Minggu, 31 Januari 2010

TENTANG MEMAAFKAN DAN RASA BERSALAH DALAM FILM “THE READER”


Bayangkan, kalau Anda bisa, anak-cucu pasukan khusus S.S Nazi bercerita dari sudut pandang mereka. Anak keturunan para pengikut penjahat perang sistematis ala Nazi, seperti yang tergambar dalam film Schlinder Lists, meminta dunia untuk memaafkan dan mengasihani orang tua mereka yang berpartisipasi dalam dehumanisasi (genocide) pembunuhan massal ribuan orang Yahudi di Eropa selama masa Perang Dunia ke 2.
Itulah inti dari film The Reader. Bagi para survivor, orang Yahudi yang selamat dari perisiwa tidak masuk akal (absurd) ini, tentu tidak pernah bisa melupakan dan memaafkannya begitu saja. Namun, bagi generasi Yahudi diaspora pertama setelah Perang Dunia ke-2 dan seterusnya peristiwa tragis yang menimpa orang tua mereka ini tidak begitu terikat lagi. Keterikatan mereka hanya karena mereka menyandang nama Yahudi dari orang tua mereka. Film The Reader pun hadir dengan latar kekejaman Holocaust yang dipilin dengan adegan menyentuh emosi yang membuat air mata tanpa sadar menetes menaruh rasa iba pada bekas penjaga camp tahanan Yahudi. Maka terbaliklah stereotip film-film dengan tema kekejaman Nazi terhadap Yahudi (Holocaust).
Lima Nominasi Oscar 2008 termasuk kategori The Best Picture akhirnya diraih film ini. Kesuksesan film ini menyiratkan bahwa kebanyakan penonton hanyut terbawa emosi dan menaruh rasa kasihan terhadap si penjaga camp tahanan yang tidak tahu apa yang sebenarnya yang telah ia lakukan. Inilah yang membuat cerita dalam film ini menarik, menjadi titik balik dalam budaya populer, sebagai suatu permulaan untuk memaafkan kalau bukan mengampuni rasa salah kolektif pemerintahan Nazi pimpinan Hitler Jerman.
The Reader dibintangi oleh Kate Winslet sebagai Hanna Scmitz dan Ralph Fiennes sebagai Michael Berg, kekasih masa remaja Hanna, dan juga sebagai pencerita dalam film ini. Penampilan mereka luar biasa menjiwai, meski Ralph Fiennes kelihatan lebih bagus bermain dalam The English Patient, The End of the Affair, atau The Constant Gardener. Tapi Winslet berperan sangat orisinil, sangat matang, berkarakter mengagumkan, melebihi perannya dalam Titanic. Apalagi film ini disutradarai Stephen Daldry yang juga meraih Nominasi The Best Director.
Ide cerita dalam film ini mengangkat kasus hukuman penjahat perang, dengan memasukkan elemen emosi dan mental untuk menemukan rasa kebersalahan. Skenario film bergerak bukan saja dengan cara menghadirkan latihan bagaimana memecahkan masalah pelik dalam kasus hukum dan proses pengadilan. Yang menarik lagi secara psikologi adalah film ini memasukkan teknik Bildungsroman. Cara bercerita ini biasanya terdapat dalam novel (karena memang film ini diangkat dari novel seorang penulis yang juga profesor dalam bidan hukum), tentang masa kehidupan proses pendewasaan seorang remaja, tahun-tahun masa pembentukan menjadi dewasa, secara seksual, mental dan cara pikir. Dengan teknik kilas balik (flashback), berceritalah tokoh Michael dewasa pada putrinya, kembali ke 1958 saat ia bertemu Hanna, seorang perempuan Jerman misterius berumur dua kali Michael, yang dengannya lah Michael terlibat dalam hubungan asmara yang mendalam.
Michael remaja, anak seorang profesor filsafat, adalah seorang siswa yang sering kikuk tapi sangat pintar. Hanna berasal dari keluarga petani, dan ia buta huruf. Pada umur 16, Hanna ke Berlin bekerja di pabrik, umur 21 ia ikut ketentaraan, dan pada masa-masa akhir perang dunia ke-2 ia bekerja diberbagai tempat. Saat Michael bertemu dengan Hanna, ia bekerja sebagai kondektur kereta api. Karena Michael menderita hepatitis, saat pulang dari sekolah ia muntah-muntah di gang kecil dekat apartemen Hanna. Hanna menolongnya dan membersihkan bekas muntah Michael di gang tersebut. Dua minggu kemudian, Michael menghaturkan terima kasih pada Hanna dengan membawa bunga ke apartemen Hanna. Di sinilah, Michael mulai merasa tertarik secara seksual pada Hanna, yang buat Hanna sendiri, ia terima, bahkan di sini malah Hanna yang memamfaatkan Michael.
Hanna mengerti dengan Michael sebagai remaja yang baru memasuki dunia orang dewasa, dan bisa dikatakan bahwa pada Hanna lah Michael “belajar secara praktik” tentang hubungan seksual. Rentetan hubungan ini tidak hanya sebagai suatu kesenangan biologis buat mereka, khususnya Hanna. Meski kelihatan Hanna tidak berpendidikan dan tidak bisa membaca (yang saat itu Michael remaja belum sadari), tapi ia punya selera rasa sastra yang tinggi. Sebelum atau sesudah mereka berhubungan seks, Hanna selalu meminta Michael membacakan karya sastra terkenal dunia seperti War and Peace-nya Tolstoy, Homerus, Goethe, dan banyak lagi. Dari mendengar bacaan sastra ini, Hanna mendapat pelajaran, bahwa, salah satu nilai utama dalam sastra adalah dengan menyatakan kebenaran tentang keadaan manusia.
Sulit dipercaya bagaimana karakter Hanna yang begitu murni, naif, halus sensitif, “membumi”, ternyata bekas penjaga camp tahanan Yahudi selama perang dunia kedua. Michael yang telah begitu terlanjur menyukai Hanna sangat terpukul sekaligus tidak bisa melupakan Hanna. Sebagai siswa yang mendalami bidang hukum, disinilah pertentangan batin Michael muncul. Hanna menyadari hal itu, dan ia pun menghilang meninggalkan Michael. Dampak menghindarnya Hanna dari Michael sangat besar dalam diri Michael.
Di satu sisi, hubungan intens yang telah mereka jalani meninggalkan bekas dan lubang kelam dalam diri Michael. Di sisi lainnya, Michael juga menyadari Hanna adalah bekas penjaga camp Auscwitz yang membunuh ribuan Yahudi, yang mencoreng muka Michael karena rasa malu. Setelah menyaksikan sendiri pengadilan bekas penjaga Auswich termasuk Hanna, akhirnya Michael malah memaafkan apa yang telah dilakukan Hanna, karena Michael yakin Hanna tidak pernah bermaksud membunuh mereka. Hanna hanya terjebak dalam situasi sistematis yang ia tidak bisa hindari. Inilah kesimpulan yang Michael ambil setelah Hanna diadili di pengadilan penjahat perang dan dihukum penjara selama tiga puluh tahun.
Jerman terkenal dengan nama Fatherland, tanah air Jerman yang patriarkat. Negeri yang dikuasai dan diperintah oleh kekuasaan Rejim Reich ini meninggalkan rasa bersalah dan dosa besar selama Perang Dunia Kedua. Hanna adalah simbol dari Jerman Motherland, tanah air, ibu pertiwi yang mendapatkan warisan rasa bersalah dan dosa besar pemerintahan Hitler. Hanna, si ibu pertiwi Jerman menjadi korban yang harus ia pertanggungjawabkan atas dosa penguasa Fatherland. Michael adalah anak generasi paska-perang yang butuh memberi maaf pada orang tua mereka. Karena, akankah mereka terus menolak memaafkan sedangkan mereka tetap terikat dengan darah orang tua mereka? Inilah yang dituju dalam film The Reader, memaafkan ibu pertiwi Jerman, dan tentunya bagi yang tidak bisa memaafkan, film ini tentu sangat pahit untuk ditelan.
Hanna seorang perempuan tangguh dengan integritas tinggi pada pekerjaannya. Ketika di pengadilan ia disuruh menceritakan kenapa ia melakukan pekerjaannya, Hanna menjawab: “Lalu suara teriak pedih terdengar semakin menyakitkan. Kalau kami buka pintu itu mereka semua pasti berhamburan keluar…..kami tentu tidak bisa melanggar aturan?...kami tentu tidak bisa saja membiarkan mereka kabur!..”Kita bisa menilai Hanna bahwa ia sangat dedikasi terhadap pekerjaannya, lebih mematuhi aturan daripada kepeduliannya terhadap kemanusiaan. Tindakannya adalah ketidakpedulian moral yang tertekan oleh kepatuhan total suatu aturan yang absurd tak manusiawi.
Penampilan Winslet meyakinkan kita bahwa Hanna masih tidak tahu kalau yang telah dilakukannya saat menjadi penjaga camp tahanan adalah kesalahan. Bertahun kemudian saat Hanna di dalam penjara, ketika ia telah bisa membaca dan menulis, barulah ia menyadari dan mengerti tentang kejahatan Holocaust dan perannya saat itu. Menarik sekali bagaimana usaha Michael untuk menghibur dan menemani Hanna dalam penjara. Michael membaca karya-karya sastra dunia, merekam dan mengirimkan rekaman itu ke Hanna, sampai akhirnya Hanna tergerak untuk belajar membaca dan menulis sendiri.
Di penghujung tiga puluh tahun masa akhir tahanan Hanna, Michael menemui Hanna dan Hanna meminta memberikan tabungannya pada seorang perempuan Yahudi di New York, sebagai tanda permintaan maaf yang tentu saja ditolak. Hanna yang akan keluar bebas dari penjara tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti, karena dunia yang dihadapinya sangat berbeda. Hanna yang merasa tidak terampuni akhirnya bunuh diri di saat ia bebas dari penjara. Tidak ada kemungkinan untuk dimaafkan lagi buat Hanna.
Michael adalah anak generasi pertama setelah Perang Dunia Kedua. Diakhir film, Michael menceritakan semua hal ini pada putrinya yang sudah dewasa meminta pengertian pada putrinya kenapa hidupnya begitu muram, berpisah dengan istrinya dan tidak bisa melupakan Hanna, sang Motherland korban kekejaman tirani Fatherland.
Kita bisa merasa semacam penyembuhan, atau sebentuk penebusan kesalahan yang tak terkira. Ada suara sentimentil lengking begitu dalam karena rasa bersalah dalam film ini.
(belum terbit)

Kamis, 28 Januari 2010

CREATION: KADO FILM ULANG TAHUN BUAT BAPAK EVOLUSI

Setiap 2 Februari, Darwin Day diperingati di Eropa dan Amerika Serikat layaknya hari suci. Perayaan hari lahir Bapak Evolusi Dunia ini merupakan lambang pengakuan Dunia Ilmu Pengetahuan (Science) dan Kemanusiaan (Humanity). Perayaan ini juga dijadikan ajang penyebarluasan kekeliruan dan pembelaan teori Darwin dengan segala kekuatan dan kelemahan teorinya dihadapan ilmu pengetahuan moderen dengan munculnya teori-teori baru yang lebih meyakinkan.

Teori Darwin dalam karya masyurnya On the Origin of Species By Means of Natural Selection, kemampuan adaptasi makhluk hidup dimana hanya yang kuat yang akan bertahan dan mengalami perubahan terus menerus, diajarkan diseluruh bangku sekolah seantero dunia. Tentu sang guru biologinya, apalagi di negeri yang mengaku berketuhanan dengan mayoritas Islam seperti Indonesia, akan mengimbanginya dengan khotbah agama, (mungkin si guru biologi akan bertanya pada si murid apakah mereka mau dibilang nenek moyang mereka dari monyet, yang tentunya dijawab tidak oleh si murid), kalau perlu dengan menyuruh anak muridnya membaca dan menonton film dokumentasi tandingan Teori Darwin karya Harun Yahya.

Creation bukan film propaganda dari para pendukung Darwin (Evolutionist) kontra para pendukung bahwa semua species diciptakan dengan suatu tujuan tertentu oleh Maha Pencipta (Creationist). Creation adalah film drama keluarga dari seorang yang luar biasa, yang bisa dinikmati siapa saja karena film ini tidak menghadirkan dan memancing perseteruan lama kedua kubu yang saling bertentangan ini. Hanya, kalau dilihat lebih mendalam lagi, film ini menghadirkan tema yang sangat raksasa, perseteruan Sains dan Agama, Keimanan (faith) dan Rasio, terutama lagi Darwin dan Tuhan. Tapi semua tema besar dalam film ini menjadi tidak begitu besar lagi karena kepiawaian sang sutradara menyulapnya menjadi tontonan yang tidak begitu berat.

Penonton tidak harus mengerenyitkan kening berpikir tentang segala macam teori asal usul species. Bisa dikatakan tidak ada percakapan intelektual atau penjelasan yang mengemukakan hipotesa asal usul species dalam karya monumentalnya itu. Meski di beberapa adegan terdapat beberapa pernyataan Darwin dan Huxley yang menunjukkan diri mereka sebagai saintis tulen yang tidak begitu bersimpati pada agama formal. Bahkan, dalam suatu adegan percakapan dimana Huxley berkomentar tentang karya Darwin / teori Evolusi yang akan diselesaikannya sudah berhasil membunuh Tuhan.

Creation adalah film biopik yang diangkat dari buku salah satu keturunan Charles Darwin, Randal Keyne, Annie’s Box. Konsentrasi film ini adalah penggalan masa hidup Darwin yang sudah menetap bersama istri dan anak-anaknya sekembalinya ia dari perjalanan dengan kapal Beagle ke berbagai pelosok daerah yang terkenal sampai lahirnya karyanya On the Origin of Species.

Film ini memperlihatkan hubungan unik Darwin dan istrinya Emma yang seperti langit dan bumi. Darwin sebagai seorang saintis yang skeptis terhadap agama (yang diperankan dengan meyakinkan oleh aktor Inggris Paul Bettany), Emma yang sangat bertolak belakang dalam memandang ilmu pengetahuan saintis, seorang istri yang sangat agamis (dimainkan oleh aktris Jeniffer Connoly).

Mengagumkan sekali, bagaimana pasangan itu bisa hidup berdampingan meski masing-masing punya cara pandang dan keyakinan yang sangat bertolak belakang. Rasa saling hormat dan toleransi yang sangat luar biasa ini ditunjukkan oleh kedua pasangan itu, ketika Darwin menyelesaikan magnum opus nya On the Origin of Species dan menyuruh istrinya untuk membacanya dan menyerahkan keputusan pada istrinya apakah akan diterbitkan atau dibakar saja. Dan diluar dugaan, Emma malah memberi ijin Darwin suaminya untuk menerbitkan buku itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan nya sendiri.

Adegan sentral film ini lebih banyak dipenuhi oleh hubungan dekat Darwin dengan anak perempuan kesayangannya, Annie. Gadis cilik 10 tahun yang juga mewarisi minat dan bakat Charles Darwin dalam Ilmu Pengetahuan Alam ini meninggal dan dipercaya Darwin disebabkan oleh penyakit genetis faktor kedekatan darah ia dengan Emma istrinya yang juga sepupunya. Bagaimana kepergian Annie ini sangat mempengaruhi hubungan Darwin dan istrinya, Emma.

Alur film dibuat dengan teknik kilas balik (flashback) saat Annie masih hidup dan kemudian melompat setelah Annie meninggal, ketika Darwin ditampilkan berhalusinasi melakukan percakapan dengan Annie. Pemunculan Annie dalam hidup Darwin lebih berupa hantu, sebagaimana orang Inggris yang juga terkenal dengan kepercayaan takhayul. Tapi sebenarnya film ini bukan bermaksud begitu. Pemunculan Annie yang sudah meninggal lebih sebagai usaha untuk menghadirkan Darwin sebagai pribadi yang tertekan dan tercabik khawatir dengan pemikirannya dalam dunia saintis evolusi. Hal ini juga ditambah dengan tenggang rasa dan toleransinya terhadap istrinya dan masyarakat luas terhadap ide evolusi dan seleksi alam yang ia khawatirkan akan merubah cara pandang masyarakat terhadap asal usul kehidupan dan domain ketuhanan. Dalam film kelihatan bagaimana temannya Hooker dan Huxley yang selalu mendorongnya untuk menyelesaikan karyanya itu tapi selalu tertunda terus.

Paul Bettany dengan gemilang berhasil menggambarkan karakter Darwin yang tertekan dan sakit secara fisik, emosi, kejiwaan dan keyakinan hidup. Sebagai seorang saintis yang tetap teguh pada pendirian dasar-dasar ilmu pengetahuan modern, Darwin dengan jelas mengukuhkan dirinya sebagai seorang Naturalist, seorang Agnostis, yang bersikap skeptis, tidak begitu memedulikan apakah Tuhan ada atau tidak. Yang pasti, Darwin sangat menentang keangkuhan otoritas gereja yang mengklaim kebenaran dan memberikan hukuman duduk berlutut di atas kerikil pada anak kesayangannya, Annie, saat Annie mengatakan ada fosil dinosaurus. Secara fisik, digambarkan bagaimana Darwin berjuang melawan simptom penyakitnya yang tidak jelas, nausea, halusinasinya dengan penampakan anaknya yang sudah meninggal, dan usaha penyembuhan penyakitnya yang ia obati sendiri dengan terapi air.

Untuk menghadirkan Darwin sebagai seorang saintis yang bekerja dengan menggunakan metode saintifik, secara periodis dalam film ini diperlihatkan kesibukan Darwin dalam kandang burung, ruangan khusus dipenuhi berbagai macam tabung kaca berisi berbagai binatang kecil, tulang-tulang dan peralatan labor biologi lainnya. Tapi yang menarik adalah kedekatan Darwin dengan anak-anaknya, khususnya Annie, dengan menceritakan contoh-contoh pengamatan Darwin terhadap species-species, burung-burung, pengamatan terhadap perilaku Orangutan dari Kalimantan/Borneo yang dibawa ke Inggris. Dengan bercerita pada anaknya inilah kelihatan sosok Darwin yang sangat mencintai anak dan teori-teorinya yang kompleks menjadi ringan.

Sebagai biopik, film yang mengangkat biografi kehidupan seorang yang sangat berpengaruh dalam Ilmu Pengetahuan dan menelurkan Atheist dalam berbagai bentuk, Creation memiliki fakta yang sebenarnya. Tapi Creation tentunya bukan film Dokumentasi. Creation adalah “sebuah film tentang Charles Darwin”, yang oleh Jon Amiel, si sutradara mendramatisirnya, lebih berupaya memunculkan emosi penontonnya dan menjadikannya populer.

Creation adalah sebuah film yang sangat patut ditonton. Yang mengagumkan lagi adalah kenapa judul film ini tidak Evolution saja, karena film ini mengangkat latar belakang lahirnya karya Darwin tentang Teori Evolusi? Kenapa Creation, yang justru adalah ide yang sangat bertolak belakang dengan Evolusi? Mungkin seperti kehidupan rumah tangga Darwin dan istrinya Emma, dimana mereka tetap hidup damai meski cara pandang dan keyakinan yang berbeda. Seperti menyiratkan, tidak masalah apakah anda seorang pengikut Evolutionist yang cenderung menghilangkan kehadiran Tuhan dan Creationist yang yakin bahwa segala sesuatu diciptakan dengan tujuan oleh sang Maha Pencipta.

Selamat Ulang Tahun Mr. Darwin,,

Jumat, 22 Januari 2010

KEBANGKITAN SASTRA DAN PARADOKS INDIA

India dari zaman Mahabharata sampai zaman Internet selalu mengundang decak kagum. India ratusan tahun sebelum masehi sudah menjadi oase spiritual yang melahirkan tokoh agama, kitab dan tradisi sastra lisan sumber kebijakan hidup. Bahkan, Iskandar Zulkarnaen atau Kaisar Alexander sang Penguasa Roma yang diceritakan dalam Kitab Suci Al Qur’an sendiri pun tertarik mencari air suci keabadian sampai ke India. Diikuti nantinya oleh orang-orang Eropa yang mencari eksotika Dunia Timur, yang berujung dengan kolonialisasi.

India semenjak kemerdekaannya dari Inggris 1947 menjadi kisah sukses. Dulu, dari status negara miskin dengan populasi penduduk yang begitu luar biasa sekarang menjadi pemain utama perekonomian dunia, a new world power , yang bergandengan dengan China. Dulu, orang Eropa memasuki India, sekarang orang India bangkit dan keluar menunjukkan kemajuan yang mereka peroleh.

Bagaimana India bisa sedahsyat ini? Dunia pendidikan menjadi penentu penting keberhasilan India. India mencetak tenaga ahli terampil di berbagai bidang. Ratusan industri bidang informasi bermunculan di India yang dikenal dengan Silicon Valley of India, kawasan industri teknologi informatika seperti yang dikembangkan Bill Gates di California, menyerap ratusan ribu karyawan. Industri otomotif India melejit dan kompetitif secara global. Bisnis layanan jasa (outsourcing business) menyediakan tenaga kerja murah tapi handal di bidangnya serta mampu berbahasa Inggris menghadapi gelombang globalisasi. Industri film Bollywood apalagi, yang kini telah memasuki jalur perdagangan tingkat dunia. India sukses dalam perbankan, asuransi, barang konsumsi, mesin, telekomunikasi, tekstil, teknologi informasi dan lainnya.

Penentu lainnya adalah liberalisasi ekonomi dan alam demokrasi India awal 1990-an. Kebebasan mengeluarkan pendapat, media massa, teknologi komunikasi, hak asasi manusia, dan persamaan hak adalah aspek penentu kesuksesan India. Satu hal lain yang pasti, India mengalami kebangkitan sastranya. Penghargaan sastra internasional seperti Man Booker Prize diraih penulis-penulis India seperti Salman Rushdie (The Midnight Children), Anita Desai (Fasting, Feasting), Arundhati Roy (the gods of small things), Kiran Desai (Inheritence of Lost), Aravind Avida (The White Tiger), Jhumpa Lahiri yang meraih Pulitzer Prize dan Hemingway Award (Namesake dan Interpreter of Maladies), Vikas Swarup (Q & A, novel yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Danny Boyle, Slumdog Millionare dan meraih 8 penghargaan Academy Award), Divakaruni, Banarjee, dan banyak lainnya.

Ada empat aspek penting yang membuat sastra India bangkit dan malahan telah go-international dan mendapat pengakuan dunia. Pertama, secara sosio-geografis, alam India yang rentan dengan bencana alam, menjadi suatu berkah kekuatan tersembunyi. Masyarakat India dalam menghadapi segala bencana alam melahirkan suatu sikap, cara pandang dan filsafat hidup yang tahan banting. Mereka tetap bertahan meski dihantam begitu banyak bencana alam. Hal inilah yang tergambar dalam karya sastra mereka yang berkesan memperlihatkan kebijaksanaan Timur, kepedihan, duka, dan bahasa yang sendu liris. Ditambah lagi dengan kompleksitas masyarakatnya yang berlatar belakang perbedaan kelas, multikultur dan bahasa, etnis dan agama. Semua ini menjadi bahan, kekayaan topik yang diangkat dalam karya sastra India, seperti terlihat dalam karya-karya Rabindranath Tagore, yang meraih Penghargaan Nobel Sastra pada 1913.

Aspek kedua adalah dampak kolonialisasi dan pengaruh kebudayaan Eropa, khususnya Inggris, yang meninggalkan warisan pendidikan ala Barat dan bahasa Inggris. Masyarakat India yang multi-lingual berbaur dengan bahasa Inggris yang hampir digunakan di semua sekolah, pendidikan profesi dan pendidikan tinggi. Kekayaan imajinasi dunia Timur India, mitos, tradisi sastra lisan India bercampur dengan tradisi pendidikan Barat dengan memperkenalkan Sastra Eropa yang diajarkan lewat pendidikan. Perbauran budaya Barat dan Timur ini menjadi lahan yang begitu luas untuk dijadikan bahan dalam karya sastra India.

Keseriusan India dalam dunia pendidikan dan perbukuan sebagai tanda kehausan mereka terhadap pengetahuan adalah aspek yang sangat penting atas kebangkitan dunia sastra dan intelektual India. Tercatat 70.000 judul buku diproduksi setiap tahun dan 40 persennya berbahasa Inggris. Karya-karya klasik dari berbagai bahasa lokal diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan juga sebaliknya. Dengan semakin terbukanya investor asing, penerbit-penerbit besar luar muncul di India seperti Penguin Books, Harper Collins, Random House, Oxford, MacMillan dan lainnya. Malahan, India sudah dua kali jadi tamu kehormatan (Guest of Honour Country) 1986 dan 2006 di pameran buku internasional Frankfurt Book Fair. Bisa dikatakan India berhasil melalui tahap-tahap masyarakat informatif seperti yang diteorikan Alfin Toffler; masyarakat agraris berkembang menjadi industri, didukung dengan pengetahuan dan tradisi baca tulis, yang menjadi prasyarat keberhasilan masyarakat informatif.

Aspek keempat adalah fenomena diaspora masyarakat India ke berbagai belahan dunia. Sebagai perantau, masyarakat India menghadapi masalah yang lebih kompleks merentang dari masalah lokal, regional dan global. V.S. Naipaul, perantau India yang lahir di Trinidad kemudian menjadi warga negara Inggris kebanyakan banyak membahas topik ini dalam karya-karyanya. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra pada 2001. Empat aspek inilah: alam India dengan kerentanan akan bencana alam serta kekayaan materi yang ada dalam kompleksitas masyarakat India, percampuran warisan India dan kebudayaan Barat, dukungan fasilitas pendidikan dan penyebaran buku dan diaspora masyarakat India menjadi bahan topik, pemicu kebangkitan sastra India dan India sendiri dengan permasalahannya.

PARADOKS INDIA DALAM SASTRA

Kisah sukses India dibarengi dengan sisi berseberangan yang sama benarnya, yang tergambar dalam karya sastra mereka. Karya sastra, sebagai refleksi keadaan suatu masyarakat tentu mengandung kebenaran tersendiri. Karenanya India menjadi paradoks; di satu sisi menggambarkan keberhasilan pembangunan perekonomian, di satu sisi lainnya memperlihatkan kegagalan yang parah, merambah ke segala sisi kehidupan masyarakat India.

Arundhaty Roy, novelis dan aktifis peraih penghargaan sastra bergengsi Inggris dan negara persemakmuran The Man Booker Prize 1997, dalam eseinya Shall We Leave It To The Experts? mengungkapkan paradoks India yang hidup dalam bermacam-macam zaman yang membingungkan pada saat yang sama. India berhasil dalam kemajuan berbagai sektor pembangunan tapi juga mundur jauh ke belakang. Dalam dua esei panjangnya The Cost of Living, ia menantang dua ilusi kemajuan besar di India: proyek bendungan massal dan proyek bom pertama India dengan biaya tak terkira yang menelantarkan masyarakat papa pinggiran. Di sini terlihat bagaimana Arundhaty Roy membongkar kedok demokrasi, kemajuan dan kesejahteraan yang didengung-dengungkan mencabik-cabik wajah India, di mana hidup masyarakat banyak dikorbankan demi kesejateraan segelintir orang. Dalam the gods of small things, Arundhati Roy dengan bahasanya yang begitu indah menghujam dalam tapi juga akrobatik, dimana ia mempermainkan tata bahasa Inggris, merefleksikan carut marut masyarakat India dalam suatu keluarga. Tema kisah cinta antar kasta, warisan kolonial Inggris, benturan ideologi politik, dihadirkan dalam suatu plot cerita yang melingkar seperti spiral.

Kontradiksi ekonomi, kepincangan sosial, dan kebencian etnis dan agama digambarkan oleh Vikas Swarup dalam Q & A (Question and Answer). Dengan nada humor, Vikas Swarup yang adalah Diplomat yang telah bertugas ke berbagai negeri, mengejek kemajuan India yang sangat mengagung-agungkan pembangunanisme. Proyek pemberantasan kemiskinan didampingkan dengan fenomena anak-anak gelandangan yang tinggal di perkampungan kumuh. Novel ini dengan sangat sukses diangkat ke layar lebar menjadi Slumdog Millionare. Peraih Man Booker Prize 2008, Aravind Avida dalam novelnya The White Tiger, mengangkat masalah pendidikan yang terlunta, kemiskinan, perbedaan kasta, dan kesempatan setiap orang untuk sukses. Novel ini juga menghubungkan India dengan China sebagai teman gandengan dalam memposisikan diri sebagai pemain utama dunia baru. Anita Desai yang juga pernah meraih penghargaan Man Boker Prize menyuarakan perjuangan persamaan hak wanita India kelas menengah dalam novelnya In Guardian dan Fasting, Feasting.

SASTRA DIASPORA INDIA

Dalam rangka promosi novel terbaru Salman Rushdie, The Enchanters of Florence, ia menggunakan fasilitas teknologi informasi mutakhir internet, Google Tour Marathon. Dalam bincang-bincangnya, ia menjelaskan fenomena orang-orang India yang merantau ke luar negeri. Masalah identitas sebagai India, agama dan budaya yang tercerabut sebagai konsekwensi dari merantau, ketika harus menyesuaikan diri di negeri rantau baru. Migrasi orang-orang India ini mengharuskan mereka berhadapan dengan Budaya Barat sehingga mereka harus me-redefenisikan diri mereka menjadi individu baru, bahkan dengan cara yang radikal. Inilah yang menjadi tema sentral novel The Satanic Verses, yang secara penokohan, Salman Rushdie menampilkan Nabi dalam agama Islam yang membuatnya dianggap menyerang, melecehkan, memutarbalikkan kehidupan Nabi yang dipuja orang Islam sedunia tersebut. Dalam nada yang sama, Jhumpa Lahiri, wanita dengan tiga gelar Master Sastra Inggrisnya juga menggambarkan fenomena ini dalam novelnya Namesake dan kumpulan cerpen Interpreter of Maladies. Kiran Desai dalam Inheritence of Lose juga menggambarkan dua sisi berseberangan, bahkan dengan tema lokal, romantika warisan kolonial, politik, dan global perantau India di Eropa dan Amerika.
Menyebarnya orang-orang India ke negara Eropa dan Amerika adalah satu sisi keberhasilan India, karena faktor pendidikan dan tingginya keinginan penguasaan pengetahuan, keterampilan bahasa Inggris, penguasan teknologi informatika, dan kesiapan menghadapi arus globalisasi. Dengan kompleksitas masalah sosial ekonomi dan multi-kultur India, dan sekarang juga sedang berhadapan dengan suatu dunia baru tak bertepi dalam terpaan arus teknologi informatika, liberalisasi, dan globalisasi, semua ini menjadi bahan tak habis-habis yang diangkat oleh para intelektual dan penulis India. Keberhasilan India diberbagai bidang tidak hanya mereka terima dengan rasa bangga dan puas diri, tapi mereka melihat kembali, apa sebenarnya yang terjadi, dengan suatu refkeksi diri terus menerus yang tertuang dalam karya sastra mereka, dan mereka mendapatkan pengakuan dari dunia.

Acha, acha, India yang bangkit. Akh, negeriku,,. Kita bakal banyak belajar dari India, terutama pendidikan dan bahasa Inggris. Globalisasi bahasa Inggris sepertinya tidak bisa dihindari.
(belum diterbitkan)

FILM 2012: KEIMANAN DAN KIAMAT EKOLOGI

Demam film 2012 melanda dunia. Di kota-kota besar jutaan penonton antri memasuki bioskop untuk melihat visualisasi bencana maha dahsyat di planet bumi 21 Desember 2012. Penonton dihibur oleh gambaran kiamat bumi yang sangat menghibur sekaligus mengkhawatirkan. Menghibur karena mata memandang ngeri oleh adegan tragis memukau kehancuran bumi. Mengkhawatirkan karena bagaimana kalau hal tersebut suatu saat betul-betul terjadi?

Penonton akan menyaksikan kota-kota besar di seluruh dunia retak, gempa menghancurkan apa saja, gunung-gunung runtuh, inti bumi menyembur dari perut bumi, mega-Tsunami menyapu daratan bumi. Kisah bahtera Nabi Nuh pun terulang kembali pada 2012. Tiga kapal besar super canggih menyelamatkan spesies manusia dan juga hewan dimana bumi saat itu ditutupi air, dan akhirnya sampai di dunia Harapan baru Afrika, kembali ke benua yang dipercaya spesies manusia berasal. Dan, jutaan dolar pun dikantongi sutradara Roland Emmerich. Roland Emmerich memang spesialis sutradara film tragedi sains fiksi tentang kehancuran bumi.

Tak diragukan lagi, dengan kecanggihan teknologi film, komputerisasi, dan teknik efek gambar, praktisi film Hollywood bisa menghasilkan gambaran rekaan kejadian yang bisa sangat meyakinkan, sehingga mata yang melihat aksi bencana tersebut kelihatan sangat nyata. Ditambah lagi dengan kepiawaian dan kepintaran mereka dalam meramu tema film. Terangkatlah ramalan hari akhir (Doomsday) menurut penanggalan kalender suku Maya kuno bercampur dengan teori saintifik tentang peristiwa maha besar kiamat.

Tidak hanya itu, Roland Emmerich bisa “memamfaatkan” rentetan tragedi bencana alam seperti Tsunami, gempa, banjir, krisis ekologi global pada satu dekade belakangan, yang membuat film ini hadir pada momen yang sangat pas. Sehingga secara psikologis, film ini berhasil mempertautkan suatu rasa kegelisahan, kekhawatiran, kengerian akan tragedi alam yang menghantui setiap orang sehingga menggugah keingintahuan akan kedahsyatan kiamat dalam film ini. Walaupun semua orang tahu, dari anak-anak sampai dewasa film ini hanyalah fiksi.

Dampak kontroversi seputar film ini luar biasa. Bagi yang jeli melihat kesempatan ini, keuntungan bisnis pun bisa diraup seperti bermunculannya buku-buku dengan tema kiamat, ramalan kiamat versi kalender Maya, Nostrodamus, dan tentunya buku-buku agama tuntunan ampunan dosa lainnya. Mendadak samar-samar kita pun berkenalan dengan berbagai teori bagaimana kiamat terjadi menurut para ilmuan astronomi seperti kembang api raksasa matahari (solar flare), tabrakan planet tanpa nama atau juga yang sudah diberi nama Nibiru, hisapan Black Hole, hujan meteor, pergeseran kutub magnet di kutub dan sebagainya. Tapi yang pasti, setiap orang, apapun agamanya, khususnya Islam, tersentak sadar mengingat butir ke lima dalam Rukun Iman yang dari kecil selalu dihapal diluar kepala dan setelah dewasa sering terlupakan atau pura-pura melupakannya; percaya datangnya hari akhir, kiamat.

Iman tentu tidak hanya cukup dengan percaya, tapi juga harus diyakini, dan dipraktikkan, bahwa keyakinan tentang kiamat adalah suatu kepastian. Tapi iman bisa melemah, angin-anginan, menjadi kuat. Keimanan begitu susah ditebak, meski seseorang kelihatan sangat taat beribadah. Keimanan seseorang diuji dengan berbagai macam cara, bisa dengan harta, keduniawian, sehingga kerap kali iman menjadi lemah dan manusia menjauh dari Sang Pencipta. Iman juga diuji dengan penyakit, kemiskinan dan bencana alam, tapi justru pada saat seperti inilah justru manusia merasa imannya kuat, mereka merasa dekat dengan yang Maha Kuasa.

Pada masanya, ketika ditanya tentang kepastian hari kiamat, Nabi Muhammad disuruh oleh Allah mengatakan bahwa yang mengetahui hanya Tuhan, tak seorangpun dapat mengungkapkan waktunya kecuali Dia, Al-Qur’an (7:187), Tuhan merahasiakan datangnya hari kiamat, Al-Qur’an (20:15). Dengan keyakinan ini, kita bisa merasa agak lega bahwa apapun yang dikatakan tentang ramalan hari akhir versi kalender Maya, yang memang setelah diselidiki ternyata memang tidak masuk akal dan tidak benar adanya. Atau juga tentang berbagai teori kiamat versi para ilmuan astronomi, yang dari berbagai sumber yang kita dapatkan juga tidak ada kebenarannya.

Namun begitu, Film 2012 bisa menjadi shock therapy iman, tamparan keras pada wajah siapa saja agar bangun dan sadar diri tentang kematian setiap individu yang juga adalah kiamat kecil (kiamat Sugra) dan membuka mata lebar-lebar melihat sekeliling kerusakan lingkungan, alam, bumi, yang suatu saat bisa saja berakhir dengan kiamat besar (kiamat Kubra). Film ini mengingatkan kita terhadap kealpaan kita dari apa yang sudah manusia lakukan terhadap diri dan lingkungan alam sekitar Visualisasi kedahsyatan dan kengerian bencana maha besar dalam film ini seharusnya membuat kita introspeksi, mengevaluasi, membaca ulang cara pandang kita terhadap diri sendiri dan bagaimana kita memperlakukan alam lingkungan sekitar. Tuhan sudah mengingatkan kita tentang potensi manusia yang merusak alam dan konsekwensi apa yang bakal terjadi, kerusakan telah tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan-tangan manusia, Ia akan merasakan sebagian kepada mereka akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, Al-Qur’an (30:41-42).

Jadi, tanda-tanda kiamat yang paling masuk akal adalah kerusakan ekologi yang dilakukan oleh manusia sendiri. Zaman industrialisasi dan cara hidup modernisasi yang mengatasnamakan progress, kemajuan, pembangunan, adalah awal dari kerusakan alam. Bumi diekspoitasi, diperas, dirampas, diperkosa layaknya seorang prositusi. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hilangnya humus dan erosi tanah. Kelangkaan air bersih dan makanan. Krisis energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global. Kita pun diingatkan lagi, Dan bila kepada mereka dikatakan: “janganlah berbuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Tidak, kami bahkan berbuat perbaikan.” Sungguh, merekalah yang membuat kerusakan tidak mereka sadari. Al-Qur’an (2:11).

Kerusakan ekologi yang bisa berakhir dengan kemusnahan kehidupan di planet bumi berakar pada perilaku manusia moderen terhadap alam. Bagi manusia modern, alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak mempunyai nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan manusia terhadapnya. Cara pandang yang demikian ini tidak bisa dilepaskan dengan logika dunia modern yang menjadikan manusia sebagai pusat dunia (antroposentrisme) sehingga eksploitasi manusia terhadap alam seolah mendapat legitimasi ilmiah-filosofis lewat cara pandang saintisme.
Dalam terminologi teologi, hal ini senada dengan peran dan fungsi manusia sebagai wakil/khalifah Allah di bumi dan hamba Allah. Dalam ayat lainnya, dikatakan Allah memang “menundukkan” alam bagi manusia dan kesan secara umum yang dipahami yaitu alam yang bisa dikonsumsi dan dieksploitasi, karena keserakahan manusia. Di sinilah peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya untuk memelihara, menghargai makhluk lainnya demi terciptanya hubungan yang harmonis untuk kelangsungan kehidupan di muka bumi. Ketidakpedulian dan pengabaian tugas pemeliharaan makhluk lainnya, lingkungan alam, yang adalah bukti atau tanda-tanda keberadaan Allah, sebenarnya sudah berarti menggugurkan kesaksian keimanan pada Allah sendiri.

Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi. Keimanan harus penuh harap dengan kembali menyadari peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya di bumi dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam. Berbagai usaha masyarakat moderen dari berbagai negara yang mengadakan konvensi tentang krisis ekologi global diharapkan membawa perubahan yang lebih berarti, untuk diimplementasikan dalam kebijakan setiap pemerintah. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi. Dengan begitu, kiamat ekologi yang masih ada harapan manusia bisa mencegahnya. Selebihnya, wallahuallam,.
(belum diterbitkan)

THE LOST SYMBOL: DI BAWAH BAYANG KETENARAN DA VINCI CODE

Film National Treasure bisa memasuki jenjang box office tentunya karena kecipratan ketenaran novel The Da Vinci Code. Kenapa harus menggali petunjuk-petunjuk dari simbol dalam gedung-gedung arsitektur tua dan organisasi rahasia di seluruh Eropa, kalau semuanya bisa ditemukan di Washington D.C dengan rahasia pendiri-pendiri Freemason. Ironisnya, Dan Brown malah sekarang memilih lokasi sama dengan basis tema persaudaraan Free Mason dalam novel terbarunya, The Lost Symbol.

Dari segi alur cerita dan pengembangan ide, film National Treasure berada di bawah The Da Vinci Code. Lantas, bagaimana bisa novel The Lost Symbol mengungguli novel The Da Vinci Code? Kelihatannya Dan Brown tidak bisa menjadikan novel terbarunya ini selevel dengan novel The Da Vinci Code.

The Lost Symbol tidak sebegitu menyatu secara alamiah seperti dalam The Da Vinci Code. Malahan, The Lost Symbol memberi kesan yang memang menarik tapi kelihatan agak memaksa, tidak begitu diramu dengan penilitian yang berhubungan dengan temanya. Meskipun demikian, karakter Langdon yang sudah enam tahun absen dari karya sebelumnya tetap menunjukkan trademark Dan Brown. Ia tetap menghadirkan ketegangan cerita (suspense) yang membuat jantung pembaca ikut berdegup kencang, kekerasan yang mengerikan, dan teka teki yang menggoda otak penggemar Dan Brown untuk mengetahuinya secepat mungkin, kalau bisa membacanya dalam waktu dua puluh empat jam. Karena dalam novel Langdon harus berhasil memecahkan suatu misteri dalam semalam.

Novel ini dibuka dengan perjalanan ahli simbol Robert Langdon ke gedung Capitol Amerika untuk menyampaikan pidato atau ceramah. Ia mendadak ditelpon oleh asisten pribadi teman sekaligus penasihatnya, Peter Solomon yang kaya raya, yang ternyata juga anggota Mason, untuk menggantikannya. Setelah sampai di sana terlambat, ternyata Langdon tertipu. Tak ada kursi, pendengar, atau juga Peter Solomon, hanya gerombolan turis yang berkeliling tanpa menghiraukan Langdon. Dengan bingung, Langdon pun menelpon Peter tapi yang menjawab asisten pribadinya dan mengatakan bahwa sang asisten ini rupanya telah ngerjain Langdon.

Dari situ, Langdon terperangkap dalam skenario yang menakutkan. Si asisten ini, yang sebenarnya tidak ada, telah menculik Peter dan jelas sudah berusaha mendapatkan informasi yang diinginkannya dengan segala cara. Informasi ini adalah tentang misteri keberadaan portal kuno, pintu gerbang rahasia menuju dunia lain, yang diyakini berada di Washington D.C. Si penculik ini percaya jika ia menemukan portal ini ia bisa mengetahui rahasia kehidupan dan kematian yang dijaga dari generasi ke generasi oleh para pimpinan persaudaraan Mason. Tapi Peter tidak memberitahu semua rahasia ini ke si penculik ini. Jadi, Peter pun meminta Langdon untuk menemukan dan menguraikan simbol-simbol penting portal itu dalam semalam, atau ia akan dibunuh.

Ada tokoh penting lain dalam novel ini yang harus dihadapi, Katherine, saudara perempuan Peter. Dia melakukan riset sains tentang noetic/ kesadaran di sebuah labor khusus dalam gedung Capitol. Si penculik Peter, yang rupanya pernah melakukan tindak kriminal terhadap keluarga Salomon sebelumnya, melakukan kembali usahanya dengan memperalat Katherine menentang Peter dan Langdon – dan kalau tidak berhasil ia bisa membunuhnya saja.

Dalam waktu jam-jam mengerikan selanjutnya, si penculik yang sangat bersemangat ini, Langdon, CIA, keluarga Salomon, arsitek gedung Capitol, dan tokoh lainnya dalam cerita ini saling berkeliwiran di sekitar D.C, khususnya di tempat-tempat khusus sekitar gedung. Mereka saling bertemu, saling menghindar, lari dari satu ke yang lain. Langdon dan Katherine fokus pada usaha penyelamatan Peter. Pihak pemerintah berusaha menyelamatkan para pemimpin politik dari terbukanya rahasia pimpinan persaudaraan Mason. Dan sang penculik, Mal’akh, seorang laki-laki tubuh penuh tatoo, dengan keyakinannya ia bisa meraih kebebasan melalui suatu ritual kematian suci, di suatu tempat rahasia, yang ia butuhkan keberadaannya dengan pertolongan Langdon.

Dari eksposisi alur cerita awal sampai pada taraf akhir, novel The Lost Symbol ini tidak bisa menyamai kehebatan novel Dan Brown sebelumnya. The Da Vinci Code berkisar pada tema misteri yang secara literal sangat manusiawi, tapi dalam The Lost Symbol tidak begitu kelihatan. Memang tidak bisa disangkal novel ini menampilkan drama kemanusiawian antara Langdon dan teman-temannya, Katherine dan Peter, dan keberadaan portal yang esoterik dan menggelitik intelektual untuk memecahkan rahasianya. Hal ini bukannya suatu cela, tapi kelihatan bagaimana kepiawaian Dan Brown mengangakat misteri sekitar arsitektur gedung Capitol dan kepercayaan persaudaraan Mason, bersama dengan riset noetic/kesadaran yang aneh dan setengah-setengah, pengalaman di ujung kematian, dan ramuan hal-hal lainnya yang tidak berhubungan, yang kesemuanya tidak bisa menyaingi pencairan Holy Grail dalam The Da Vinci Code. Kemungkinannya, membuka rahasia persaudaraan Mason dan kejadian-kejadian mengerikan lainnya dalam novel ini tidak begitu menghebohkan seperti mengguncang dasar Kristianitas dalam Da Vinci Code. Juga karena kontroversi tema Da Vinci Code yang dipercaya lebih berupa karya non-fiksi.

Dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown terlalu menghadirkan serbuan bencana besar jika Langdon dan tokoh lainnya tidak bisa memenuhi keinginan Mal’akh sesuai rencananya. Strategi dan perencanaan ini menghendaki sesuatu yang sangat luar biasa akan terjadi, tapi konsekwensi aktual ceritanya malah menjadi anti-klimaks dan mengecewakan.

Dari tokoh si penculik, Mal’akh, yang namanya sebenarnya banyak, tergambar seperti seorang psycho. Latar belakang dan motifnya yang dibeberkan sedikit demi sedikit malah seperti seseorang yang dalam kemarahan membabi buta tidak menimbulkan empati. Memang ada beberapa celah dalam ceritanya yang menimbulkan sedikit rasa empati tapi lalu kesempatan itu begitu kecil dan berlalu cepat.

Seperti biasa, Dan Brown membuat alur cerita bergulir cepat dengan teknik twist dan turn, alur yag dipilin dan berusaha tak terduga, tapi kebanyakan malah bisa ditebak pembaca yang sudah terbiasa dengan novel thriller. Mungkin juga Dan Brown sengaja membuat struktur novel ini begitu untuk membuat pembacanya merasa lebih pintar dari pahlawan dalam novel ini, Langdon. Jika demikian, taktik ini bisa menjadi pisau bermata ganda karena pembaca bisa menebak alurnya dengan mudah dan melihat clue yang menjadi petunjuk apa yang bakal terjadi (foreshadow).

Menariknya lagi, Robert Langdon dalam novel The Lost Symbol, malah sering ditampilkan dalam peran seorang student, bukannya teacher, ahli simbol. Langdon tidak diragukan lagi sangat ahli dan berpengetahuan luas dalam hal simbol, tapi karena ia bukan anggota Mason, lebih sering menyutujui saja apa yang orang lain katakan. Pendeknya, ia tampil lebih malu-malu, lebih seperti orang kedua, tidak seperti dalam The DaVinci Code. Keruwetan teka-teki dalam cerita novel ini juga tidak terlalu memunculkan Langdon sebagai pakarnya.

Novel The Lost Symbol tentunya sangat menghibur pembacanya walaupun tidak bisa setara dengan The Da Vinci Code. Dan, kalau nanti novel ini diangkat ke layar lebar, kita bisa bandingkan dengan film National Treasure. Nicholas Cage bersanding dengan Tom Hanks.
(belum diterbitkan)

SEKSUALITAS DAN KRITIK SOSIAL Dalam Novel DH. LAWRENCE, LADY CHATTERLEY’S LOVER

Belum lama ini penerbit Alvabet mengeluarkan terjemahan novel Lady Chatterley’s Lover (untuk singkatnya ditulis LCL) karya penulis Inggris David Herbert Lawrence (1885-1930). Sebuah novel yang pada masanya menimbulkan kontroversi. Tentang seksualitas dan kritik terhadap cara dan perilaku hidup masyarakat industri modern awal abad 20. Sejauh ini tidak ada gejolak, penolakan, ataupun pemboikotan dari pihak tertentu terhadap terjemahan novel ini.

Mungkin karena khalayak pembaca kita belum banyak yang tahu bagaimana novel ini begitu menggemparkan pada masanya di Amerika dan Inggris. Bagi yang telah membaca versi bahasa Inggrisnya (tentunya yang punya kemampuan bahasa Inggris dan pengetahuan sejarah awal abad 20 yang memadai) akan menemukan “keberanian” dan “kejujuran” Lawrence mengupas dalam-dalam suatu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan, yaitu seksualitas. Penggambaran seksualnya dengan kata-kata eksplisit, blak-blakan, tapi juga dibahas dan dikupas dalam-dalam (kesulitan dan pertimbangan pilihan kata yang merujuk ke nama-nama organ seksual dalam menerjemahkan novel ini memungkinkannya untuk memperhalus padanannya). Pemakaian bahasa Inggris “posh”, berkelas dan elegan tapi juga menampilkan “accent” logat khas Inggris Midland, yang sering dianggap rendah (kesulitan dalam menerjemahkan novel ini tentunya ditemukan dalam hal logat khas Inggris ini, bahkan orang Inggris yang sudah terbiasa dengan bahasa Standart British akan sulit mengerti) . Tema yang diusung apalagi sangat memungkinkan merubah cara hidup dan struktur masyarakat. LCL adalah “novel terlarang” pada awal abad 20.

Topik “terlarang” seksualitas seperti kotak pandora. Membuka rahasia terpendam yang seringkali dibungkam oleh kekuasaan. Marquis de Sade di Perancis abad 18 harus dipenjara karena karya-karyanya yang berbau seksual. Hal yang sama juga terjadi pada penulis wanita Asia yang juga menuai pujian sekaligus kecaman. Di India peraih Man’s Booker Prize Arundhaty Roy dengan karyanya the god of small things. Di China ada Wei Hui dengan karyanya Shanghai Baby dan Chun Sue dengan Beijing Doll nya. Dan di negeri kita yang sarat dengan kompleksitas hidup dan krisis ini, novel Saman nya Ayu Utami dan Nayla nya Maesa Djenar Ayu, juga sangat berani mengeksplorasi daerah selangkangan sebagai tema atau sub-tema dalam karya mereka. Menggembirakan, sepertinya iklim keterbukaan masyarakat sekarang terhadap hal-hal yang dulunya “terlarang” sudah apresiatif pada tingkat tertentu, khususnya masyarakat urban perkotaan terdidik.

Pada awalnya usaha Lawrence menerbitkan novel ini ditolak mentah-mentah. Keberanian dan kejujurannya dalam menggambarkan bagaimana seharusnya pria dan wanita sebagai manusia berhubungan seksual dianggap mengancam tata nilai yang berlaku saat itu. Penggunaan kata-kata yang memang ada, dipakai dalam bahasa, merujuk pada organ tubuh manusia dianggap suatu kecabulan (nasty, dirty, obscene). Lawrence pun berusaha menerbitkan sendiri di Itali, dan mendapat respon yang luar biasa, malahan juga dibajak. Pada akhir 1950-an, setelah melalui sidang pengadilan, barulah karyanya dinyatakan tidak pornografis. Novelnya mendapatkan banyak pujian karena pencapaiannya menggugah kesadaran dan nilai manusiadari kebobrokan masyarakat modern. Dalam versi Perancis, novel ini dilayarlebarkan dan meraih Piala Cesar 2007 – penghargaan setara Piala Oscar Perancis, dan meraih Film Terbaik. LCL menjadi salah satu Roman Klasik yang paling berpengaruh abad 21 yang temanya masih relevan dengan keadaan masyarakat sekarang.

Dalam versi bahasa Inggrisnya, novel LCL ini diawali oleh satu paragraf yang ditulis dalam bentuk waktu Simple Present, bukan Simple Past seperti layaknya cerita dalam bahasa Inggris. Seperti menjadi nubuat, ramalan bahwa apa yang terjadi dalam novel ini pada masa itu juga terjadi di masa sekarang. “Ours is essentially a tragic age, so we refuse to take ot tragically……. We’ve got to live, no matter how many skies have fallen.” (Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolaknya dengan tragis……..Kita harus tetap hidup betapa pun langit telah runtuh). Menolak tragisnya keadaan zaman dengan cara yang tragis juga. Kehampaan hidup seorang istri bangsawan muda memberontak dengan perselingkuhan, terjun ke lautan purba seksualitas nan murni untuk memenuhi keutuhan terdalamnya sebagai manusia. Melabrak nilai dan norma yang melingkupi masyarakat kelas atas yang hipokrat. Melawan mesin industri kapitalis masyarakat modern dengan kuasa uangnya yang telah melumpuhkan sisi kemanusiaan.

LCL dilatari oleh kondisi perbedaan strata sosial dan masyarakat industri Inggris paska perang dunia pertama awal abad 20. LCL bercerita tentang ketidakbahagiaan Connie, seorang “Lady” istri bangsawan terhormat Clifford pemilik tambang batubara, seorang “Sir” dari keluarga Chatterley, pewaris takhta keluarga Wragby Hall. Kelumpuhan tubuh total dari daerah pinggang ke bawah Sir Clifford akibat perang membuatnya tidak mampu memberikan kebutuhan biologis, bahkan sentuhan rasa aman terdalam yang sangat dibutuhkan istrinya. Perselingkuhan sang Lady pun terjadi. Sangat menampar muka dingin arogansi kaum bangsawan, menggoyang sendi-sendi masyarakat aristokrat, karena selingkuhan si istri bangsawan yang memberontak ini adalah Mellor, si penjaga hutan pribadi milik Sir Clifford dari orang kebanyakan. Gugat cerai diajukan sang Lady yang telah membawa bibit bayi Mellor tapi tidak diberikan Clifford. Karena tradisi Katolik menegaskan: kalau Anda menikah, Anda menikah selamanya. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan lagi. Keputusan ini diterima masyarakat. Di dalamnya terdapat ikatan kuat dan ini didukung dengan rasa harga diri bangga yang tinggi oleh para bangsawan aristokrat. Akhirnya cerita berakhir dengan tidak selesai. Sang Lady dan selingkuhannya, Mellor hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Apakah si penulis, Lawrence mengimplikasikan bahwa seks melebihi ikatan suci pernikahan? Apakah ia menganjurkan perselingkuhan? Seksualitas apa yang dimaksud, apakah hanya untuk pengumbaran nafsu syahwat belaka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang Lawrence berusaha jawab. Memang bukan jawaban yang pasti yang tergambar dalam novelnya, tapi lebih berupa pernyataan atau penegasan sikap dan pendirian dan harapan.

Pernikahan pria dan wanita tentu menghendaki terjadinya sexual intercourse: penetrasi organ penis yang ereksi ke dalam organ vagina sehingga mencapai orgasme, mengeluarkan sperma dan membuahi ovum untuk menjadi embryo cabang bayi penerus keturunan. Pernikahan Connie dan Clifford adalah nir-seks. Mereka hanya hidup untuk menjaga kestabilan, kenyamanan material dan kekuasaan bangsawan aristokrat. Memang berlangsung percakapan intelektual antara mereka berdua yang menandai kesamaan kalau boleh dibilang cinta. Sebagai wanita yang berkehendak memenuhi dirinya seutuhnya, Connie sadar ia tidak bisa hidup hanya dari hubungan pikiran intelektual kering dan kenyamanan material tapi ia juga harus hidup secara fisik. Ketidakbahagiaan dan kekosongan inilah yang terjadi pada dirinya, yang terpenuhi dengan perselingkuhannya dengan Oliver Mellor.Ada yang bergaung di dalam diri Connie. Beri aku kebangkitan tubuh! Demokrasi sentuhan” (hal.199) begitu Connie menjerit dari dalam dirinya, mengawali pemberontakannya. Dari Mellor lah, Connie mempelajari bahwa seks bukan sesuatu yang memalukan dan rendah. Dari beberapa kali perselingkuhannya, Connie sampai pada suatu kesadaran akan arti seks yang lebih berarti dan menyeluruh. Seks adalah pembersihan dan pembebasan kemanusiaan dari dominasi intelek, rasional kering masyarakat modern. “Sayang sekali karena pria sensual itu sangat jarang ditemukan! Sayang sekali kebanyakan pria itu bodoh, memalukan. Seperti Clifford! Ataupun Michaelis! Keduanya memalukan. Kenikmatan puncak dari akal! Apa gunanya hal itu bagi wanita?” (hal.475) Demikian Connie mengungkapkan ini.

Penggambaran fisik dan karakter Cilfford kelihatan lebih simbolis daripada ril. Kelumpuhan Clifford dari pinggang ke bawah menyiratkan impotensi masyarakat industri atau masyarakat yang terindustrialisasi oleh mesin kapitalis jahatnya uang. Mereka tidak bisa lagi berhubungan seks dengan semestinya. Kalaupun mereka berhubungan seks, hanya sekedar coitus, sexual intercourse, bukannya making love, tidak lebih dari suatu mesin pencetak bayi untuk melanjutkan keturunan. Dari pinggang ke kepala lah kehebatan Clifford. Kepiawaiannya dalam mengelola bisnis tambang batubara dan percakapan intelektual keringnya memperlihatkan cara pandang dan sikap masyarakat modern. Sebagai pelarian Clifford atas ketidakberdayaannya dalam hal seksual, ia betul-betul pandai memamfaatkan kuasanya sebagai juragan tambang batubara dan hak privilege- nya sebagai kalangan aristokrat.

Mellor adalah representasi ide Lawrence yang muak dengan segala kemunafikan hidup dan dampak cara pandang dan sikap hidup masyarakat modern. Mellor adalah veteran tentara dengan berbagai pengalaman hidup, berpengetahuan luas, yang mengundurkan diri dari peradaban modern yang edan walaupun ia sebenarnya bisa ikut berperan di dalamnya. Ia memilih bekerja sebagai penjaga hutan pribadi milik Clifford dan tinggal di dalam hutan itu di sebuah pondok sederhana. Hutan adalah pelariannya. Hidup menyendiri dan tidak peduli dengan dunia luar. Kegagalannya berkeluarga dengan Bertha Coutts membuatnya takut berhubungan dengan wanita. Mellor adalah perpaduan sensitifitas perasaan dan kekuatan tersembunyi seorang pria matang. Kesendirian yang ia rasakan sama dengan yang dirasakan Connie. Dari beberapa kali perselingkuhan yang mereka lakukan di dalam pondok di hutan, mereka sampai pada pengalaman dan pengetahuan bahwa yang meeka lakukan bukan sekadar pemenuhan nafsu syahwat tapi adalah kegairahan hidup penuh: kohesi tubuh, emosi dan pikiran. “Nay nay! Bersetubuh hanya kegiatannya. Binatang juga bersetubuh. Tetapi “itu” lebih lagi. Itulah yang membuatmu cantik, sayang!” (hal.366), Mellor menjelaskan hal ini dengan pada suatu peselingkuhannya. Seksualitas inilah yang dimaksud oleh Lawrence. Bagaimana pria dan wanita mampu memikirkan, mengalami seks secara penuh dan jujur. Bukan seksualitas yang mekanis. Bukan seksualitas atau pun perselingkuhan murahan yang memang pada awal abad 20 sedang melanda Eropa dan Amerika, seperti yang dikenal dengan nama “the lost generation” atau “the jazz age” dalam karya F. Scott Fitzgerald.

Walaupun seksualitas yang menjadi topik novel ini, sebenarnya Lawrence membidik dampak industrialisasi kapitalis terhadap individu, masyarakat dan lingkungan lah sasarannya. Malah dari awal cerita, pembaca akan deengan mudah mengetahui bagaimana industrialisasi merusak alam lingkungan. Melalui karakter Connie, Lawrence menuturkan kerusakan yang diakibatkan oleh cara hidup baru masyarakat modern. Perubahan Inggris agraris menjadi Inggris Industri. Ekspoitasi alam demi keuntungan uang yang didapatkan para juragan bangsawan dan keletihan lesu para pekerja tambang yang membuat mereka tidak tahu lagi caranya bersetubuh. Dalam suatu perjalanan, Connie merenungi ini apa yang tengah terjadi dengan Inggris, “tempat ini menghasilkan ras baru manusia, yang terlalu peduli pada uang dan hal-hal yang berbau politik dan sosial, sedangkan sisi intuitif spontan mereka mati, mati sama sekali” (hal.325).

Kalau Connie dan Mellor berselingkuh untuk menghindari hiruk pikuk kegilaan masyarakat industri modern. Ironisnya, seksualitas dan perselingkuhan apa yang ditawarkan oleh masyarakat di era informasi super-modern sekarang? Kelihatannya sih seksualitas untuk komoditas industri dan uang.

(diterbitkan di lampung post)

DUNIA PETER PAN DAN WARISAN HUMANITAS MICHAEL JACKSON

“Inilah impianku/Inilah keyakinanku/Dunia sebagai semayam humanitas/Jikalah kita bisa mengangkat cinta ke maqam yang paling tinggi/Melebihi dari apa yang dunia pernah lihat”

(I have this dream/This I believe/The world a place for all humanity/If we could take love to its highest level/More than the world has ever seen) (I have this dream, Michael Jackson)

Semua anak tumbuh dewasa, kecuali Peter Pan. Ia tinggal dengan teman-temannya di negeri fantasi antah berantah Neverland. Dengan hanya memikirkan hal-hal yang indah menggembirakan, ia bisa terbang kemana ia suka. Bertualang, bermain, dunia peri, suku Indian, dan adu pedang dengan perompak Kapten Hook.

Begitulah J.M. Barry (1860-1937), seorang dramawan dan novelis Inggris menciptakan tokoh anak yang tidak mau dewasa dalam karyanya Peter Pan and Wendy, sebuah gambaran fantasi dunia anak. Michael Jackson adalah Peter Pan, yang menjadikan negeri antah berantah tersebut menjadi nyata di taman bermain Neverland Ranch-nya. Tapi Peter Pan bukan Michael Jackson, karena Peter Pan tidak suka menkonsumsi segala macam obat, dan ia tidak bisa mati.

Akhirnya sang Mega Bintang itu betul-betul telah pergi jauh. Meninggalkan kehidupan fana dan “dunia privasi” yang tercipta karena ekspose paparazzi berbagai media, dan yang Michael ciptakan sendiri. Harga suatu ketenaran atas sederet prediket yang melekat pada dirinya, atau segala kontroversi tentang dirinya harus ia bayar dengan masuk ke dunianya sendiri. Menghindari dunia di luar dunianya. Dalam lagu Destiny, Michael bersenandung sedih, “…aku ingin meninggalkan semua ini/ haruskah aku terbang bebas lepas kesana?” (I wanna be far from here/ should I up and fly away so fancy free?).

Dari masa kecil sampai maut merebutnya, Michael Joseph Jackson menjadi simbol pencapaian excellence dan self-expression seorang seniman yang memadukan fokus dan talenta untuk ide kesempurnaan berkarya. Berbagai penghargaan di bidang seni musik diraihnya menjadi saksi atas kejeniusan. Terlepas dari semua kontroversi dan skandal yang melingkupinya, Michael Jackson adalah seorang humanitarian, philanthropist, seorang dermawan yang sangat peka dan sensitif terhadap penderitaan orang lain, khususnya anak-anak yang tidak beruntung, tanpa pandang ras atau agama. Aspek dunia anak dan humanitas Michael banyak sekali ditemukan dalam lirik lagu dan tindak tanduknya. Pada 1992, Doubleday menerbitkan biografi Michael, Dancing The Dreams: Poems and Reflections, berisi kumpulan esei dan puisi – hasil observasi dan pemahaman Michael tentang kehidupan, dunia anak, humanis, dan Tuhan. Berbagai penghargaan di bidang kemanusiaan diberikan untuknya karena kedermawanannya, Organisasi atau Yayasan Kemanusiaan yang ia prakarsai. Terakhir pada 2008 ia dianugerahi Mother Theresa Award.

Perhatian, kepedulian dan rasa sensitif Michael Jackson terhadap anak-anak yang tidak beruntung berkemungkinan sekali dilatarbelakangi oleh hilangnya dunia anak masa kecilnya sendiri, terenggut oleh kesuksesannya sendiri. Hal ini diakuinya, “Sebelum kalian menghakimuku/Cobalah betul-betul mencintaiku/Lalu, tanyalah hatimu/Adakah pernah kau lihat masa kecilku?” (Before you judge me/Try hard to love me/Look within your heart, then ask/Have you seen my childhood?) tanya Michael kepada para pengecamnya karena keeksentrikan dan tuduhan Pedophilia atas dirinya dalam lagu Childhood.

Perubahan, adalah kata ajaib yang sangat mempengaruhi hidup Michael. Transformasinya dari seorang Negro menjadi Kaukasia, apakah karena zat pemutih (skin whitening), operasi plastik, atau karena penyakit Vitiligo yang secara berangsur memutihkan kulitnya karena proses depigmentasi kulit, adalah wujud nyata bagaimana Michael menyatakan ke-diri-annya, kemanusiaannya. Bahwa, ia ingin dilihat dari sifat, karakter, dan apa yang dilakukannya untuk sesama, bukan dari warna kulit. “Wajah, darimana darahmu mengalir/ menunjukkan dimana kalian berada/aku telah lihat orang yang berkulit lebih terang malah semakin membosankan/aku tidak akan menghabiskan hidupku dengan masalah kulit ini” (Faces/where your blood comes from/is where your space is/I’ve seen the bright get duller/I’m not going to spend my life being a color), demikian Michael menyatakan keterlepasan dirinya dengan masalah ras dalam lagu Black or White.

Ajakan perubahan yang ditawarkan Michael adalah untuk merubah kondisi dunia dan manusia yang tidak peduli pada penderitaan sesama, khususnya anak-anak (Michael tentunya tidak mengajak orang untuk merubah warna kulit dan bentuk tubuh, yang ironisnya, Michael sendiri menjadi icon budaya pop seperti citra cantik itu putih, hidung mancung, dan sebagainya). Dalam lagu Man in the Mirror, Michael memberitahu bagaimana ia melakukan perubahan dengan merubah cara pandang dan introspeksi diri, seperti seseorang yang sedang berdiri menatap pantulan dirinya dalam cermin. “Aku memulainya dari orang yang ada dalam cermin ini….Jika kau ingin menjadikan dunia ini suatu tempat yang semakin baik/Lihatlah dulu dirimu sendiri, barulah terjadi perubahan “(I am starting with the man in the mirror…If you wanna make the world a better place/Take a look at yourself and then make a change).

Tema perubahan dan ajakan untuk dunia yang lebih baik dan kondisi dunia anak mendominasi dalam lirik lagu Michael. Tidak hanya sekedar lagu, perubahan dan kepedulian ia wujudkan dalam praktiknya berupa bantuan kemanusiaan (charity). Untuk menyebutkan beberapa, pada 1985, dalam usaha menggalang dana bantuan kemanusiaan bencana kelaparan Afrika, Michael menggelar USA for Africa Concert dengan lagu We Are The World. Lagu-lagu lainnya dengan tema sema seperti The Lost Children, yang mengajak kita untuk menyelamatkan anak-anak tanpa orang tua korban perang, anak-anak pengungsi, kekerasan terhadap anak, dan anak-anak korban keluarga retak, berlanjut menjadi nama yayasan anak The Lost Children Foundation. Little Sussie, lagu lainnya yang diangkat dari kisah nyata pembunuhan gadis belasan korban pembunuhan di New York. Heal The World, lagu yang sangat kental dengan nuansa humanis, tentang dunia anak sebagai generasi mendatang, kemanusiaan yang sakit. “Sembuhkan dunia/Jadikan suatu tempat yang lebih baik?Untukmu dan aku dan semua manusia” (Heal the world/make it a better place/For you and for me and the entire human race), bersama dengan anak-anak ia mengajak semua orang. Lagu ini malahan juga menjadi nama yayasan kemanusiaan, Heal The World Foundation.

Visi kemanusiaan dan perhatian Michael pada dunia anak semakin meluas. Dalam lagu People Make The World Go Around, ia bicara tentang masalah pendidikan, kemiskinan, dan ingkungan. Coba simak ini, “Guru-guru berdemo, sekolah pun libur hari ini/Mereka menuntutkenaikan gaji tapi para petinggi tak mau bayar/Semua orang ramai bicara ekologi/Karena polusi udara yang bikin susah bernafas”(Teachers on strike, no more school today/They want more money but the board won’t pay/Everybody’s talking about ecology/The air’s polluted that it’s hard to breathe). Michael juga menyuarakan jeritan Bumi yang menangis karena hutannya digunduli, anak-anak kelaparan dan mati korban perseteruan atas nama krido agama, habitat hewan yang semakin tergusur dan punah lagu The Earth Song, “Pernahkah kalian perhatikan/Bumi menangis pantai meraung sedih?” (Did you ever stop to notice/The crying earth the weeping shore).

Sejalan dengan proses seseorang memahami kedirian manusia dan kemanusiaan, akan membawanya pada tahap yang lebih tinggi, suatu kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual adalah fitrah semua manusia, apapun agamanya. Bahwasanya manusia itu terbatas, rapuh, dan tak berkuasa. Kesadaran ini juga terlihat pada diri Michael, seperti yang ia tuangkan dalam lagu How is Life Going to Be. Di sini ia bersenandung masygul, “Kau tak kan tahu apa yang direncanakan Tuhan/ Oh, Yang Kuasa/ Janganlah kau kira Tuhan tidak akan mengampuni dosamu?karena Ia mengampuni dosamu” (You don’t know what is God planning/Oh my Lord/ Don’t you think would forgive your sin/God forgive your sins).

Bahkan dalam lagu lain yang tentunya membuat pemeluk agama Islam kaget dan berpikir Michael menjadi Mualaf, karena ia menyanyikan lagu Islami, Give Thanks to Allah. Di sini semakin terlihat kualitas spiritual Michael karena bait lagunya juga dalam bahasa Arab, “Berterima Kasih lah pada Allah/Bahkan Bulan dan Bintang berzikir setiap saatnya setiap hari/ Dari dulu sampai sekarang/Berpegang teguhlah pada Iman/ Jangan menyerah pada ajakan Setan….Allah adalah Ghaffur Allah adalah Rahim/ Allah lah Satu-satunya yang mencintai para Muhsinin/ Huwa Khalikhun Huwa Razikhun/ Wahuwa ala kulli shaiin Khadir,”(Give Thanks to Allah/For the Moon and the Stars prays all day full/What is and what was/Take hold of your Iman/Don’t givin to Shaitan…Allah is Ghafur Allah is Rahim/Allah is the One who loves the Muhsinin/Huwa Khalikhun Huwa Razikhun/Wahuwa ala kulli shaiin Khadir).

Akhirnya, dalam suatu perenungan, Peter Pan dalam karya J.M. Barry berkata, “Kematian adalah suatu petualangan maha hebat” (To die will be an awfully big adventure). Entah kemana seseorang setelah kematian, hanya orang itu yang tahu. Semoga Michael menemukan surga Neverland yang selalu dicarinya sewaktu hidup.

(belum diterbitkan)

HOME: KRISIS EKOLOGI GLOBAL DAN HARAPAN

Tolong, dengarlah aku! Kalian sama seperti aku, Homo Sapiens, manusia berpikir lagi bijak. Kehidupan, keajaiban di semesta raya, muncul 4 milyar tahun yang lalu, dan kita manusia, baru 200 ribu tahun yang lalu. Tapi, kita malah telah mengganggu keseimbangan hidup, yang begitu penting untuk kehidupan.

Tolong, betul-betul dengarlah cerita luar biasa ini, cerita tentang kalian, dan putuskan, apa yang akan kalian lakukan nantinya!

(Prolog film dokumenter HOME)

Demam kiamat Film 2012 garapan sutradara Roland Emmerich sedang melanda dunia dengan berbagai respon dan kontroversi yang mengikutinya. Kita pun diingatkan dengan film dokumenter tentang kerusakan bumi yang sangat pantas untuk ditonton, HOME.

Satu dekade belakangan sampai sekarang, para pemimpin dunia disibukkan dengan masalah krisis lingkungan yang telah mengglobal ini. Tidakkah ini mengkhawatirkan, tidak terhitung bencana alam sudah terjadi karena campur tangan tidak bertanggungjawab manusia, polusi, semakin sedikitnya lahan subur yang bisa ditanam, penggundulan hutan untuk diambil pohonnya dan pembukaan lahan baru, krisis kekurangan air bersih, kemarau yang berkepanjangan, perubahan cuaca yang tidak bisa diduga lagi, pemanasan suhu dan memucak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Mantan Wakil Presiden Amerika Al Gore setelah kekalahannya pada pemilu 2000 mengalihkan perhatian dan usahanya dalam menyelamatkan bumi dari masalah lingkungan yang sudah parah ini. Al Gore tampil di film dokumenter An Incoveniet Truth dengan menampilkan potret isu pemanasan global. Masalah global yang oleh para ilmuwan telah peringatkan tentang krisis ekologi bahwa kemanusiaan sedang menunggu detik-detik terakhir bom waktu raksasa bumi. Kemanusiaan yang telah mengganggu keseimbangan hidup di bumi yang dibangun oleh 4 milyar tahun evolusi. HOME adalah kampanye harapan bumi yang sedang mengkhawatirkan.

Tentang Film Domumentasi HOME

HOME adalah film dokumenter arahan sutradara Perancis Yann Arthus-Bertrand dan Luc Besson. Film produksi Eurocorp berdurasi 1 ½ jam versi free-release dan 2 jam theatre-release, dengan teknik pengambilan gambar aerial shots, penonton diajak terbang tinggi ke angkasa menikmati pesona bumi lebih dari 50 negeri (termasuk Indonesia, menyoroti kebakaran dan semakin berkurangnya hutan di Kalimantan, jantung bumi) yang luar biasa mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan.

Film ini memperlihatkan keragaman makhluk hidup di bumi dan bagaimana homo sapiens, dominasi spesies manusia mengganggu keseimbangan ekologis di bumi, planet yang sampai sekarang diyakini satu-satunya menampung kehidupan. Di release pada 5 juni 2009 yang lalu, bertepatan dengan World Environment Day, Hari Lingkungan Hidup, diputar di bioskop seluruh dunia, no copyright – gratis, dapat langsung di download lewat www.home.com.

HOME mendokumentasikan secara kronologis perkembangan kehidupan di bumi dari awal sampai sekarang dengan segala kerusakan dan krisis lingkungan global serta dampak kehancurannya di masa mendatang. Dari awal sampai akhir, artis senior Holywood, Glenn Close, si narator, bertutur dengan suara lembut meyakinkan penuh harap tentang “Linkage” . Kesaling-terikatan, bagaimana keseimbangan hidup semua organisme dan dunia yang saling terkait, sekecil apa pun organisme itu namun berperan krusial, bahwa tidak satu oraganisme pun yang bisa terlepas dari mata rantai ikatan ini, inilah tema yang diusung.

HOME: Fakta yang mengkhawatirkan

Diawali dengan visualisasi lanskap volcano yang menakjubkan, menyusuri jejak asal mula kehidupan. Rekaman kumpulan asap dari perut bumi menawarkan kilasan pandangan seperti apa bumi atmosfir bumi purba dulunya. Sekitar 15 menit awal, digambarkan dengan tuturan narator tentang asal usul kehidupan sel purba, dari archeobacteria, dan algae biru hijau, yang berevolusi dengan bantuan fotosintesis menjadi spesies tumbuhan, yang membutuhkan waktu 4 milyar tahun.Diikuti dengan munculnya spesies hewan, yang beradaptasi dengan lingkungan dan lingkungan juga beradaptasi dalam hubungan yang saing menguntungkan.

Dari sini melompati misteri bagaimana manusia tercipta, 200 ribu tahun yang lalu, tentu disengaja untuk menghindari debat dua kubu Kreasionis dan Evolusionis. Dari masyarakat nomadik primitif yang berburu untuk bertahan hidup, 180 ribu tahun yang lalu, mereka mulai menetap dan mengenal pertanian dan cocok tanam. Mereka membangun tempat tinggal di dekat perairan, sungai dan danau. Dengan cara hidup agraris awal, mereka mulai menaklukkan hewan sebagai alat transportasi dan daerah baru. Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, penemuan agrikultur mengawali revolusi pertama manusia yang hebat menghasilkan kota dan peradaban.

Gambar-gambar film terus bergerak memperlihatkan perkembangan manusia, berkat kejeniusannya, kerja tenaga otot digantikan oleh mesin. Tenaga yang terkubur di dalam bumi dikeluarkan, batubara, gas, dan minyak. Dari sini, mulai lah era baru manusia, yang bebas dari rantai waktu. Semua atas nama progress, kemajuan masyarakat modern, dengan perkembangan kota besar, gedung-gedung pencakar langit, megacity, megalopolis seperti New York, Las Vegas, Los Angeles di Amerika, Shenzen dan Shanghai, China, Mumbay di India, Dubai di Mesir, dan banyak lagi. Semua menjadi berubah dengan sangat cepat.

Dipertengahan film, mulai lah dipertontonkan kerusakan, kesenjangan antara kemajuan dan dampak yang timbul terhadap alam, manusia, hewan, dan tanaman. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pesawat khusus pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hasil pertanian yang diangkut ke lahan peternakan penggemukan sapi yang tidak lagi memakan rumput tapi hasil panen gandum dan kacang kedelai. Eksploitasi mineral. Hilangnya humus dan erosi tanah Kelangkaan air bersih dan makanan. Migrasi manusia ke daerah perkotaan. Kesenjangan sosial di negara berkembang yang kaya sumber daya alam . Krisi energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Migrasi hewan-hewan tidak pada musimnya. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Visualisasi fakta kerusakan dan krisis lingkungan ini diselingi dengan munculnya tulisan dilayar film berupa data-data yang membuat kita terenyuh sedih dan berkata pada diri sendiri, “Sudah begini parah kah kerusakan bumi ini? Apa yang sudah kita lakukan pada bumi ini?” Bayangkan ini.

  • 1 milyar penduduk bumi tidak mendapatkan akses air minum bersih, dan 5000 orang meninggal karena tidak mengkonsumsi air bersih,
  • 1 milyar penduduk bumi kelaparan dan kurang gizi,
  • Lebih dari 50% hasil panen tanaman seperti kedelai dan gandum diperdagangkan di seluruh dunia untuk pakan penggemukan hewan atau biofuel,
  • Pemerintahan di berbagai negara menghabiskan pengeluaran militer 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bantuan untuk negara terbelakang,
  • 40% lahan tanah tanaman terancam rusak karena penggunaan pestisida,
  • Setiap tahun, 13 juta hektar hutan hilang,
  • 1 dari 4 mamalia, 1 dari 8 burung, 1 dari 3 amfibi, terancam punah,
  • ¾ perairan untuk menangkap ikan terancam aus, dan habis,
  • Suhu rata-rata 15 tahun terakhir mencapai puncak tertinggi yang pernah terjadi,
  • Lapisan es kutub yang mencair 40% dibanding 40 tahun yang lalu,

HOME: Harapan

Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi, but it’s too late to be a pessimist, terlambat sudah menjadi pesimis, begitu narator di bagian akhir mengajak. Sebuah sikap optimis di tengah-tengah berbagai kompleksitas masalah lingkungan. Kemanusiaan harus penuh harap dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam.

Kemanusiaan yang menjarah alam seperti memperkosa prostitusi harus dihentikan. Merubah pola hidup konsumtif. Daur ulang dan Inovasi pencarian sumber energi yang berkelanjutan. Konservasi alam dan Reboisasi. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi.

Dari awal sampai akhir film, tidak sekali pun narator menyebut kata Tuhan. Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan segala kerusakan yang terjadi, karena memang semuanya adalah karena ulah manusia sendiri. Namun begitu, ada terasa nuansa religiusitas yang dalam dan menyeluruh dalam tema “linkage” , saling keterikatan semua hal. Bisa juga ini menunjukkan ketidakmampuan, atau tidak adanya peran agama-agama besar, yang terjebak dalam Teologi Ortodoks yang kelihatannya tidak mampu menyikapi permasalahan lingkungan. Makanya belakangan muncul Teologi Lingkungan yang diharapkan bisa memberikan sumbangannya dalam menanggulangi masalah lingkungan.

Kritik atas modernisme tentu menjadi bidikan film ini. Dari abad 15, gejala cara pandang Cartesian dengan cogito ergo sum, manusia meraih kebebasannya menjadi subjek bagi dirinya sendiri dan menjadikan alam sebagai objek. Industrialisasi, Progress dan Kapitalisme pun menjadi mesin kehidupan masyarakat modern yang memperlakukan alam seenaknya tanpa diikuti tanggungjawab. Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu, dengan sikap kritis memperlihatkan permasalahan ini dengan begitu menyeluruh dalam konteks Indonesia dan Jawa, dalam cara pandang Post-Modernisme terhadap agama-agama Monoteis besar, Modernisme dan Militerisme.

Bumi dan kemanusiaan tetap ada harapan. Dibutuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan, linkage. Bagaimana kesadaran dan tanggungjawab global ini tumbuh butuh peran dari semua pihak dan individu. Dibutuhkan hubungan yang adil dan harmonis antara negara maju dan berkembang yang saling memberi dan menguntungkan. Pemerintah dengan kebijakan ekonomi yang bijak tanpa harus terus menggerus sumber daya alam yang bakal habis dan mendorong inovasi sumber daya alam dan energi yang bisa diperbaharui. LSM yang betul-betul mendorong pemberdayaan manusia. Individu-individu yang berkesadaran global dan berperilaku ramah lingkungan, to act locally and to think globaly.

Jostein Gaarder, dalam novelnya Maya, mewartakan: “Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggungjawab global, melainkan merupakan tangungjawab kosmos”

(belum diterbitkan)