Kamis, 04 Maret 2010

Tentang Postmodernisme Oleh:Dr. Mary Klages, Associate Professor, English Department, University of Colorado, Boulder.

Postmodernisme adalah istilah yang rumit, kumpulan ide dan gagasan, yang dulunya muncul sebagai suatu kajian akademis semenjak pertengahan 1980-an. Postmodernisme susah didefinisikan, karena posmodernisme muncul sebagai konsep di berbagai macam disiplin ilmu dan kajian, seperti seni, arsitektur, musik, film, sastra, sosiologi, komunikasi, fashion, dan teknologi. Posmodernisme sulit dilacak asal-usulnya, karena tidak jelas kapan secara pastinya posmodernisme muncul.

Barangkali cara termudah untuk memahaminya dengan cara memulainya dari modernisme, suatu gerakan yang dari sinilah postmodernisme muncul, tumbuh dan berkembang. dua aspek atau defenisi modernisme, yang keduanya relevan terhadap pemahaman postmodernisme.

Aspek atau defenisi pertama berasal dari gerakan estetika yang secara luas  berlabelkan “modernisme”. Gerakan ini melekat pada gagasan Barat tentang seni abad duapuluh (meski jejak kemunculannya dapat juga dilacak di abad sembilan belas). Modernisme, sebagaimana yang diketahui, adalah gerakan seni visual, musik, sastra, dan drama yang dulunya menolak standart nilai-nilai zaman Victoria tentang apa arti seni dan bagaimana seni seharusnya dibuat dan dikonsumsi. Pada masa “modernisme tingkat tinggi”, dari 1910 ampai 1930, bentuk utama sastra modern membantu secara radikal untuk mendefenisi ulang arti dan peran fiksi dan puisi: sosok sastrawan seperti Woolf, Joyce, Eliot, Pound, Stevens, Proust, Mallarme, Kafka, dan Rilke dianggap sebagai perintis modernisme abad duapuluh. .

Dari sudut pandang sastra, ciri utama modernisme seperti:
1. penekanan terhadap impresionisme dan subjektifitas dalam tulisan (dalam seni visual juga ); suatu penekanan pada BAGAIMANA melihat sesuatu (atau pembacaan atau persepsi itu sendiri) daripada APA yang dipersepsikan. Satu contohnya adalah penulisan dengan aliran kesadaran ( stream of consciousness ).
2. suatu gerakan yang menjauh dari kejelasan objektifitas pencerita orang ketiga yang hadir dimana saja ( omniscient third-person ), sudut pandang cerita yang bercampur, dan pemisahan posisi moral yang jelas. Cerita-cerita multi-narasi nya Faulkner adalah satu contoh dari aspek modernisme ini.
3. suatu perbedaan yang kabur antara genre sastra, sehingga suatu puisi bisa kelihatan bersifat dokumenter ( seperti dalam karya T.S. Eliot dan ee Cumming) dan prosa juga kelihatan bersifat seperti puisi ( seperti dalam karya Woolf dan Joyce).
4. suatu penekanan terhadap bentuk karya fragmen/serpihan cerita, narasi yang terputus, dan tempelan gambar acak  ( puzzle ) dari bahan yang berbeda.
5. suatu kecenderungan terhadap refeksifitas, atau kesadaran diri, tentang bagaimana menghasilkan karya seni, dengan begitu setiap bagian kecilnya membutuhkan perhatian dari suatu proses produksi karya itu sendiri, sebagai sesuatu yang dihasilkan dan dikonsumsi dalam hal-hal tertentu.
 6. suatu penolakan terhadap estetika formal dalam menghasilkan disain minimalis (seperti dalam puisi William Carlos Williams) dan suatu penolakan, dalam hal-hal yang luas, terhadap teori estetika formal, dalam kespontanitasan dan penemuan dalam menghasilkan karya.
7. suatu penolakan terhadap pembedaan “tinggi” dan “rendah” atau budaya popular, baik dalam pemilihan bahan yang digunakan untuk menghasilkan karya seni atau juga dalam metode peragaan, pendistribusian, dan pengkonsumsian seni.

Posmodernisme, seperti halnya modernisme, berkiblat pada  ide-ide serupa ini, menolak batasan antara bentuk seni tinggi dan seni rendah, menepis pembedaan genre sastra yang sudah kaku, menekankan pada pastiche, campuran bahan-bahan suatu karya seni, parodi, bricolage, ironi, dan permainan kata. Seni posmo (dan pemikiran) mendorong refleksifitas dan kesadaran diri, fragmentasi dan keterputusan (khususnya dalam struktur cerita), kemenduaan, simultanitas, dan suatu penekanan pada dekonstruksi, desentralisasi, dan dehumanisasi subjek/pokok bahasan.

Meski dalam hal-hal tertentu posmodernisme kelihatan hampir sama dengan modernisme, posmodernisme berbeda dalam sikapnya terhadap banyak kecenderungan. Contohnya, modernisme cenderung menampilkan serpihan pandangan terhadap subjektifitas manusia dan sejarah (lihat saja The Wasteland, atau karya Woolf, To The Lighthouse), tapi fragmentasi yang ditampilkan sebagai sesuatu yang tragis, yang diratapi dan ditangisi, suatu kehilangan. Kebanyakan hasil karya para modernis ini berusaha menegakkan ide-ide bahwa karya seni bisa menghadirkan kesatuan, koherensi, dan sesuatu yang ber”arti”, yang telah hilang dalam banyak aspek kehidupan modern; di sini, seni berperan dimana institusi manusia lainnya gagal melakukan tugasnya. Sebaliknya, posmodernisme tidak meratapi semua keterpecahan, kesementaraan, atau ketidak-keherensi-an, tapi posmodernisme malah merayakan semua itu. Bahwa dunia adalah tidak berarti? Tidak usah berpura-pura, bahwa seni bisa membuat sesuatu menjadi berarti, bohong besar kalau tidak begitu, tapi mari bermain dengan itu.

Cara lain dalam melihat hubungan antara modernisme dam posmodernisme akan membantu memperjelas perbedaannya. Menurut Frederic Jameson, modernisme dan posmodernisme adalah formasi budaya yang mengikuti tahap tertentu kapitalisme. Jameson memetakan tiga tahap penting kapitalisme yang melahirkan praktik budaya tertentu (termasuk bentuk seni dan sastra apa yang dihasilkan). Tahap pertama adalah kapitalisme pasar, yang muncul pada ke-18 sampai 19 di Eropa Barat, Inggris, dan Amerika (dan semua negara dekat dibawah pengaruhnya). Tahap pertama ini diasosiasikan dengan perkembangan teknologi tertentu seperti mesin tenaga uap, dan perkembangan suatu estetika, yaitunya realisme. Tahap kedua muncul pada akhir abad 19 sampai pertengahan abad 20 (sekitar masa Perang Dunia ke-2); tahap ini, monopoli kapitalisme, diasosiasikan dengan mesin pembakar internal dan elektrik, dan dengan modernisme. Tahap ketiga, yang sedang kita jalani sekarang, adalah kapitalisme lintas negara atau kapitalisme konsumer (dengan penekanan pada aspek pemasaran, penjualan, dan komoditas konsumsi, tidak pada produksi), yang diasosiasikan dengan teknologi elektronik dan nuklir, dan berhubungan erat dengan posmodernisme.

Seperti halnya karakterisasi posmodernisme-nya Jameson dalam hal bentuk teknologi dan produksi, aspek kedua, atau defenisi Posmodernisme, lebih berupa kajian sejarah dan sosiologi ketimbang sastra atau sejarah seni. Pendekatan ini melihat posmodernisme sebagai nama dari suatu formasi sosial, atau suatu sikap sosial/sejarah; lebih tepatnya, pendekatan ini lebih membedakan “posmodernitas” dengan “modernitas” dibanding “posmodernisme” dengan “modernisme”.

Bedanya apa? “Modernisme” umumnya merujuk pada gerakan estetika secara luas abad 20, sedangkan “modernitas” merujuk pada suatu gagasan filosofis, politik, dan etik yang melandasi aspek estetik modernisme. “Modernitas” lebih tua dari “modernisme”, karena label “modern” pertama kali dipakai dalam sosiologi abad 19, yang diartikan untuk membedakan masa sekarang dengan masa sebelumnya, atau masa “antik/kuno”. Para ahli terus beragumen tentang kapan tepatnya periode “modern” muncul, dan bagaimana membedakan antara apa yang modern dan yang tidak modern; dan menariknya, para sejarawan melihat munculnya periode modern tersebut semakin lebih awal dari yang telah diketahui. Namun, secara umum, zaman “modern” dilekatkan pada masa pencerahan Eropa, yang kurang lebih mulai pada pertengahan abad 18. (Sejarawan lainnya melacak elemen-elemen Pemikiran Pencerahan kembali ke masa Renaisans atau bahkan lebih awal lagi, dan seorang sejarawan bisa saja berargumen bahwa pemikiran pencerahan telah mulai pada abad 18. Saya biasanya memberi penanggalan waktu “modern’ dari 1750, hanya karena saat itu saya mendapatkan gelar Ph.D saya dari Stanford dengan judul “Modern  Thought and Literature”, dan tulisan ini memfokuskan pada karya-karya yang ditulis pada 1750). Gagasan dasar Pencerahan hampir sama dengan Humanisme. Ulasan Jane Flax berikut memberikan ringkasan tentang ide dan gagasan ini (hal.41). Saya juga menambahkan beberapa hal baru.
1. Adanya diri yang stabil, koheren, bisa diketahui. Diri ini sadar, rasional, otonomis, dan universal – tidak ada kondisi fisik atau perbedaan yang secara substansi mempengaruhi bagaimana diri ini bekerja.
2. Diri ini mengetahui dirinya sendiri dan dunia melalui akal, atau rasionalitas, dan menempatkannya sebagai bentuk fungsi mental paling utama, dan sebagai bentuk tujuan objektif satu-satunya.
3. Cara mengetahui sesuatu yang dihasilkan oleh diri yang rasional objektif adalah dengan “sains”, yang bisa menghasilkan kebenaran-kebenaran universal tentang dunia, tanpa memandang status individu yang mengetahui.
4. Pengetahuan yang dihasilkan oleh sains adalah “kebenaran”, dan bersifat abadi.
5. Pengetahuan/kebenaran yang dihasilkan oleh sains (diri yang mengetahui secara objektif rasinal) akan selalu menghasilkan kemajuan dan kesempurnaan. Semua institusi dan praktik manusia bisa dianalisis dengan sains (akal/objektifitas) dan dikembangkan.
6. Akal adalah penentu akhir dari apa yang benar, karenanya, penentu apa yang baik dan yang buruk (apa yang umum diterima dan apa yang etis). Kebebasan adalah patuh pada hukum yang berdasarkan pengetahuan berdasarkan akal.
7. Dalam dunia yang dikuasai akal, apa yang benar akan selalu sama dengan yang baik (dan yang indah); tidak ada konflik antara apa yang benar dan yang baik.
8. Dengan begitu, sains berdiri sebagai paradigma dalam semua hal dan dalam segala bentuk pengetahuan dalam masyarakat. Sains netral dan objektif. Ilmuwan, orang yang menghasilkan pengetahuan saintifik dengan kapasitas rasional tanpa bias, harus bebas menggunakan dalil akal, dan tidak terdorong oleh motivasi-motivasi seperti uang dan kekuasaan.
9. Bahasa, atau cara mengekspresikan sesuatu yang digunakan untuk menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan harus rasional juga. Untuk itu, bahasa harus bersifat transparan, hanya berfungsi untuk menyatakan dunia yang ril/yang bisa dicerna oleh pikiran rasional. Harus ada hubungan yang tegas dan objektif antara objek persepsi dan kata yang dipakai untuk menamainya (antara penanda dan petanda). Inilah beberapa premis-premis dasar humanisme, atau modernisme. Premis-premis ini, seperti yang mungkin biasanya anda ketahui, mengatur dan menjelaskan secara keseluruhan struktur dan institusi sosial, termasuk demokrasi, hukum, sains, etika, dan estetika.

Pada hakikatnya, modernitas adalah tentang keteraturan: rasionalitas dan rasionalisasi, menciptakan keteraturan dari ketidakteraturan/chaos. Asumsinya adalah bahwa dengan lebih rasional akan membuat kondusif dalam menciptakan keteraturan, dan semakin teratur suatu masyarakat, semakin baik juga fungsi masyarakat tersebut (semakin rasional fungsi masyarakat itu). Karena modernitas berpegang pada pencapaian tingkat keteraturan terus menerus, masyarakat modern sangat menentang segala sesuatu yang berlabel “ketidakteraturan” yang akan mengganggu mereka. Masyarakat modern bergantung pada keberlanjutan munculnya pasangan yang saling berlawanan antara “keteraturan” dan “ketidakteraturan”, dengan begitu, mereka bisa menyatakan kesuperioritasan “keteraturan”. Tapi untuk melakukan hal ini, mereka harus mempunyai apa yang mewakili “ketidakteraturan” – makanya, masyarakat modern terus menerus menciptakan/membangun “ketidakteraturan” ini. Dalam budaya barat, ketidakteraturan ini kemudian menjadi “liyan/yang lain” – yang didefenisikan dari pasangan yang berlawanan diatas. Sehingga, apa dan siapa pun yang bukan warga kulit putih, waria, homoseksual/gay dan lesbian, tidak higienis dan medis, tidak rasional, dan sebagainya, adalah bagian dari “ketidakteraturan”, dan harus dienyahkan dari masyarakat modern yang rasional dan teratur. 

Apa yang dijalani masyarakat modern yang menciptakan kategori dengan label “keteraturan” dan “ketidakteraturan” berhubungan dengan usaha mereka dalam meraih kestabilan. Francois Lyotard (teoretikus posmo yang karya-karyanya digambarkan Sarup dalam artikel on postmodernisme) mengambil persamaan stabilitas dengan ide “totalitas”, atau suatu sistem yang menyeluruh (bisa dilihat disini ide Derrida tentang “totalitas” sebagai kemenyeluruhan atau kemelengkapan suatu sistem). Lyotard berpendapat bahwa totalitas, dan stabilitas, dan keteraturan dipertahankan dalam masyarakat modern dengan menciptakan “narasi besar” atau “narasi utama”, yaitunya bagaimana suatu budaya bercerita tentang dirinya sendiri tentang segala praktik dan kepercayaan. “Narasi besar” di Amerika bercerita tentang demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang paling mencerahkan dan paling rasional, dan demokrasi tersebut bisa dan akan membawa kepada kebahagiaan manusia yang universal. Setiap sistem kepercayaan atau ideologi punya narasi besar, menurut Lyotard; sebagai contoh Marxisme, “narasi besar”nya  adalah bahwa ide kapitalisme akan hancur dalam dirinya sendiri dan masyarakat sosialis utopia akan berjaya. Anda bisa mengira bahwa narasi besar sebagai suatu meta-teori, atau meta-ideologi, yaitunya, suatu ideologi yang menjelaskan ideologi lainnya (sebagaimana dengan Marxisme); suatu penceritaan  untuk menjelaskan sistem kepercayaan yang ada.

Lyotard mengatakan bahwa semua aspek masyarakat modern, seperti sains sebagai bentuk utama ilmu pengetahuan, bergantung pada narasi besar ini. Jadi, posmodernisme adalah kritik terhadap narasi-narasi besar, kesadaran bahwa suatu bentuk narasi yang menutupi kontradiksi dan ketidakstabilan yang hadir tak terpisahkan dalam organisasi dan pratik sosial. Dengan kata lain, setiap usaha untuk menciptakan “keteraturan” selalu diikuti oleh munculnya “ketidakteraturan” yang setara, tapi “narasi besar” selalu menutupinya dengan mengatakan bahwa “ketidakteraturan” BETUL-BETUL suatu kekacauan dan suatu yang buruk, sedangkan “keteraturan” BETUL-BETUL ADANYA rasional dan suatu yang baik. Posmodernisme, yang menentang narasi-narasi besar, lebih mendukung “narasi-narasi kecil”, cerita-cerita yang menjelaskan praktik-praktik kecil, kejadian-kejadian lokal, daripada konsep-konsep global atau yang berskala besar dan universal. “Narasi-narasi kecil” posmodernisme selalu bersifat situasional, kondisional, dan temporer, tidak mengklaim atau memaksakan ke-universalitas-an, kebenaran, alasan, ataupun ke-stabilitas.

Aspek pemikiran Pencerahan lainnya – yang terakhir dari 9 poin di atas – adalah  ide bahwa bahasa bersifat transparan, bahwa kata-kata hanya mewakili atau menyatakan pikiran atau sesuatu, dan tidak lebih fungsinya daripada itu. Masyarakat modern bergantung pada ide bahwa penanda selalu menunjukkan petanda, dan realitas ada dalam petanda. Tapi bagi posmodernisme, yang ada hanya penanda. Idenya, realitas yang stabil dan permanen menghilang, dan bersamanya, petanda juga sirna. Bahkan lagi, bagi masyarakat posmoderisme, yang ada hanya permukaan tanpa kedalaman, hanya penanda, tanpa petanda.
Cara lain dalam memahami ini , menurut Jean Baudrillard, bahwa dalam masyarakat posmodernisme tidak ada lagi yang orisinil, yang ada hanya kopian/peniruan – atau yang disebutnya dengan istilah “simulacra”. Mungkin anda berpikir bagaimana dengan lukisan atau patung yang memang asli adanya, seperti karya Van Gogh, dan ada ribuan tiruannya, tapi yang aslinya berada pada nilai yang paling tinggi (khususnya dalam nilai moneteri). Bandingkan dengan cd atau rekaman musik yang sebenarnya tidak ada yang “orisinil”, seperti halnya lukisan – tidak satupun yang tergantung di dinding atau yang disimpan dalam kotak penyimpanan yang asli, yang ada hanya tiruan, jutaan jumlahnya, dan semuanya sama, dan semuanya dijual dengan harga yang rata-rata sama. Contoh “simulacrum” versi Baudrillard lainnya adalah konsep realitas virtual, suatu realitas yang diciptakan dengan proses simulacrum, yang mana tidak ada yang orisinilnya. Ini bisa terlihat jelas dalam permainan atau simulasi komputer, seperti Sim City, Sim Ant, dan yang lainnya.

Akhirnya, posmodernisme menaruh perhatian yang besar terdap pertanyaan organisasi pengetahuan. Dalam masyarakat modern, pengetahuan disamakan dengan sains, dan dikontraskan dengan cerita; sains pengetahuan yang baik, tapi cerita adalah buruk, primitif, tidak masuk akal (makanya diasosiasikan dengan wanita, anak-anak, masyarakat primitif, dan masyarakat yang gila). Pengetahuan adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri; seseorang mendapatkan pengetahuan, dengan pendidikan, supaya berpengetahuan secara umum,  sehingga menjadi seseorang yang berpendidikan. Inilah idealnya pendidikan seni liberal. Tapi dalam suatu masyarakat posmodernisme, pengetahuan bersifat fungsional – anda mempelajari sesuatu, bukan untuk mengetahuinya, tapi untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Sebagaimana Sarup jelaskan (hal.138), bahwa kebijaksanaan pendidikan menekankan pada aspek keahlian dan pelatihannya daripada pendidikan ideal para humanis yang kabur secara umum. Malah ini lebih akut lagi khususnya buat tamatan jurusan sastra Inggris. “Mau diapain gelar sastramu?”

Dalam masyarakat pos-modern, pengetahuan tidak hanya bercirikan asas mamfaat tapi pengetahuan juga disebarluaskan, disimpan, dan diatur dengan cara yang berbeda dengan masyarakat modern. Secara khususnya, pengembangan teknologi komputer elektronik telah merevolusikan mode produksi pengetahuan, penyebarluasan, dan konsumsi nya dalam masyarakat kita (memang, orang bisa saja berargumen bahwa posmodernisme paling tepat digambarkan, dan dihubungkan dengan munculnya teknologi komputer mulai dari 1960, sebagai kekuatan utama dalam semua aspek kehidupan masyarakat). Dalam masyarakat pos-modern, semua yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bentuk yang bisa dikenali dan dimasukkan ke dalam komputer, khususnya yang tidak bisa diubah dalam bentuk digital, tidak akan menjadi pengetahuan lagi. Dalam paradigma ini, lawan dari “pengetahuan” bukan lagi “ketidaktahuan”, sebagaimana adanya dalam paradigma modern/humanis, tapi “kebisingan/kegaduhan”. Semua yang tidak memenuhi persyaratan bentuk pengetahuan dianggap “kebisingan/kegaduhan”, yaitunya sesuatu yang tidak bisa diketahui sebagai sesuatu yang ada dalam sistem ini. 

Lyotard mengatakan (dan hal inilah yang Sarup jelaskan berpanjang lebar) bahwa pertanyaan penting buat masyarakat pos-modern adalah siapa yang memutuskan pengetahuan itu apa (dan apa yang dimaksud dengan “kegaduhan/kebisingan”), dan siapa yang mengetahui apa yang mesti diputuskan. Keputusan tentang pengetahuan tidak melibatkan kualifikasi modern lama atau para humanis: misalnya, untuk menilai suatu pengetahuan itu sebagai kebenaran (kualitas teknisnya) atau sebagai kebaikan atau keadilan (kualitas etisnya) atau sebagai suatu kecantikan (kualitas estetisnya). Malahan lagi, Lyotard berkomentar, pengetahuan mengikuti paradigma permainan bahasa, seperti yang dijabarkan Wittgenstein. Saya tidak akan mendetail ide permainan bahasa nya Wittgenstein; karena Sarup telah memberikan penjelasan konsep yang lengkap dalam artikelnya, bagi yang tertarik dalam hal ini.
Begitu banyak pertanyaan yang ditanyakan tentang posmodernisme, dan salah satu pertanyaan pentingnya adalah tentang keterlibatan politik, atau secara lebih sederhananya, apakah gerakan posmodernisme ini menuju suatu fragmentasi/pemecahan, provisionalitas/kesementaraan, penampilan permukaan, dan ketidakstabilan yang baik atau buruk? Ada bermacam jawabannya; dalam masyarakat kontemporer kita, sayangnya, keinginan untuk kembali ke era sebelum pos-modern (era modern/humanis/Pencerahan) cenderung diasosiasikan dengan grup masyarakat politik, konservatif, agama, dan filosofis. Pada kenyataannya, salah satu konsekwensi posmodernisme adalah munculnya grup masyarakat agama fundamentalis, sebagai suatu bentuk penolakan pertanyaan “narasi besar” kebenaran agama. Ini terlihat jelas (bagi kami di Amerika, tentunya) dalam masyarakat muslim fundamentalis di Timur Tengah, yang melarang buku-buku bercorak posmodern – seperti The Satanic Verses/Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie – karena buku-buku ini merombak narasi besar.

Asosiasi penolakan posmodernisme dan konservatif atau fundamentalisme bisa menjelaskan sekurangnya kenapa fragmentasi dan multiplisitas pengakuan posmodernisme menarik perhatian para pemikir liberal dan radikal. Makanya, para ahli teori feminis melihat posmodernisme menjadi begitu menarik, seperti yang dikemukakan Sarup, Flax, Butler.

Tapi pada level tertentu, posmodernisme kelihatan memberikan alternatif untuk mengikuti konsumsi budaya global, dimana komoditas dan bentuk pengetahuan ditawarkan dengan paksa melebihi daya kontrol individu. Alternatif ini berfokus pada pemikiran untuk bertindak seadanya dan sepenuhnya (atau perjuangan sosial) bersifat lokal, terbatas, dan parsial – tapi meski demikian, bersifat efektif. Dengan membuang ide “narasi besar” (seperti pembebasan masyarakat pekerja kelas bawah) dan memfokuskan pada tujuan spesifik lokal (seperti perbaikan pusat kesehatan untuk pekerja wanita rumah tangga dalam komunitas masyarakat tertentu), politik posmodernisme menawarkan suatu teori situasi lokal sebagai sesuatu yang mengalir dan tak terduga, meskipun tetap dipengaruhi oleh tren global. Dengan demikian, moto bagi politik posmodernisme adalah “berpikir global, bertindak lokal” – dan tidak usah khawatir tentang cerita, skema atau rencana besar apapun juga.  

Selasa, 02 Maret 2010

HIJRAH GOETHE Sang Master Penulis Jerman dan Hubungannya dengan Islam Oleh: Katharine Mommsen

Johann Wolfgang von Goethe lahir di Frankfurt, Jerman, pada 28 Agustus 1749 dan meninggal 22 Maret 1832. Goethe adalah penyair, novelis, dramawan, filosof naturalis, ilmuwan, negarawan, dan figur paling berpengaruh pada periode Romantik Jerman dan sastra pada umumnya. Pencapaiannya di berbagai bidang membawanya pada puncak orang paling berpengaruh di Jerman pada masanya. Untuk mengenang jasa-jasanya, pemerintah Jerman mendirikan Goethe Institut yang menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia, di Jakarta.

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel di majalah budaya Art and Thought yang diterbitkan oleh German Cultural Center Goethe Institut. Majalah enam bulanan ini berisi tentang dunia Islam global dan usaha saling komunikasi antara dunia Barat dan dunia Timur (Islam) kontemporer.


****************************


Pada pembukaan West-ostliche Divan (Dialog Barat-Timur) kita langsung dihadapkan pada suatu visi akhir dunia:

            “Utara, Barat, dan Selatan terpecah
            Singgasana musnah, Imperium  luluk lantah

            Apakah ini warta trompet Sangkala
            Hari Pengadilan? Apa pula suara sang penyair:

            Siapkan pelarianmu, masuki Timur murni
            Rasakan udara tanah para Nabi?”

Judul puisi “Hijrah” ini menghubungkan keberangkatan spiritual si penyair ke dunia Timur murni dengan pindahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Medinah pada 622 M, kejadian yang menjadi awal tahun kalender Islam. Luar biasa, bagaimana sajak pembuka ini  ditulis, seperti terlihat dari kopi puisi Goethe, pada Desember 24 1814: pada malam Natal, ketika umat Kristen memperingati kelahiran Yesus Sang Penebus dan sebagai permulaan era Kristianitas. Suatu kebetulan aneh yang berguna untuk direnungkan, khususnya kalau seseorang mengingat bahwa Goethe besar dalam keluarga Protestan, sebagai anak dari seorang ibu yang fasih dalam Injil, dan juga memandang dirinya sebagai umat Protestan yang tahu banyak akan kitab Injil “dan tidak hanya bisa , layaknya kamus Injil berjalan, berbicara panjang lebar tentang dimana dan dalam konteks apa firman-firman ditemukan, tapi juga mengetahuinya luar kepala sumber utamanya dan  menceritakannya kapan saja”. Kutipan ini berasal dari “Catatan dan Kata-Kata” Goethe dalam Divan. Di sana Goethe menambahkan bahwa siapa saja yang akrab dengan Injil “akan terpaksa menjadi sangat berbudaya, karena ingatan, selalu ditempati oleh objek-objek yang berharga, menjaga hal-hal murni yang bisa dinikmati dan menaruhnya dalam perasaan dan penilaian”. Di sini Goethe berbicara dari pengalaman orang yang akrab dengan Kitab Injil  supaya – yang tentunya pembaca di sini bakal terkejut mengetahuinya – memberikan kesan perasaan persaudaraan dengan penyair Persia Muhammad Shamsuddin Hafiz, yang dari judul puisinya memperlihatkan penghormatan pada seorang Muslim yang saleh, yang mana “Hafiz yang dihormati” menjadi nama yang melekat pada penyair tersebut. Karya Goethe Book of Hafiz, dalam puisinya yang berjudul Beyname,  memperlihatkan dialog Goethe sendiri dengan penyair abad 14 ini. Di dalam karya Goethe ini, Hafiz berbicara tentang hubungan keakrabannya dengan Al-Qur’an dan Goethe tanpa ragu sependapat dalam hal bahwa ia - seperti juga Hafiz dengan Al-Qur’an – memahami makna esensi Kitab Suci kita…sebagai gambaran kebahagiaan iman, sekalipun tentu ada penyangkalan-penyangkalan, masalah-masalah yang tak berkenan, dan ketidak-jujuran”. Dalam karya Book of Hafiz ini, Goethe memanggil penyair Persia ini “kembarannya”. Adakah hubungan yang lebih dekat lagi, yang lebih intim dibanding hubungan kembar? Tidakkah ini menakjubkan bahwa Goethe merasakan kedekatannya  dengan Hafiz seperti sudah menjadi saudara kembar, meski mereka dipisahkan oleh rentang waktu berabad lamanya dan jarak geografis yang jauh luar biasa, bahasa dan tradisi? Karya Goethe Divan menghadirkan dengan sangat jelas “kekembaran” ini, satunya Muslim dan satu lagi Kristen, dalam dialog persaudaraan. West-ostliche Divan – Divan yang berarti “pertemuan” – terdiri dari dialog besar antara Barat dan Timur. Banyak figur Timur dimunculkan dalam karyanya ini, Nabi Muhammad, Syah Abbas Agung, Mahmud Penguasa Ghazna, Sang Penakluk Timur, Mufti Abu Sud, Sultan Salim, Sang Penyair Hafiz, Ferdusi, Jalalludin Rumi, Saadi, Mutannabi, Hatim Thai, dan banyak lagi yang lainnya. Dalam karya Goethe Divan ini, mereka berkhotbah bersama dengan anak-anak penginapan tak dikenal, pengendara keledai, pemimpin kafilah, tukang emas, penjual di pasar, dan pengemis. Di semua tempat dalam dua belas bagian buku Divan dan dalam catatan tambahan kata-kata Goethe memperlihatkan contoh kemungkinan dialog Barat dan Timur. 

Pada usia 20-an, Goethe sudah menyadari perlunya dialog yang murni antara dunia Barat dan Islam. Pada saat itu, ia mulai membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya dengan lebih dalam. Ia mengumpulkan catatan-catatan Al-Qur’an dari berbagai versi, dan sangat menyayangkan terjemahan Al-Qur’an yang baru, yang berisi jejak-jejak kebencian tradisional yang kentara terhadap Islam, dan menganggap terjemahan tersebut “hasil karya sampah”. Fakta bahwa Goethe ingin menghapus semua kebencian pada karya-karya tersebut dan usahanya memperkenalkan pemahaman Islam yang lebih baik diperlihatkannya dalam fragmen dramanya Mahomet, yang tentunya sangat berlawanan dengan gambaran kecabulan dan ketidakpahaman kehidupan Nabi Muhammad dalam drama popular Voltaire saat itu, Le fanatisme ou Mahomet le Prophete (1742). Sebagai mahasiswa di universitas Leipzig, Goethe melarang saudara perempuannya Cornellia berperan dalam suatu penampilan drama amatir karya Voltaire yang menyulut kebencian itu. Ketika ia berumur dua puluh tiga, Goethe menulis puisi tentang Nabi Muhammad, sebagai penghormatannya pada pendiri agama Islam itu dalam suatu cara yang belum pernah ada di kalangan penulis Eropa pada masanya. Selama empat dekade berikutnya, eksplorasi masa mudanya terhadap Islam diikuti dengan karyanya West-East Divan yang di dalamnya Goethe mengamati dunia Islam jauh lebih luas lagi.  

Karakteristik utama dan aspek terpenting hubungan Goethe dengan Islam terlihat secara mendasar dari sikap toleransinya. Beberapa contoh tipikal bisa terlihat di sini. Waktu berumur dua puluh dua Goethe begitu bersemangat melepaskan kekuatan puitisnya, yang ia akui sendiri dalam sebuah surat untuk Herder: “Seperti Musa dalam Al-Qur’an aku ingin memanjatkan do’a: Ya Tuhan, bukalah dadaku”. Di sini Goethe mengutip Surah 20 Al-Qur’an. Apa artinya ini secara tepatnya menjadi lebih mudah dimengerti pada pembacaan kelanjutan Surah tersebut – yang Goethe ambil pada saat yang sama dari nukilan Al-Qur’an: “Ya Tuhan, bukalah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Lancarkanlah ucapan yang keluar dari lidahku…”  Fakta bahwa Goethe berdoa dalam bahasa Al-Qur’an saat menaruh perhatian pada sesuatu yang penting adalah sama halnya dengan panggilan puitisnya secara spontan, dan ini menimbulkan secercah cahaya nilai emosi yang ia sudah dapatkan dari Al-Qur’an semenjak tahap awal. Setengah abad kemudian penyair berumur tujuh puluhan itu secara publik menyatakan bahwa ia bergumul dengan “perayaan rasa takjub pada malam suci saat Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an dari suatu ketinggian”. Tidak hanya kebetulan dimana ia menggunakan plihan kata seperti rasa takjub yang dalam, malam suci, dari suatu ketinggian, yang mengingatkan pada kata-kata dimana umat Kristen juga merayakan kelahiran Sang Penyelamat saat Natal.

Belakangan majalah Neue Zurcher Zeitung memunculkan pertanyaan: “Muslimkah Goethe?”,  sebagai headline dari tulisan Manfred Osten. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan jawaban gamblang ya atau tidak. Tentunya banyak argumen yang mendukung bahwa Goethe bukan seorang Muslim, tapi terdapat juga banyak deklarasi dan tindakan yang mengungkapkan bahwa ia sering dipersamakan dengan kedekatannya dengan Islam. Pada kadar tertentu, bisa dikatakan bahwa Goethe memamfaatkan kemampuan intelektual dan puitisnya untuk membangun jembatan menuju dunia Islam. Dalam karyanya Dichtung und Wahrheit (Puisi dan Kebenaran), ia sendiri meyakini bahwa ia telah ditakdirkan dari usia muda untuk bertindak sebagai mediator antara dua dunia itu: “Manusia bisa berubah kemana saja ia mau, ia bisa menjalani kehidupan apapun yang ia suka, tapi akhirnya ia akan selalu kembali pada jalan yang Alam sudah tentukan buatnya”.  Jalan dimana Alam menetapkan Goethe dan membawanya, seperti yang terlihat dalam otobiografinya, ke Timur Tengah, yang dengan pesona magisnya telah menarik Goethe saat ia masih kecil, dengan begitu dari usia dini imajinasinya telah membawanya berkelana ke negeri para Nabi di Tigris dan Efrat, tanah Jordania dan Mesir. Dalam kata-katanya sendiri, Goethe mengatakan: “(pada saat dimana ia telah) begitu senang mencari pelarian ke negeri timur”, dimana ia menemukan dirinya “dalam kesendirian yang paling dalam sekaligus persaudaraan yang erat”.

Perlu diingat bahwa inilah satu-satunya otobiografi dalam dunia sastra dimana cerita kehidupan pengarangnya sepenuhnya berkelindan dengan sejarah “negeri yang indah dan begitu dipuji-puji orang, karena alam dan lingkungannya....dan masyarakatnya beserta peristwa-peristiwa agung di belahan bumi tersebut selama kurun milenium”. Dalam karyanya Poetry and Truth, Goethe juga menyatakan ketertarikannya pada Ishmael, leluhur bangsa Arab. Ia mengetahui bahwa kelahiran putra tertua Ibrahim dari Hajar wanita Mesir sebagai “pertanda dari Sang Maha Kuasa”, sebagai pertolongan dari Malaikat Tuhan, “supaya Ishmael juga melahirkan keturunan orang-orang hebat dan janji yang paling luar biasa dari semua janji tersebut (yaitunya bahwa Ibrahim akan mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit) tentunya terpenuhi malah jauh melebihinya.

Cerita pertengkaran saudara antara Ishmael/Ismail dan Isaac/Ishak (leluhur Yahudi), banyak sekali mengisi lembaran masa kecil Goethe, yang menandakan bahwa dari umur dininya ia sudah sadar sekali akan akar pertengkaran ini. Dalam menggambarkan konflik ini, Goethe selalu penuh kasih tapi bersifat netral; artinya, ia tidak memihak. Dalam karyanya Poetry and Truth, ia menggambarkan dengan terperinci bagaimana dan mengapa Ibrahim berjuang mendapatkan tanah Kan’an untuknya dan pengikutnya, tanah yang dari keturunannya orang Israel dan orang Arab sampai sekarang masih bertengkar saling menumpahkan darah. Otobiografi Goethe memperlihatkan pertimbangannya yang dalam pada penduduk Palestina, yang karena kedekatan mereka pada Tuhan, mereka mempertontonkan aspek barbarik “sifat liar dan kekejaman yang keluar dari sifat manusia atau kemerosotan sifat manusia”. Ia menekankan bahwa “Kitab Suci tidak bermaksud mengatakan bahwa….mereka orang-orang yang diberkati tersebut menjadi suatu model kebaikan. Mereka juga manusia dengan berbagai sifat yang berbuat kesalahan dan kelemahan, tapi semua adalah kehendak Tuhan yang menjadikan bagaimana sifat dasar seseorang yang tidak seharusnya ditimpakan semua pada suatu bangsa: kepercayaan tak tergoyahkan bahwa Tuhan memberikan perhatian khusus pada mereka dan pengikutnya”. Dalam karakterisasi ini Goethe merujuk ke bangsa Israel dan tradisi Arab Islam.

Kita tahu bahwa Goethe pada masa mudanya belajar bahasa Yiddi dan Yahudi, dan ia juga mempelajari bahasa Arab. Ia menaruh perhatian yang dalam pada Al-Qur’an semenjak ia menjadi siswa di Strasbourgh.

“Toleransi” adalah motto dalam Pencerahan. Ini sesuai dengan spirit/semangat zaman untuk memperlihatkan ketertarikan pada suatu karya atau Kitab, bersama dengan Kitab Injil, yang orang lain anggap juga suci dan makanya pantas untuk tidak diprasangka-burukkan dengan cara hormat, yang berasal dari orang dengan kepercayaan yang beda. Malahan, nukilan Goethe dari Al-Qur’an, sekitar dua ribuan ayat yang tetap bertahan, memperlihatkan dengan jelas tinjauan pribadinya jauh melampaui usaha gerakan Pencerahan dalam hal toleransi. Nukilan Al-Qur’an tersebut menunjukkan berbagai aspek Islam yang menarik rasa simpatinya yang khusus  pada saat itu, dengan kepercayaan Al-Qur’an pada Pencerahan, yang ia hubungkan dengan perasaan dan pemikirannya. Refleksi pemikiran Goethe bermula dari Surat kedua dalam Al-Qur’an, Surat yang paling ia sukai sampai masa tuanya. Pertama kali ia mengutip pikiran yang begitu indahnya dari Ayat 112 ini:

“Tidak, - barang siapa menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah dan dia berbuat amal kebaikan, - ia akan menerima pahalanya di sisi Tuhannya; mereka tak perlu khawatir, tak perlu sedih”.

Kutipan ini diikuti oleh ayat 115, yang mengungkapkan keyakinan mendasar Goethe tentang Manifestasi Tuhan dalam Alam:

“Milik Allah timur dan barat: ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah. Allah Mahaluas, Mahatahu”.

Setelah melompat selanjutnya 50 ayat, Goethe kembali lagi menyodorkan tema mewujudnya Tuhan dalam Alam di ayat 164:

“Sungguh ! pada penciptaan langit dan bumi, pada pergantian malam dan siang, pada pelayaran kapal-kapal di lautan dengan segala yang menguntungkan manusia, pada hujan yang diturunkan Allah dari langit serta dihidupkan-Nya buni setelah mati, pada binatang-binatang dari segala jenis yang ditebarkan-Nya di seluruh bumi ini; pada perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, - sungguh semua itu tanda-tanda bagi manusia yang mengerti”. 

Ayat-ayat di atas merefleksikan ajaran ke-Esa-an Tuhan yang terekam – yang bukannya tidak disengaja – dikutip Goethe dari Al-Qur’an. Goethe selalu memandang pernyataan empatis tentang monoteisme sebagai suatu pencapaian prinsipil Nabi Muhammad. Selanjutnya nukilan tenyang himbauan berbuat amal kebaikan, yang menjadi ciri utama Al-Qur’an. Banyaknya seruan berbuat amal kebaikan dalam Al-Qur’an, yang nantinya dalam karya Goethe Divan juga ditemukan, menunjukkan begitu penting buat Goethe aspek amal kebaikan ini. Ayat lainnya yang dikutip Goethe dari tahun 1771-72 berhubungan dengan Tuhan yang berbicara pada kemanusiaan melalui tidak hanya dari satu mediator tapi juga dari banyak nabi dan rasul. Dari Surat 3, ayat 144 ia mengutip:

“Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau terbunuh kamu akan berbalik belakang ? Barang siapa berbalik belakang samasekali takkan merugikan Allah tetapi Allah akan memberi pahala kepada yang bersyukur”.

Selanjutnya ia mengutip lagi dari Surat yang sama ayat 179:

“….Allah tidak akan membukakan kepadamu hal yang gaib; tetapi Ia memilih rasul-rasul-Nya. Dan kalau kamu beriman dan berbuat kebaikan (bertakwa), maka pahala yang besar itulah buat kamu”.

Goethe muda dan Lavater berselisih paham mengenai pertanyaan apakah sebagai umat Kristen hanya mengakui Yesus sebagai utusan-Nya atau tugas tersebut juga diemban oleh Nabi lainnya. Inilah sumber pertengkaran yang berujung pada tidak berhubungannya mereka lagi. Jurnal terakhir mereka menunjukkan bahwa kedua orang ini juga membahas tentang Al-Qur’an. Dalam memperbincangkan Muhammad, Goethe berusaha menjelaskan pada Lavater bahwa sejarah juga mengenal banyak sekali para pemuka pemipin agama di luar dunia Kristianitas.

Nukilan Goethe dari Al-Qur’an juga mengungkapkan ketertarikannya pada cara dan perbuatan nabi Muhammad dan posisinya bagi pengikut khususnya. Goethe merekam di sini dari Surat 29 ayat 50:

“…Katakanlah: Tandatanda mukjizat hanya ada pada Allah, dan aku hanya pemberi peringatan yang jelas”

Dan kemudian dari Surat 13 ayat 7:

“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Kenapa tidak diturunkan kepadanya sebuah ayat dari Tuhannya?’. Tetapi engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan pada setiap golongan ada seorang yang memberi bimbingan”.

Sepanjang hidupnya, Goethe sangat menyukai ide ini dan terus mengulanginya lagi yang ia ambil dari Surat 14 ayat 4:

“Kami tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya”.

Goethe mengutip ayat ini dalam sebuah surat yang ditujukannya pada seorang ilmuwan muda pada 1819: “Apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an benar adanya: bahwa Tuhan mengirimkan utusan-Nya sesuai dengan bahasa kaumnya”. Juga dalam surat yang ditujukan untuk Thomas Caryle pada 1827: “Al-Qur’an berkata: Tuhan mengirimkan pada suatu kaum seorang utusan dalam bahasa mereka sendiri”.

Ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang diambil Goethe tentang orang-orang kafir yang mengharapkan kemukjizatan sangat mempengaruhinya selama bertahun-tahun. Bahkan pada saat karyanya Divan ia menunjukkan hal ini dengan mengutip sebuah ayat:

“Aku tak habis pikir, berkata sang Nabi
Keajaiban paling dahsyat adalah bahwa aku ada”.

Kajian Goethe tentang Al-Qur’an pada 1771 dan 1772 memberinya inspirasi untuk memikirkan tentang suatu drama yang akan dihasilkannya, Mahomet, yang sayangnya, hanya tinggal beberapa halaman penting yang tersisa. Namun, bagian-bagian karyanya ini justru memperlihatkan aspek-aspek paling penting tentang Islam yang sangat memberikan kesan kuat terhadap Goethe: terutama tentang figur Nabi Muhammad sendiri, karakter dan kisah hidup pendiri agama Islam ini, yang, tidak seperti Yesus, yang tidak hanya menyebar-luaskan ajarannya pada dunia tapi juga menunjukkan perjuangan keduniawiannya. Rasa tertarik Goethe pada fenomena sang Nabi ini tertuangkan dalam sajak khususnya yang terkenal, “Nyanyian Buat Muhammad”, yang aslinya ditulis dalam bentuk dialog puji-pujian antara Ali dan Fatimah. Goethe menulis eulogi tersebut pada musim semi 1773 setelah ia mempelajari semua buku tentang Muhammad yang ia bisa dapatkan. Metafor arus air yang sangat kuat digunakannya untuk menunjukkan aspek penting sang pendiri agama Islam dan pemimpin spiritual kemanusiaan ini.
                                    
Goethe memakai kesan (image) tersebut sebagai gambaran suatu kekuatan spiritual yang bangkit dari kesederhanaan dan kemudian menjadi mengalir, menyebar, membentang luas dan mencapai akhir kemenangan pada aliran air yang sampai pada lautan luas, yang merupakan simbol keilahian. Kesan ini terutama berdasarkan gagasan bahwa seorang agamawan jenius yang mengikut-sertakan orang lain dalam ikatan persaudaraan, seperti halnya arus air yang membawa aliran air kecil dan sungai lainnya menuju jalan ke laut luas sana. Arus air ini diperlihatkan seperti berikut ini:

“…Dan sekarang, aliran kemegahan ini,
Memasuki dataran sana
Dan sungai kecil dari tanah itu
Dan air yang mengalir dari gunung sana
Suarakan riang: Saudaraku !
Saudaraku, ajak saudaramu yang lain bersamamu
Menuju sang ayah purba,
Menuju lautan abadi,
Yang sedang menunggu kita
Dengan tangan mengajak yang terulur terbuka… “ 

Sajak ini kemudian diulangi lagi, dengan sedikit perubahan:

“Ajak saudaramu dari negeri mana saja
Ajak saudaramu yang di gunung sana
Bersamamu kita bertemu sang bapak !”

Lalu, “Nyanyian untuk Muhammad” Goethe berakhir dengan:

“Dan dibawanyalah saudara-saudaranya,
Harta berharganya, anak-anaknya
Gegap gepita dengan bahagia
Menuju penungguan pelukan di dada Sang Pencipta”.

Sajak di atas merupakan penghargaan paling penting dari seorang penyair Eropa yang pernah ada bagi Nabi pendiri agama Islam ini. Fragmen drama Mahomet yang masih tersisa sampai sekarang juga menunjukan ketertarikan Goethe dalam ajaran Kemanunggalan Tuhan, yang telah tersingkapkan pada Goethe dari nukilan-nukilan Al-Qur’an. Ia menuliskan sendiri tentang ini dalam karyanya Poetry and Truth:

“Drama ini dimulai dengan himne yang dinyanyikan sendiri oleh Muhammad di suatu malam yang indah. Pertama ia memuji bertaburannya bintang tak terhitung di langit sebagai dewa-dewa, kemudian muncullah Gad, Jupiter terpuji yang menjadi Rajanya Bintang. Tak lama sesudahnya muncullah Bulan, menjadi pemenang bagi pemuji mata dan hati. Tapi kemudian, matahari terbit membuatnya dalam kegirangan dan kekuatan yang begitu luar biasanya, dan terpanggilah ia untuk mengucapkan pujian yang baru lagi menyegarkan. Seberapa menyenangkannya perubahan ini, ia sama sekali tak terganggu. Jiwanya merasa harus melewati semuanya sekali lagi. Terangkat tinggi menuju Tuhan, Yang Maha Tunggal, Yang Abadi, Yang Tak Berbatas, yang pada-Nya semua yang terbatas ini tergantung keberadaannya. Aku menulis himne ini dengan penuh cinta, tapi akhirnya hilang…”

Mencengangkan bagaimana intens dan tepatnya sang penyair yang sudah menua ini masih mengingat karyanya pada saat manuskripnya sudah lama hilang. Baru setelah meninggalnya Goethe ditemukan kembali tulisannya ini. “Aku tidak akan bisa berbagi dengan kalian dalam hal pengalaman perasaan yang menjiwa ini”, begitu kata Goethe. Karyanya ini diakhiri dengan sebuah sajak indah, yang disuarakan dari mulut Muhammad:

“Bangkitlah hai diri, oh pujaan hati, Sang Pencipta
Jadilah Tuanku, oh Tuhanku yang kucinta
Engkau yang menciptakan Matahari, Bulan, dan Bintang-bintang,
Bumi dan Langit, dan Hamba-Mu ini”.

Sajak ini memperlihatkan rasa hormat Goethe terhadap alam yang selaras dengan ide Islam. Ia menemukan dalam Al-Qur’an keyakinannya, menuliskannya secara alegoris, bahwa manusia harus melampai dirinya di atas segala perbedaan manifestasi alam untuk mengenali Manunggalnya Tuhan. Begitu pentingnya ajaran Kemanunggalan Tuhan ini buat Goethe sehingga ia juga menuliskannya dalam suatu adegan antara Muhammad muda dengan inang pengasuhnya Halimah. Halimah pada suatu saat menemukan Muhammad sendirian di tengah malam dan merasa khawatir akan dirinya:

“Sendirian di tengah padang pasir saat malam pun tak ada yang aman dari para perampok”.

Muhammad menjawab:

“Aku tidaklah sendirian. Yang Kuasa Tuhanku mendekatiku dalam Kebaikan-Nya yang Maha”.

Halimah: “Kau lihatkah ia ?”

Muhammad: “Tidakkah engkau lihat Ia ? Ia menemuiku dalam kehangatan cinta-Nya setiap musim semi yang tentram, di bawah setiap pohon yang berbunga. Bgaimana lagi aku harus bersyukur pada-Nya ? Ia telah membuka dadaku dan membuang kotoran yang melekat di jantung hatiku supaya aku bisa menerima nama-Nya”.

Halimah: “Kamu sedang bermimpi. Bagaimana bisa dadamu terbuka sedagkan kau masih hidup ?”

Muhammad: “Aku bermohon pada Tuhanku supaya engkau mau belajar ”.

Halimah: “Siapa Tuhanmu, Hobal atau Al fatas ?”

Muhammad: “Malanglah, orang-orang yang tak beruntung ini; engkau yang menyembah batu, “aku menyayangimu”, dan pada lempung, “jadilah pelindungku”. Punya telingakah mereka untuk menjawab doa, ada tangankah mereka untuk menolong ?”

Halimah: “Ia yang berdiam dalam bebatuan, yang mengalir disekitar lempung, mereka mendengarkan aku. Kekuatannya maha besar”.

Muhammad: “Seberapa besar kekuatan mereka ? Ada lebih dari tiga ratus lagi di sampingnya, tiap-tiap mereka menerima doa dan pengorbanan. Kalau engkau berdoa menentang tetanggamu, maka mereka juga akan menentangmu, tidakkah tuhanmu seperti pangeran kecil yang daerah kekuasaannya dibingungkan, saling dihalangi jalannya dalam perseteruan yang tak bakal usai ?”

Halimah: “Jadi, Tuhanmu tak ada teman ?”

Muhammad: “Masih Tuhankah namanya kalau Ia butuh yang lain ?”

Halimah: “Dimanakah Tuhanmu ?”

Muhammad: “Dimana-mana”.

Halimah: “Tak ada dimana-mana. Bisakah tanganmu melingkupi-Nya ?”    

Muhammad: “Bahkan lebih kuat lagi, lebih keras daripada tanganmu yang harus aku berterimakasih atas cintamu. Aku belum dibolehkan menggunakannya. Halima, aku seperti anak yang engkau sapih. Aku merasakan erat-erat tangan dan kakiku dalam kain sapihanmu tapi untuk bebas bukanlah dalam kuasaku. Ya, Tuhanku, lepaskanlah manusia dari belenggu mereka sendiri. Jauh dari dalam diri, mereka rindu akan Engkau”.

Adegan ini menunjukkan begitu terperincinya kajian Goethe tentang narasi tradisional masa kecil nabi Muhammad dan bagaimana ia juga mencampur-adukkan cerita ini dalam imajinasinya sendiri.

Goethe kecil juga mempunyai rasa ketertarikan khusus pada bahasa Al-Qur’an. Dengan demikian, ia telah menempatkan pondasi yang kuat untuk meraih pengetahuan yang lebih luas lagi tentang dunia Islam di kemudian harinya, saat perkembangan yang tidak begitu menyenangkan membawanya kepada perhatian yang lebih besar pada Al-Qur’an dan, untuk berkenalan lebih banyak lagi khususnya pada penyair Islam. Goethe kelihatan terkejut ketika tentara Weimar membawakannya selembar naskah kuno beraksara Arab dari Spanyol, lembaran Al-Qur’an Surat 114. Goethe berusaha meniru tulisan kaligrafis Arab dan Persia ini. Kemudian seorang Muslim Bashkir datang ke Weimar bersama dengan tentara sekutunya dalam menentang Napoleon, dan Goethe ikut serta dalam ritual shalat dalam agama mereka ini, yang berlangsung di sekolah Protestan. Inilah pertama kalinya Goethe bertemuseorang Mullah dan mendengarkan bagaimana Al-Qur’an dibacakan dengan intonasi suara. Tidak lama setelah itu, seorang pedagang barang antik dari Leibzig, yang sedang dalam kesusahan finansial, membawakannya manuskrip timur yang sangat berharga, dan Goethe menyuruh Perpustakaan Ducal untuk membelinya setelah ia pelajari sendiri selama beberapa bulan. Tulisan kaligrafi Al-Qur’an dan kumpulan Divan dari penyair penting Persia dan Arab ini menjadi persiapan bagi Goethe untuk menghasilkan karya besarnya, setelah membaca karya Hafiz hasil terjemahan Joseph von Hammer, sebuah buku pemberian dari penerbit Cotta pada Mei 1814. Semua ini adalah persiapan untuk konsep dalam karyanya West-East Divan (Dialog Barat-Timur) sebagai respon dari karya Hafiz. Di sini Goethe kembali lagi mengambil tema puisinya yang ia tulis empat dekade sebelumnya tentang penghormatannya pada Nabi Muhammad dan agama Islam, yang dengan menuliskannya lagi ia berharap orang-orang di negerinya bisa memandang Islam secara lebih positif. Seperti halnya dalam drama Mahomet yang ia tulis pada masa mudanya, dalam Divan, Goethe kembali menghadirkan Muhammad berbicara langsung. Kebanyakan sajak dalam karya Divan berdasarkan Kitab Suci agama Islam, “pada warisan kesucian Al-Qur’an”, Goethe sendiri mengatakannya. Sajak-sajak dalam karyanya ini setengahnya berasal dari nukilan Al-Qur’an dan setengahnya lagi kata-kata Goethe sendiri, melebur sehingga menciptakan sesuatu yang secara literal bisa dinamakan “Barat-Timur-an”. Empat baris di bawah ini bisa dilihat seperti sebuah do’a pui-pujian:

“Timur adalah kepunyaan Tuhan/ Barat adalah kepunyaan Tuhan/ Negeri Belahan Utara dan Selatan juga kepunyaan-Nya/ Semua damai dalam Tangan-Nya”.

Empat baris lainnya di bawah ini juga sama dalam karakternya, memadukan unsur Al-Qur’an dan kata-kata Goethe:

“Pengelanaanku t’lah berujung sesat
Tapi Engkau tahu bagaimana membawaku kembali
Di saat aku berperilaku dan di waktu aku menulis     
Semoga Engkau selalu membimbing jalanku”.

Apa yang dimaksud dengan kata-kata “membimbing jalanku” adalah apa yang disebut oleh Muslim taat sebagai Syari’a – jalan lurus yang membawa umatnya pada Sang Sumber. Inilah arti sebenarnya dari Syari’a, sebuah kata yang telah sepenuhnya dikacaukan oleh politik Islam.

Karya Goethe ini juga memperlihatkan ketertarikannya yang sangat kuat pada ajaran Islam otentik: penyerahan diri pada kehendak Tuhan. Seperti seorang Muslim, Goethe juga mempercayai bahwa hidupnya telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan, dan mengetahui penerimaan akan kehendak Tuhan adalah salah satu rukun iman. Keyakinan pada Qada (manusia bisa merubah nasib / free will) dan Qadar (pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang berlaku dari awal / predestination) sesuai dengan ide Spinoza dalam karyanya Ethics. Spinoza adalah filosof kesukaan Goethe: dan Goethe menunjukkan sikap setianya semenjak ia menulis fragmen drama Mahomet.

Secara lebih khas, Goethe betul-betul menjiwai ajaran ini saat nasib nahas menimpa dirinya, seperti saat kematian teman dekatnya Carl August dan ia menulis pada Eckermann, mengeluh dan menolak semua bentuk penghiburan hatinya yang sedih dan mengatakan: “Tuhanlah yang menetapkan segala yang menurut-Nya baik dan kita yang fana tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya”. Secara umum, Goethe percaya pada “Takdir Tuhan (Providence)”, khususnya menyangkut masalah kematian. Dus, pada 1827 ia menulis pada Ketua Sekretaris von Muller: “Kita hidup selama Tuhan menentukannya”. Goethe berulang-ulang bicara tentang penyerahan dirinya pada takdir seperti dalam ajaran Islam. Dalam tulisannya Kampanye di Perancis (1792), ia melaporkan perilakunya selama situasi tidak aman itu sebagai berikut: “secepat datangnya bahaya besar, yang paling buta dari sifat fatalisme hadir membantuku, dan kuamati bahwa orang-orang berusaha mendapatkan panggilan berbahaya, merasakan diri mereka sendiri terbentengi dan dikuatkan oleh kepercayaan yang sama. Agama Muhammad paling menampilkan hal ini”.

Saat menantu perempuan Goethe sakit parah pada 1820, ia mengungkapkan perasaan sentimen yang sama ketika menulis pada seorang temannya: “Tak banyak lagi yang bisa kukatakan padamu, kecuali aku sudah begitu melekat dengan Islam”. Ia kembali mengungkapkan pandangannya yang sama pada 1831 saat wabah kolera menyebar: “Di sini tak seorangpun lagi yang bisa menasihati yang lainnya. Setiap orang sendirian memutuskan apa yang akan dilakukannya. Kita semua hidup dalam Islam, dalam bentuk jiwa apapun yang kita percayai”. Dan hanya empat minggu sebelum kematiannya, saat wabah kolera semakin menyebarkan mautnya, penyair berumur delapan puluh dua itu menuliskan: “Di sini, di tempat ini dan di semua negeri dimanapun, penduduknya sangat sabar karena melarikan diri (dari penyakit ini) tidaklah mungkin. Semua bentuk usaha telah terhenti. Melihat dengan lebih dekat apa yang mereka lihat bahwa orang-orang, yang mencari kebebasan dari rasa ketakutan ini, telah melepaskan diri mereka, dengan rasa hormat yang berani, jatuh dalam genggaman tangan Islam, mempercayai diri mereka pada kehendak Tuhan yang tak bisa tersakiti”.

Disini kita mengetahui bahwa Goethe betul-betul secara sadar hidup menurut ajaran dasar dalam keimanan Islam, dan bahwa ia mengekspresikan langsung pada teman-teman dekatnya tentang ajaran ini. Sudah sering diperdebatkan bagaimana pernyataan-pernyataan afirmatifnya terhadap Islam kedengaran terlalu provokatif buat  telinga orang Barat, seperti terlihat dalam bukunya Buch der Spruche (Buku Kumpulan Aforisme):

“Alangkah tak masuk akalnya saat seseorang mengagung-agungkan / pendapatnya sendiri / sedangkan Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan; / kita semua hidup dan mati dalam Islam”.    

Tapi dalam kenyataannya tentu tidak perlu ada orang yang terprovokasi oleh aforisme ini karena di dalamnya hanya mengatakan
1)      kata “Islam” berarti “berserah diri pada Tuhan”, dan
2)      bahwa manusia seharusnya, dapat, bisa, dan mesti akhirnya pasrah pada Tuhan, sebagai pemilik semua Kekuasaan.

Tidakkah ini berlaku untuk semua orang, tanpa melihat apa agamanya, yang telah ditetapkan semenjak ia lahir dan setelahnya ?

*Katharine Mommsen, penulis artikel ini adalah guru besar agama asal Jerman mengajar di USA. Ia telah banyak menerbitkan buku tentang Goethe dan hubungannya dengan dunia Islam pada khususnya.