang sama tidak melayani kebutuhan orang banyak dengan adil dan berimbang.

Para Postmodernis percaya bahwa klaim Barat akan kebebasan dan kemakmuran tidak lebih dari janji kosong dan tidak memenuhi kebutuhan kemanusiaan. Mereka percaya bahwa kebenaran adalah relatif dan kebenaran itu terserah pada setiap individu yang menentukannya. Kebanyakan mereka percaya bahwa nasionalisme hanya membangun dinding-dinding, mengundang musuh, dan menghancurkan “Mother Earth”, sementara itu kapitalisme menciptakan jurang pemisah antara masyarakat “yang berpunya dan yang tidak punya”, dan agama mengakibatkan friksi moral dan perpecahan diantara masyarakat.
Posmodernisme mengaku sebagai penerus zaman Pencerahan abad 17. Selama 4 abad, “para pemikir posmodern” telah mempromosikan dan mempertahankan cara Era Baru mengonseptualisasikan dan merasionalisasikan kehidupan demi kemajuan manusia. Para Posmodernis biasanya ateistik atau agnostik namun ada juga yang lebih menyukai ikut pemikiran  dan praktik agama Timur. Banyak juga yang naturalis seperti humanitarian, pakar lingkungan hidup/enviromentalis, dan filosof.
Para postmodernis menantang inti agama dan nilai-nilai kapitalis dunia Barat dan mencari perubahan untuk suatu era baru kebebasan dalam komunitas global. Kebanyakan mereka tinggal di bawah pemerintahan global yang non-politis, tanpa batasan suku atau bangsa dan pemerintahan yang sensitif terhadap persamaan sosioekonomis untuk semua masyarakat.  


            Postmodernisme – Benar atau Salah?
Postmodernis tidak menawarkan pemikiran tentang apa itu benar atau salah, baik atau buruk, kebaikan atau keburukan. Mereka percaya bahwa tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Seorang postmodernis melihat dunia diluar mereka adalah kesalahan, dengan begitu, kebenaran orang lain menjadi tidak mungkin luput dari kesalahan. Jadi, tidak seorang pun yang punya otoritas atas kebenaran, atau memaksakan moral benar atau salah  pada orang lain.
Rasionalisasi diri mereka terhadap semesta dan dunia sekitar membuat mereka menguji diri mereka sendiri atas wahyu ilahi versus relativisme moral. Mereka banyak yang memilih pada naturalisme dan evolusi dibanding Tuhan dan penciptaan.     

            Posmodernisme dan Politik
Postmodernis menentang penindasan masyarakat Barat terhadap persaman hak. Mereka percaya sistem ekonomi kapitalistik tidak menyeimbangkan distribusi barang dan gaji. Ketika segelintir orang kaya semakin makmur, masyarakat lainnya hidup dalam kemiskinan. Postmodernis melihat konstitusi demokrasi sebagai substansi sumber kesalahan, tidak mungkin ditegakkan, dan tidak adil pada prinsipnya.

            Apa karakeristik Postmodernisme?
Kalau pun diurut karakteristik postmodernisme, penting diingat bahwa mereka sama sekali tidak menempatkan filsafat mereka dalam suatu kotak  atau kategori tertentu. Kepercayaan dan praktik mereka lebih bersifat personal daripada yang bisa diidentifikasi dengan bangunan atau kumpulan ketertarikan khusus Prinsip-prinsip dasar postmodernisme adalah sebagai berikut:

  • Tidak ada kebenaran yang absolut – Para pemikir posmo percaya bahwa pemahaman tentang kebenaran adalah rekaan ilusi, disalahgunakan oleh orang dan kelompok masyarakat tertentu untuk meraih kekuasaan di atas orang lain. 
  • Kebenaran dan kesalahan adalah sama – Para pemikir posmo nyatakan bahwa fakta terlalu terbatas untuk menentukan sesuatu. Karena perubahan yang tak menentu, apa yang menjadi fakta kebenaran saat ini bisa menjadi salah besok harinya.   
  • Konseptualisasi dan Rasionalisasi Diri – Logika tradisional dan objektifitas tidak berlaku dalam dunia posmo. Malahan terdapat kecenderungan lebih bergantung pada opini daripada bersandar pada fakta, karena posmodernisme tidak memberlakukan metode ilmiah.
  • Otoritas trasional adalah salah dan rusak – Posmodernis menentang kekakuan moral agama otoritas sekuler. Pemikir posmo melancarkan intelektual revolusioner untuk menyuarakan kekhawatiran mereka tentang kemapanan tradisi.
  • Kepemilikan – Para posmodernis mengklaim bahwa kepemilikan kolektif adalah yang paling memungkinkan untuk melancarkan barang dan jasa.
  • Tipuan modernisme – Posmodernis menyesalkan janji-janji tak terpenuhi sains, teknologi, pemerintah, dan agama.
  • Moralitas adalah masalah personal – Posmodernis percaya bahwa etika adalah relatif, untuk itu, moralitas dikembalikan pada opini individu. Posmodernis mendefinisikan moralitas adalah kode etik tiap-tiap individu tanpa harus mengikuti nilai dan aturan tradisional.
  • Globalisasi – Kebanyakan Posmodernis mengklaim bahwa pembatasan bangsa membawa masalah terhadap komunikasi manusia. Nasionalisme hanya akan mengakibatkan peperangan. Makanya, Posmodernis sering mengusulkan internasionalisme dan penyatuan negara yang terpecah.
  • Semua agama adalah valid – Posmodernis menghargai keimanan inklusif, cenderung pada agama NEW AGE. Mereka tidak menyetujui klaim bahwa Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan.
  • Etika Liberal – Posmodernis mendukung perjuangan gerakan feminisme dan homoseksual.
  • Pro-Gerakan Lingkungan Hidup – Mereka mendukung “Mother Earth,” dan menyalahkan masyarakat Barat atas kerusakan Bumi.
(Dari berbagai sumber wacana Posmodernisme)