Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Februari 2010

KEBOHONGAN YANG MENYELAMATKAN Dalam Film “The Invention of Lying”

Alangkah keringnya kenyataan hidup tanpa kata yang dipoles, ditambah atau dikurangi dari keadaan yang sebenarnya, begitulah kira-kira Oscar Wilde, sastrawan Inggris akhir abad ke-20 pernah berkata. Kenyataan hidup sering atau mungkin selalu pahit, terombang-ambing tanpa tujuan, tidak enak dipandang, atau jelek. Lalu bagaimana menghadapinya? Lebih lanjut Oscar Wilde mengatakan bahwa berbohong, mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan indah, adalah tujuan utama dari suatu seni, seni hidup, seni untuk hidup.

Tapi misalkan begini! Bagaimana kalau manusia hanya bisa berkata yang benar-benar saja? Semua yang bisa dikatakan hanyalah kebenaran semata? Tidak ada kebohongan dan kecurangan? Manusia mengutarakan dengan jujur apa yang ada dibenaknya dan apa yang dia rasa? Tidak ada rasa malu, semua orang menerima apa adanya suatu keadaan? Bayangkan saja kalau anda bertubuh besar dan ada teman anda bilang anda sangat gemuk seperti kerbau, muka anda jerawatan penuh bisul menjijikkan,  Anda hanya bisa menjawab, ya, saya memang demikian adanya, anda tidak malu mengakuinya. Atau kalau anda seorang pejabat, anda ditanya sudah berapa banyak uang rakyat yang anda telan lantas anda jawab sudah banyak sekali tak terhitung, tolong penjarakan saya! Dan seterusnya…

Inilah yang digambarkan film The Invention of Lying (Penemuan Kebohongan), diperankan oleh aktor komikal Inggris Ricky Gervais yang sekaligus sutradara. Film ini mengangkat dan memutabalikkan dunia menjadi sebuah kelucuan yang ganjil, menjadi suatu komedi satir tajam atas dunia nyata. Kenyataan paralel dalam film ini adalah sebuah dunia yang mempostulatkan setiap manusia yang ada di sana hanya mengatakan kebenaran, sepenuh-penuhnya kebenaran, tanpa kebohongan secuilpun.

Film dengan tema yang sama pernah ada sebelumnya, dalam “Liar, Liar” (1997), yang menampilkan Jim Carrey sebagai pegacara, lawyer, yang kalau dibaca hampir sama bunyinya dengan liar, pembohong. Dalam film ini, dunia nyata ditampilkan apa adanya, bahwa manusia dalam bermasyarakat terjebak tak terhindar dalam kebohongan, ketidak-jujuran, keculasan, pemutar-balikan fakta. Dan, Jim Carrey disini, karena permohonan anaknya waktu ulang tahun, ingin ayahnya tidak bisa berkata bohong dalam satu hari, sekecil apapun. Dan segala macam kebenaran muncul di tengah kebohongan hidup, ditambah dengan adegan slapstick ciri khas Jim Carrey, maka muncullah kebenaran hidup yang ditertwakan. Tapi dalam film The Invention of Lying ini, situasinya terbalik total.

Film ini diawali oleh narasi Mark dengan memberitahu pada penonton bahwa dunia yang didiaminya adalah sebuah kota dimana semua orang selalu mengatakan kebenaran apa adanya. Kebohongan tidak ada, belum ditemukan. Kebenaran ditelanjangi bulat-bulat, bahkan tidak menyisakan imajinasi sedikitpun untuk menyimpangkan suatu fakta.
Bahasa verbal dalam berinteraksi sesama manusianya blak-blakan. Mark, yang bekerja sebagai seorang penulis script-writer di perusahaan film, dikatakan oleh koleganya sebagai pecundang gendut berhidung besar. Ketika menjemput Anna di apartemen untuk blind date, (diperankan oleh Jeniffer Garner), begitu membuka pintu, Anna dengan tanpa malu mengatakan bahwa ia baru saja masturbasi. Dengan kikuk, Mark membalas dengan mengatakan kegiatan Anna itu membuatnya memikirkan tentang vaginanya. Keterus-terangan membicarakan hal-hal privasi pun dibeberkan dalam film ini. Saat di restoran yang tidak begitu mewah, Anna tanpa aling-aling mengatakan Mark bukan lelaki yang se-level dengannya, karena alasan fisik dan keuangan.

Tapi semua menjadi berubah drastis, bahkan revolusionis, dimulai saat Mark Bellison (Ricky Gervais) tanpa sengaja “menemukan” kebohongan kecil, yang terus bergulir diikuti dengan kebohongan yang lebih besar lagi. Eksplorasi kebohongan-kebohongan ini malah memuncak pada pembentukan keseluruhan sistem kepercayaan agama.

Ketelanjangan fakta dipertontonkan ke semua bidang kehidupan dalam film ini, media komunikasi TV, iklan, dan semua yang berbau budaya pop. Kita tidak menemukan bahasa iklan seperti di dunia nyata, lihat saja begitu sederhananya iklan Coke, “It Is Very Famous” (Coke Sangat Terkenal), atau “I am asking you to not buying Coke” (Saya Minta Anda Tidak Membeli Coke) dan Pepsi rivalnya dengan jujur beriklan, “When They Don’t Have Coke” (Kalau Lagi Tidak Ada Coke). Acara TV juga di isi dengan keterus-terangan berita yang terdengar menggelikan, malah menyakitkan. Penggunaan bahasa untuk nama-nama tempat juga tanpa penggunaan gaya bahasa yang diperhalus. Lihat saja tempat nama yang digunakan untuk panti jompo, “A Sad Place For Hopeless Old People”(Tempat Menyedihkan Untuk Orang-Orang Yang Tak Ada Harapan). Semua kejujuran ini menggelikan, tapi juga menyakitkan, dan merendahkan.

Kebongan pertama terjadi tanpa disengaja Mark saat ia menarik uangnya yang tidak seberapa di bank dengan menyebutkan jumlah uang yang melebihi dari apa yang ia punya. Si karyawan bank bukannya memarahi Mark tapi mengatakan kesalahan mungkin pada pencatatan komputer dan ia minta maaf untuk itu. Penemuan kebohongan pertama ini memicu Mark melakukan kebohongan-kebohongan lainnya demi apa yang menurutnya benar. Mark menemukan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu adanya.

Dari sini, permainan kebohongan mulai. Mark dengan imajinasi suka-suka menciptakan skrip film yang katanya berdasarkan kisah nyata (based on true story), dan ia meraih sukses besar dengan karyanya ini. Tidak seorangpun yang meragukan kebenarannya. Ia bahkan bisa bilang bahwa ia berkulit hitam, dan yang mendengar hanya bilang, “ya, memang, aku tahu itu”. Dengan manipulasi fakta, Mark bisa mengajak orang yang belum ia kenal untuk berhubungan seks, meski akhirnya ia tidak melakukannya.

Film ini juga mengangkat tema filosofis dan teologis kering yang sangat bernuansa eksistensialis modern. Keberadaan manusia di dunia terasa mengambang tanpa tujuan yang jelas. Kematian tidak punya makna apa-apa bagi eksistensi manusia, karena begitu maut tiba, eksistensi pun selesai. Kematian berganti menjad ketidak-ada-an yang absurd, “nothingness”, begitulah Sartre membeberkan kodisi manusia. Untuk menenangkan ibunya yang sakit parah dan tak tertolong lagi di rumah panti jompo, Mark berusaha meyakinkan ibunya bahwa kematian bukan berarti ketiadaan yang sia-sia. Mark “mengantarkan kepergian” ibunya dengan mengatakan setelah kematian, ibunya akan tetap melanjutkan kehidupan dan kebahagiaan luar biasa, di sana ada rumah mewah yang pernah ada dalam pikiran ibunya. Penemuan sorga bikinan Mark didengar oleh beberapa dokter dan perawat di rumah jompo dan menyebar, bahkan sampai diberitakan dalam TV.       

Dari lokal sampai mengglobal, menggelindinglah berita ini kemana-mana dan menjadikan Mark sebagai figur sang Pembawa Berita Dari Dunia lain. Di sini Mark tampil sebagai figur Nabi Musa, atau John si Pembabtis. Bedanya, dulu, orang-orang percaya apa yang diwahyukan Nabi mereka, sedangkan pada Mark hanya mengarang-ngarang saja. Mark mewartakan bahwa kehidupan dan takdir manusia diatur oleh “a mysterious man in the sky”. The Ten Commandment (Sepuluh Perintah, Kitab Taurat yang diturunkan pada Nabi Musa) ala Mark  ditulis tergesa-gesa di atas kotak pizza demi memenuhi keinginan khalayak ramai tentang apa yang harus mereka lakukan di dunia. Entah ini lucu atau olok-olok sindiran tajam buat sistem Agama, dengan mengangkat kotak Pizza, Mark bersabda, “Segala sesuatu yang kalian butuhkan tertulis di kotak pizza ini”. Mark juga mewartakan bahwa kehidupan dan takdir manusia diatur oleh “a mysterious man in the sky”. Kelihatannya masuk akal sekali Gervais di sini menggunakan film ini untuk membuat gurauan tajam dan kelihatan merendahkan (mockery) tentang aspek spiritual manusia modern  yang begitu kering, haus ingin dipuaskan, meski dengan kebohongan.
Dengan “The Invention of Lying”, aktor, penulis skrip dan sutradara film ini berhasil melahirkan suatu komedi satir tajam tentang dunia yang diputar-balikkan. Gervais juga berhasil menggabungkan tema religiositas dalam kehidupan budaya popular.
(belum terbit)

Minggu, 31 Januari 2010

TENTANG MEMAAFKAN DAN RASA BERSALAH DALAM FILM “THE READER”


Bayangkan, kalau Anda bisa, anak-cucu pasukan khusus S.S Nazi bercerita dari sudut pandang mereka. Anak keturunan para pengikut penjahat perang sistematis ala Nazi, seperti yang tergambar dalam film Schlinder Lists, meminta dunia untuk memaafkan dan mengasihani orang tua mereka yang berpartisipasi dalam dehumanisasi (genocide) pembunuhan massal ribuan orang Yahudi di Eropa selama masa Perang Dunia ke 2.
Itulah inti dari film The Reader. Bagi para survivor, orang Yahudi yang selamat dari perisiwa tidak masuk akal (absurd) ini, tentu tidak pernah bisa melupakan dan memaafkannya begitu saja. Namun, bagi generasi Yahudi diaspora pertama setelah Perang Dunia ke-2 dan seterusnya peristiwa tragis yang menimpa orang tua mereka ini tidak begitu terikat lagi. Keterikatan mereka hanya karena mereka menyandang nama Yahudi dari orang tua mereka. Film The Reader pun hadir dengan latar kekejaman Holocaust yang dipilin dengan adegan menyentuh emosi yang membuat air mata tanpa sadar menetes menaruh rasa iba pada bekas penjaga camp tahanan Yahudi. Maka terbaliklah stereotip film-film dengan tema kekejaman Nazi terhadap Yahudi (Holocaust).
Lima Nominasi Oscar 2008 termasuk kategori The Best Picture akhirnya diraih film ini. Kesuksesan film ini menyiratkan bahwa kebanyakan penonton hanyut terbawa emosi dan menaruh rasa kasihan terhadap si penjaga camp tahanan yang tidak tahu apa yang sebenarnya yang telah ia lakukan. Inilah yang membuat cerita dalam film ini menarik, menjadi titik balik dalam budaya populer, sebagai suatu permulaan untuk memaafkan kalau bukan mengampuni rasa salah kolektif pemerintahan Nazi pimpinan Hitler Jerman.
The Reader dibintangi oleh Kate Winslet sebagai Hanna Scmitz dan Ralph Fiennes sebagai Michael Berg, kekasih masa remaja Hanna, dan juga sebagai pencerita dalam film ini. Penampilan mereka luar biasa menjiwai, meski Ralph Fiennes kelihatan lebih bagus bermain dalam The English Patient, The End of the Affair, atau The Constant Gardener. Tapi Winslet berperan sangat orisinil, sangat matang, berkarakter mengagumkan, melebihi perannya dalam Titanic. Apalagi film ini disutradarai Stephen Daldry yang juga meraih Nominasi The Best Director.
Ide cerita dalam film ini mengangkat kasus hukuman penjahat perang, dengan memasukkan elemen emosi dan mental untuk menemukan rasa kebersalahan. Skenario film bergerak bukan saja dengan cara menghadirkan latihan bagaimana memecahkan masalah pelik dalam kasus hukum dan proses pengadilan. Yang menarik lagi secara psikologi adalah film ini memasukkan teknik Bildungsroman. Cara bercerita ini biasanya terdapat dalam novel (karena memang film ini diangkat dari novel seorang penulis yang juga profesor dalam bidan hukum), tentang masa kehidupan proses pendewasaan seorang remaja, tahun-tahun masa pembentukan menjadi dewasa, secara seksual, mental dan cara pikir. Dengan teknik kilas balik (flashback), berceritalah tokoh Michael dewasa pada putrinya, kembali ke 1958 saat ia bertemu Hanna, seorang perempuan Jerman misterius berumur dua kali Michael, yang dengannya lah Michael terlibat dalam hubungan asmara yang mendalam.
Michael remaja, anak seorang profesor filsafat, adalah seorang siswa yang sering kikuk tapi sangat pintar. Hanna berasal dari keluarga petani, dan ia buta huruf. Pada umur 16, Hanna ke Berlin bekerja di pabrik, umur 21 ia ikut ketentaraan, dan pada masa-masa akhir perang dunia ke-2 ia bekerja diberbagai tempat. Saat Michael bertemu dengan Hanna, ia bekerja sebagai kondektur kereta api. Karena Michael menderita hepatitis, saat pulang dari sekolah ia muntah-muntah di gang kecil dekat apartemen Hanna. Hanna menolongnya dan membersihkan bekas muntah Michael di gang tersebut. Dua minggu kemudian, Michael menghaturkan terima kasih pada Hanna dengan membawa bunga ke apartemen Hanna. Di sinilah, Michael mulai merasa tertarik secara seksual pada Hanna, yang buat Hanna sendiri, ia terima, bahkan di sini malah Hanna yang memamfaatkan Michael.
Hanna mengerti dengan Michael sebagai remaja yang baru memasuki dunia orang dewasa, dan bisa dikatakan bahwa pada Hanna lah Michael “belajar secara praktik” tentang hubungan seksual. Rentetan hubungan ini tidak hanya sebagai suatu kesenangan biologis buat mereka, khususnya Hanna. Meski kelihatan Hanna tidak berpendidikan dan tidak bisa membaca (yang saat itu Michael remaja belum sadari), tapi ia punya selera rasa sastra yang tinggi. Sebelum atau sesudah mereka berhubungan seks, Hanna selalu meminta Michael membacakan karya sastra terkenal dunia seperti War and Peace-nya Tolstoy, Homerus, Goethe, dan banyak lagi. Dari mendengar bacaan sastra ini, Hanna mendapat pelajaran, bahwa, salah satu nilai utama dalam sastra adalah dengan menyatakan kebenaran tentang keadaan manusia.
Sulit dipercaya bagaimana karakter Hanna yang begitu murni, naif, halus sensitif, “membumi”, ternyata bekas penjaga camp tahanan Yahudi selama perang dunia kedua. Michael yang telah begitu terlanjur menyukai Hanna sangat terpukul sekaligus tidak bisa melupakan Hanna. Sebagai siswa yang mendalami bidang hukum, disinilah pertentangan batin Michael muncul. Hanna menyadari hal itu, dan ia pun menghilang meninggalkan Michael. Dampak menghindarnya Hanna dari Michael sangat besar dalam diri Michael.
Di satu sisi, hubungan intens yang telah mereka jalani meninggalkan bekas dan lubang kelam dalam diri Michael. Di sisi lainnya, Michael juga menyadari Hanna adalah bekas penjaga camp Auscwitz yang membunuh ribuan Yahudi, yang mencoreng muka Michael karena rasa malu. Setelah menyaksikan sendiri pengadilan bekas penjaga Auswich termasuk Hanna, akhirnya Michael malah memaafkan apa yang telah dilakukan Hanna, karena Michael yakin Hanna tidak pernah bermaksud membunuh mereka. Hanna hanya terjebak dalam situasi sistematis yang ia tidak bisa hindari. Inilah kesimpulan yang Michael ambil setelah Hanna diadili di pengadilan penjahat perang dan dihukum penjara selama tiga puluh tahun.
Jerman terkenal dengan nama Fatherland, tanah air Jerman yang patriarkat. Negeri yang dikuasai dan diperintah oleh kekuasaan Rejim Reich ini meninggalkan rasa bersalah dan dosa besar selama Perang Dunia Kedua. Hanna adalah simbol dari Jerman Motherland, tanah air, ibu pertiwi yang mendapatkan warisan rasa bersalah dan dosa besar pemerintahan Hitler. Hanna, si ibu pertiwi Jerman menjadi korban yang harus ia pertanggungjawabkan atas dosa penguasa Fatherland. Michael adalah anak generasi paska-perang yang butuh memberi maaf pada orang tua mereka. Karena, akankah mereka terus menolak memaafkan sedangkan mereka tetap terikat dengan darah orang tua mereka? Inilah yang dituju dalam film The Reader, memaafkan ibu pertiwi Jerman, dan tentunya bagi yang tidak bisa memaafkan, film ini tentu sangat pahit untuk ditelan.
Hanna seorang perempuan tangguh dengan integritas tinggi pada pekerjaannya. Ketika di pengadilan ia disuruh menceritakan kenapa ia melakukan pekerjaannya, Hanna menjawab: “Lalu suara teriak pedih terdengar semakin menyakitkan. Kalau kami buka pintu itu mereka semua pasti berhamburan keluar…..kami tentu tidak bisa melanggar aturan?...kami tentu tidak bisa saja membiarkan mereka kabur!..”Kita bisa menilai Hanna bahwa ia sangat dedikasi terhadap pekerjaannya, lebih mematuhi aturan daripada kepeduliannya terhadap kemanusiaan. Tindakannya adalah ketidakpedulian moral yang tertekan oleh kepatuhan total suatu aturan yang absurd tak manusiawi.
Penampilan Winslet meyakinkan kita bahwa Hanna masih tidak tahu kalau yang telah dilakukannya saat menjadi penjaga camp tahanan adalah kesalahan. Bertahun kemudian saat Hanna di dalam penjara, ketika ia telah bisa membaca dan menulis, barulah ia menyadari dan mengerti tentang kejahatan Holocaust dan perannya saat itu. Menarik sekali bagaimana usaha Michael untuk menghibur dan menemani Hanna dalam penjara. Michael membaca karya-karya sastra dunia, merekam dan mengirimkan rekaman itu ke Hanna, sampai akhirnya Hanna tergerak untuk belajar membaca dan menulis sendiri.
Di penghujung tiga puluh tahun masa akhir tahanan Hanna, Michael menemui Hanna dan Hanna meminta memberikan tabungannya pada seorang perempuan Yahudi di New York, sebagai tanda permintaan maaf yang tentu saja ditolak. Hanna yang akan keluar bebas dari penjara tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti, karena dunia yang dihadapinya sangat berbeda. Hanna yang merasa tidak terampuni akhirnya bunuh diri di saat ia bebas dari penjara. Tidak ada kemungkinan untuk dimaafkan lagi buat Hanna.
Michael adalah anak generasi pertama setelah Perang Dunia Kedua. Diakhir film, Michael menceritakan semua hal ini pada putrinya yang sudah dewasa meminta pengertian pada putrinya kenapa hidupnya begitu muram, berpisah dengan istrinya dan tidak bisa melupakan Hanna, sang Motherland korban kekejaman tirani Fatherland.
Kita bisa merasa semacam penyembuhan, atau sebentuk penebusan kesalahan yang tak terkira. Ada suara sentimentil lengking begitu dalam karena rasa bersalah dalam film ini.
(belum terbit)

Kamis, 28 Januari 2010

CREATION: KADO FILM ULANG TAHUN BUAT BAPAK EVOLUSI

Setiap 2 Februari, Darwin Day diperingati di Eropa dan Amerika Serikat layaknya hari suci. Perayaan hari lahir Bapak Evolusi Dunia ini merupakan lambang pengakuan Dunia Ilmu Pengetahuan (Science) dan Kemanusiaan (Humanity). Perayaan ini juga dijadikan ajang penyebarluasan kekeliruan dan pembelaan teori Darwin dengan segala kekuatan dan kelemahan teorinya dihadapan ilmu pengetahuan moderen dengan munculnya teori-teori baru yang lebih meyakinkan.

Teori Darwin dalam karya masyurnya On the Origin of Species By Means of Natural Selection, kemampuan adaptasi makhluk hidup dimana hanya yang kuat yang akan bertahan dan mengalami perubahan terus menerus, diajarkan diseluruh bangku sekolah seantero dunia. Tentu sang guru biologinya, apalagi di negeri yang mengaku berketuhanan dengan mayoritas Islam seperti Indonesia, akan mengimbanginya dengan khotbah agama, (mungkin si guru biologi akan bertanya pada si murid apakah mereka mau dibilang nenek moyang mereka dari monyet, yang tentunya dijawab tidak oleh si murid), kalau perlu dengan menyuruh anak muridnya membaca dan menonton film dokumentasi tandingan Teori Darwin karya Harun Yahya.

Creation bukan film propaganda dari para pendukung Darwin (Evolutionist) kontra para pendukung bahwa semua species diciptakan dengan suatu tujuan tertentu oleh Maha Pencipta (Creationist). Creation adalah film drama keluarga dari seorang yang luar biasa, yang bisa dinikmati siapa saja karena film ini tidak menghadirkan dan memancing perseteruan lama kedua kubu yang saling bertentangan ini. Hanya, kalau dilihat lebih mendalam lagi, film ini menghadirkan tema yang sangat raksasa, perseteruan Sains dan Agama, Keimanan (faith) dan Rasio, terutama lagi Darwin dan Tuhan. Tapi semua tema besar dalam film ini menjadi tidak begitu besar lagi karena kepiawaian sang sutradara menyulapnya menjadi tontonan yang tidak begitu berat.

Penonton tidak harus mengerenyitkan kening berpikir tentang segala macam teori asal usul species. Bisa dikatakan tidak ada percakapan intelektual atau penjelasan yang mengemukakan hipotesa asal usul species dalam karya monumentalnya itu. Meski di beberapa adegan terdapat beberapa pernyataan Darwin dan Huxley yang menunjukkan diri mereka sebagai saintis tulen yang tidak begitu bersimpati pada agama formal. Bahkan, dalam suatu adegan percakapan dimana Huxley berkomentar tentang karya Darwin / teori Evolusi yang akan diselesaikannya sudah berhasil membunuh Tuhan.

Creation adalah film biopik yang diangkat dari buku salah satu keturunan Charles Darwin, Randal Keyne, Annie’s Box. Konsentrasi film ini adalah penggalan masa hidup Darwin yang sudah menetap bersama istri dan anak-anaknya sekembalinya ia dari perjalanan dengan kapal Beagle ke berbagai pelosok daerah yang terkenal sampai lahirnya karyanya On the Origin of Species.

Film ini memperlihatkan hubungan unik Darwin dan istrinya Emma yang seperti langit dan bumi. Darwin sebagai seorang saintis yang skeptis terhadap agama (yang diperankan dengan meyakinkan oleh aktor Inggris Paul Bettany), Emma yang sangat bertolak belakang dalam memandang ilmu pengetahuan saintis, seorang istri yang sangat agamis (dimainkan oleh aktris Jeniffer Connoly).

Mengagumkan sekali, bagaimana pasangan itu bisa hidup berdampingan meski masing-masing punya cara pandang dan keyakinan yang sangat bertolak belakang. Rasa saling hormat dan toleransi yang sangat luar biasa ini ditunjukkan oleh kedua pasangan itu, ketika Darwin menyelesaikan magnum opus nya On the Origin of Species dan menyuruh istrinya untuk membacanya dan menyerahkan keputusan pada istrinya apakah akan diterbitkan atau dibakar saja. Dan diluar dugaan, Emma malah memberi ijin Darwin suaminya untuk menerbitkan buku itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan nya sendiri.

Adegan sentral film ini lebih banyak dipenuhi oleh hubungan dekat Darwin dengan anak perempuan kesayangannya, Annie. Gadis cilik 10 tahun yang juga mewarisi minat dan bakat Charles Darwin dalam Ilmu Pengetahuan Alam ini meninggal dan dipercaya Darwin disebabkan oleh penyakit genetis faktor kedekatan darah ia dengan Emma istrinya yang juga sepupunya. Bagaimana kepergian Annie ini sangat mempengaruhi hubungan Darwin dan istrinya, Emma.

Alur film dibuat dengan teknik kilas balik (flashback) saat Annie masih hidup dan kemudian melompat setelah Annie meninggal, ketika Darwin ditampilkan berhalusinasi melakukan percakapan dengan Annie. Pemunculan Annie dalam hidup Darwin lebih berupa hantu, sebagaimana orang Inggris yang juga terkenal dengan kepercayaan takhayul. Tapi sebenarnya film ini bukan bermaksud begitu. Pemunculan Annie yang sudah meninggal lebih sebagai usaha untuk menghadirkan Darwin sebagai pribadi yang tertekan dan tercabik khawatir dengan pemikirannya dalam dunia saintis evolusi. Hal ini juga ditambah dengan tenggang rasa dan toleransinya terhadap istrinya dan masyarakat luas terhadap ide evolusi dan seleksi alam yang ia khawatirkan akan merubah cara pandang masyarakat terhadap asal usul kehidupan dan domain ketuhanan. Dalam film kelihatan bagaimana temannya Hooker dan Huxley yang selalu mendorongnya untuk menyelesaikan karyanya itu tapi selalu tertunda terus.

Paul Bettany dengan gemilang berhasil menggambarkan karakter Darwin yang tertekan dan sakit secara fisik, emosi, kejiwaan dan keyakinan hidup. Sebagai seorang saintis yang tetap teguh pada pendirian dasar-dasar ilmu pengetahuan modern, Darwin dengan jelas mengukuhkan dirinya sebagai seorang Naturalist, seorang Agnostis, yang bersikap skeptis, tidak begitu memedulikan apakah Tuhan ada atau tidak. Yang pasti, Darwin sangat menentang keangkuhan otoritas gereja yang mengklaim kebenaran dan memberikan hukuman duduk berlutut di atas kerikil pada anak kesayangannya, Annie, saat Annie mengatakan ada fosil dinosaurus. Secara fisik, digambarkan bagaimana Darwin berjuang melawan simptom penyakitnya yang tidak jelas, nausea, halusinasinya dengan penampakan anaknya yang sudah meninggal, dan usaha penyembuhan penyakitnya yang ia obati sendiri dengan terapi air.

Untuk menghadirkan Darwin sebagai seorang saintis yang bekerja dengan menggunakan metode saintifik, secara periodis dalam film ini diperlihatkan kesibukan Darwin dalam kandang burung, ruangan khusus dipenuhi berbagai macam tabung kaca berisi berbagai binatang kecil, tulang-tulang dan peralatan labor biologi lainnya. Tapi yang menarik adalah kedekatan Darwin dengan anak-anaknya, khususnya Annie, dengan menceritakan contoh-contoh pengamatan Darwin terhadap species-species, burung-burung, pengamatan terhadap perilaku Orangutan dari Kalimantan/Borneo yang dibawa ke Inggris. Dengan bercerita pada anaknya inilah kelihatan sosok Darwin yang sangat mencintai anak dan teori-teorinya yang kompleks menjadi ringan.

Sebagai biopik, film yang mengangkat biografi kehidupan seorang yang sangat berpengaruh dalam Ilmu Pengetahuan dan menelurkan Atheist dalam berbagai bentuk, Creation memiliki fakta yang sebenarnya. Tapi Creation tentunya bukan film Dokumentasi. Creation adalah “sebuah film tentang Charles Darwin”, yang oleh Jon Amiel, si sutradara mendramatisirnya, lebih berupaya memunculkan emosi penontonnya dan menjadikannya populer.

Creation adalah sebuah film yang sangat patut ditonton. Yang mengagumkan lagi adalah kenapa judul film ini tidak Evolution saja, karena film ini mengangkat latar belakang lahirnya karya Darwin tentang Teori Evolusi? Kenapa Creation, yang justru adalah ide yang sangat bertolak belakang dengan Evolusi? Mungkin seperti kehidupan rumah tangga Darwin dan istrinya Emma, dimana mereka tetap hidup damai meski cara pandang dan keyakinan yang berbeda. Seperti menyiratkan, tidak masalah apakah anda seorang pengikut Evolutionist yang cenderung menghilangkan kehadiran Tuhan dan Creationist yang yakin bahwa segala sesuatu diciptakan dengan tujuan oleh sang Maha Pencipta.

Selamat Ulang Tahun Mr. Darwin,,

Jumat, 22 Januari 2010

FILM 2012: KEIMANAN DAN KIAMAT EKOLOGI

Demam film 2012 melanda dunia. Di kota-kota besar jutaan penonton antri memasuki bioskop untuk melihat visualisasi bencana maha dahsyat di planet bumi 21 Desember 2012. Penonton dihibur oleh gambaran kiamat bumi yang sangat menghibur sekaligus mengkhawatirkan. Menghibur karena mata memandang ngeri oleh adegan tragis memukau kehancuran bumi. Mengkhawatirkan karena bagaimana kalau hal tersebut suatu saat betul-betul terjadi?

Penonton akan menyaksikan kota-kota besar di seluruh dunia retak, gempa menghancurkan apa saja, gunung-gunung runtuh, inti bumi menyembur dari perut bumi, mega-Tsunami menyapu daratan bumi. Kisah bahtera Nabi Nuh pun terulang kembali pada 2012. Tiga kapal besar super canggih menyelamatkan spesies manusia dan juga hewan dimana bumi saat itu ditutupi air, dan akhirnya sampai di dunia Harapan baru Afrika, kembali ke benua yang dipercaya spesies manusia berasal. Dan, jutaan dolar pun dikantongi sutradara Roland Emmerich. Roland Emmerich memang spesialis sutradara film tragedi sains fiksi tentang kehancuran bumi.

Tak diragukan lagi, dengan kecanggihan teknologi film, komputerisasi, dan teknik efek gambar, praktisi film Hollywood bisa menghasilkan gambaran rekaan kejadian yang bisa sangat meyakinkan, sehingga mata yang melihat aksi bencana tersebut kelihatan sangat nyata. Ditambah lagi dengan kepiawaian dan kepintaran mereka dalam meramu tema film. Terangkatlah ramalan hari akhir (Doomsday) menurut penanggalan kalender suku Maya kuno bercampur dengan teori saintifik tentang peristiwa maha besar kiamat.

Tidak hanya itu, Roland Emmerich bisa “memamfaatkan” rentetan tragedi bencana alam seperti Tsunami, gempa, banjir, krisis ekologi global pada satu dekade belakangan, yang membuat film ini hadir pada momen yang sangat pas. Sehingga secara psikologis, film ini berhasil mempertautkan suatu rasa kegelisahan, kekhawatiran, kengerian akan tragedi alam yang menghantui setiap orang sehingga menggugah keingintahuan akan kedahsyatan kiamat dalam film ini. Walaupun semua orang tahu, dari anak-anak sampai dewasa film ini hanyalah fiksi.

Dampak kontroversi seputar film ini luar biasa. Bagi yang jeli melihat kesempatan ini, keuntungan bisnis pun bisa diraup seperti bermunculannya buku-buku dengan tema kiamat, ramalan kiamat versi kalender Maya, Nostrodamus, dan tentunya buku-buku agama tuntunan ampunan dosa lainnya. Mendadak samar-samar kita pun berkenalan dengan berbagai teori bagaimana kiamat terjadi menurut para ilmuan astronomi seperti kembang api raksasa matahari (solar flare), tabrakan planet tanpa nama atau juga yang sudah diberi nama Nibiru, hisapan Black Hole, hujan meteor, pergeseran kutub magnet di kutub dan sebagainya. Tapi yang pasti, setiap orang, apapun agamanya, khususnya Islam, tersentak sadar mengingat butir ke lima dalam Rukun Iman yang dari kecil selalu dihapal diluar kepala dan setelah dewasa sering terlupakan atau pura-pura melupakannya; percaya datangnya hari akhir, kiamat.

Iman tentu tidak hanya cukup dengan percaya, tapi juga harus diyakini, dan dipraktikkan, bahwa keyakinan tentang kiamat adalah suatu kepastian. Tapi iman bisa melemah, angin-anginan, menjadi kuat. Keimanan begitu susah ditebak, meski seseorang kelihatan sangat taat beribadah. Keimanan seseorang diuji dengan berbagai macam cara, bisa dengan harta, keduniawian, sehingga kerap kali iman menjadi lemah dan manusia menjauh dari Sang Pencipta. Iman juga diuji dengan penyakit, kemiskinan dan bencana alam, tapi justru pada saat seperti inilah justru manusia merasa imannya kuat, mereka merasa dekat dengan yang Maha Kuasa.

Pada masanya, ketika ditanya tentang kepastian hari kiamat, Nabi Muhammad disuruh oleh Allah mengatakan bahwa yang mengetahui hanya Tuhan, tak seorangpun dapat mengungkapkan waktunya kecuali Dia, Al-Qur’an (7:187), Tuhan merahasiakan datangnya hari kiamat, Al-Qur’an (20:15). Dengan keyakinan ini, kita bisa merasa agak lega bahwa apapun yang dikatakan tentang ramalan hari akhir versi kalender Maya, yang memang setelah diselidiki ternyata memang tidak masuk akal dan tidak benar adanya. Atau juga tentang berbagai teori kiamat versi para ilmuan astronomi, yang dari berbagai sumber yang kita dapatkan juga tidak ada kebenarannya.

Namun begitu, Film 2012 bisa menjadi shock therapy iman, tamparan keras pada wajah siapa saja agar bangun dan sadar diri tentang kematian setiap individu yang juga adalah kiamat kecil (kiamat Sugra) dan membuka mata lebar-lebar melihat sekeliling kerusakan lingkungan, alam, bumi, yang suatu saat bisa saja berakhir dengan kiamat besar (kiamat Kubra). Film ini mengingatkan kita terhadap kealpaan kita dari apa yang sudah manusia lakukan terhadap diri dan lingkungan alam sekitar Visualisasi kedahsyatan dan kengerian bencana maha besar dalam film ini seharusnya membuat kita introspeksi, mengevaluasi, membaca ulang cara pandang kita terhadap diri sendiri dan bagaimana kita memperlakukan alam lingkungan sekitar. Tuhan sudah mengingatkan kita tentang potensi manusia yang merusak alam dan konsekwensi apa yang bakal terjadi, kerusakan telah tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan-tangan manusia, Ia akan merasakan sebagian kepada mereka akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, Al-Qur’an (30:41-42).

Jadi, tanda-tanda kiamat yang paling masuk akal adalah kerusakan ekologi yang dilakukan oleh manusia sendiri. Zaman industrialisasi dan cara hidup modernisasi yang mengatasnamakan progress, kemajuan, pembangunan, adalah awal dari kerusakan alam. Bumi diekspoitasi, diperas, dirampas, diperkosa layaknya seorang prositusi. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hilangnya humus dan erosi tanah. Kelangkaan air bersih dan makanan. Krisis energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global. Kita pun diingatkan lagi, Dan bila kepada mereka dikatakan: “janganlah berbuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Tidak, kami bahkan berbuat perbaikan.” Sungguh, merekalah yang membuat kerusakan tidak mereka sadari. Al-Qur’an (2:11).

Kerusakan ekologi yang bisa berakhir dengan kemusnahan kehidupan di planet bumi berakar pada perilaku manusia moderen terhadap alam. Bagi manusia modern, alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak mempunyai nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan manusia terhadapnya. Cara pandang yang demikian ini tidak bisa dilepaskan dengan logika dunia modern yang menjadikan manusia sebagai pusat dunia (antroposentrisme) sehingga eksploitasi manusia terhadap alam seolah mendapat legitimasi ilmiah-filosofis lewat cara pandang saintisme.
Dalam terminologi teologi, hal ini senada dengan peran dan fungsi manusia sebagai wakil/khalifah Allah di bumi dan hamba Allah. Dalam ayat lainnya, dikatakan Allah memang “menundukkan” alam bagi manusia dan kesan secara umum yang dipahami yaitu alam yang bisa dikonsumsi dan dieksploitasi, karena keserakahan manusia. Di sinilah peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya untuk memelihara, menghargai makhluk lainnya demi terciptanya hubungan yang harmonis untuk kelangsungan kehidupan di muka bumi. Ketidakpedulian dan pengabaian tugas pemeliharaan makhluk lainnya, lingkungan alam, yang adalah bukti atau tanda-tanda keberadaan Allah, sebenarnya sudah berarti menggugurkan kesaksian keimanan pada Allah sendiri.

Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi. Keimanan harus penuh harap dengan kembali menyadari peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya di bumi dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam. Berbagai usaha masyarakat moderen dari berbagai negara yang mengadakan konvensi tentang krisis ekologi global diharapkan membawa perubahan yang lebih berarti, untuk diimplementasikan dalam kebijakan setiap pemerintah. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi. Dengan begitu, kiamat ekologi yang masih ada harapan manusia bisa mencegahnya. Selebihnya, wallahuallam,.
(belum diterbitkan)

HOME: KRISIS EKOLOGI GLOBAL DAN HARAPAN

Tolong, dengarlah aku! Kalian sama seperti aku, Homo Sapiens, manusia berpikir lagi bijak. Kehidupan, keajaiban di semesta raya, muncul 4 milyar tahun yang lalu, dan kita manusia, baru 200 ribu tahun yang lalu. Tapi, kita malah telah mengganggu keseimbangan hidup, yang begitu penting untuk kehidupan.

Tolong, betul-betul dengarlah cerita luar biasa ini, cerita tentang kalian, dan putuskan, apa yang akan kalian lakukan nantinya!

(Prolog film dokumenter HOME)

Demam kiamat Film 2012 garapan sutradara Roland Emmerich sedang melanda dunia dengan berbagai respon dan kontroversi yang mengikutinya. Kita pun diingatkan dengan film dokumenter tentang kerusakan bumi yang sangat pantas untuk ditonton, HOME.

Satu dekade belakangan sampai sekarang, para pemimpin dunia disibukkan dengan masalah krisis lingkungan yang telah mengglobal ini. Tidakkah ini mengkhawatirkan, tidak terhitung bencana alam sudah terjadi karena campur tangan tidak bertanggungjawab manusia, polusi, semakin sedikitnya lahan subur yang bisa ditanam, penggundulan hutan untuk diambil pohonnya dan pembukaan lahan baru, krisis kekurangan air bersih, kemarau yang berkepanjangan, perubahan cuaca yang tidak bisa diduga lagi, pemanasan suhu dan memucak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Mantan Wakil Presiden Amerika Al Gore setelah kekalahannya pada pemilu 2000 mengalihkan perhatian dan usahanya dalam menyelamatkan bumi dari masalah lingkungan yang sudah parah ini. Al Gore tampil di film dokumenter An Incoveniet Truth dengan menampilkan potret isu pemanasan global. Masalah global yang oleh para ilmuwan telah peringatkan tentang krisis ekologi bahwa kemanusiaan sedang menunggu detik-detik terakhir bom waktu raksasa bumi. Kemanusiaan yang telah mengganggu keseimbangan hidup di bumi yang dibangun oleh 4 milyar tahun evolusi. HOME adalah kampanye harapan bumi yang sedang mengkhawatirkan.

Tentang Film Domumentasi HOME

HOME adalah film dokumenter arahan sutradara Perancis Yann Arthus-Bertrand dan Luc Besson. Film produksi Eurocorp berdurasi 1 ½ jam versi free-release dan 2 jam theatre-release, dengan teknik pengambilan gambar aerial shots, penonton diajak terbang tinggi ke angkasa menikmati pesona bumi lebih dari 50 negeri (termasuk Indonesia, menyoroti kebakaran dan semakin berkurangnya hutan di Kalimantan, jantung bumi) yang luar biasa mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan.

Film ini memperlihatkan keragaman makhluk hidup di bumi dan bagaimana homo sapiens, dominasi spesies manusia mengganggu keseimbangan ekologis di bumi, planet yang sampai sekarang diyakini satu-satunya menampung kehidupan. Di release pada 5 juni 2009 yang lalu, bertepatan dengan World Environment Day, Hari Lingkungan Hidup, diputar di bioskop seluruh dunia, no copyright – gratis, dapat langsung di download lewat www.home.com.

HOME mendokumentasikan secara kronologis perkembangan kehidupan di bumi dari awal sampai sekarang dengan segala kerusakan dan krisis lingkungan global serta dampak kehancurannya di masa mendatang. Dari awal sampai akhir, artis senior Holywood, Glenn Close, si narator, bertutur dengan suara lembut meyakinkan penuh harap tentang “Linkage” . Kesaling-terikatan, bagaimana keseimbangan hidup semua organisme dan dunia yang saling terkait, sekecil apa pun organisme itu namun berperan krusial, bahwa tidak satu oraganisme pun yang bisa terlepas dari mata rantai ikatan ini, inilah tema yang diusung.

HOME: Fakta yang mengkhawatirkan

Diawali dengan visualisasi lanskap volcano yang menakjubkan, menyusuri jejak asal mula kehidupan. Rekaman kumpulan asap dari perut bumi menawarkan kilasan pandangan seperti apa bumi atmosfir bumi purba dulunya. Sekitar 15 menit awal, digambarkan dengan tuturan narator tentang asal usul kehidupan sel purba, dari archeobacteria, dan algae biru hijau, yang berevolusi dengan bantuan fotosintesis menjadi spesies tumbuhan, yang membutuhkan waktu 4 milyar tahun.Diikuti dengan munculnya spesies hewan, yang beradaptasi dengan lingkungan dan lingkungan juga beradaptasi dalam hubungan yang saing menguntungkan.

Dari sini melompati misteri bagaimana manusia tercipta, 200 ribu tahun yang lalu, tentu disengaja untuk menghindari debat dua kubu Kreasionis dan Evolusionis. Dari masyarakat nomadik primitif yang berburu untuk bertahan hidup, 180 ribu tahun yang lalu, mereka mulai menetap dan mengenal pertanian dan cocok tanam. Mereka membangun tempat tinggal di dekat perairan, sungai dan danau. Dengan cara hidup agraris awal, mereka mulai menaklukkan hewan sebagai alat transportasi dan daerah baru. Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, penemuan agrikultur mengawali revolusi pertama manusia yang hebat menghasilkan kota dan peradaban.

Gambar-gambar film terus bergerak memperlihatkan perkembangan manusia, berkat kejeniusannya, kerja tenaga otot digantikan oleh mesin. Tenaga yang terkubur di dalam bumi dikeluarkan, batubara, gas, dan minyak. Dari sini, mulai lah era baru manusia, yang bebas dari rantai waktu. Semua atas nama progress, kemajuan masyarakat modern, dengan perkembangan kota besar, gedung-gedung pencakar langit, megacity, megalopolis seperti New York, Las Vegas, Los Angeles di Amerika, Shenzen dan Shanghai, China, Mumbay di India, Dubai di Mesir, dan banyak lagi. Semua menjadi berubah dengan sangat cepat.

Dipertengahan film, mulai lah dipertontonkan kerusakan, kesenjangan antara kemajuan dan dampak yang timbul terhadap alam, manusia, hewan, dan tanaman. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pesawat khusus pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hasil pertanian yang diangkut ke lahan peternakan penggemukan sapi yang tidak lagi memakan rumput tapi hasil panen gandum dan kacang kedelai. Eksploitasi mineral. Hilangnya humus dan erosi tanah Kelangkaan air bersih dan makanan. Migrasi manusia ke daerah perkotaan. Kesenjangan sosial di negara berkembang yang kaya sumber daya alam . Krisi energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Migrasi hewan-hewan tidak pada musimnya. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Visualisasi fakta kerusakan dan krisis lingkungan ini diselingi dengan munculnya tulisan dilayar film berupa data-data yang membuat kita terenyuh sedih dan berkata pada diri sendiri, “Sudah begini parah kah kerusakan bumi ini? Apa yang sudah kita lakukan pada bumi ini?” Bayangkan ini.

  • 1 milyar penduduk bumi tidak mendapatkan akses air minum bersih, dan 5000 orang meninggal karena tidak mengkonsumsi air bersih,
  • 1 milyar penduduk bumi kelaparan dan kurang gizi,
  • Lebih dari 50% hasil panen tanaman seperti kedelai dan gandum diperdagangkan di seluruh dunia untuk pakan penggemukan hewan atau biofuel,
  • Pemerintahan di berbagai negara menghabiskan pengeluaran militer 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bantuan untuk negara terbelakang,
  • 40% lahan tanah tanaman terancam rusak karena penggunaan pestisida,
  • Setiap tahun, 13 juta hektar hutan hilang,
  • 1 dari 4 mamalia, 1 dari 8 burung, 1 dari 3 amfibi, terancam punah,
  • ¾ perairan untuk menangkap ikan terancam aus, dan habis,
  • Suhu rata-rata 15 tahun terakhir mencapai puncak tertinggi yang pernah terjadi,
  • Lapisan es kutub yang mencair 40% dibanding 40 tahun yang lalu,

HOME: Harapan

Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi, but it’s too late to be a pessimist, terlambat sudah menjadi pesimis, begitu narator di bagian akhir mengajak. Sebuah sikap optimis di tengah-tengah berbagai kompleksitas masalah lingkungan. Kemanusiaan harus penuh harap dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam.

Kemanusiaan yang menjarah alam seperti memperkosa prostitusi harus dihentikan. Merubah pola hidup konsumtif. Daur ulang dan Inovasi pencarian sumber energi yang berkelanjutan. Konservasi alam dan Reboisasi. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi.

Dari awal sampai akhir film, tidak sekali pun narator menyebut kata Tuhan. Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan segala kerusakan yang terjadi, karena memang semuanya adalah karena ulah manusia sendiri. Namun begitu, ada terasa nuansa religiusitas yang dalam dan menyeluruh dalam tema “linkage” , saling keterikatan semua hal. Bisa juga ini menunjukkan ketidakmampuan, atau tidak adanya peran agama-agama besar, yang terjebak dalam Teologi Ortodoks yang kelihatannya tidak mampu menyikapi permasalahan lingkungan. Makanya belakangan muncul Teologi Lingkungan yang diharapkan bisa memberikan sumbangannya dalam menanggulangi masalah lingkungan.

Kritik atas modernisme tentu menjadi bidikan film ini. Dari abad 15, gejala cara pandang Cartesian dengan cogito ergo sum, manusia meraih kebebasannya menjadi subjek bagi dirinya sendiri dan menjadikan alam sebagai objek. Industrialisasi, Progress dan Kapitalisme pun menjadi mesin kehidupan masyarakat modern yang memperlakukan alam seenaknya tanpa diikuti tanggungjawab. Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu, dengan sikap kritis memperlihatkan permasalahan ini dengan begitu menyeluruh dalam konteks Indonesia dan Jawa, dalam cara pandang Post-Modernisme terhadap agama-agama Monoteis besar, Modernisme dan Militerisme.

Bumi dan kemanusiaan tetap ada harapan. Dibutuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan, linkage. Bagaimana kesadaran dan tanggungjawab global ini tumbuh butuh peran dari semua pihak dan individu. Dibutuhkan hubungan yang adil dan harmonis antara negara maju dan berkembang yang saling memberi dan menguntungkan. Pemerintah dengan kebijakan ekonomi yang bijak tanpa harus terus menggerus sumber daya alam yang bakal habis dan mendorong inovasi sumber daya alam dan energi yang bisa diperbaharui. LSM yang betul-betul mendorong pemberdayaan manusia. Individu-individu yang berkesadaran global dan berperilaku ramah lingkungan, to act locally and to think globaly.

Jostein Gaarder, dalam novelnya Maya, mewartakan: “Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggungjawab global, melainkan merupakan tangungjawab kosmos”

(belum diterbitkan)