ziarah budaya adalah ekspresi ide dan pemikiran, dialog lintas budaya dan pencarian diri sejati di dunia yang berlari dengan cepat
Selasa, 09 Februari 2010
KEBOHONGAN YANG MENYELAMATKAN Dalam Film “The Invention of Lying”
Minggu, 31 Januari 2010
TENTANG MEMAAFKAN DAN RASA BERSALAH DALAM FILM “THE READER”
Kamis, 28 Januari 2010
CREATION: KADO FILM ULANG TAHUN BUAT BAPAK EVOLUSI
Setiap 2 Februari, Darwin Day diperingati di Eropa dan Amerika Serikat layaknya hari suci. Perayaan hari lahir Bapak Evolusi Dunia ini merupakan lambang pengakuan Dunia Ilmu Pengetahuan (Science) dan Kemanusiaan (Humanity). Perayaan ini juga dijadikan ajang penyebarluasan kekeliruan dan pembelaan teori
Teori Darwin dalam karya masyurnya On the Origin of Species By Means of Natural Selection, kemampuan adaptasi makhluk hidup dimana hanya yang kuat yang akan bertahan dan mengalami perubahan terus menerus, diajarkan diseluruh bangku sekolah seantero dunia. Tentu sang guru biologinya, apalagi di negeri yang mengaku berketuhanan dengan mayoritas Islam seperti Indonesia, akan mengimbanginya dengan khotbah agama, (mungkin si guru biologi akan bertanya pada si murid apakah mereka mau dibilang nenek moyang mereka dari monyet, yang tentunya dijawab tidak oleh si murid), kalau perlu dengan menyuruh anak muridnya membaca dan menonton film dokumentasi tandingan Teori Darwin karya Harun Yahya.
Creation bukan film propaganda dari para pendukung Darwin (Evolutionist) kontra para pendukung bahwa semua species diciptakan dengan suatu tujuan tertentu oleh Maha Pencipta (Creationist). Creation adalah film drama keluarga dari seorang yang luar biasa, yang bisa dinikmati siapa saja karena film ini tidak menghadirkan dan memancing perseteruan lama kedua kubu yang saling bertentangan ini. Hanya, kalau dilihat lebih mendalam lagi, film ini menghadirkan tema yang sangat raksasa, perseteruan Sains dan Agama, Keimanan (faith) dan Rasio, terutama lagi
Penonton tidak harus mengerenyitkan kening berpikir tentang segala macam teori asal usul species. Bisa dikatakan tidak ada percakapan intelektual atau penjelasan yang mengemukakan hipotesa asal usul species dalam karya monumentalnya itu. Meski di beberapa adegan terdapat beberapa pernyataan
Creation adalah film biopik yang diangkat dari buku salah satu keturunan Charles Darwin, Randal Keyne, Annie’s Box. Konsentrasi film ini adalah penggalan masa hidup
Film ini memperlihatkan hubungan unik
Mengagumkan sekali, bagaimana pasangan itu bisa hidup berdampingan meski masing-masing punya cara pandang dan keyakinan yang sangat bertolak belakang. Rasa saling hormat dan toleransi yang sangat luar biasa ini ditunjukkan oleh kedua pasangan itu, ketika
Adegan sentral film ini lebih banyak dipenuhi oleh hubungan dekat
Alur film dibuat dengan teknik kilas balik (flashback) saat Annie masih hidup dan kemudian melompat setelah Annie meninggal, ketika
Paul Bettany dengan gemilang berhasil menggambarkan karakter
Untuk menghadirkan
Sebagai biopik, film yang mengangkat biografi kehidupan seorang yang sangat berpengaruh dalam Ilmu Pengetahuan dan menelurkan Atheist dalam berbagai bentuk, Creation memiliki fakta yang sebenarnya. Tapi Creation tentunya bukan film Dokumentasi. Creation adalah “sebuah film tentang Charles Darwin”, yang oleh Jon Amiel, si sutradara mendramatisirnya, lebih berupaya memunculkan emosi penontonnya dan menjadikannya populer.
Creation adalah sebuah film yang sangat patut ditonton. Yang mengagumkan lagi adalah kenapa judul film ini tidak Evolution saja, karena film ini mengangkat latar belakang lahirnya karya
Selamat Ulang Tahun Mr.
Jumat, 22 Januari 2010
FILM 2012: KEIMANAN DAN KIAMAT EKOLOGI
Penonton akan menyaksikan kota-kota besar di seluruh dunia retak, gempa menghancurkan apa saja, gunung-gunung runtuh, inti bumi menyembur dari perut bumi, mega-Tsunami menyapu daratan bumi. Kisah bahtera Nabi Nuh pun terulang kembali pada 2012. Tiga kapal besar super canggih menyelamatkan spesies manusia dan juga hewan dimana bumi saat itu ditutupi air, dan akhirnya sampai di dunia Harapan baru Afrika, kembali ke benua yang dipercaya spesies manusia berasal. Dan, jutaan dolar pun dikantongi sutradara Roland Emmerich. Roland Emmerich memang spesialis sutradara film tragedi sains fiksi tentang kehancuran bumi.
Tak diragukan lagi, dengan kecanggihan teknologi film, komputerisasi, dan teknik efek gambar, praktisi film Hollywood bisa menghasilkan gambaran rekaan kejadian yang bisa sangat meyakinkan, sehingga mata yang melihat aksi bencana tersebut kelihatan sangat nyata. Ditambah lagi dengan kepiawaian dan kepintaran mereka dalam meramu tema film. Terangkatlah ramalan hari akhir (Doomsday) menurut penanggalan kalender suku Maya kuno bercampur dengan teori saintifik tentang peristiwa maha besar kiamat.
Tidak hanya itu, Roland Emmerich bisa “memamfaatkan” rentetan tragedi bencana alam seperti Tsunami, gempa, banjir, krisis ekologi global pada satu dekade belakangan, yang membuat film ini hadir pada momen yang sangat pas. Sehingga secara psikologis, film ini berhasil mempertautkan suatu rasa kegelisahan, kekhawatiran, kengerian akan tragedi alam yang menghantui setiap orang sehingga menggugah keingintahuan akan kedahsyatan kiamat dalam film ini. Walaupun semua orang tahu, dari anak-anak sampai dewasa film ini hanyalah fiksi.
Dampak kontroversi seputar film ini luar biasa. Bagi yang jeli melihat kesempatan ini, keuntungan bisnis pun bisa diraup seperti bermunculannya buku-buku dengan tema kiamat, ramalan kiamat versi kalender Maya, Nostrodamus, dan tentunya buku-buku agama tuntunan ampunan dosa lainnya. Mendadak samar-samar kita pun berkenalan dengan berbagai teori bagaimana kiamat terjadi menurut para ilmuan astronomi seperti kembang api raksasa matahari (solar flare), tabrakan planet tanpa nama atau juga yang sudah diberi nama Nibiru, hisapan Black Hole, hujan meteor, pergeseran kutub magnet di kutub dan sebagainya. Tapi yang pasti, setiap orang, apapun agamanya, khususnya Islam, tersentak sadar mengingat butir ke lima dalam Rukun Iman yang dari kecil selalu dihapal diluar kepala dan setelah dewasa sering terlupakan atau pura-pura melupakannya; percaya datangnya hari akhir, kiamat.
Iman tentu tidak hanya cukup dengan percaya, tapi juga harus diyakini, dan dipraktikkan, bahwa keyakinan tentang kiamat adalah suatu kepastian. Tapi iman bisa melemah, angin-anginan, menjadi kuat. Keimanan begitu susah ditebak, meski seseorang kelihatan sangat taat beribadah. Keimanan seseorang diuji dengan berbagai macam cara, bisa dengan harta, keduniawian, sehingga kerap kali iman menjadi lemah dan manusia menjauh dari Sang Pencipta. Iman juga diuji dengan penyakit, kemiskinan dan bencana alam, tapi justru pada saat seperti inilah justru manusia merasa imannya kuat, mereka merasa dekat dengan yang Maha Kuasa.
Pada masanya, ketika ditanya tentang kepastian hari kiamat, Nabi Muhammad disuruh oleh Allah mengatakan bahwa yang mengetahui hanya Tuhan, tak seorangpun dapat mengungkapkan waktunya kecuali Dia, Al-Qur’an (7:187), Tuhan merahasiakan datangnya hari kiamat, Al-Qur’an (20:15). Dengan keyakinan ini, kita bisa merasa agak lega bahwa apapun yang dikatakan tentang ramalan hari akhir versi kalender Maya, yang memang setelah diselidiki ternyata memang tidak masuk akal dan tidak benar adanya. Atau juga tentang berbagai teori kiamat versi para ilmuan astronomi, yang dari berbagai sumber yang kita dapatkan juga tidak ada kebenarannya.
Namun begitu, Film 2012 bisa menjadi shock therapy iman, tamparan keras pada wajah siapa saja agar bangun dan sadar diri tentang kematian setiap individu yang juga adalah kiamat kecil (kiamat Sugra) dan membuka mata lebar-lebar melihat sekeliling kerusakan lingkungan, alam, bumi, yang suatu saat bisa saja berakhir dengan kiamat besar (kiamat Kubra). Film ini mengingatkan kita terhadap kealpaan kita dari apa yang sudah manusia lakukan terhadap diri dan lingkungan alam sekitar Visualisasi kedahsyatan dan kengerian bencana maha besar dalam film ini seharusnya membuat kita introspeksi, mengevaluasi, membaca ulang cara pandang kita terhadap diri sendiri dan bagaimana kita memperlakukan alam lingkungan sekitar. Tuhan sudah mengingatkan kita tentang potensi manusia yang merusak alam dan konsekwensi apa yang bakal terjadi, kerusakan telah tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan-tangan manusia, Ia akan merasakan sebagian kepada mereka akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, Al-Qur’an (30:41-42).
Jadi, tanda-tanda kiamat yang paling masuk akal adalah kerusakan ekologi yang dilakukan oleh manusia sendiri. Zaman industrialisasi dan cara hidup modernisasi yang mengatasnamakan progress, kemajuan, pembangunan, adalah awal dari kerusakan alam. Bumi diekspoitasi, diperas, dirampas, diperkosa layaknya seorang prositusi. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hilangnya humus dan erosi tanah. Kelangkaan air bersih dan makanan. Krisis energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global. Kita pun diingatkan lagi, Dan bila kepada mereka dikatakan: “janganlah berbuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Tidak, kami bahkan berbuat perbaikan.” Sungguh, merekalah yang membuat kerusakan tidak mereka sadari. Al-Qur’an (2:11).
Kerusakan ekologi yang bisa berakhir dengan kemusnahan kehidupan di planet bumi berakar pada perilaku manusia moderen terhadap alam. Bagi manusia modern, alam dipahami sebagai sesuatu yang tidak mempunyai nilai intrinsik kecuali semata-mata nilai yang dilekatkan manusia terhadapnya. Cara pandang yang demikian ini tidak bisa dilepaskan dengan logika dunia modern yang menjadikan manusia sebagai pusat dunia (antroposentrisme) sehingga eksploitasi manusia terhadap alam seolah mendapat legitimasi ilmiah-filosofis lewat cara pandang saintisme.
Dalam terminologi teologi, hal ini senada dengan peran dan fungsi manusia sebagai wakil/khalifah Allah di bumi dan hamba Allah. Dalam ayat lainnya, dikatakan Allah memang “menundukkan” alam bagi manusia dan kesan secara umum yang dipahami yaitu alam yang bisa dikonsumsi dan dieksploitasi, karena keserakahan manusia. Di sinilah peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya untuk memelihara, menghargai makhluk lainnya demi terciptanya hubungan yang harmonis untuk kelangsungan kehidupan di muka bumi. Ketidakpedulian dan pengabaian tugas pemeliharaan makhluk lainnya, lingkungan alam, yang adalah bukti atau tanda-tanda keberadaan Allah, sebenarnya sudah berarti menggugurkan kesaksian keimanan pada Allah sendiri.
Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi. Keimanan harus penuh harap dengan kembali menyadari peran dan fungsi manusia sebagai wakilNya di bumi dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam. Berbagai usaha masyarakat moderen dari berbagai negara yang mengadakan konvensi tentang krisis ekologi global diharapkan membawa perubahan yang lebih berarti, untuk diimplementasikan dalam kebijakan setiap pemerintah. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi. Dengan begitu, kiamat ekologi yang masih ada harapan manusia bisa mencegahnya. Selebihnya, wallahuallam,.
(belum diterbitkan)
HOME: KRISIS EKOLOGI GLOBAL DAN HARAPAN
Tolong, dengarlah aku! Kalian sama seperti aku, Homo Sapiens, manusia berpikir lagi bijak. Kehidupan, keajaiban di semesta raya, muncul 4 milyar tahun yang lalu, dan kita manusia, baru 200 ribu tahun yang lalu. Tapi, kita malah telah mengganggu keseimbangan hidup, yang begitu penting untuk kehidupan.
Tolong, betul-betul dengarlah cerita luar biasa ini, cerita tentang kalian, dan putuskan, apa yang akan kalian lakukan nantinya!
(Prolog film dokumenter HOME)
Demam kiamat Film 2012 garapan sutradara Roland Emmerich sedang melanda dunia dengan berbagai respon dan kontroversi yang mengikutinya. Kita pun diingatkan dengan film dokumenter tentang kerusakan bumi yang sangat pantas untuk ditonton, HOME.
Satu dekade belakangan sampai sekarang, para pemimpin dunia disibukkan dengan masalah krisis lingkungan yang telah mengglobal ini. Tidakkah ini mengkhawatirkan, tidak terhitung bencana alam sudah terjadi karena campur tangan tidak bertanggungjawab manusia, polusi, semakin sedikitnya lahan subur yang bisa ditanam, penggundulan hutan untuk diambil pohonnya dan pembukaan lahan baru, krisis kekurangan air bersih, kemarau yang berkepanjangan, perubahan cuaca yang tidak bisa diduga lagi, pemanasan suhu dan memucak pada krisis karbon dan pemanasan global.
Mantan Wakil Presiden Amerika Al Gore setelah kekalahannya pada pemilu 2000 mengalihkan perhatian dan usahanya dalam menyelamatkan bumi dari masalah lingkungan yang sudah parah ini. Al Gore tampil di film dokumenter An Incoveniet Truth dengan menampilkan potret isu pemanasan global. Masalah global yang oleh para ilmuwan telah peringatkan tentang krisis ekologi bahwa kemanusiaan sedang menunggu detik-detik terakhir bom waktu raksasa bumi. Kemanusiaan yang telah mengganggu keseimbangan hidup di bumi yang dibangun oleh 4 milyar tahun evolusi. HOME adalah kampanye harapan bumi yang sedang mengkhawatirkan.
Tentang Film Domumentasi HOME
HOME adalah film dokumenter arahan sutradara Perancis Yann Arthus-Bertrand dan Luc Besson. Film produksi Eurocorp berdurasi 1 ½ jam versi free-release dan 2 jam theatre-release, dengan teknik pengambilan gambar aerial shots, penonton diajak terbang tinggi ke angkasa menikmati pesona bumi lebih dari 50 negeri (termasuk Indonesia, menyoroti kebakaran dan semakin berkurangnya hutan di Kalimantan, jantung bumi) yang luar biasa mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan.
Film ini memperlihatkan keragaman makhluk hidup di bumi dan bagaimana homo sapiens, dominasi spesies manusia mengganggu keseimbangan ekologis di bumi, planet yang sampai sekarang diyakini satu-satunya menampung kehidupan. Di release pada 5 juni 2009 yang lalu, bertepatan dengan World Environment Day, Hari Lingkungan Hidup, diputar di bioskop seluruh dunia, no copyright – gratis, dapat langsung di download lewat www.home.com.
HOME mendokumentasikan secara kronologis perkembangan kehidupan di bumi dari awal sampai sekarang dengan segala kerusakan dan krisis lingkungan global serta dampak kehancurannya di masa mendatang. Dari awal sampai akhir, artis senior Holywood, Glenn Close, si narator, bertutur dengan suara lembut meyakinkan penuh harap tentang “Linkage” . Kesaling-terikatan, bagaimana keseimbangan hidup semua organisme dan dunia yang saling terkait, sekecil apa pun organisme itu namun berperan krusial, bahwa tidak satu oraganisme pun yang bisa terlepas dari mata rantai ikatan ini, inilah tema yang diusung.
HOME: Fakta yang mengkhawatirkan
Diawali dengan visualisasi lanskap volcano yang menakjubkan, menyusuri jejak asal mula kehidupan. Rekaman kumpulan asap dari perut bumi menawarkan kilasan pandangan seperti apa bumi atmosfir bumi purba dulunya. Sekitar 15 menit awal, digambarkan dengan tuturan narator tentang asal usul kehidupan sel purba, dari archeobacteria, dan algae biru hijau, yang berevolusi dengan bantuan fotosintesis menjadi spesies tumbuhan, yang membutuhkan waktu 4 milyar tahun.Diikuti dengan munculnya spesies hewan, yang beradaptasi dengan lingkungan dan lingkungan juga beradaptasi dalam hubungan yang saing menguntungkan.
Dari sini melompati misteri bagaimana manusia tercipta, 200 ribu tahun yang lalu, tentu disengaja untuk menghindari debat dua kubu Kreasionis dan Evolusionis. Dari masyarakat nomadik primitif yang berburu untuk bertahan hidup, 180 ribu tahun yang lalu, mereka mulai menetap dan mengenal pertanian dan cocok tanam. Mereka membangun tempat tinggal di dekat perairan, sungai dan danau. Dengan cara hidup agraris awal, mereka mulai menaklukkan hewan sebagai alat transportasi dan daerah baru. Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, penemuan agrikultur mengawali revolusi pertama manusia yang hebat menghasilkan
Gambar-gambar film terus bergerak memperlihatkan perkembangan manusia, berkat kejeniusannya, kerja tenaga otot digantikan oleh mesin. Tenaga yang terkubur di dalam bumi dikeluarkan, batubara, gas, dan minyak. Dari sini, mulai lah era baru manusia, yang bebas dari rantai waktu. Semua atas nama progress, kemajuan masyarakat modern, dengan perkembangan kota besar, gedung-gedung pencakar langit, megacity, megalopolis seperti New York, Las Vegas, Los Angeles di Amerika, Shenzen dan Shanghai, China, Mumbay di India, Dubai di Mesir, dan banyak lagi. Semua menjadi berubah dengan sangat cepat.
Dipertengahan film, mulai lah dipertontonkan kerusakan, kesenjangan antara kemajuan dan dampak yang timbul terhadap alam, manusia, hewan, dan tanaman. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pesawat khusus pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hasil pertanian yang diangkut ke lahan peternakan penggemukan sapi yang tidak lagi memakan rumput tapi hasil panen gandum dan kacang kedelai. Eksploitasi mineral. Hilangnya humus dan erosi tanah Kelangkaan air bersih dan makanan. Migrasi manusia ke daerah perkotaan. Kesenjangan sosial di negara berkembang yang kaya sumber daya alam . Krisi energi dan pemakaian energi listrik di berbagai
Visualisasi fakta kerusakan dan krisis lingkungan ini diselingi dengan munculnya tulisan dilayar film berupa data-data yang membuat kita terenyuh sedih dan berkata pada diri sendiri, “Sudah begini parah kah kerusakan bumi ini? Apa yang sudah kita lakukan pada bumi ini?” Bayangkan ini.
- 1 milyar penduduk bumi tidak mendapatkan akses air minum bersih, dan 5000 orang meninggal karena tidak mengkonsumsi air bersih,
- 1 milyar penduduk bumi kelaparan dan kurang gizi,
- Lebih dari 50% hasil panen tanaman seperti kedelai dan gandum diperdagangkan di seluruh dunia untuk pakan penggemukan hewan atau biofuel,
- Pemerintahan di berbagai negara menghabiskan pengeluaran militer 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bantuan untuk negara terbelakang,
- 40% lahan tanah tanaman terancam rusak karena penggunaan pestisida,
- Setiap tahun, 13 juta hektar hutan hilang,
- 1 dari 4 mamalia, 1 dari 8 burung, 1 dari 3 amfibi, terancam punah,
- ¾ perairan untuk menangkap ikan terancam aus, dan habis,
- Suhu rata-rata 15 tahun terakhir mencapai puncak tertinggi yang pernah terjadi,
- Lapisan es kutub yang mencair 40% dibanding 40 tahun yang lalu,
HOME: Harapan
Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi, but it’s too late to be a pessimist, terlambat sudah menjadi pesimis, begitu narator di bagian akhir mengajak. Sebuah sikap optimis di tengah-tengah berbagai kompleksitas masalah lingkungan. Kemanusiaan harus penuh harap dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam.
Kemanusiaan yang menjarah alam seperti memperkosa prostitusi harus dihentikan. Merubah pola hidup konsumtif. Daur ulang dan Inovasi pencarian sumber energi yang berkelanjutan. Konservasi alam dan Reboisasi. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi.
Dari awal sampai akhir film, tidak sekali pun narator menyebut kata Tuhan. Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan segala kerusakan yang terjadi, karena memang semuanya adalah karena ulah manusia sendiri. Namun begitu, ada terasa nuansa religiusitas yang dalam dan menyeluruh dalam tema “linkage” , saling keterikatan semua hal. Bisa juga ini menunjukkan ketidakmampuan, atau tidak adanya peran agama-agama besar, yang terjebak dalam Teologi Ortodoks yang kelihatannya tidak mampu menyikapi permasalahan lingkungan. Makanya belakangan muncul Teologi Lingkungan yang diharapkan bisa memberikan sumbangannya dalam menanggulangi masalah lingkungan.
Kritik atas modernisme tentu menjadi bidikan film ini. Dari abad 15, gejala cara pandang Cartesian dengan cogito ergo sum, manusia meraih kebebasannya menjadi subjek bagi dirinya sendiri dan menjadikan alam sebagai objek. Industrialisasi, Progress dan Kapitalisme pun menjadi mesin kehidupan masyarakat modern yang memperlakukan alam seenaknya tanpa diikuti tanggungjawab. Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu, dengan sikap kritis memperlihatkan permasalahan ini dengan begitu menyeluruh dalam konteks
Bumi dan kemanusiaan tetap ada harapan. Dibutuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan, linkage. Bagaimana kesadaran dan tanggungjawab global ini tumbuh butuh peran dari semua pihak dan individu. Dibutuhkan hubungan yang adil dan harmonis antara negara maju dan berkembang yang saling memberi dan menguntungkan. Pemerintah dengan kebijakan ekonomi yang bijak tanpa harus terus menggerus sumber daya alam yang bakal habis dan mendorong inovasi sumber daya alam dan energi yang bisa diperbaharui. LSM yang betul-betul mendorong pemberdayaan manusia. Individu-individu yang berkesadaran global dan berperilaku ramah lingkungan, to act locally and to think globaly.
Jostein Gaarder, dalam novelnya Maya, mewartakan: “Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggungjawab global, melainkan merupakan tangungjawab kosmos”
(belum diterbitkan)