Sabtu, 20 Februari 2010

Kata Yang Baik Laksana Pohon Yang Baik (Pidato Annemarie Schimmel Saat Penerimaan Anugerah The Peace Prize 1995 Tahunan German Book Trade’s)

Maret 1996,


Sidang Majelis Yang Terhormat dan Bapak Presiden yang saya hormati. Terima kasih banyak atas tuntunan pidato yang Anda percayakan pada saya karena di dalamnya anda sangat menekankan pentingnya toleransi dan pemahaman peradaban asing, yang mesti ada dalam kebijakan politik luar negeri kita. Saya kaget dan juga senang saat mengetahui saya dianugerahi penghargaan The Peace Prize, meski tak terbayangkan bagaimana selama berbulan-bulan suatu kampanye memberitahukan – suatu kampanye yang begitu kuat menekan saya sehingga kelihatan menghancurkan karya-karya saya selama hidup, yang padahal, karya-karya saya tersebut bertujuan untuk menjembatani pemahaman yang lebih baik antara Dunia Timur dan Barat. Ini sangat menyakitkan hati dan pikiran saya, dan saya berharap bagi orang-orang yang menyerang saya itu tanpa mengenal saya secara pribadi atau tidak pernah membaca karya-karya saya tidak perlu mengalami siksaan seperti yang saya alami. Satu hal yang saya pelajari: metode dan cara dalam keilmuan dan puisi adalah satu hal, dan jurnalisme dan politik adalah hal lain lagi. Tentu kedua sisi ini setuju pada satu poin: yaitu peran sentral kata, kata-kata yang bebas, dalam kehidupan kita.
Saya pikir selama bulan-bulan belakangan saya sudah cukup sering menyatakan bahwa saya merasa segan mengomentari fatwa mati untuk Salman Rushdie, meski demikian, saya akan coba membantu dengan cara saya sendiri untuk membela kebebasan mengeluarkan pendapat, berujar, berkata. Pada 1950-an teman penyair dari Pakistan saya, Fez menulis dari balik jeruji penjara;
“Bicaralah ! karena mulutmu masih bebas,
Bicaralah ! karena lidahmu masih milikmu
Bicaralah !  karena hidupmu masih kepunyaanmu,
Lihat, bagaimana tempaan si Tukang besi
Pijar api itu masih menyala, besi itu memerah,
Mulut terkunci mulai bicara
Setiap anak rantai menjadi longgar !
Bicara dalam waktu yang singkat adalah banyak
Sebelum tubuh dan lidah beku tak bergerak.
Bicara kebenaran masih tetap hidup
Keluarkan semua apa yang mau dikatakan.”
Dari sinilah subjek apa yang akan saya sampaikan dalam pidato saya ini. Kadang saya berpikir begini: Jika Friedrich Ruckert (1788-1866) masih hidup tentunya ia yang pantas menerima penghargaan The Peace Prize ini, dikarenakan mottonya yang mengatakan: “Weltpoesie (puisi yang mengglobal) adalah weltversohnung (membawa pada rekonsiliasi kata-kata)”. Selama masa hidupnya, ia menghasilkan ribuan terjemahan puitis yang sangat luar biasa bagusnya dari lusinan bahasa asing dan ia sangat paham bahwa puisi adalah, “bahasa ibu umat manusia”, yang menghubungkan manusia sebagaimana manusia adalah bagian dari semua peradaban.
Tapi pada periode ketika Ruckert bicara tentang puisi sebagai medium rekonsiliasi global, yang berarti, perdamaian, orang punya hubungan yang berbeda dengan dunia bukan Barat seperti yang kita alami sekarang. Dengan terkagum-kagum sekaligus terhenyak kaget, dunia Barat mengamati pada abad ke-8 dan 9 masyarakat muslim menguasai Mediterania, tapi untunglah karena dunia Barat harus berterima kasih pada orang Arab yang menguasai Andalusia selama beberapa abad, karena merekalah yang mewariskan dasar-dasar pengetahuan moderen; karya tentang medis Razi dan Ibnu Sina dianggap panutan, menjadi ukuran terpercaya di Eropa untuk memulai masa moderen; tulisan Ibnu Rusdi memainkan peran penting dalam diskusi teologi yang  membuka jalan menuju masa Pencerahan Eropa. Terjemahan Toledo, dimana orang Yahudi, Kristen dan Muslim hidup berdampingan secara harmonis, membuat orang Arab juga mempelajari puisi dari Dunia Barat. Ilmuwan dari Catelan, Ramon Lull, kembali mengajarkan rasa saling hormat menghormati sesama pemeluk agama, yang menurutnya, tidak hanya berakhir pada diskusi semata tapi berujung pada kegigihan yang sama – yaitunya untuk mewujudkan perdamaian.
Setelah penyerbuan Wina oleh Turki pada 1529, drama berdarah tentang Turki menjadi pemandangan tak terlupakan oleh dunia Barat yang berbuntut pada tumbuhnya kesan, pandangan yang menyebar di Eropa tentang Anti-Turki, yang juga berarti anti-kesusastraan Islam, namun pada saat yang sama, Eropa juga berkesempatan mengenal aspek lain tentang dunia Timur yang untuk itu, kita harus berterima kasih pada laporan objektif para penjelajah dan pedagang Eropa. Terjemahan pertama Kisah Seribu Satu Malam (Arabian Nights) dalam bahasa Perancis pada abad ke-10 memperkenalkan pada dunia Barat dunia peri oriental, jin dan atraksi sensual dunia Timur yang menginspirasi beberapa generasi penyair, pelukis, dan musisi Barat; pada saat yang sama kajian tentang Arab dan Islam seperti juga halnya kajian Indologi meraih status yang independen diantara ilmu pengetahuan, yang untuk itu kita harus berterima kasih pada masa Pencerahan. Kajian keilmuan dan penerjemahan memicu lahirnya puisi yang merbau oriental, yang memuncak pada Goethe, dengan karyanya West-Oestrlicher Divan (Dialog Barat-Timur) dengan “catatan dan disertasinya” yang tak tertandingi dalam menganalisa budaya Islam.
Saat Ruckert menerbitkan puisi-puisi pertamanya yang terinspirasi oleh puisi Persia pada 1820(setahun setelah munculnya karya Goethe, Divan) orang pun mendengarkan cerita-cerita “suatu ketika jauh di sana di Turki, orang-orang saling berperang satu sama lainnya” (sebagaimana yang dikatakan Goethe dalam Faust).
Seperti kebanyakannya, kita tidak hanya dijejali oleh informasi hari demi harinya dengan segala macam berita dan kejadian, tapi malahan kita juga terjerat dalam pemberitaan media massa untuk melihat gambaran dunia Islam, yang pada mereka kita sangat banyak berhutang. Budaya Islam ini kelihatan aneh dan asing bagi kebanyakan orang Eropa, dan secara terus menerus budaya ini selalu dipersalahkan karena kelihatan tidak menunjukkan arah reformasi, tidak ada Pencerahan, sehingga dianggap “tidak mampu untuk berubah”, seperti yang dinyatakan Jacob Burckhardt, seabad yang lalu dengan nada tidak suka yang tajam. Tapi tidakkah kita semua tahu bahwa dunia Islam yang merentang dari Indonesia sampai Afrika Barat memperlihatkan pada kita ekspresi budaya yang sangat beragam, meskipun mereka punya dasar persamaan dalam keyakinan yang tegas dalam KeEsaan dan Keunikan Tuhan dan penerimaan Muhammad sebagai Nabi terakhir? Untuk melihat dunia Islam yang berkeyakinan pada monolitik sama halnya dengan bagaimana kita melihat dunia Barat dengan lebih luas perbedaan antara Kristen Ortodoks Yunani dan Freechurch Amerika Utara. Tapi lambat laun dimana kita terus dibanjiri oleh informasi ringkas nan padat, kelihatannya hampir tidak mungkin lagi untuk membedakannya, dan untuk mengetahui bayangan yang lebih lembut dan aspek positif Islam seperti bagaimana adanya.
“Manusia adalah musuh dari apa yang ia tidak ketahui”, begitu pribahasa Yunani katakan, yang juga ditemukan dalam ungkapan budaya Arab. Maulana Rumi, penyair sufi-mistis terkenal abad ke-13, bercerita dalam prosa bahasa Persianya bahwa ada seorang anak laki-laki kecil yang mengadu pada ibunya karena ada sesosok tubuh hitam yang terus muncul dan membuatnya ketakutan; akhirnya sang ibu menasihati si anak untuk bicara langsung dengan hantu yang terus muncul tiba-tiba itu. Kenapa? Karena seseorang akan mengenali karakter yang lain dari jawabannya. Untuk pilihan kata ini, seperti halnya para penyair Persia yang senang mengulanginya, menyingkapkan karakter si pembicara dengan “bau”nya, seperti layaknya kue buah almond ditambahkan dengan bawang, yang menunjukkan karakter sebenarnya meskipun dari luar kelihatan cukup mengundang selera.
“Kata yang baik laksana pohon yang baik”. Demikian firman dalam Al-Quran, dan kebanyakan dalam semua agama, kata atau firman dianggap sebagai kekuatan kreatif; kata adalah sarana untuk menyampaikan wahyu: kata-kata Tuhan mewujud dalam Kristianitas, atau kata-kata-Nya menyeimbang dalam Islam. Kata adalah suatu amanat baik untuk manusia, yang harus ia jaga dan tidak seharusnya ia lemahkan, disalahkan, atau menjadi tak bermakna karena terlalu banyak mengumbar kata. Karena kata punya suatu kekuatan tersendiri yang tidak bisa kita taksir,maka terhadap kekuatan kata inilah terletaknya tanggungjawab yang sangat besar dari penyair dan bahkan penerjemah, yang dengan hanya satu kesalahan nuansa kata sekalipun bisa mengakibatkan pemahaman yang membahayakan.      
Orang Arab kuno percaya bahwa kata-kata penyair bagaikan anak panah, bahkan dalam Perang Teluk, diktator Irak Saddam Hussain menggunakan puisi untuk menyebarluaskan keinginannya untuk menang. Kekuatan puisi lebih besar dalam dunia Islam dibandingkan dunia Barat; kita tersentuh oleh musik, tapi kebanyakan Muslim tergugah oleh suara bahasa.
Saya justru mengetahui sudut-sudut kota Istambul melalui syair-syair puisi Turki yang sudah dinyanyikan selama lima abad tentang kota yang menakjubkan ini; saya belajar mencintai budaya Pakistan melalui lagu rakyat yang bergema di semua provinnsinya, dan ketika salah satu mahasiswa Harvard saya mendapat nasib nahas menjadi tawanan diantara tawanan warga Amerika di Teheran, ia mengalami perubahan luar biasa dalam sikapnya ketika mendengar sipir penjaranya membacakan puisi Persia; di sini, seketika saja, muncul idiom yang sama dan membantunya untuk menjembatani perbedaan ideologi yang begitu tajam.    
Saya setuju dengan kata-kata Herder: Dari puisilah kita bisa mendapatkan pengetahuan sejarah dan bangsa yang lebih mendalam dibanding yang kita lakukan dengan cara politis parah yang memperdayakan dan sejarah peperangan.
Nyanyian penguburan panjang dari penyair Urdu abad 19 yang ditulis orang India demi mengenang syuhada Hussain, cucu nabi Muhammad, dan pada saat yang sama, berfungsi juga untuk mengkritisi kekuatan kolonial Inggris dalam kata-kata yang ter-kode. Kita harus mengurai kode-kode ini agar bisa memahami pesan ledakan politisnya.    
Selama berabad-abad lamanya para penyair selalu mengeluh tentang pembuangan dan penjara. Cukup untuk dikutip disini penyair Irak kontemporer al-Dayati:
Aku mengimpikan, dan pemisahan
Oh Kasih, perihnya
Karena kampung halaman tiada
Aku mati di kota asing
Mati sendiri, oh Kekasihku
Tanpa negeri tanah air
Hermann Hesse, yang negerinya tentu kita kenal baik, mengatakan dalam Pidato anugerah Nobel Sastranya pada 1955: “Urusan penyair bukan untuk menampung segala realitas aktual dan membesar-besarkannya, tapi jauh melebihi itu semua, umtuk merperlihatkan kemungkinan atas keindahan, cinta, dan perdamaian.” Tidakkah penyair Libanon Adonis bermaksud sama ketika ia menulis selama masa perang saudara Libanon yang penuh horor itu:
“Petiklah setangkai mawar, tebarkan bagaikan bantal
Setelah beberapa saat
Ketakberdayaan akan melahapmu
Dalam kotoran hitam
Bom-bom akan membuatmu
Menjadi korban mereka
Setelah beberapa saat
Petiklah setangkai mawar dan jadikan sebuah lagu
Dan nyanyikan buat dunia”
Puisi dalam masyarakat Islam secara umum dipengaruhi oleh aspek mistik, tapi harus diingat disini, mistik tidaklah sama dengan obskurantisme, keyakinan yang melarikan diri dari realitas hidup, atau, aspek mistik dalam islam juga bukan berarti sebagai sesuatu yang tidak punya arti bagi masyarakat paska-Pencerahan. Kebanyakam mistikus ternama memberontak terhadap apa saja yang mereka anggap ketidak-adilan, menentang negara yang korup, mencemooh juri hakim yang berlagak sangat teliti, seperti yang dikatakan pemikir besar Al-Ghazali pada abad 11 dalam autobiografinya, “juri hakim yang tahu seluk beluk detail kasus perceraian tapi tidak tahu sedikitpun tentang kehadiran Tuhan dalam kehidupan.” Sikap dari aspek mistik seperti ini sebenarnya ditemukan dalam semua tradisi agama; dalam Kristianitas, para santa dan santo secara aktif merubah nasib setiap negeri mereka, dan hal sama juga terjadi dalam tradisi Hassidim di Eropa Timur seperti yang kita mengerti dari karya Martin Buber. Karena mereka menekankan pada aspek nilai-nilai spiritual, orang-orang pemberani ini sering mengkritik masyarakat dengan intensif dan menjadi pejuang keadilan sosial.    
Sejarah Islam diisi oleh sejumlah nama mistikus besar, yang mengabdikan hidup mereka untuk realisasi cinta mereka pada Tuhan dan umat manusia. Yang terbesar diantara mereka ini adalah al-Hallaj, dieksekusi di Baghdad pada 922 Masehi, sebagian karena keberanian pernyataan keagamaannya dan sebagian lagi karena kegiatan politiknya. Ia tetap menjadi simbol syuhada bagi Muslim bahkan sampai sekarang, dibenci oleh pengikut ortodok tradisional, dikagumi oleh yang menganggapnya tidak hanya sebagai representasi cinta murni pada Tuhan tapi juga sebagai pejuang melawan kemapanan. Parabelnya tentang ngengat yang terbang menghampiri nyala api supaya mati dan meraih kehidupan baru lagi menginspirasi Goethe untuk menuliskan puisinya “Selige Sehnsucht”. Ketertarikan yang kuat pada tema “syuhada Cinta Ilahi” ini, yang nantinya nama mereka kembali dihidupkan oleh penulis progresif dalam semua negeri Islam, seperti dalam karya epik Persia Iqbal, Javidname, dimana dalam karyanya itu ia menghadirkan Hallaj yang memperingatkan penyair moderen:
 “Kalian lakukan persis apa yang dulunya aku lakukan – Berhati-hatilah ! Kalian membawa kebangkitan bagi yang telah mati – berhati-hatilah !”
Maksudnya, kebangkitan dari dunia yang memfosil beku karena legalisme, dan yang mengingkari tanggungjawab kecuali sebagai suatu pemenuhan peran nyata manusia di dunia. Tidakkah Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah telah menawarkan amanat kepada manusia dengan mempercayakan pada mereka kebaikan utama (Surat 33:72)? Karya-karya Iqbal, bapak spiritual Pakistan, bisa dikatakan contoh penafsiran moderen tentang Islam. Puisinya diucapkan setiap orang India pada 1930-an, karena besarnya jumlah masyarakat buta huruf hanya bisa disambungkan dengan kata-kata puitis yang mudah diingat. Iqbal (yang sayang sekali, karya-karyanya dilarang di Arab Saudi) dipengaruhi oleh karya Goethe dan Rumi, dan ia berusaha untuk mengemukakan dasar pemikirannya tentang Islam yang dinamis; ia sadar bahwa tugas manusia adalah untuk memperbaiki bumi Tuhan dengan bekerja sama dengan sang Pencipta, dan bahwa seseorang harus tiada henti menafsirkan Al-Qur’an agar tetap bertahan dalam perubahan zaman. Tapi ia juga mengajarkan bahwa seseorang tidak harus terus bergantung semata pada intelek, sebanyak teknologi moderen dan kemajuan bisa dikagumi, maka manusia terpanggil untuk berpartisipasi di dalamnya. Dalam salah satu puisi utamanya, “Message of the East”, sebagai jawaban atas karya Goethe “Divan”, ia menuliskan bahwa sains dan cinta, analisis kritis dan sintesis yang menyayangi, keduanya harus bekerja sama menciptakan nilai-nilai positif untukmasa mendatang.
Hal ini membawa kita pada poin yang kelihatannya penting buat saya – yaitu masalah pemahaman yang penuh kasih tentang peradaban asing. Sayangnya, kata “pemahaman” kelihatannya disamakan sekarang dengan penerimaan buta dan rasa maaf yang umum. Karena, pemahaman yang benar tumbuh dari suatu pengetahuan fakta sejarah dan banyak orang yang kurang pengetahuannya tentang itu. Karena situasi spirtual dan politik berkembang dari fakta sejarah, maka seseorang harus mengetahuinya terlebih dahulu sebelum menilai situasi dengan benar. 
St. Augustine mengatakan “seseorang memahami sesuatu sejauh ia menyukainya” dan para teolog zaman pertengahan kita tahu bahwa “cinta adalah inteleknya mata”. Orang bisa saja bilang bahwa cinta yang demikian membuat si pencintanya buta, tapi saya percaya bahwa cinta yang dalam juga membuka mata seseorang, karena kita melihat semua dosa dan kesalahan wujud yang dicintai dengan kesedihan yang lebih dalam daripada orang yang tidak dikenal. Kita menghabiskan hidup kita mempelajari dunia Islam dari berbagai aspek dan berusaha memperlihatkan aspek positifnya pada masyarakat luas yang hampir tidak punya pandangan yang sebenarnya dari dunia yang kompleks ini. Makanya sangat mengguncangkan buat kita untuk mengikuti perkembangan yang muncul dalam beberapa daerah di dunia Islam selama dekade belakangan.      
Dalam peradaban dengan tradisi sapaan Salam “Damai” (seperti dalam tradisi Yahudi, Shalom) kita mengamati sekarang dogma dan aspek legal agama sangat menakutkan, dangkal dan membeku. Awalnya kita percaya bahwa ini bisa dijelaskan sebagai suatu usaha untuk menutup gerbang penahan banjir melawan meningkatnya pengaruh Barat, dan karenanya, pengikut Islam ini mengikuti jalan lurus seperti yang diperlihatkan Nabi Muhammad. Namun, sekarang kelihatannya berbeda; dari cara pandang yang lebih luas, kita hanya dihadapkan pada kekuatan politik saja, dengan ideologi yang memamfaatkan Islam kurang lebih sebagai kata slogan, dan hanya punya sedikit kesamaan dengan dasar agamanya.     
Sejauh ini saya belum menemukan baik dalam Al-Qur’an atau dalam Tradisi apa juga, yang memerintahkan atau membolehkan terorisme atau penyanderaan. Malah sebaliknya, Aturan Emas (The Golden Rule) adalah valid adanya dimana-mana dalam dunia Islam. Semua orang yang bisa berpikir tentunya tidak akan bisa menghargai tindakan teror dimanapun mereka muncul dan dalam teologi apapun mereka berakar, dan tak seorangpun yang akan lebih senang daripada kita, apapun bidang khusus penilitian lapangan kita, ketika hukuman mati atau penjeblosan ke dalam penjara karena seseorang yang punya pendapat menyimpang atau pemikir kritis yang tidak lagi anggap penting. Banyak dari golongan fundamentalis radikal kelihatannya lupa bahwa Al-Qur’an mengatakan “la ikhra fid-din”, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, dan bahwa nabi Muhammad mengingatkan umatnya agar tidak begitu saja mengatakan orang lain seorang yang kafir. Golongan fundamentalis berusaha merekrut pengikutnya dari para penganggur, anak-anak muda yang kehilangan akar dan orientasi dan menyalurkan pada mereka sedikit formula sederhana untuk dimanipulasi dengan mudah. Tapi penyalahgunaan Islam secara politik merupakan sesuatu yang sepenuhnya berbeda dari Islam yang seharusnya; salah kaprah ini, seperti yang ditulis Tahe ben Jalloun, adalah karikatur Islam yang sebenarnya, “karena Islam ini mewakili suatu doktrin politik tertentu yang sampai sekarang tidak ada dalam dunia Arab-Islam”.   
Tapi gambaran Barat dalam media massa negeri Islam juga sering menyimpang, dan kita perlu meluruskan kedua sisi ini. Anehnya lagi kalangan intelektual liberal Muslim sedikit yang menyadari sejarah mereka sendiri serta karya-karya dari penulis Muslim dari negeri Islam lainnya; mereka sangat bertermakasih sekali ketika mereka dibuat sadar akan kehebatan tradisi peradaban mereka sendiri, yang sekarang ini kelihatan sering dilupakan karena membekunya perkembangan di abad-abad sebelumnya dan dengan demikian membantu mereka menapaki jalan menuju masa depan moderen asli dari mereka sendiri. Dengan kata yang lebih lembut, saya katakan, dan bukan dengan maksud mengangkat jari indeks seperti seorang guru, karena hal itu bisa menyebabkan reaksi negatif pada kecurigaan “kolonialisme budaya”.  
Saya katakan ini berdasarkan pengalaman memberikan sejumlah perkuliahan selama 40 tahun belakangan di berbagai negeri timur. Selama tahun-tahun itu, saya, seorang wanita non-Muslim menduduki jabatan ketua Sejarah Agama di fakultas teologi Islam Ankara (pada saat itu jarang sekali ada jabatan ketua untuk wanita di perguruan tinggi Jerman), saya juga mengajar Sejarah Gereja dan Dogmatik. Dan ini sangat penting. Karena biasanya kita melupakan peran luar biasa Jesus, “Kalimah Tuhan” dan Maryam ibunya dalam Al-Qur’an dan penghormatan Muslim untuknya. Sesekali perlu kita mengingat kalimat dari novel Novalis, “Heinrich von Ofterdingen” (terbit pada 1801) dari mulut seorang perempuan Saracen terpenjara di Jerusalem: “Penuh dengan rasa hormat, para pangeran kami menghormati batu nisan orang suci kalian yang juga kami anggap sebagai Nabi utusan Tuhan. Alangkah indahnya dunia ini sekiranya batu nisannya bisa menjadi awal lahirnya saling pengertian yang membahagiakan dan menjadi alasan untuk persekutuan yang saling menguntungkan selamanya…”        
Yahudi, Kristianitas, dan Islam sama-sama mengetahui dunia ideal perdamaian eskatalogi dimana singa dan lembu hidup berdampingan dengan aman dibawah masa pemerintahan yang adil. Tapi perdamaian bukanlah hal yang statis. Deklarasi UNESCO tentang “Peran agama dalam mendorong budaya perdamaian “ (Desember 1994) mengatakan: “Perdamaian adalah suatu perjalanan, proses yang tiada henti”. Tak ada yang tidak dijaga dengan penuh oleh prinsip perubahan dan polaritas; jantung yang tak lagi berdetak berarti mati. Perdamaian juga merupakan suatu proses pertumbuhan hidup yang mulai dari dalam diri kita masing-masing. Mistikus Muslim mengetahui perjuangan tiada henti ini dengan kualitas Jihad yang sebenarnya: “Perang yang lebih besar di jalan Tuhan” dan ketika jiwa mereka akhirnya mencapai kedamaian, mereka pun sanggup menciptakan perdamaian di dunia.
Orang barangkali beranggapan gambaran Islam yang saya tawarkan terlalu idealistik, jauh dari kenyataan politik yang keras, tapi sebagai sejarawan agama, saya mempelajari bahwa orang harus membandingkan hal yang ideal dengan yang ideal lainnya. Pendeta Luther asal Swedia, Tor Andrae (meninggal pada 1948), seorang Islamolog terdepan, menulis biografi Muhammad, mengatakan: “Keyakinan agama punya hak yang sama seperti halnya setiap gerakan spiritual lainnya yang dinilai dari apa tujuan idealnya dan bukan dilihat dari kelemahan dan sifat keji pengikutnya yang mengotori dunia ideal tersebut”.
Gambaran saya tentang Islam tidak hanya muncul karena ketertarikan yang sudah berlangsung berdekade lamanya dalam sastra dan seni Islam, tapi bahkan lagi berasal dari persahabatan saya dengan semua Muslim dari berbagai negeri dan semua tingkat masyarakat, yang menerima saya dalam keluarga mereka dan memperkenalkan pada saya puisi bahasa mereka. Saya banyak sekali berhutang budi pada mereka, bagian kecil yang saya ingin perkenalkan hari ini. Orang seperti Mevlude Genc, wanita Turki di Solingen yang memaafkan orang-orang yang mengakibatkan kehilangan begitu banyak nyawa dalam keluarganya, adalah representasi sifat toleransi Islam yang sudah bertahun-tahun lamanya saya ketahui. Saya sangat berterimakasih sekali pada orang tua saya yang telah mendidik saya dalam atmosfir kebebasan agama, memasukkan nafas puisi dalam diri saya, dan juga untuk guru saya, kolega dan siswa saya yang dari mereka telah meluaskan pengetahuan saya dalam cara pandang mereka sendiri yang unik.   
Terima kasih saya yang teramat sangat untuk panitia pemilihan Borsenverein yang telah dengan berani memilih saya kedalam lingkaran penerima Penghargaan The Peace Prize yang terkenal ini, yang meskipun Ibnu Khaldun, filosof besar Afrika Utara abad 14 pernah mengatakan dalam salah satu pokok utama bab karya besarnya bahwa “seorang pakar, ahli atau intelektual adalah salah satu dari orang-orang yang paling sedikit dikenal dengan cara politik harian”.
Tugas seorang ilmuan atau intelektual adalah untuk menjelaskan budaya pada dirinya sendiri dan orang lain. Martin Buber menjelaskan ini pada 1953 bahwa penerimaan orang lain adalah dasar dari dialog. Hal ini juga benar dalam hubungan antara dunia Barat dan dunia Islam, sebanyak Islam yang muncul sebagai musuh setelah akhir konflik Barat-Timur. Meski demikian, seperti juga Buber, saya masih percaya pada dialog murni, yang, seperti dikatakan Buber, suatu sikap penerimaan “yang Liyan” seperti adanya, karena dengan demikian perbedaan bisa diatasi – meski tak tertanggulangi sepenuhnya – dalam suatu cara yang lebih manusiawi.
Suatu penghormatan bagi saya menerima penghargaan The Peace Prize ini, yang saya sendiri tidak berani membayangkannya, dan ini akan menjadi pendorong untuk melanjutkan dan meningkatkan usaha saya dalam memahami lebih bai lagi hubungan antara Oksidental (kajian tentang dunia Barat) dan Oriental (kajian tentang dunia Timur) selama saya masih punya kekuatan. Kata-kata yang diucapkan Presiden Republik Jerman Federal akan memperkuat saya dalam menapaki jalan saya. Dan akhirul kalam, rasa syukur kupanjatkan untukNya yang oleh Goethe ia mengatakan dalam karyanya “West-Ostlicher Divan” (Dialog Barat dan Timur):    
“KepunyaanNya lah Timur
KepunyaanNya lah Barat
Dataran Utara dan Selatan
Terbaring Damai dalam TanganNya
Ia, Yang Maha Penguasa sebenarnya
Menginginkan kebaikan buat setiap manusia
Diantara Ratusan AsmaNya
- menjadilah keagungan dan pujian buatNya
Amien”.

Annemarie Schimmel,
Maret 1996
          Catatan akhir:
Pidato ini disampaikan pada sidang majlis yang dihadiri oleh penulis, penerbit, dan pegawai pemerintahan, termasuk Presiden Republik Jerman Federal, Roman Herzog, pada acara penganugerahan penghargaan tahunan German Book Trade, The Peace Prize untuk Annemarie Schimmel. Pidato ini diterjemahkan dari bahasa Jerman dan dipublikasikan di majalah mingguan London, Q-News. JUST telah memproduksi kembali pidato tersebut dengan ijin dari Q-News. Ketika penghargaan The Peace Prize diumumkan untuk Schimmel pada April 1995, dua ratus intelektual Jerman dan Eropa memprotesnya dengan alasan bahwa Schimmel dikatakan sebagai pendukung apa yang dinamakan dengan kelompok fundamentalis Islam. Sejumlah kelompok lainnya dan individu di Jerman dari tempat lainnya, malah datang membela Schimmel dan menolak tuduhan menakutkan yang ditujukan pada Schimmel. JUST adalah salah satu organisasi yang mengumpulkan petisi kepada pemerintah Jerman untuk pembelaan Schimmel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar