Tulisan ini diterjemahkan dari artikel di majalah budaya Art and Thought yang diterbitkan oleh German Cultural Center Goethe Institut. Majalah enam bulanan ini berisi tentang dunia Islam global dan usaha saling komunikasi antara dunia Barat dan dunia Timur (Islam) kontemporer.
****************************
Pada pembukaan West-ostliche Divan (Dialog Barat-Timur) kita langsung dihadapkan pada suatu visi akhir dunia:
“Utara, Barat, dan Selatan terpecah
Singgasana musnah, Imperium luluk lantah
Apakah ini warta trompet Sangkala
Hari Pengadilan? Apa pula suara sang penyair:
Siapkan pelarianmu, masuki Timur murni
Rasakan udara tanah para Nabi?”
Judul puisi “Hijrah” ini menghubungkan keberangkatan spiritual si penyair ke dunia Timur murni dengan pindahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Medinah pada 622 M, kejadian yang menjadi awal tahun kalender Islam. Luar biasa, bagaimana sajak pembuka ini ditulis, seperti terlihat dari kopi puisi Goethe, pada Desember 24 1814: pada malam Natal , ketika umat Kristen memperingati kelahiran Yesus Sang Penebus dan sebagai permulaan era Kristianitas. Suatu kebetulan aneh yang berguna untuk direnungkan, khususnya kalau seseorang mengingat bahwa Goethe besar dalam keluarga Protestan, sebagai anak dari seorang ibu yang fasih dalam Injil, dan juga memandang dirinya sebagai umat Protestan yang tahu banyak akan kitab Injil “dan tidak hanya bisa , layaknya kamus Injil berjalan, berbicara panjang lebar tentang dimana dan dalam konteks apa firman-firman ditemukan, tapi juga mengetahuinya luar kepala sumber utamanya dan menceritakannya kapan saja”. Kutipan ini berasal dari “Catatan dan Kata-Kata” Goethe dalam Divan. Di sana Goethe menambahkan bahwa siapa saja yang akrab dengan Injil “akan terpaksa menjadi sangat berbudaya, karena ingatan, selalu ditempati oleh objek-objek yang berharga, menjaga hal-hal murni yang bisa dinikmati dan menaruhnya dalam perasaan dan penilaian”. Di sini Goethe berbicara dari pengalaman orang yang akrab dengan Kitab Injil supaya – yang tentunya pembaca di sini bakal terkejut mengetahuinya – memberikan kesan perasaan persaudaraan dengan penyair Persia Muhammad Shamsuddin Hafiz, yang dari judul puisinya memperlihatkan penghormatan pada seorang Muslim yang saleh, yang mana “Hafiz yang dihormati” menjadi nama yang melekat pada penyair tersebut. Karya Goethe Book of Hafiz, dalam puisinya yang berjudul Beyname, memperlihatkan dialog Goethe sendiri dengan penyair abad 14 ini. Di dalam karya Goethe ini, Hafiz berbicara tentang hubungan keakrabannya dengan Al-Qur’an dan Goethe tanpa ragu sependapat dalam hal bahwa ia - seperti juga Hafiz dengan Al-Qur’an – memahami makna esensi Kitab Suci kita…sebagai gambaran kebahagiaan iman, sekalipun tentu ada penyangkalan-penyangkalan, masalah-masalah yang tak berkenan, dan ketidak-jujuran”. Dalam karya Book of Hafiz ini, Goethe memanggil penyair Persia ini “kembarannya”. Adakah hubungan yang lebih dekat lagi, yang lebih intim dibanding hubungan kembar? Tidakkah ini menakjubkan bahwa Goethe merasakan kedekatannya dengan Hafiz seperti sudah menjadi saudara kembar, meski mereka dipisahkan oleh rentang waktu berabad lamanya dan jarak geografis yang jauh luar biasa, bahasa dan tradisi? Karya Goethe Divan menghadirkan dengan sangat jelas “kekembaran” ini, satunya Muslim dan satu lagi Kristen, dalam dialog persaudaraan. West-ostliche Divan – Divan yang berarti “pertemuan” – terdiri dari dialog besar antara Barat dan Timur. Banyak figur Timur dimunculkan dalam karyanya ini, Nabi Muhammad, Syah Abbas Agung, Mahmud Penguasa Ghazna, Sang Penakluk Timur, Mufti Abu Sud, Sultan Salim, Sang Penyair Hafiz, Ferdusi, Jalalludin Rumi, Saadi, Mutannabi, Hatim Thai, dan banyak lagi yang lainnya. Dalam karya Goethe Divan ini, mereka berkhotbah bersama dengan anak-anak penginapan tak dikenal, pengendara keledai, pemimpin kafilah, tukang emas, penjual di pasar, dan pengemis. Di semua tempat dalam dua belas bagian buku Divan dan dalam catatan tambahan kata-kata Goethe memperlihatkan contoh kemungkinan dialog Barat dan Timur.
Pada usia 20-an, Goethe sudah menyadari perlunya dialog yang murni antara dunia Barat dan Islam. Pada saat itu, ia mulai membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya dengan lebih dalam. Ia mengumpulkan catatan-catatan Al-Qur’an dari berbagai versi, dan sangat menyayangkan terjemahan Al-Qur’an yang baru, yang berisi jejak-jejak kebencian tradisional yang kentara terhadap Islam, dan menganggap terjemahan tersebut “hasil karya sampah”. Fakta bahwa Goethe ingin menghapus semua kebencian pada karya-karya tersebut dan usahanya memperkenalkan pemahaman Islam yang lebih baik diperlihatkannya dalam fragmen dramanya Mahomet, yang tentunya sangat berlawanan dengan gambaran kecabulan dan ketidakpahaman kehidupan Nabi Muhammad dalam drama popular Voltaire saat itu, Le fanatisme ou Mahomet le Prophete (1742). Sebagai mahasiswa di universitas Leipzig , Goethe melarang saudara perempuannya Cornellia berperan dalam suatu penampilan drama amatir karya Voltaire yang menyulut kebencian itu. Ketika ia berumur dua puluh tiga, Goethe menulis puisi tentang Nabi Muhammad, sebagai penghormatannya pada pendiri agama Islam itu dalam suatu cara yang belum pernah ada di kalangan penulis Eropa pada masanya. Selama empat dekade berikutnya, eksplorasi masa mudanya terhadap Islam diikuti dengan karyanya West-East Divan yang di dalamnya Goethe mengamati dunia Islam jauh lebih luas lagi.
Karakteristik utama dan aspek terpenting hubungan Goethe dengan Islam terlihat secara mendasar dari sikap toleransinya. Beberapa contoh tipikal bisa terlihat di sini. Waktu berumur dua puluh dua Goethe begitu bersemangat melepaskan kekuatan puitisnya, yang ia akui sendiri dalam sebuah surat untuk Herder: “Seperti Musa dalam Al-Qur’an aku ingin memanjatkan do’a: Ya Tuhan, bukalah dadaku”. Di sini Goethe mengutip Surah 20 Al-Qur’an. Apa artinya ini secara tepatnya menjadi lebih mudah dimengerti pada pembacaan kelanjutan Surah tersebut – yang Goethe ambil pada saat yang sama dari nukilan Al-Qur’an: “Ya Tuhan, bukalah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Lancarkanlah ucapan yang keluar dari lidahku…” Fakta bahwa Goethe berdoa dalam bahasa Al-Qur’an saat menaruh perhatian pada sesuatu yang penting adalah sama halnya dengan panggilan puitisnya secara spontan, dan ini menimbulkan secercah cahaya nilai emosi yang ia sudah dapatkan dari Al-Qur’an semenjak tahap awal. Setengah abad kemudian penyair berumur tujuh puluhan itu secara publik menyatakan bahwa ia bergumul dengan “perayaan rasa takjub pada malam suci saat Nabi Muhammad menerima wahyu Al-Qur’an dari suatu ketinggian”. Tidak hanya kebetulan dimana ia menggunakan plihan kata seperti rasa takjub yang dalam, malam suci, dari suatu ketinggian, yang mengingatkan pada kata-kata dimana umat Kristen juga merayakan kelahiran Sang Penyelamat saat Natal .
Belakangan majalah Neue Zurcher Zeitung memunculkan pertanyaan: “Muslimkah Goethe?”, sebagai headline dari tulisan Manfred Osten. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan jawaban gamblang ya atau tidak. Tentunya banyak argumen yang mendukung bahwa Goethe bukan seorang Muslim, tapi terdapat juga banyak deklarasi dan tindakan yang mengungkapkan bahwa ia sering dipersamakan dengan kedekatannya dengan Islam. Pada kadar tertentu, bisa dikatakan bahwa Goethe memamfaatkan kemampuan intelektual dan puitisnya untuk membangun jembatan menuju dunia Islam. Dalam karyanya Dichtung und Wahrheit (Puisi dan Kebenaran), ia sendiri meyakini bahwa ia telah ditakdirkan dari usia muda untuk bertindak sebagai mediator antara dua dunia itu: “Manusia bisa berubah kemana saja ia mau, ia bisa menjalani kehidupan apapun yang ia suka, tapi akhirnya ia akan selalu kembali pada jalan yang Alam sudah tentukan buatnya”. Jalan dimana Alam menetapkan Goethe dan membawanya, seperti yang terlihat dalam otobiografinya, ke Timur Tengah, yang dengan pesona magisnya telah menarik Goethe saat ia masih kecil, dengan begitu dari usia dini imajinasinya telah membawanya berkelana ke negeri para Nabi di Tigris dan Efrat, tanah Jordania dan Mesir. Dalam kata-katanya sendiri, Goethe mengatakan: “(pada saat dimana ia telah) begitu senang mencari pelarian ke negeri timur”, dimana ia menemukan dirinya “dalam kesendirian yang paling dalam sekaligus persaudaraan yang erat”.
Perlu diingat bahwa inilah satu-satunya otobiografi dalam dunia sastra dimana cerita kehidupan pengarangnya sepenuhnya berkelindan dengan sejarah “negeri yang indah dan begitu dipuji-puji orang, karena alam dan lingkungannya....dan masyarakatnya beserta peristwa-peristiwa agung di belahan bumi tersebut selama kurun milenium”. Dalam karyanya Poetry and Truth, Goethe juga menyatakan ketertarikannya pada Ishmael, leluhur bangsa Arab. Ia mengetahui bahwa kelahiran putra tertua Ibrahim dari Hajar wanita Mesir sebagai “pertanda dari Sang Maha Kuasa”, sebagai pertolongan dari Malaikat Tuhan, “supaya Ishmael juga melahirkan keturunan orang-orang hebat dan janji yang paling luar biasa dari semua janji tersebut (yaitunya bahwa Ibrahim akan mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit) tentunya terpenuhi malah jauh melebihinya.
Cerita pertengkaran saudara antara Ishmael/Ismail dan Isaac/Ishak (leluhur Yahudi), banyak sekali mengisi lembaran masa kecil Goethe, yang menandakan bahwa dari umur dininya ia sudah sadar sekali akan akar pertengkaran ini. Dalam menggambarkan konflik ini, Goethe selalu penuh kasih tapi bersifat netral; artinya, ia tidak memihak. Dalam karyanya Poetry and Truth, ia menggambarkan dengan terperinci bagaimana dan mengapa Ibrahim berjuang mendapatkan tanah Kan’an untuknya dan pengikutnya, tanah yang dari keturunannya orang Israel dan orang Arab sampai sekarang masih bertengkar saling menumpahkan darah. Otobiografi Goethe memperlihatkan pertimbangannya yang dalam pada penduduk Palestina, yang karena kedekatan mereka pada Tuhan, mereka mempertontonkan aspek barbarik “sifat liar dan kekejaman yang keluar dari sifat manusia atau kemerosotan sifat manusia”. Ia menekankan bahwa “Kitab Suci tidak bermaksud mengatakan bahwa….mereka orang-orang yang diberkati tersebut menjadi suatu model kebaikan. Mereka juga manusia dengan berbagai sifat yang berbuat kesalahan dan kelemahan, tapi semua adalah kehendak Tuhan yang menjadikan bagaimana sifat dasar seseorang yang tidak seharusnya ditimpakan semua pada suatu bangsa: kepercayaan tak tergoyahkan bahwa Tuhan memberikan perhatian khusus pada mereka dan pengikutnya”. Dalam karakterisasi ini Goethe merujuk ke bangsa Israel dan tradisi Arab Islam.
Kita tahu bahwa Goethe pada masa mudanya belajar bahasa Yiddi dan Yahudi, dan ia juga mempelajari bahasa Arab. Ia menaruh perhatian yang dalam pada Al-Qur’an semenjak ia menjadi siswa di Strasbourgh.
“Toleransi” adalah motto dalam Pencerahan. Ini sesuai dengan spirit/semangat zaman untuk memperlihatkan ketertarikan pada suatu karya atau Kitab, bersama dengan Kitab Injil, yang orang lain anggap juga suci dan makanya pantas untuk tidak diprasangka-burukkan dengan cara hormat, yang berasal dari orang dengan kepercayaan yang beda. Malahan, nukilan Goethe dari Al-Qur’an, sekitar dua ribuan ayat yang tetap bertahan, memperlihatkan dengan jelas tinjauan pribadinya jauh melampaui usaha gerakan Pencerahan dalam hal toleransi. Nukilan Al-Qur’an tersebut menunjukkan berbagai aspek Islam yang menarik rasa simpatinya yang khusus pada saat itu, dengan kepercayaan Al-Qur’an pada Pencerahan, yang ia hubungkan dengan perasaan dan pemikirannya. Refleksi pemikiran Goethe bermula dari Surat kedua dalam Al-Qur’an, Surat yang paling ia sukai sampai masa tuanya. Pertama kali ia mengutip pikiran yang begitu indahnya dari Ayat 112 ini:
“Tidak, - barang siapa menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah dan dia berbuat amal kebaikan, - ia akan menerima pahalanya di sisi Tuhannya; mereka tak perlu khawatir, tak perlu sedih”.
Kutipan ini diikuti oleh ayat 115, yang mengungkapkan keyakinan mendasar Goethe tentang Manifestasi Tuhan dalam Alam:
“Milik Allah timur dan barat: ke mana pun kamu berpaling, di situlah kehadiran Allah. Allah Mahaluas, Mahatahu”.
Setelah melompat selanjutnya 50 ayat, Goethe kembali lagi menyodorkan tema mewujudnya Tuhan dalam Alam di ayat 164:
“Sungguh ! pada penciptaan langit dan bumi, pada pergantian malam dan siang, pada pelayaran kapal-kapal di lautan dengan segala yang menguntungkan manusia, pada hujan yang diturunkan Allah dari langit serta dihidupkan-Nya buni setelah mati, pada binatang-binatang dari segala jenis yang ditebarkan-Nya di seluruh bumi ini; pada perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, - sungguh semua itu tanda-tanda bagi manusia yang mengerti”.
Ayat-ayat di atas merefleksikan ajaran ke-Esa-an Tuhan yang terekam – yang bukannya tidak disengaja – dikutip Goethe dari Al-Qur’an. Goethe selalu memandang pernyataan empatis tentang monoteisme sebagai suatu pencapaian prinsipil Nabi Muhammad. Selanjutnya nukilan tenyang himbauan berbuat amal kebaikan, yang menjadi ciri utama Al-Qur’an. Banyaknya seruan berbuat amal kebaikan dalam Al-Qur’an, yang nantinya dalam karya Goethe Divan juga ditemukan, menunjukkan begitu penting buat Goethe aspek amal kebaikan ini. Ayat lainnya yang dikutip Goethe dari tahun 1771-72 berhubungan dengan Tuhan yang berbicara pada kemanusiaan melalui tidak hanya dari satu mediator tapi juga dari banyak nabi dan rasul. Dari Surat 3, ayat 144 ia mengutip:
“Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau terbunuh kamu akan berbalik belakang ? Barang siapa berbalik belakang samasekali takkan merugikan Allah tetapi Allah akan memberi pahala kepada yang bersyukur”.
Selanjutnya ia mengutip lagi dari Surat yang sama ayat 179:
“….Allah tidak akan membukakan kepadamu hal yang gaib; tetapi Ia memilih rasul-rasul-Nya. Dan kalau kamu beriman dan berbuat kebaikan (bertakwa), maka pahala yang besar itulah buat kamu”.
Goethe muda dan Lavater berselisih paham mengenai pertanyaan apakah sebagai umat Kristen hanya mengakui Yesus sebagai utusan-Nya atau tugas tersebut juga diemban oleh Nabi lainnya. Inilah sumber pertengkaran yang berujung pada tidak berhubungannya mereka lagi. Jurnal terakhir mereka menunjukkan bahwa kedua orang ini juga membahas tentang Al-Qur’an. Dalam memperbincangkan Muhammad, Goethe berusaha menjelaskan pada Lavater bahwa sejarah juga mengenal banyak sekali para pemuka pemipin agama di luar dunia Kristianitas.
Nukilan Goethe dari Al-Qur’an juga mengungkapkan ketertarikannya pada cara dan perbuatan nabi Muhammad dan posisinya bagi pengikut khususnya. Goethe merekam di sini dari Surat 29 ayat 50:
“…Katakanlah: Tandatanda mukjizat hanya ada pada Allah, dan aku hanya pemberi peringatan yang jelas”
Dan kemudian dari Surat 13 ayat 7:
“Dan orang-orang kafir berkata: ‘Kenapa tidak diturunkan kepadanya sebuah ayat dari Tuhannya?’. Tetapi engkau adalah seorang pemberi peringatan, dan pada setiap golongan ada seorang yang memberi bimbingan”.
Sepanjang hidupnya, Goethe sangat menyukai ide ini dan terus mengulanginya lagi yang ia ambil dari Surat 14 ayat 4:
“Kami tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya”.
Goethe mengutip ayat ini dalam sebuah surat yang ditujukannya pada seorang ilmuwan muda pada 1819: “Apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an benar adanya: bahwa Tuhan mengirimkan utusan-Nya sesuai dengan bahasa kaumnya”. Juga dalam surat yang ditujukan untuk Thomas Caryle pada 1827: “Al-Qur’an berkata: Tuhan mengirimkan pada suatu kaum seorang utusan dalam bahasa mereka sendiri”.
Ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang diambil Goethe tentang orang-orang kafir yang mengharapkan kemukjizatan sangat mempengaruhinya selama bertahun-tahun. Bahkan pada saat karyanya Divan ia menunjukkan hal ini dengan mengutip sebuah ayat:
“Aku tak habis pikir, berkata sang Nabi
Keajaiban paling dahsyat adalah bahwa aku ada”.
Kajian Goethe tentang Al-Qur’an pada 1771 dan 1772 memberinya inspirasi untuk memikirkan tentang suatu drama yang akan dihasilkannya, Mahomet, yang sayangnya, hanya tinggal beberapa halaman penting yang tersisa. Namun, bagian-bagian karyanya ini justru memperlihatkan aspek-aspek paling penting tentang Islam yang sangat memberikan kesan kuat terhadap Goethe: terutama tentang figur Nabi Muhammad sendiri, karakter dan kisah hidup pendiri agama Islam ini, yang, tidak seperti Yesus, yang tidak hanya menyebar-luaskan ajarannya pada dunia tapi juga menunjukkan perjuangan keduniawiannya. Rasa tertarik Goethe pada fenomena sang Nabi ini tertuangkan dalam sajak khususnya yang terkenal, “Nyanyian Buat Muhammad”, yang aslinya ditulis dalam bentuk dialog puji-pujian antara Ali dan Fatimah. Goethe menulis eulogi tersebut pada musim semi 1773 setelah ia mempelajari semua buku tentang Muhammad yang ia bisa dapatkan. Metafor arus air yang sangat kuat digunakannya untuk menunjukkan aspek penting sang pendiri agama Islam dan pemimpin spiritual kemanusiaan ini.
Goethe memakai kesan (image) tersebut sebagai gambaran suatu kekuatan spiritual yang bangkit dari kesederhanaan dan kemudian menjadi mengalir, menyebar, membentang luas dan mencapai akhir kemenangan pada aliran air yang sampai pada lautan luas, yang merupakan simbol keilahian. Kesan ini terutama berdasarkan gagasan bahwa seorang agamawan jenius yang mengikut-sertakan orang lain dalam ikatan persaudaraan, seperti halnya arus air yang membawa aliran air kecil dan sungai lainnya menuju jalan ke laut luas sana . Arus air ini diperlihatkan seperti berikut ini:
“…Dan sekarang, aliran kemegahan ini,
Memasuki dataran sana …
Dan sungai kecil dari tanah itu
Dan air yang mengalir dari gunung sana
Suarakan riang: Saudaraku !
Saudaraku, ajak saudaramu yang lain bersamamu
Menuju sang ayah purba,
Menuju lautan abadi,
Yang sedang menunggu kita
Dengan tangan mengajak yang terulur terbuka… “
Sajak ini kemudian diulangi lagi, dengan sedikit perubahan:
“Ajak saudaramu dari negeri mana saja
Ajak saudaramu yang di gunung sana
Bersamamu kita bertemu sang bapak !”
Lalu, “Nyanyian untuk Muhammad” Goethe berakhir dengan:
“Dan dibawanyalah saudara-saudaranya,
Harta berharganya, anak-anaknya
Gegap gepita dengan bahagia
Menuju penungguan pelukan di dada Sang Pencipta”.
Sajak di atas merupakan penghargaan paling penting dari seorang penyair Eropa yang pernah ada bagi Nabi pendiri agama Islam ini. Fragmen drama Mahomet yang masih tersisa sampai sekarang juga menunjukan ketertarikan Goethe dalam ajaran Kemanunggalan Tuhan, yang telah tersingkapkan pada Goethe dari nukilan-nukilan Al-Qur’an. Ia menuliskan sendiri tentang ini dalam karyanya Poetry and Truth:
“Drama ini dimulai dengan himne yang dinyanyikan sendiri oleh Muhammad di suatu malam yang indah. Pertama ia memuji bertaburannya bintang tak terhitung di langit sebagai dewa-dewa, kemudian muncullah Gad, Jupiter terpuji yang menjadi Rajanya Bintang. Tak lama sesudahnya muncullah Bulan, menjadi pemenang bagi pemuji mata dan hati. Tapi kemudian, matahari terbit membuatnya dalam kegirangan dan kekuatan yang begitu luar biasanya, dan terpanggilah ia untuk mengucapkan pujian yang baru lagi menyegarkan. Seberapa menyenangkannya perubahan ini, ia sama sekali tak terganggu. Jiwanya merasa harus melewati semuanya sekali lagi. Terangkat tinggi menuju Tuhan, Yang Maha Tunggal, Yang Abadi, Yang Tak Berbatas, yang pada-Nya semua yang terbatas ini tergantung keberadaannya. Aku menulis himne ini dengan penuh cinta, tapi akhirnya hilang…”
Mencengangkan bagaimana intens dan tepatnya sang penyair yang sudah menua ini masih mengingat karyanya pada saat manuskripnya sudah lama hilang. Baru setelah meninggalnya Goethe ditemukan kembali tulisannya ini. “Aku tidak akan bisa berbagi dengan kalian dalam hal pengalaman perasaan yang menjiwa ini”, begitu kata Goethe. Karyanya ini diakhiri dengan sebuah sajak indah, yang disuarakan dari mulut Muhammad:
“Bangkitlah hai diri, oh pujaan hati, Sang Pencipta
Jadilah Tuanku, oh Tuhanku yang kucinta
Engkau yang menciptakan Matahari, Bulan, dan Bintang-bintang,
Bumi dan Langit, dan Hamba-Mu ini”.
Sajak ini memperlihatkan rasa hormat Goethe terhadap alam yang selaras dengan ide Islam. Ia menemukan dalam Al-Qur’an keyakinannya, menuliskannya secara alegoris, bahwa manusia harus melampai dirinya di atas segala perbedaan manifestasi alam untuk mengenali Manunggalnya Tuhan. Begitu pentingnya ajaran Kemanunggalan Tuhan ini buat Goethe sehingga ia juga menuliskannya dalam suatu adegan antara Muhammad muda dengan inang pengasuhnya Halimah. Halimah pada suatu saat menemukan Muhammad sendirian di tengah malam dan merasa khawatir akan dirinya:
“Sendirian di tengah padang pasir saat malam pun tak ada yang aman dari para perampok”.
Muhammad menjawab:
“Aku tidaklah sendirian. Yang Kuasa Tuhanku mendekatiku dalam Kebaikan-Nya yang Maha”.
Halimah: “Kau lihatkah ia ?”
Muhammad: “Tidakkah engkau lihat Ia ? Ia menemuiku dalam kehangatan cinta-Nya setiap musim semi yang tentram, di bawah setiap pohon yang berbunga. Bgaimana lagi aku harus bersyukur pada-Nya ? Ia telah membuka dadaku dan membuang kotoran yang melekat di jantung hatiku supaya aku bisa menerima nama-Nya”.
Halimah: “Kamu sedang bermimpi. Bagaimana bisa dadamu terbuka sedagkan kau masih hidup ?”
Muhammad: “Aku bermohon pada Tuhanku supaya engkau mau belajar ”.
Halimah: “Siapa Tuhanmu, Hobal atau Al fatas ?”
Muhammad: “Malanglah, orang-orang yang tak beruntung ini; engkau yang menyembah batu, “aku menyayangimu”, dan pada lempung, “jadilah pelindungku”. Punya telingakah mereka untuk menjawab doa, ada tangankah mereka untuk menolong ?”
Halimah: “Ia yang berdiam dalam bebatuan, yang mengalir disekitar lempung, mereka mendengarkan aku. Kekuatannya maha besar”.
Muhammad: “Seberapa besar kekuatan mereka ? Ada lebih dari tiga ratus lagi di sampingnya, tiap-tiap mereka menerima doa dan pengorbanan. Kalau engkau berdoa menentang tetanggamu, maka mereka juga akan menentangmu, tidakkah tuhanmu seperti pangeran kecil yang daerah kekuasaannya dibingungkan, saling dihalangi jalannya dalam perseteruan yang tak bakal usai ?”
Halimah: “Jadi, Tuhanmu tak ada teman ?”
Muhammad: “Masih Tuhankah namanya kalau Ia butuh yang lain ?”
Halimah: “Dimanakah Tuhanmu ?”
Muhammad: “Dimana-mana”.
Halimah: “Tak ada dimana-mana. Bisakah tanganmu melingkupi-Nya ?”
Muhammad: “Bahkan lebih kuat lagi, lebih keras daripada tanganmu yang harus aku berterimakasih atas cintamu. Aku belum dibolehkan menggunakannya. Halima, aku seperti anak yang engkau sapih. Aku merasakan erat-erat tangan dan kakiku dalam kain sapihanmu tapi untuk bebas bukanlah dalam kuasaku. Ya, Tuhanku, lepaskanlah manusia dari belenggu mereka sendiri. Jauh dari dalam diri, mereka rindu akan Engkau”.
Adegan ini menunjukkan begitu terperincinya kajian Goethe tentang narasi tradisional masa kecil nabi Muhammad dan bagaimana ia juga mencampur-adukkan cerita ini dalam imajinasinya sendiri.
Goethe kecil juga mempunyai rasa ketertarikan khusus pada bahasa Al-Qur’an. Dengan demikian, ia telah menempatkan pondasi yang kuat untuk meraih pengetahuan yang lebih luas lagi tentang dunia Islam di kemudian harinya, saat perkembangan yang tidak begitu menyenangkan membawanya kepada perhatian yang lebih besar pada Al-Qur’an dan, untuk berkenalan lebih banyak lagi khususnya pada penyair Islam. Goethe kelihatan terkejut ketika tentara Weimar membawakannya selembar naskah kuno beraksara Arab dari Spanyol, lembaran Al-Qur’an Surat 114. Goethe berusaha meniru tulisan kaligrafis Arab dan Persia ini. Kemudian seorang Muslim Bashkir datang ke Weimar bersama dengan tentara sekutunya dalam menentang Napoleon, dan Goethe ikut serta dalam ritual shalat dalam agama mereka ini, yang berlangsung di sekolah Protestan. Inilah pertama kalinya Goethe bertemuseorang Mullah dan mendengarkan bagaimana Al-Qur’an dibacakan dengan intonasi suara. Tidak lama setelah itu, seorang pedagang barang antik dari Leibzig, yang sedang dalam kesusahan finansial, membawakannya manuskrip timur yang sangat berharga, dan Goethe menyuruh Perpustakaan Ducal untuk membelinya setelah ia pelajari sendiri selama beberapa bulan. Tulisan kaligrafi Al-Qur’an dan kumpulan Divan dari penyair penting Persia dan Arab ini menjadi persiapan bagi Goethe untuk menghasilkan karya besarnya, setelah membaca karya Hafiz hasil terjemahan Joseph von Hammer, sebuah buku pemberian dari penerbit Cotta pada Mei 1814. Semua ini adalah persiapan untuk konsep dalam karyanya West-East Divan (Dialog Barat-Timur) sebagai respon dari karya Hafiz. Di sini Goethe kembali lagi mengambil tema puisinya yang ia tulis empat dekade sebelumnya tentang penghormatannya pada Nabi Muhammad dan agama Islam, yang dengan menuliskannya lagi ia berharap orang-orang di negerinya bisa memandang Islam secara lebih positif. Seperti halnya dalam drama Mahomet yang ia tulis pada masa mudanya, dalam Divan, Goethe kembali menghadirkan Muhammad berbicara langsung. Kebanyakan sajak dalam karya Divan berdasarkan Kitab Suci agama Islam, “pada warisan kesucian Al-Qur’an”, Goethe sendiri mengatakannya. Sajak-sajak dalam karyanya ini setengahnya berasal dari nukilan Al-Qur’an dan setengahnya lagi kata-kata Goethe sendiri, melebur sehingga menciptakan sesuatu yang secara literal bisa dinamakan “Barat-Timur-an”. Empat baris di bawah ini bisa dilihat seperti sebuah do’a pui-pujian:
“Timur adalah kepunyaan Tuhan/ Barat adalah kepunyaan Tuhan/ Negeri Belahan Utara dan Selatan juga kepunyaan-Nya/ Semua damai dalam Tangan-Nya”.
Empat baris lainnya di bawah ini juga sama dalam karakternya, memadukan unsur Al-Qur’an dan kata-kata Goethe:
“Pengelanaanku t’lah berujung sesat
Tapi Engkau tahu bagaimana membawaku kembali
Di saat aku berperilaku dan di waktu aku menulis
Semoga Engkau selalu membimbing jalanku”.
Apa yang dimaksud dengan kata-kata “membimbing jalanku” adalah apa yang disebut oleh Muslim taat sebagai Syari’a – jalan lurus yang membawa umatnya pada Sang Sumber. Inilah arti sebenarnya dari Syari’a, sebuah kata yang telah sepenuhnya dikacaukan oleh politik Islam.
Karya Goethe ini juga memperlihatkan ketertarikannya yang sangat kuat pada ajaran Islam otentik: penyerahan diri pada kehendak Tuhan. Seperti seorang Muslim, Goethe juga mempercayai bahwa hidupnya telah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan, dan mengetahui penerimaan akan kehendak Tuhan adalah salah satu rukun iman. Keyakinan pada Qada (manusia bisa merubah nasib / free will) dan Qadar (pada akhirnya kehendak Tuhanlah yang berlaku dari awal / predestination) sesuai dengan ide Spinoza dalam karyanya Ethics. Spinoza adalah filosof kesukaan Goethe: dan Goethe menunjukkan sikap setianya semenjak ia menulis fragmen drama Mahomet.
Secara lebih khas, Goethe betul-betul menjiwai ajaran ini saat nasib nahas menimpa dirinya, seperti saat kematian teman dekatnya Carl August dan ia menulis pada Eckermann, mengeluh dan menolak semua bentuk penghiburan hatinya yang sedih dan mengatakan: “Tuhanlah yang menetapkan segala yang menurut-Nya baik dan kita yang fana tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya”. Secara umum, Goethe percaya pada “Takdir Tuhan (Providence )”, khususnya menyangkut masalah kematian. Dus, pada 1827 ia menulis pada Ketua Sekretaris von Muller: “Kita hidup selama Tuhan menentukannya”. Goethe berulang-ulang bicara tentang penyerahan dirinya pada takdir seperti dalam ajaran Islam. Dalam tulisannya Kampanye di Perancis (1792), ia melaporkan perilakunya selama situasi tidak aman itu sebagai berikut: “secepat datangnya bahaya besar, yang paling buta dari sifat fatalisme hadir membantuku, dan kuamati bahwa orang-orang berusaha mendapatkan panggilan berbahaya, merasakan diri mereka sendiri terbentengi dan dikuatkan oleh kepercayaan yang sama. Agama Muhammad paling menampilkan hal ini”.
Saat menantu perempuan Goethe sakit parah pada 1820, ia mengungkapkan perasaan sentimen yang sama ketika menulis pada seorang temannya: “Tak banyak lagi yang bisa kukatakan padamu, kecuali aku sudah begitu melekat dengan Islam”. Ia kembali mengungkapkan pandangannya yang sama pada 1831 saat wabah kolera menyebar: “Di sini tak seorangpun lagi yang bisa menasihati yang lainnya. Setiap orang sendirian memutuskan apa yang akan dilakukannya. Kita semua hidup dalam Islam, dalam bentuk jiwa apapun yang kita percayai”. Dan hanya empat minggu sebelum kematiannya, saat wabah kolera semakin menyebarkan mautnya, penyair berumur delapan puluh dua itu menuliskan: “Di sini, di tempat ini dan di semua negeri dimanapun, penduduknya sangat sabar karena melarikan diri (dari penyakit ini) tidaklah mungkin. Semua bentuk usaha telah terhenti. Melihat dengan lebih dekat apa yang mereka lihat bahwa orang-orang, yang mencari kebebasan dari rasa ketakutan ini, telah melepaskan diri mereka, dengan rasa hormat yang berani, jatuh dalam genggaman tangan Islam, mempercayai diri mereka pada kehendak Tuhan yang tak bisa tersakiti”.
Disini kita mengetahui bahwa Goethe betul-betul secara sadar hidup menurut ajaran dasar dalam keimanan Islam, dan bahwa ia mengekspresikan langsung pada teman-teman dekatnya tentang ajaran ini. Sudah sering diperdebatkan bagaimana pernyataan-pernyataan afirmatifnya terhadap Islam kedengaran terlalu provokatif buat telinga orang Barat, seperti terlihat dalam bukunya Buch der Spruche (Buku Kumpulan Aforisme):
“Alangkah tak masuk akalnya saat seseorang mengagung-agungkan / pendapatnya sendiri / sedangkan Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan; / kita semua hidup dan mati dalam Islam”.
Tapi dalam kenyataannya tentu tidak perlu ada orang yang terprovokasi oleh aforisme ini karena di dalamnya hanya mengatakan
1) kata “Islam” berarti “berserah diri pada Tuhan”, dan
2) bahwa manusia seharusnya, dapat, bisa, dan mesti akhirnya pasrah pada Tuhan, sebagai pemilik semua Kekuasaan.
Tidakkah ini berlaku untuk semua orang, tanpa melihat apa agamanya, yang telah ditetapkan semenjak ia lahir dan setelahnya ?
*Katharine Mommsen, penulis artikel ini adalah guru besar agama asal Jerman mengajar di USA . Ia telah banyak menerbitkan buku tentang Goethe dan hubungannya dengan dunia Islam pada khususnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar