Rabu, 09 Juni 2010

Postmodernisme – Sebuah Gambaran

Postmodernisme sulit didefenisikan, karena pendefenisian akan melanggar dasar pemikiran postmodern itu sendiri, karena istilah yang pasti, batasan-batasan, atau kebenaran absolut sebenarnya tidak ada. Istilah “posmodernisme” tetap kabur, karena siapa saja yang mengaku orang-orang posmodern punya kepercayaan dan pendapat yang beragam tentang hal ini.

Apakah nasionalisme, politik, agama, dan perang hasil dari mentalitas manusia primitif? Apakah kebenaran hanya sebuah ilusi? Bagaimana bisa Kristianitas mengklaim sebagai yang unggul atau pendikte moral? Daftar pertanyaan prihatin yang senada akan terus bergulir khususnya bagi yang menggeluti filsafat postmodern dan gaya hidup. Bagi beberapa orang, pertanyaan ini berakar dari hilangnya kepercayaan dalam dunia Barat yang korup. Bagi yang lainnya, kebebasan dari otoritas tradisional lah isunya. Perhatian mereka berkisar pada tetap bergantungnya Barat pada moral agama tradisional, nasionalisme, kapitalisme, sistem politik yang tidak masuk akal, serta praktik dan dampak promosi “perdagangan/trade-off” yang tidak bijak dan merugikan antara sumber daya energi dan lingkungan, untuk perolehan ekonomis semata
Bagi posmodernis, gaya hidup masyarakat dunia Barat sudah ketinggalan jaman. Mereka berselubung di bawah birokrasi umum tak berwajah. Posmodernis tanpa henti mengkritik masyarakat modern bahwa masyarakat Barat harus bergerak maju meninggalkan ke-primitif-an pikiran dan praktik tradisional kuno mereka.
Perhatian masyarakat barat, seperti contoh, seringkali berhubungan dengan pembangunan gedung-gedung dan penggunaan senjata penghancur massa, mendorong konsumerisme tanpa batas yang mengakibatkan masyarakat melakukan pembuangan sia-sia dengan mengorbankan sumber daya alam dan lingkungan, sementara itu pada saat yang sama tidak melayani kebutuhan orang banyak dengan adil dan berimbang.

Para Postmodernis percaya bahwa klaim Barat akan kebebasan dan kemakmuran tidak lebih dari janji kosong dan tidak memenuhi kebutuhan kemanusiaan. Mereka percaya bahwa kebenaran adalah relatif dan kebenaran itu terserah pada setiap individu yang menentukannya. Kebanyakan mereka percaya bahwa nasionalisme hanya membangun dinding-dinding, mengundang musuh, dan menghancurkan “Mother Earth”, sementara itu kapitalisme menciptakan jurang pemisah antara masyarakat “yang berpunya dan yang tidak punya”, dan agama mengakibatkan friksi moral dan perpecahan diantara masyarakat.
Posmodernisme mengaku sebagai penerus zaman Pencerahan abad 17. Selama 4 abad, “para pemikir posmodern” telah mempromosikan dan mempertahankan cara Era Baru mengonseptualisasikan dan merasionalisasikan kehidupan demi kemajuan manusia. Para Posmodernis biasanya ateistik atau agnostik namun ada juga yang lebih menyukai ikut pemikiran  dan praktik agama Timur. Banyak juga yang naturalis seperti humanitarian, pakar lingkungan hidup/enviromentalis, dan filosof.
Para postmodernis menantang inti agama dan nilai-nilai kapitalis dunia Barat dan mencari perubahan untuk suatu era baru kebebasan dalam komunitas global. Kebanyakan mereka tinggal di bawah pemerintahan global yang non-politis, tanpa batasan suku atau bangsa dan pemerintahan yang sensitif terhadap persamaan sosioekonomis untuk semua masyarakat.  


            Postmodernisme – Benar atau Salah?
Postmodernis tidak menawarkan pemikiran tentang apa itu benar atau salah, baik atau buruk, kebaikan atau keburukan. Mereka percaya bahwa tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Seorang postmodernis melihat dunia diluar mereka adalah kesalahan, dengan begitu, kebenaran orang lain menjadi tidak mungkin luput dari kesalahan. Jadi, tidak seorang pun yang punya otoritas atas kebenaran, atau memaksakan moral benar atau salah  pada orang lain.
Rasionalisasi diri mereka terhadap semesta dan dunia sekitar membuat mereka menguji diri mereka sendiri atas wahyu ilahi versus relativisme moral. Mereka banyak yang memilih pada naturalisme dan evolusi dibanding Tuhan dan penciptaan.     

            Posmodernisme dan Politik
Postmodernis menentang penindasan masyarakat Barat terhadap persaman hak. Mereka percaya sistem ekonomi kapitalistik tidak menyeimbangkan distribusi barang dan gaji. Ketika segelintir orang kaya semakin makmur, masyarakat lainnya hidup dalam kemiskinan. Postmodernis melihat konstitusi demokrasi sebagai substansi sumber kesalahan, tidak mungkin ditegakkan, dan tidak adil pada prinsipnya.

            Apa karakeristik Postmodernisme?
Kalau pun diurut karakteristik postmodernisme, penting diingat bahwa mereka sama sekali tidak menempatkan filsafat mereka dalam suatu kotak  atau kategori tertentu. Kepercayaan dan praktik mereka lebih bersifat personal daripada yang bisa diidentifikasi dengan bangunan atau kumpulan ketertarikan khusus Prinsip-prinsip dasar postmodernisme adalah sebagai berikut:

  • Tidak ada kebenaran yang absolut – Para pemikir posmo percaya bahwa pemahaman tentang kebenaran adalah rekaan ilusi, disalahgunakan oleh orang dan kelompok masyarakat tertentu untuk meraih kekuasaan di atas orang lain. 
  • Kebenaran dan kesalahan adalah sama – Para pemikir posmo nyatakan bahwa fakta terlalu terbatas untuk menentukan sesuatu. Karena perubahan yang tak menentu, apa yang menjadi fakta kebenaran saat ini bisa menjadi salah besok harinya.   
  • Konseptualisasi dan Rasionalisasi Diri – Logika tradisional dan objektifitas tidak berlaku dalam dunia posmo. Malahan terdapat kecenderungan lebih bergantung pada opini daripada bersandar pada fakta, karena posmodernisme tidak memberlakukan metode ilmiah.
  • Otoritas trasional adalah salah dan rusak – Posmodernis menentang kekakuan moral agama otoritas sekuler. Pemikir posmo melancarkan intelektual revolusioner untuk menyuarakan kekhawatiran mereka tentang kemapanan tradisi.
  • Kepemilikan – Para posmodernis mengklaim bahwa kepemilikan kolektif adalah yang paling memungkinkan untuk melancarkan barang dan jasa.
  • Tipuan modernisme – Posmodernis menyesalkan janji-janji tak terpenuhi sains, teknologi, pemerintah, dan agama.
  • Moralitas adalah masalah personal – Posmodernis percaya bahwa etika adalah relatif, untuk itu, moralitas dikembalikan pada opini individu. Posmodernis mendefinisikan moralitas adalah kode etik tiap-tiap individu tanpa harus mengikuti nilai dan aturan tradisional.
  • Globalisasi – Kebanyakan Posmodernis mengklaim bahwa pembatasan bangsa membawa masalah terhadap komunikasi manusia. Nasionalisme hanya akan mengakibatkan peperangan. Makanya, Posmodernis sering mengusulkan internasionalisme dan penyatuan negara yang terpecah.
  • Semua agama adalah valid – Posmodernis menghargai keimanan inklusif, cenderung pada agama NEW AGE. Mereka tidak menyetujui klaim bahwa Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju Tuhan.
  • Etika Liberal – Posmodernis mendukung perjuangan gerakan feminisme dan homoseksual.
  • Pro-Gerakan Lingkungan Hidup – Mereka mendukung “Mother Earth,” dan menyalahkan masyarakat Barat atas kerusakan Bumi.
(Dari berbagai sumber wacana Posmodernisme)
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar