Postmodernisme adalah istilah yang rumit, kumpulan ide dan gagasan, yang dulunya muncul sebagai suatu kajian akademis semenjak pertengahan 1980-an. Postmodernisme susah didefinisikan, karena posmodernisme muncul sebagai konsep di berbagai macam disiplin ilmu dan kajian, seperti seni, arsitektur, musik, film, sastra, sosiologi, komunikasi, fashion, dan teknologi. Posmodernisme sulit dilacak asal-usulnya, karena tidak jelas kapan secara pastinya posmodernisme muncul.
Barangkali cara termudah untuk memahaminya dengan cara memulainya dari modernisme, suatu gerakan yang dari sinilah postmodernisme muncul, tumbuh dan berkembang. dua aspek atau defenisi modernisme, yang keduanya relevan terhadap pemahaman postmodernisme.
Aspek atau defenisi pertama berasal dari gerakan estetika yang secara luas berlabelkan “modernisme”. Gerakan ini melekat pada gagasan Barat tentang seni abad duapuluh (meski jejak kemunculannya dapat juga dilacak di abad sembilan belas). Modernisme, sebagaimana yang diketahui, adalah gerakan seni visual, musik, sastra, dan drama yang dulunya menolak standart nilai-nilai zaman Victoria tentang apa arti seni dan bagaimana seni seharusnya dibuat dan dikonsumsi. Pada masa “modernisme tingkat tinggi”, dari 1910 ampai 1930, bentuk utama sastra modern membantu secara radikal untuk mendefenisi ulang arti dan peran fiksi dan puisi: sosok sastrawan seperti Woolf, Joyce, Eliot, Pound, Stevens, Proust, Mallarme, Kafka, dan Rilke dianggap sebagai perintis modernisme abad duapuluh. .
Dari sudut pandang sastra, ciri utama modernisme seperti:
1. penekanan terhadap impresionisme dan subjektifitas dalam tulisan (dalam seni visual juga ); suatu penekanan pada BAGAIMANA melihat sesuatu (atau pembacaan atau persepsi itu sendiri) daripada APA yang dipersepsikan. Satu contohnya adalah penulisan dengan aliran kesadaran ( stream of consciousness ).
2. suatu gerakan yang menjauh dari kejelasan objektifitas pencerita orang ketiga yang hadir dimana saja ( omniscient third-person ), sudut pandang cerita yang bercampur, dan pemisahan posisi moral yang jelas. Cerita-cerita multi-narasi nya Faulkner adalah satu contoh dari aspek modernisme ini.
3. suatu perbedaan yang kabur antara genre sastra, sehingga suatu puisi bisa kelihatan bersifat dokumenter ( seperti dalam karya T.S. Eliot dan ee Cumming) dan prosa juga kelihatan bersifat seperti puisi ( seperti dalam karya Woolf dan Joyce).
4. suatu penekanan terhadap bentuk karya fragmen/serpihan cerita, narasi yang terputus, dan tempelan gambar acak ( puzzle ) dari bahan yang berbeda.
5. suatu kecenderungan terhadap refeksifitas, atau kesadaran diri, tentang bagaimana menghasilkan karya seni, dengan begitu setiap bagian kecilnya membutuhkan perhatian dari suatu proses produksi karya itu sendiri, sebagai sesuatu yang dihasilkan dan dikonsumsi dalam hal-hal tertentu.
6. suatu penolakan terhadap estetika formal dalam menghasilkan disain minimalis (seperti dalam puisi William Carlos Williams) dan suatu penolakan, dalam hal-hal yang luas, terhadap teori estetika formal, dalam kespontanitasan dan penemuan dalam menghasilkan karya.
7. suatu penolakan terhadap pembedaan “tinggi” dan “rendah” atau budaya popular, baik dalam pemilihan bahan yang digunakan untuk menghasilkan karya seni atau juga dalam metode peragaan, pendistribusian, dan pengkonsumsian seni.
Posmodernisme, seperti halnya modernisme, berkiblat pada ide-ide serupa ini, menolak batasan antara bentuk seni tinggi dan seni rendah, menepis pembedaan genre sastra yang sudah kaku, menekankan pada pastiche, campuran bahan-bahan suatu karya seni, parodi, bricolage, ironi, dan permainan kata. Seni posmo (dan pemikiran) mendorong refleksifitas dan kesadaran diri, fragmentasi dan keterputusan (khususnya dalam struktur cerita), kemenduaan, simultanitas, dan suatu penekanan pada dekonstruksi, desentralisasi, dan dehumanisasi subjek/pokok bahasan.
Meski dalam hal-hal tertentu posmodernisme kelihatan hampir sama dengan modernisme, posmodernisme berbeda dalam sikapnya terhadap banyak kecenderungan. Contohnya, modernisme cenderung menampilkan serpihan pandangan terhadap subjektifitas manusia dan sejarah (lihat saja The Wasteland, atau karya Woolf, To The Lighthouse), tapi fragmentasi yang ditampilkan sebagai sesuatu yang tragis, yang diratapi dan ditangisi, suatu kehilangan. Kebanyakan hasil karya para modernis ini berusaha menegakkan ide-ide bahwa karya seni bisa menghadirkan kesatuan, koherensi, dan sesuatu yang ber”arti”, yang telah hilang dalam banyak aspek kehidupan modern; di sini, seni berperan dimana institusi manusia lainnya gagal melakukan tugasnya. Sebaliknya, posmodernisme tidak meratapi semua keterpecahan, kesementaraan, atau ketidak-keherensi-an, tapi posmodernisme malah merayakan semua itu. Bahwa dunia adalah tidak berarti? Tidak usah berpura-pura, bahwa seni bisa membuat sesuatu menjadi berarti, bohong besar kalau tidak begitu, tapi mari bermain dengan itu.
Cara lain dalam melihat hubungan antara modernisme dam posmodernisme akan membantu memperjelas perbedaannya. Menurut Frederic Jameson, modernisme dan posmodernisme adalah formasi budaya yang mengikuti tahap tertentu kapitalisme. Jameson memetakan tiga tahap penting kapitalisme yang melahirkan praktik budaya tertentu (termasuk bentuk seni dan sastra apa yang dihasilkan). Tahap pertama adalah kapitalisme pasar, yang muncul pada ke-18 sampai 19 di Eropa Barat, Inggris, dan Amerika (dan semua negara dekat dibawah pengaruhnya). Tahap pertama ini diasosiasikan dengan perkembangan teknologi tertentu seperti mesin tenaga uap, dan perkembangan suatu estetika, yaitunya realisme. Tahap kedua muncul pada akhir abad 19 sampai pertengahan abad 20 (sekitar masa Perang Dunia ke-2); tahap ini, monopoli kapitalisme, diasosiasikan dengan mesin pembakar internal dan elektrik, dan dengan modernisme. Tahap ketiga, yang sedang kita jalani sekarang, adalah kapitalisme lintas negara atau kapitalisme konsumer (dengan penekanan pada aspek pemasaran, penjualan, dan komoditas konsumsi, tidak pada produksi), yang diasosiasikan dengan teknologi elektronik dan nuklir, dan berhubungan erat dengan posmodernisme.
Seperti halnya karakterisasi posmodernisme-nya Jameson dalam hal bentuk teknologi dan produksi, aspek kedua, atau defenisi Posmodernisme, lebih berupa kajian sejarah dan sosiologi ketimbang sastra atau sejarah seni. Pendekatan ini melihat posmodernisme sebagai nama dari suatu formasi sosial, atau suatu sikap sosial/sejarah; lebih tepatnya, pendekatan ini lebih membedakan “posmodernitas” dengan “modernitas” dibanding “posmodernisme” dengan “modernisme”.
Bedanya apa? “Modernisme” umumnya merujuk pada gerakan estetika secara luas abad 20, sedangkan “modernitas” merujuk pada suatu gagasan filosofis, politik, dan etik yang melandasi aspek estetik modernisme. “Modernitas” lebih tua dari “modernisme”, karena label “modern” pertama kali dipakai dalam sosiologi abad 19, yang diartikan untuk membedakan masa sekarang dengan masa sebelumnya, atau masa “antik/kuno”. Para ahli terus beragumen tentang kapan tepatnya periode “modern” muncul, dan bagaimana membedakan antara apa yang modern dan yang tidak modern; dan menariknya, para sejarawan melihat munculnya periode modern tersebut semakin lebih awal dari yang telah diketahui. Namun, secara umum, zaman “modern” dilekatkan pada masa pencerahan Eropa, yang kurang lebih mulai pada pertengahan abad 18. (Sejarawan lainnya melacak elemen-elemen Pemikiran Pencerahan kembali ke masa Renaisans atau bahkan lebih awal lagi, dan seorang sejarawan bisa saja berargumen bahwa pemikiran pencerahan telah mulai pada abad 18. Saya biasanya memberi penanggalan waktu “modern’ dari 1750, hanya karena saat itu saya mendapatkan gelar Ph.D saya dari Stanford dengan judul “Modern Thought and Literature”, dan tulisan ini memfokuskan pada karya-karya yang ditulis pada 1750). Gagasan dasar Pencerahan hampir sama dengan Humanisme. Ulasan Jane Flax berikut memberikan ringkasan tentang ide dan gagasan ini (hal.41). Saya juga menambahkan beberapa hal baru.
1. Adanya diri yang stabil, koheren, bisa diketahui. Diri ini sadar, rasional, otonomis, dan universal – tidak ada kondisi fisik atau perbedaan yang secara substansi mempengaruhi bagaimana diri ini bekerja.
2. Diri ini mengetahui dirinya sendiri dan dunia melalui akal, atau rasionalitas, dan menempatkannya sebagai bentuk fungsi mental paling utama, dan sebagai bentuk tujuan objektif satu-satunya.
3. Cara mengetahui sesuatu yang dihasilkan oleh diri yang rasional objektif adalah dengan “sains”, yang bisa menghasilkan kebenaran-kebenaran universal tentang dunia, tanpa memandang status individu yang mengetahui.
4. Pengetahuan yang dihasilkan oleh sains adalah “kebenaran”, dan bersifat abadi.
5. Pengetahuan/kebenaran yang dihasilkan oleh sains (diri yang mengetahui secara objektif rasinal) akan selalu menghasilkan kemajuan dan kesempurnaan. Semua institusi dan praktik manusia bisa dianalisis dengan sains (akal/objektifitas) dan dikembangkan.
6. Akal adalah penentu akhir dari apa yang benar, karenanya, penentu apa yang baik dan yang buruk (apa yang umum diterima dan apa yang etis). Kebebasan adalah patuh pada hukum yang berdasarkan pengetahuan berdasarkan akal.
7. Dalam dunia yang dikuasai akal, apa yang benar akan selalu sama dengan yang baik (dan yang indah); tidak ada konflik antara apa yang benar dan yang baik.
8. Dengan begitu, sains berdiri sebagai paradigma dalam semua hal dan dalam segala bentuk pengetahuan dalam masyarakat. Sains netral dan objektif. Ilmuwan, orang yang menghasilkan pengetahuan saintifik dengan kapasitas rasional tanpa bias, harus bebas menggunakan dalil akal, dan tidak terdorong oleh motivasi-motivasi seperti uang dan kekuasaan.
9. Bahasa, atau cara mengekspresikan sesuatu yang digunakan untuk menghasilkan dan menyebarluaskan pengetahuan harus rasional juga. Untuk itu, bahasa harus bersifat transparan, hanya berfungsi untuk menyatakan dunia yang ril/yang bisa dicerna oleh pikiran rasional. Harus ada hubungan yang tegas dan objektif antara objek persepsi dan kata yang dipakai untuk menamainya (antara penanda dan petanda). Inilah beberapa premis-premis dasar humanisme, atau modernisme. Premis-premis ini, seperti yang mungkin biasanya anda ketahui, mengatur dan menjelaskan secara keseluruhan struktur dan institusi sosial, termasuk demokrasi, hukum, sains, etika, dan estetika.
Pada hakikatnya, modernitas adalah tentang keteraturan: rasionalitas dan rasionalisasi, menciptakan keteraturan dari ketidakteraturan/chaos. Asumsinya adalah bahwa dengan lebih rasional akan membuat kondusif dalam menciptakan keteraturan, dan semakin teratur suatu masyarakat, semakin baik juga fungsi masyarakat tersebut (semakin rasional fungsi masyarakat itu). Karena modernitas berpegang pada pencapaian tingkat keteraturan terus menerus, masyarakat modern sangat menentang segala sesuatu yang berlabel “ketidakteraturan” yang akan mengganggu mereka. Masyarakat modern bergantung pada keberlanjutan munculnya pasangan yang saling berlawanan antara “keteraturan” dan “ketidakteraturan”, dengan begitu, mereka bisa menyatakan kesuperioritasan “keteraturan”. Tapi untuk melakukan hal ini, mereka harus mempunyai apa yang mewakili “ketidakteraturan” – makanya, masyarakat modern terus menerus menciptakan/membangun “ketidakteraturan” ini. Dalam budaya barat, ketidakteraturan ini kemudian menjadi “liyan/yang lain” – yang didefenisikan dari pasangan yang berlawanan diatas. Sehingga, apa dan siapa pun yang bukan warga kulit putih, waria, homoseksual/gay dan lesbian, tidak higienis dan medis, tidak rasional, dan sebagainya, adalah bagian dari “ketidakteraturan”, dan harus dienyahkan dari masyarakat modern yang rasional dan teratur.
Apa yang dijalani masyarakat modern yang menciptakan kategori dengan label “keteraturan” dan “ketidakteraturan” berhubungan dengan usaha mereka dalam meraih kestabilan. Francois Lyotard (teoretikus posmo yang karya-karyanya digambarkan Sarup dalam artikel on postmodernisme) mengambil persamaan stabilitas dengan ide “totalitas”, atau suatu sistem yang menyeluruh (bisa dilihat disini ide Derrida tentang “totalitas” sebagai kemenyeluruhan atau kemelengkapan suatu sistem). Lyotard berpendapat bahwa totalitas, dan stabilitas, dan keteraturan dipertahankan dalam masyarakat modern dengan menciptakan “narasi besar” atau “narasi utama”, yaitunya bagaimana suatu budaya bercerita tentang dirinya sendiri tentang segala praktik dan kepercayaan. “Narasi besar” di Amerika bercerita tentang demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang paling mencerahkan dan paling rasional, dan demokrasi tersebut bisa dan akan membawa kepada kebahagiaan manusia yang universal. Setiap sistem kepercayaan atau ideologi punya narasi besar, menurut Lyotard; sebagai contoh Marxisme, “narasi besar”nya adalah bahwa ide kapitalisme akan hancur dalam dirinya sendiri dan masyarakat sosialis utopia akan berjaya. Anda bisa mengira bahwa narasi besar sebagai suatu meta-teori, atau meta-ideologi, yaitunya, suatu ideologi yang menjelaskan ideologi lainnya (sebagaimana dengan Marxisme); suatu penceritaan untuk menjelaskan sistem kepercayaan yang ada.
Lyotard mengatakan bahwa semua aspek masyarakat modern, seperti sains sebagai bentuk utama ilmu pengetahuan, bergantung pada narasi besar ini. Jadi, posmodernisme adalah kritik terhadap narasi-narasi besar, kesadaran bahwa suatu bentuk narasi yang menutupi kontradiksi dan ketidakstabilan yang hadir tak terpisahkan dalam organisasi dan pratik sosial. Dengan kata lain, setiap usaha untuk menciptakan “keteraturan” selalu diikuti oleh munculnya “ketidakteraturan” yang setara, tapi “narasi besar” selalu menutupinya dengan mengatakan bahwa “ketidakteraturan” BETUL-BETUL suatu kekacauan dan suatu yang buruk, sedangkan “keteraturan” BETUL-BETUL ADANYA rasional dan suatu yang baik. Posmodernisme, yang menentang narasi-narasi besar, lebih mendukung “narasi-narasi kecil”, cerita-cerita yang menjelaskan praktik-praktik kecil, kejadian-kejadian lokal, daripada konsep-konsep global atau yang berskala besar dan universal. “Narasi-narasi kecil” posmodernisme selalu bersifat situasional, kondisional, dan temporer, tidak mengklaim atau memaksakan ke-universalitas-an, kebenaran, alasan, ataupun ke-stabilitas.
Aspek pemikiran Pencerahan lainnya – yang terakhir dari 9 poin di atas – adalah ide bahwa bahasa bersifat transparan, bahwa kata-kata hanya mewakili atau menyatakan pikiran atau sesuatu, dan tidak lebih fungsinya daripada itu. Masyarakat modern bergantung pada ide bahwa penanda selalu menunjukkan petanda, dan realitas ada dalam petanda. Tapi bagi posmodernisme, yang ada hanya penanda. Idenya, realitas yang stabil dan permanen menghilang, dan bersamanya, petanda juga sirna. Bahkan lagi, bagi masyarakat posmoderisme, yang ada hanya permukaan tanpa kedalaman, hanya penanda, tanpa petanda.
Cara lain dalam memahami ini , menurut Jean Baudrillard, bahwa dalam masyarakat posmodernisme tidak ada lagi yang orisinil, yang ada hanya kopian/peniruan – atau yang disebutnya dengan istilah “simulacra”. Mungkin anda berpikir bagaimana dengan lukisan atau patung yang memang asli adanya, seperti karya Van Gogh, dan ada ribuan tiruannya, tapi yang aslinya berada pada nilai yang paling tinggi (khususnya dalam nilai moneteri). Bandingkan dengan cd atau rekaman musik yang sebenarnya tidak ada yang “orisinil”, seperti halnya lukisan – tidak satupun yang tergantung di dinding atau yang disimpan dalam kotak penyimpanan yang asli, yang ada hanya tiruan, jutaan jumlahnya, dan semuanya sama, dan semuanya dijual dengan harga yang rata-rata sama. Contoh “simulacrum” versi Baudrillard lainnya adalah konsep realitas virtual, suatu realitas yang diciptakan dengan proses simulacrum, yang mana tidak ada yang orisinilnya. Ini bisa terlihat jelas dalam permainan atau simulasi komputer, seperti Sim City , Sim Ant, dan yang lainnya.
Akhirnya, posmodernisme menaruh perhatian yang besar terdap pertanyaan organisasi pengetahuan. Dalam masyarakat modern, pengetahuan disamakan dengan sains, dan dikontraskan dengan cerita; sains pengetahuan yang baik, tapi cerita adalah buruk, primitif, tidak masuk akal (makanya diasosiasikan dengan wanita, anak-anak, masyarakat primitif, dan masyarakat yang gila). Pengetahuan adalah sesuatu yang baik pada dirinya sendiri; seseorang mendapatkan pengetahuan, dengan pendidikan, supaya berpengetahuan secara umum, sehingga menjadi seseorang yang berpendidikan. Inilah idealnya pendidikan seni liberal. Tapi dalam suatu masyarakat posmodernisme, pengetahuan bersifat fungsional – anda mempelajari sesuatu, bukan untuk mengetahuinya, tapi untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Sebagaimana Sarup jelaskan (hal.138), bahwa kebijaksanaan pendidikan menekankan pada aspek keahlian dan pelatihannya daripada pendidikan ideal para humanis yang kabur secara umum. Malah ini lebih akut lagi khususnya buat tamatan jurusan sastra Inggris. “Mau diapain gelar sastramu?”
Dalam masyarakat pos-modern, pengetahuan tidak hanya bercirikan asas mamfaat tapi pengetahuan juga disebarluaskan, disimpan, dan diatur dengan cara yang berbeda dengan masyarakat modern. Secara khususnya, pengembangan teknologi komputer elektronik telah merevolusikan mode produksi pengetahuan, penyebarluasan, dan konsumsi nya dalam masyarakat kita (memang, orang bisa saja berargumen bahwa posmodernisme paling tepat digambarkan, dan dihubungkan dengan munculnya teknologi komputer mulai dari 1960, sebagai kekuatan utama dalam semua aspek kehidupan masyarakat). Dalam masyarakat pos-modern, semua yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bentuk yang bisa dikenali dan dimasukkan ke dalam komputer, khususnya yang tidak bisa diubah dalam bentuk digital, tidak akan menjadi pengetahuan lagi. Dalam paradigma ini, lawan dari “pengetahuan” bukan lagi “ketidaktahuan”, sebagaimana adanya dalam paradigma modern/humanis, tapi “kebisingan/kegaduhan”. Semua yang tidak memenuhi persyaratan bentuk pengetahuan dianggap “kebisingan/kegaduhan”, yaitunya sesuatu yang tidak bisa diketahui sebagai sesuatu yang ada dalam sistem ini.
Lyotard mengatakan (dan hal inilah yang Sarup jelaskan berpanjang lebar) bahwa pertanyaan penting buat masyarakat pos-modern adalah siapa yang memutuskan pengetahuan itu apa (dan apa yang dimaksud dengan “kegaduhan/kebisingan”), dan siapa yang mengetahui apa yang mesti diputuskan. Keputusan tentang pengetahuan tidak melibatkan kualifikasi modern lama atau para humanis: misalnya, untuk menilai suatu pengetahuan itu sebagai kebenaran (kualitas teknisnya) atau sebagai kebaikan atau keadilan (kualitas etisnya) atau sebagai suatu kecantikan (kualitas estetisnya). Malahan lagi, Lyotard berkomentar, pengetahuan mengikuti paradigma permainan bahasa, seperti yang dijabarkan Wittgenstein. Saya tidak akan mendetail ide permainan bahasa nya Wittgenstein; karena Sarup telah memberikan penjelasan konsep yang lengkap dalam artikelnya, bagi yang tertarik dalam hal ini.
Begitu banyak pertanyaan yang ditanyakan tentang posmodernisme, dan salah satu pertanyaan pentingnya adalah tentang keterlibatan politik, atau secara lebih sederhananya, apakah gerakan posmodernisme ini menuju suatu fragmentasi/pemecahan, provisionalitas/kesementaraan, penampilan permukaan, dan ketidakstabilan yang baik atau buruk? Ada bermacam jawabannya; dalam masyarakat kontemporer kita, sayangnya, keinginan untuk kembali ke era sebelum pos-modern (era modern/humanis/Pencerahan) cenderung diasosiasikan dengan grup masyarakat politik, konservatif, agama, dan filosofis. Pada kenyataannya, salah satu konsekwensi posmodernisme adalah munculnya grup masyarakat agama fundamentalis, sebagai suatu bentuk penolakan pertanyaan “narasi besar” kebenaran agama. Ini terlihat jelas (bagi kami di Amerika, tentunya) dalam masyarakat muslim fundamentalis di Timur Tengah, yang melarang buku-buku bercorak posmodern – seperti The Satanic Verses/Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie – karena buku-buku ini merombak narasi besar.
Asosiasi penolakan posmodernisme dan konservatif atau fundamentalisme bisa menjelaskan sekurangnya kenapa fragmentasi dan multiplisitas pengakuan posmodernisme menarik perhatian para pemikir liberal dan radikal. Makanya, para ahli teori feminis melihat posmodernisme menjadi begitu menarik, seperti yang dikemukakan Sarup, Flax, Butler .
Tapi pada level tertentu, posmodernisme kelihatan memberikan alternatif untuk mengikuti konsumsi budaya global, dimana komoditas dan bentuk pengetahuan ditawarkan dengan paksa melebihi daya kontrol individu. Alternatif ini berfokus pada pemikiran untuk bertindak seadanya dan sepenuhnya (atau perjuangan sosial) bersifat lokal, terbatas, dan parsial – tapi meski demikian, bersifat efektif. Dengan membuang ide “narasi besar” (seperti pembebasan masyarakat pekerja kelas bawah) dan memfokuskan pada tujuan spesifik lokal (seperti perbaikan pusat kesehatan untuk pekerja wanita rumah tangga dalam komunitas masyarakat tertentu), politik posmodernisme menawarkan suatu teori situasi lokal sebagai sesuatu yang mengalir dan tak terduga, meskipun tetap dipengaruhi oleh tren global. Dengan demikian, moto bagi politik posmodernisme adalah “berpikir global, bertindak lokal” – dan tidak usah khawatir tentang cerita, skema atau rencana besar apapun juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar