Sabtu, 20 Februari 2010

DUA ESEI T.S. ELIOT

Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur. Dalam kata pengantar sebuah kumpulan esei, For Lancelot Andrewes (1928), Eliot menegaskan keyakinannya sebagai, “pengikut sastra klasik, berhaluan politik monarki, beragama anglo-katolik”, dan dalam beberapa dekade, sikapnya ini dibuktikan dalam  karyanya, baik prosa maupun sajak. The Collected Poems 1909-35 (1936) dan Four Quartets (1944) adalah karya puisi utamanya. Pada 1935, ia menghasilkan drama liris Murder in the Cathedral, dan diikuti oleh karya sejenis yang paling sukses, The Cocktail Party (1950). Pada 1948, T.S. Eliot dianugerahi penghargaan Nobel Sastra dan Order of Merit.

Hasil karya Eliot sangat banyak tersebar, belum terkumpul dan dicetak. Selected Essays (edisi ke-3, 1951) adalah tulisan penting, koleksi utama karyanya yang representatif. Karya ini dijadikan suplemen Selected Prose (1953), diedit oleh John Hayward. Karya Eliot berisi tentang pemikiran budaya dan kosmopolitan, merentang dari sastra Eropa, klasik, dan modern. Di awal karirnya sebagai kritikus, fokus awalnya tentu sastra, kemudian melebar mencakup “budaya” secara keseluruhan – seni popular, agama, pendidikan, institusi sosial (lihat karyanya Notes Toward the Definition of Culture). Apapun yang ia tulis selalu menjadi nutrisi buat otak, tapi sejauh perkembangan kritik sastra modern, karya esei awalnya lah yang sangat berpengaruh. Pada zamannya dan mungkin juga sampai sekarang, karya esei awalnya ini menghasilkan aliansi antara sastra avant-garde/ garda depan dan kritik sastra yang lebih progresif dan karya eseinya ini menjadi rujukan sastra di berbagai perguruan tinggi. Pada saat itu, setelah perang Dunia Pertama, Inggris muncul segera sebagai pusat kajian humaniora, tapi sayangnya tidak dilengkapi dengan disiplin intelektual dan konsep tradisi sastra yang jelas pada abad dua puluh. Namun esei-esei Eliot menampakkan kedua hal ini – paling tidak tanda-tanda menuju kesana, yang kemudian idenya diambil oleh kritikus akademis seperti I.A. Richards, F.R. Leavis, dan pengikut New Critics Amerika. Dalam selera sastra, Eliot sangat antusias pada drama era Elizabeth, Jacobian, dan penyair Metafisikal abad tujuh belas, tapi ia tidak begitu suka pada karya puisi Milton, penyair era Romantis dan Victorian. Redefinisi tradisi puisi Inggris ini menghasilkan dampak ganda; pertama mendorong debat kontroversi yang sehat di bidang akademis, dan kedua mendidik selera publik dalam memahami dan mengapresiasi puisi Eliot sendiri. Hubungan ini tergambar jelas dalam tulisan esei Eliot, “The Metaphysical Poets”(1921):
Kelihatannya penyair dalam peradaban kita, seperti yang ada sekarang, akan susah untuk berkarya…Penyair harus menjadi semakin menyeluruh, lebih alusif, lebih tersirat, supaya mendorong, menghilangkan kalau perlu, bahasa yang penuh arti…Untuk itu, kita perlu sesuatu seperti keangkuhan – kita butuh, memang, suatu metode yang sama dengan ‘penyair metafisikal’    
Basis teoritis untuk menghubungkan puisi kontemporer dan puisi lama ditemukan dalam  “The Tradition and the Individual Talent” (1919), tulisan esei Eliot yang mungkin paling banyak dibicarakan di Inggris abad dua puluh. Sedangkan “The Function of Criticism” (1923) tidak begitu terkenal, namun begitu, esei ini bersifat melengkapi, jadi tidak heran kedua tulisan ini ditaruh berurutan di awal Selected Essays.

            Dinamika penting kritik sastra Anglo-American semenjak tahun 20-an sampai 50-an bisa dikatakan sebagai pencapaian objektifitas dalam kritik sastra, dengan cara membuang sejauh mungkin semua bukti yang tidak berhubungan dengan teks, “kata-kata dalam halaman teks”. Esei-esei tentang penalaran yang sesat (intentional fallacies) dan kesan pembaca yang sesat (affective fallacies) karya W.K. Wimsatt dan Monroe C. Beardsley sudah usang meski esei mereka berisi eksposisi yang bagus tentang doktrin kritis ini. Tulisan Eliot, “Tradisi dan Bakat Individu” sangatlah anti-nalar, dan “Fungsi Kritik” juga sangat anti-kesan: kalau ini sudah dipahami, arti penting esei-esei awal Eliot di masa yang mengikutinya menjadi jelas terlihat.

TRADISI  DAN  BAKAT  INDIVIDU

            I


            Dalam tulisan khas Inggris kita tidak begitu banyak bicara tentang tradisi, meski sesekali kita memakai kata ini demi mengisi ketidakhadirannya. Kita tidak bisa mengatakan “ini tradisi” atau “suatu tradisi”; Tapi kita lebih banyak menggunakan kata sifat dalam mengatakan puisi si anu “tradisionil” atau bahkan “terlalu tradisionil”. Jarang barangkali kata ini muncul, kecuali dalam suatu ungkapan mencela. Kalaupun kata ini dipakai, kata ini juga membingungkan dan susah diterima dengan baik, dengan implikasi, sebagaimana kata ini harus disetujui, dengan rekonstruksi arkeologis yang bagus. Anda bakal susah membuat suatu kata bisa diterima oleh telinga orang Inggris tanpa acuan ilmu pengetahuan arkeologis yang meyakinkan.

            Tentunya kata ini tidak bakal hilang dalam apresiasi kehidupan atau penulis kita terdahulu. Setiap bangsa, ras, tidak hanya punya perubahan pikiran yang kreatif tapi juga kritis; bahkan kelemahan dan batasan kebiasaan kritisnya tidak begitu diperhatikan dibanding bakat kreatifnya. Kita tahu, atau kita mengira kita tahu, dari begitu banyaknya tulisan metode kritis atau kebiasaan kritis dalam bahasa Perancis; kita lalu menyimpulkan ( alangkah tidak sadarnya kita) bahwa orang Perancis “lebih kritis” dibanding kita, dan kadang kita pun berkilah dengan mengatakan sebaliknya bahwa orang perancis kurang spontan. Barangkali memang begitu, tapi harus diingat bahwa kritik adalah kemestian, layaknya bernafas, dan kita jangan sampai tidak bisa mengartikulasikan ide dalam pikiran kita di saat membaca sebuah buku dan merasakan emosi yang diakibatkannya, karena dengan mempertanyakan pikiran kita sendiri kita bisa bisa melakukan kritik atas karya mereka. Satu fakta yang perlu diperjelas dalam proses ini adalah kecenderungan kita dalam menekankan aspek-aspek karya seseorang, misalkan saat kita sedang memuji sebuah puisi, bahwa karyanya tidak begitu mirip dengan karya si anu. Dalam aspek dan bagian karya orang ini, kita lalu berusaha menemukan apa yang khas secara individu, yang esensial manusia. Kita lalu tenggelam dalam kepuasan meihat perbedaan penyair ini dengan pendahulunya, khususnya siapa saja yang mempengaruhi karyanya; kita berusaha sedemikian rupa menemukan sesuatu yang bisa dijauhkan untuk kita nikmati sendiri. Sedangkan kalau kita mendekati seorang penyair tanpa prasangka ini, kita akan sering menemukan tidak hanya karya terbaiknya tapi juga bagian-bagian paling individual yang barangkali terdapat dalam karya penyair yang telah meninggal, para penyair awal, yang abadi. Yang saya maksud bukan periode awal era impressionis tapi periodenya yang sudah matang.

            Sekiranya keberlangsungan bentuk tradisi hanya dengan cara langsung bulat-bulat mengikuti kesuksesan generasi sebelumnya, maka “tadisi” seharusnya tidak usah dilanjutkan. Kita banyak melihat contoh-contohnya yang hilang begitu saja; karena kebaruan lebih baik dibanding pengulangan. Tradisi mencakup masalah lebih luas lagi. Tradisi tidak bisa diwarisi, tapi kalau anda ingin, anda harus meraihnya dengan usaha yang luar biasa. Yang utama di sini adalah kepekaan akan sejarah (the sense of history), yang harus dimiliki setiap orang yang tetap ingin menjadi penyair setelah berumur dua puluh lima; dan kepekaan akan sejarah melibatkan suatu persepsi, bukan hanya tentang kemasa-laluan apa yang sudah terjadi, tapi juga ke-kini-an; kepekaan akan sejarah tidak hanya membuat seseorang menulis tentang generasinya sekarang semata, tapi dengan kesadaran bahwa dari kesusastraan Eropa sampai Homer dan keseluruhan sastra dimana ia berada, hadir terus menerus dan membentuk keteraturan yang berkesinambungan. Kepekaan akan sejarah adalah kepekaan akan yang abadi sekaligus yang sementara dan yang abadi dan yang sementara bersamaan. Inilah yang membuat seorang penulis “tradisionil”. Dan pada saat yang sama, ini juga yang membuatnya sangat menyadari akan ikatan tempat dan waktu, dimana ia berada.

            Tak seorang penyair, atau seniman manapun, yang bisa punya arti lengkap tersendiri. Arti pentingnya, apresiasinya adalah apresiasi dari hubungannya dengan penyair yang terdahulu dan yang sekarang. Anda tidak bisa menilainya semata-mata ia sendiri; anda harus menempatkannya dalam perbedaan dan perbandingan dengan penyair yang terdahulu. Yang saya maksud adalah prinsip estetika, tidak hanya sejarah atau kritik. Perlunya bahwa ia cocok, atau sesuai adalah masalah satu sisi; apa yang terjadi ketika suatu karya seni tercipta adalah sesuatu yang terjadi berkelanjutan pada semua karya seni sebelumnya. Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu. Dan seorang penyair yang punya kesadaran akan hal ini sadar akan kesulitan pelik dan tanggung jawabnya.

            Dalam hal tertentu, seorang penyair sadar bahwa ia bisa saja dinilai dengan standart nilai masa lalu. Saya tekankan di sini, “dinilai”, bukan “dibantai” , oleh nilai-nilai tersebut, tidak dinilai sama bagusnya dengan, atau lebih jelek atau lebih baik dari penyair terdahulu; dan juga bukan dinilai oleh kritikus master/sokoguru sastra  yang pernah ada. Yang saya maksud adalah suatu penilaian, perbandingan, dimana dua hal diukur oleh satu sama lainnya. Menyetujui semua hal yang baru bukan berarti menerima semuanya; tentunya tidak baru lagi kalau diterima semua, dengan demikian, tidak menjadi suatu karya sastra lagi. Kita tidak bermaksud mengatakan bahwa hal yang baru lebih bernilai karena kecocokannya, tapi kecocokan ini adalah tes nilai – suatu tes, yang memang benar, yang hanya bisa dipakai dengan perlahan dan hati-hati, karena tidak satu pun dari kita dengan penilaian mutlak terhadap konformitas. Kita katakanlah: kelihatannya konformitas, tapi bisa juga individual, atau kelihatannya individual, tapi bisa jadi konformitas; namun kita susah juga menetukan apakah konformitas atau individual.

            Untuk menghasilkan penjabaran yang cerdas tentang hubungan penyair dan masa lalu: seorang penyair tidak bisa menganggap masa lalu sebagai benjolan yang mengganggu, suatu obat sembarangan, ia tidak bisa saja fanatik pada satu atau dua orang yang dikaguminya, atau pada satu periode tertentu. Keadaan pertama tentu tidak bisa diterima, yang kedua tentu berhubungan dengan pengalaman masa muda penting penyair, dan yang ketiga adalah suplemen menyenangkan yang diingininya. Seorang penyair harus selalu mengikuti perkembangan zaman, yang tentu saja tidak mengalir secara tetap selama reputasinya sedang menanjak. Ia mesti selalu sadar akan fakta bahwa seni tidak pernah berubah, tapi bahan seni lah yang tidak pernah sama. Ia mesti sadar bahwa alam pikir Eropa – alam pikir negerinya sendiri – suatu alam pikir yang ia pelajari selama hidup yang jauh lebih penting daripada alam pikirnya sendiri, selalu berubah, dan bahwasanya perubahan ini adalah perkembangan yang tidak membuang apapun selama perubahan itu terus berlangsung (en route), yang tetap menghidupkan apakah itu karya Shakespeare, Homer, atau juga lukisan bebatuan pelukis era Magdalenian. Dari sudut pandang seniman, perkembangan atau perbaikan ini, yang memang rumit,  barangkali bukanlah suatu kemajuan, dari sudut pandang psikologis mungkin juga begitu, atau dari apa yang kita bayangkan sekalipun; mungkin hanya dari sisi ekonomi dan permesinan saja adanya kemajuan. Tapi yang jelas, perbedaan antara masa sekarang dan masa lalu adalah bahwa kesadaran ke-kini-an adalah kesadaran akan masa lalu dalam suatu cara dan pada pengertian dimana kesadaran kemasa-laluan itu sendiri tidak akan bisa muncul.

            Seseorang pernah berkata: “Penulis yang telah meninggal jaraknya jauh dari kita karena kita tahu jauh lebih banyak daripada apa yang mereka tahu” Pendeknya, mereka adalah apa yang kita tahu.

            Saya menaruh perhatian pada keberatan umum dari apa yang jelas-jelas merupakan bagian dari keahlian saya dalam kekhasan (metier) puisi. Keberatan ini adalah bahwa doktrin tentang puisi yang membutuhkan pengetahuan yang melimpah, yang terlihat menyombongkan (pedantry), suatu klaim yang bisa ditolak dengan pertimbangan kehidupan para penyair yang tinggal dalam kuil-kuil panteon. Bahkan diperkukuh bahwa kebanyakan belajar akan mematikan atau menyimpangkan sensibilitas puisi. Namun sebaliknya, kita tetap meyakini bahwa seorang penyair harus mengetahui sebanyak tidak menggerogoti daya penerimaan dan kemalasannya berkarya, kita tidak menginginkan pengungkungan pengetahuan ke dalam berbagai bentuk ujian yang berguna, ruang gambar, atau bentuk publisitas ketenangan yang mewah. Beberapa penulis bisa menyerap pengetahuan, dimana semakin tekun ia semakin bagus hasil karyanya. Shakespeare lebih banyak memperoleh pengetahuan sejarah penting dari buku Plutarch dibanding keseluruhan Museum British. Apa yang perlu ditekankan disini adalah bahwa penyair harus mengembangkan atau mendapatkan kesadaran masa lalu dan ia harus terus melanjutkan kesadaran ini sepanjang karirnya.

            Apa yang terjadi adalah penyerahan diri secara berkelanjutan sebagaimana ia berada pada momen yang lebih berharga. Kemajuan seorang penyair adalah pengorbanan diri terus menerus, suatu penghilangan personalitas tiada henti.              

            Disinilah bagaimana harus mendefenisikan proses penghilangan diri (depersonalization) dan hubungannya dengan kepekaan tradisi. Dalam proses penghilangan diri inilah seni dikatakan memasuki ranah sains. Untuk itu saya mengajak Anda untuk menyadari hal ini, sebagai usulan analogi, tindakan yang yang berlangsung ketika serpihan platinum sepuh tak berharga dimasukkan ke dalam bilik berisi oksigen dan sulfur dioksida.                           

II

Kritik yang jujur dan apresiasi yang mengena bukan ditujukan pada si penyairnya, tapi karyanya. Kalau kita mengikuti ulasan kritik sastra yang marak dan berulang-ulang di koran, kita akan menemukan sederet nama penyair. Kalau kita hanya mencari kesenangan puisi semata tanpa pengetahuan mendalam, dan kita meminta sebuah puisi, ini jarang ditemukan. Saya sudah menjelaskan pentingnya hubungan puisi dengan puisi dari penyair lainnya, dan mengusulkan konsep puisi sebagai suatu kehidupan yang menyeluruh dari semua puisi yang pernah ditulis. Aspek lain dari teori impersonal (Impersonal Theory) puisi adalah hubungan sajak puisi dengan penyairnya. Dan disini saya mengisyaratkan dengan sebuah analogi, bahwa perbedaan pikiran penyair yang matang dengan yang tidak matang tidak semata-mata terdapat dalam evaluasi “personalitas”, bukan hanya apakah puisi tersebut lebih menarik atau tidak, atau apakah puisi tersebut mempunyai isi “yang lebih banyak yang bisa dikatakan”, tetapi perbedaan ini lebih pada penyempurnaan puisi sebagai medium  dimana perasaan spesial, atau yang beragam, bebas memasuki suatu kombinasi baru.

            Analoginya sama dengan katalis. Ketika oksigen dan sulfur dioksida dicampur dalam kawat platinum halus, mereka membentuk asam sulfur. Kombinasi ini hanya terjadi jika platinumnya ada; dengan begitu, asam yang baru terbentuk tidak meninggalkan bekas platinum, dan platinum itu sendiri tidak terpengaruhi: platinumnya tetap ada, bersifat netral, dan tak berubah. Alam pikir penyair seperti serpihan platinum. Secara terpisah dan eksklusif bekerja terhadap pengalaman manusia itu sendiri; tapi, semakin sempurna penyair, semakin lengkap keterpisahan dalam dirinya sebagai manusia yang menderita dan pikiran yang mencipta, semakin sempurna pula lah pikirannya mencerna dan mengubah semangat (passions) sebagai materinya.

            Pengalaman, seperti yang Anda nanti bisa lihat sendiri, adalah elemen yang memasuki kehadiran katalis yang mengalami perubahan. Ada dua macam pengalaman, emosi dan perasaan. Pengaruh karya seni terhadap seseorang yang menikmatinya adalah  suatu pengalaman yang berbeda dengan pengalaman seseorang terhadap yang bukan karya seni. Pengalaman ini bisa terbentuk dari suatu emosi, atau bisa juga kombinasi beberapa hal; dan berbagai bentuk perasaan, dan apa saja yang melekat pada puisi itu sendiri seperti kata-kata khusus, frase atau gambaran (images), yang ditambahkan oleh bentukan hasil akhir. Atau bisa juga sebuah puisi yang bagus dibuat tanpa adanya emosi langsung apapun: puisi yang ditulis semata-mata dari perasaan. Canto XV Inferno (Brunetto Latini) sebagai contoh, adalah puisi yang ditulis dengan adanya bukti situasi emosi; tapi pengaruhnya, meski hanya satu seperti karya puisi lainnya, bisa diperoleh dengan kompleksitas hal-hal terperinci. Kuatrain berikut ini menghasilkan suatu gambaran, suatu perasaan yang melekat pada satu gambaran, yang “datang”, yang tidak berkembang dengan begitu saja dari yang sebelumnya, tapi yang mungkin berada dalam penangguhan (suspension) alam pikir penyair sampai akhirnya kombinasi yang pantas muncul bertambah.

Terjemahan Dorothy L. Sayers:
                                                Then he turned round,
            And seemed like one of those who over the flat
                        And open course in the fields beside Verona
                        Run for the green cloth; and he seemed, at that,
            Not like a loser, but the winning runner.

 Alam pikir penyair adalah wadah untuk menggunakan dan menyimpan perasaan yang tak terhitung banyaknya, frase, gambaran, yang menggenang di sana sampai akhirnya semua partikel yang bisa menyatu membentuk gabungan baru hadir bersamaan.

            Kalau Anda bandingkan beberapa puisi representatif yang pernah ada, Anda akan lihat begitu hebatnya keragaman jenis kombinasi dan kelengkapan kriteria semi-etis “keindahan (sublimity)” di dalamnya. Karena itu, masalahnya bukan “kehebatan (greatness)”, intensitas, tekanan, emosi, komponen, tetapi adanya intensitas proses artistik, dengan cara lain bisa dikatakan suatu tekanan di bawah percampuran yang berlangsung, inilah yang penting. Episode puisi Paolo Francesca menggunakan emosi yang terbatas, tapi intensitas puisinya menjadi sesuatu yang berbeda dari intensitas pengalaman kesan apapun terhadapnya. Dalam Canto XXVI, perjalanan Ulysses, juga tidak terlepas dari ketergantungan langsung terhadap emosi. Kehebatan keragaman bisa saja hadir dalam proses transmutasi emosi: contohnya pembunuhan Agamemnon, atau penderitaan Othello, puisi-puisi ini memberikan efek artistik jelas yang lebih dekat  dan orisinil dibanding karya Dante. Dalam Agamemnon, emosi artistik hampir sama dengan emosi penontonny, tapi dalam karya Othello emosinya lebih hadir dalam sang tokoh protagonis sendiri. Tapi di sini ada perbedaan antara seni dan kejadian yang absolut; kombinasi yang ada dalam pembunuhan Agamemnon mungkin sama kompleksnya  dengan yang ada dalam perjalanan Ulysses. Dalam satu kasus, tentu terjadi penggabungan (fusion) elemen. Puisi syair pujian (ode) karya Keats memiliki beberapa perasaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan burung bul-bul, tapi barangkali karena nama burung yang unik itu sendiri, dan tentu saja karena reputasi nama Keats sendiri.

            Sudut pandang yang saya tidak setujui barangkali berhubungan dengan teori metafisikal kesatuan substansi jiwa (substantial unity of the soul): karena yang saya maksud adalah, bahwa penyair punya medium khusus untuk diekspresikan, tapi bukannya ekspresi “personalitas”. Suatu medium yang berfungsi betul-betul sebagai medium, dan bukan suatu personalitas, dimana kesan dan pengalaman menyatu dalam suatu cara khusus dantak terduga. Kesan dan pengalaman yang sangat penting buat manusia bisa saja tidak harus didapatkan melalui puisi, dan bagi siapa yang menjadikan puisi penting mungkin akan memainkan personalitasnya tidak begitu diperhatikan lagi.

            Saya kutip di sini puisi Cyril Tourneur, The Revenger’s Tragedy (1607), puisi yang tidak biasa dilihat dari perhatiannya terhadap cahaya, atau kegelapan:      

                        And how methinks I could e’en chide myself
                        For doating on her beaty, though hetr death
                        Shall be revenged after no common action.
                        Does the silkworm expend her yellow labours
                        For thee? For thee does she undo herself?
                        Are lordships sold to maintain ladyships
                        For the poor benefit of a bewildering minute?
                        Why does yon fellow falsify highways,
                        And put his life between the judge’s lips,
                        To refine such a thing- keeps horse and men
                        To beat their valours for her?

Dalam bait puisi ini (sebagai bukti puisi ini dikutip berdasarkan konteks), ada suatiu kombinasi emosi positif dan negatif: suatu ketertarikan kuat yang intens terhadap kecantikan dan sekaligus keterpesonaan yang intens terhadap kejelekan yang dikontraskan dan yang menghancurkannya. Keseimbangan emosi yang bertolak belakang ini berada dalam situasi dramatis dengan cara ujar yang saling terpaut, tapi situasi itu sendiri sebenarnya tidak memadai. Contoh ini, secara emosi struktural ditemukan dalam drama. Namun efek keseluruhan, suara (tone) dominannya ini disebabkan oleh adanya perasaan yang mengambang, karena daya tarik emosi ini tidak berarti bukti yang superfisial, karena telah bergabung dengannya sehingga memberikan pada kita suatu emosi seni yang baru.
             
            Emosi ini bukan bersifat personal, emosi yang diprovokasi oleh peristiwa khusus dalam hidupnya. Seorang penyair dalam beberapa hal sangat tertarik pada emosi khusus yang kelihatan sederhana, kasar atau datar-datar saja. Emosi dalam karyanya menjadi sangat kompleks, tapi bukan dengan kompleksitas emosi masyarakat umum. Yang khas dalam puisi adalah mencari emosi-emosi manusia yang baru untuk diekspresikan; pencarian kebaruan ditempat yang salah akan menjadi keganjilan. Tugas penyair bukan mencari emosi-emosi yang baru, tapi menggunakan emosi yang biasa-biasa dan mengaduknya dalam puisi, mengekspresikan perasaan yang bukan emosi. Emosi yang belum pernah ia alami akan mengubahnya menjadi seperti sudah dialaminya. Dengan begitu, keyakinan kita bahwa “emosi yang terkumpul dalam ketenangan” adalah formula yang tidak pasti. ( Puisi adalah aliran perasaan spontan yang sangat hebat: istilah emotion recollected tranquility diambil dari Wordsworth, dalam buku Lyrical Ballads -1800 ). Karena yang sebenarnya bukan emosi, atau kumpulan emosi, atau apapun, yang nantinya pasti akan mengalami distorsi arti, ketenangan adalah suatu konsentrasi, dan hal baru yang dihasilkan dari konsentrasi, segala macam pengalaman yang bagi seseorang yang praktis dan aktif tidak dianggap sebagai pengalaman tentunya; yang dimaksud adalah konsentrasi yang tidak terjadi secara sadar atau sukarela. Pengalaman ini bukan “pengumpulan ulang” yang pada akhirnya menyatu dalam suatu atmosfir yang “tenang”, yang hanya dengan begitu lah pengalaman memasuki kejadian. Tentu masalahnya bukan ini saja, banyak hal yang mencakup dalam penulisan puisi, yang harus disadari dan disenangi. Perlu diketahui, penyair yang tidak baik selalu tidak menyadari dimana ia seharusnya sadar dan sadar dimana ia seharusnya tidak sadar. Kedua kesalahan ini akan menggiring karyanya menjadi “personal”. Puisi bukanlah pelepasan emosi, tapi suatu pelarian dari emosi, puisi bukan suatu ekspresi personalitas, tapi suatu pelarian dari personalitas. Jadi, tentunya bagi yang punya emosi dan personalitas tahu apa arti dari keinginannya melarikan diri dari hal ni.


…Sedangkan intelek adalah tanpa keraguan sesuatu yang lebih ilahi dan tidak selalu diam ( Aristoteles, dalam karyanya De Anima )

            Esei ini bertujuan untuk berhenti di ujung luar metafisika atau mistis supaya memberi batasan demi mencapai kesimpulan praktis yang bisa diaplikasikan oleh orang yang tertarik dengan puisi. Mengalihkan ketertarikan dari satu penyair ke penyair lainnya akan berujung pada tujuan pemujian: karena ini akan mengubah estimasi puisi yang lebih proporsional dalam menilai sebuah puisi baik atau buruk. Banyak orang yang mengapresiasi ekspresi emosi sebuah sajak, tapi hanya sedikit yang bisa mengapresiasi kejenusan puisi ecara teknis. Dan lebih sedikit lagi orang yang tahu kapan suatu ekspresi menandai emosi, emosi yang hidup dalam puisi, bukan emosi yang terdapat dalam sejarah pengalaman hidup si penyair. Seni tentang emosi adalah hal impersonal. Seorang penyair tidak akan bisa mencapai personalitas ini tanpa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada karya yang dikerjakannya. Seorang penyair dikatakan tidak tahu apa yang seharusnya ia ketahui kecuali jika ia yakin pada apa yang semata-mata masa sekarang, momen ke-kini-an tentang tentang masa lalu, dan kecuali jika ia sadar bukan pada yang telah mati tapi yang hidup.


FUNGSI  KRITIK

I

            Setelah menulis kajian hubungan seni lama dan baru beberapa tahun yang lalu, di sana saya membentuk suatu pandangan yang masih saya ikuti. Berikut ini saya kutip kalimat dalam tulisan tersebut, karena tulisan saya yang sekarang ini merupakan aplikasi prinsip yang ada di sana:

Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu.

Yang saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang seniman dan kepekaan akan tradisi, yang menurut saya, seorang seniman harus miliki; masalah umum lainnya adalah tentang keteraturan; dan fungsi kritik juga termasuk secara esensial ke dalam masalah keteraturan. Pemikiran saya tentang sastra, sampai sekarang, bahwa sastra dunia, sastra Eropa, sastra suatu negeri, bukanlah suatu koleksi tulisan individu-individu, tapi merupakan “keseluruhan bagian (organic wholes)”, sebagai sistem-sistem dalam hubungan, dan hanya dalam hubungannya dengan karya seni sastra individu, dan dalam karya seniman individu lah mereka punya arti penting. Karenanya, seorang seniman terikat dan mengabdi pada semua yang ada diluar dirinya, ia harus menyerahkan dan mengorbankan dirinya supaya mendapatkan dan meraih keunikan posisinya. Warisan dan sebab umum menyatukan seniman secara sadar dan tak sadar: harus disadari bahwa penyatuan itu biasanya secara tidak sadar. Seniman dimana dan kapan pun, saya percaya, adalah komunitas tak berkesadaran. Dan, insting untuk hidup teratur menyuruh kita untuk tidak meninggalkan bahayanya ketidaksadaran dari apa saja yang kita usahakan dengan sadar, dengan begitu, kita pun mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang terjadi secara tidak sadar membuahkan hasil, dan membentuk suatu tujuan, jikasaja kita membuatnya dengan suatu usaha yang sadar. Namun, seniman yang tidak bermutu tentu tidak mampu menyerahkan dirinya pada tindakan apapun; karena tugas utamanya adalah kesenangannya pada hal remeh yang menjadi pembedanya; hanya orang yang berani memberi begitu banyak yang bisa melupakan dirinya sendiri tenggelam dalam karyanya lah yang bisa bekerja sama, saling bagi, dan memberikan kontribusi.

Apapun pandangan orang tentang seni, tentunya akan mengikuti suatu pandangan tertentu. Meski demikian, pasti ada kesamaan pandangan dalam hal kritik. Yang saya maksud kritik disini adalah komentar dan jabaran karya seni dalam bentuk kata-kata tertulis; karena penggunaan secara umum kata kritik selalu mengacu pada tulisan, seperti yang Matthew Arnold gunakan dalam eseinya (The Function of Criticism at the Present Time, 1864), untuk itu, saya membuat beberapa kualifikasi tentang kritik.

Saya pikir, tidak ada eksponen kritikus (dalam artian terbatas) yang pernah membuat asumsi yang tidak masuk akal bahwa kritik adalah kegiatan yang didalamnya ada akhir atau tujuan (aututelic). Saya tidak menyangkal bahwa seni dimaksudkan untuk mencapai suatu akhir yang jauh melampauinya; tapi seni tidak harus menyadari akan akhir ini, walaupun seni melayani fungsinya entah sebagai apa saja, yang menurut teori tentang nilai, bahwa seni lebih baik mengabaikan akhir atau tujuan ini. Kritik, di sisi lainnya, harus selalu menyatakan suatu akhir dalam pandangan, yang dengan kata lain bisa dikatakan, bahwa kritik kelihatan seperti uraian, penjelasan suatu karya seni dan pembetulan suatu selera. Maka, tugas kritikus kelihatan lebih jelas, dan relatif mudah memutuskan apakah ia menghasilkan kritik yang baik atau tidak. Kalau dipelajari lebih dalam lagi, kritik adalah kegiatan bermamfaat yang tidak sederhana dan teratur, tidak seperti amatiran yang bisa dengan mudah didepak, yang tidak lebih baik daripada ahli pidato di taman tiap hari Minggu, yang belum sampai pada tahap seseorang yang punya perbedaan. Kritik, bisa dikatakan, suatu tempat sepi yang didalamnya terdapat usaha kooperatif. Kritikus, kalau orang itu ingin menampilkan keberadaannya, seharusnya selalu berusaha mendisiplinkan prasangka dan keanehannya (sifat yang biasanya dilekatkan pada kritikus) dan mengubah perbedaannya sebanyaknya sesama koleganya, dalam mencapai penilaian benar yang sama. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, kita mulai mencurigai bahwa suatu kritik dipengaruhi oleh latar kehidupannya menjadi sikap kekerasan dan ekstrim terhadap lawan kritik lainnya, atau pada sikap aneh tak bermamfaat yang ia punyai, yang ia rancang dan pertahankan, dan ia tidak menghiraukan pendapat lainnya. Kita pun tergoda untuk membuang semua yang tidak sesuai dengan pendapat kita.

Setelah membuang semua itu, atau setelah rasa marah hilang, kita lalu mulai menyadari bahwa ternyata ada banyak buku, esei-esei tertentu, kalimat, orang-orang yang memang ahlinya, dan semua ini “berguna” buat kita. Langkah selanjutnya adalah kita mulai mengklasifikasi, mencari tahu, prinsip apa yang akan dipegang dalam menentukan buku acuan, apa tujuannya dan metode kritik mana yang akan diikuti.


II


Pandangan tentang hubungan karya seni dengan seni, karya sastra dengan sastra, kritik dengan kritik, yang saya jelaskan sebelumnya, bagi saya kelihatannya bersifat alami dan jelas. Saya berterimakasih pada Mr. Middleton Murry (1889-1957, kritikus sastra dan pada masa hidupnya menjadi editor Adelphi yang ia dirikan) atas persepsi permasalahan yang sering menjadi pertengkaran ini, atau tentang pandangan saya bahwa adanya penyelesaian akhir masalah ini. Rasa terima kasih saya buat Mr. Murry tak terkira. Kebanyakan kritikus terjebak dalam suasana yang tidak mendukung: baik itu dalam usaha saling akur, saling hasut, menjatuhkan, menekan, menyombongkan, saling menenangkan, berpura-pura bahwa mereka orang yang santun dan yang lainnya sangat diragukan reputasinya. Tapi tidak demikian dengan Mr. Murry. Ia sadar bahwa ada posisi yang jelas yang harus diambil, dan sesekali seseorang harus berani menolak dan memilih. Ia penulis yang sangat dikenal dalam tulisan sastranya beberapa tahunlalu yang menyatakan bahwa era Romantis dan Klasik hampir sama, dan era Klasik Perancis yang sebenarnya adalah era yang menghasilkan katedral-katedral Gothic, Jeanne d’Arc misalnya. Yang saya tidak setuju tentang pernyataan Mr. Murry tentang era Klasik dan Romantis adalah bahwa, perbedaan yang tampak bagi saya adalah perbedaan antara yang lengkap dan yang terpecah, yang telah dewasa dan yang tidak matang, yang teratur dan yang kacau. Meski demikian, sebenarnya Mr. Murry ingin menunjukkan bahwa paling kurang terdapat dua sikap terhadap sastra dan apapun juga, dan Anda tidak bisa pegang dua-duanya. Dan sikap yang ia ambil menyiratkan bahwa yang satu tidak bisa dipakai di Inggris. Alasannya adalah karena ini isu nasional, isu rasial.

            Mr Murry menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Ia mengatakan, “Katolik” adalah prinsip otoritas spiritual yang tidak dipertanyakan diluar individu; prinsip sastra era Klasik juga begitu”. Dalam lingkaran diskusi tentang pernyataan Mr. Murry, defenisi ini kelihatannya tak disangsikan lagi, meski tidak semuanya begitu yang bisa dikatakan tentang Katolik maupun era Klasik. Kita ada yang setuju dengan pernyataan Mr. Murry, bahwa era Klasik percaya manusia tidak bisa melanjutkan hidup tanpa kepatuhan pada sesuatu di luar diri mereka. Saya menyadari bahwa istilah “luar” dan  “dalam” mengundang pertanyaan yang tak terbatas, dan pakar psikologi tidak akan mentolerir diskusi seperti ini; tapi saya pikir saya dan Mr. Murry bisa menyutujui bahwa pertentangan ini memadai, dan memaklumi ketidaksetujuan teman psikolog kami. Jadi, kalau Anda membayangkan sesuatu ada diluar sana, maka diluar lah ia. Kalau seseorang tertarik pada politik, saya pikir ia tentunya mengakui kepatuhannya pada prinsip-prinsip politik, atau pada bentuk pemerintahan, pada suatu monarki; dan kalau seseorang tertarik pada agama, maka punya agama lah ia, atau gereja; dan kalau ia tertarik pada sastra, ia tentu mengakui prinsip kepatuhan yang telah saya jelaskan sebelumnya. Namun, ada pilihannya, seperti yang dikatakan Mr. Murry. Menjadi “penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris, tidak mewarisi tradisi dari para pendahulunya, karena yang mereka wariskan hanyalah: suatu rasa, kepekaan bahwa pada usaha akhirnya, mereka harus bergantung pada suara dari dalam (the inner voice).” Pernyataan ini kelihatannya memang menyelesaikan beberapa permasalahan; pernyataan ini membanjiri Mr. Lloyd George dengan cahaya. Tapi kenapa “pada usaha akhir (in the last resort)?  Apakah ini berarti menghindari perintah suara terdalam keluar pada suatu kondisi ekstrim terakhir? Yang saya yakini adalah bahwa bagi siapa yang punya suara dari dalam ini cukup siap untuk mendengarkannya, dan tak akan mendengarkan yang lainnya lagi. Sebenarnya, suara dari dalam kedengarannya sangat sama dengan prinsip lama yang diformulasikan oleh kritikus senior (Matthew Arnold, 1869, dalam karyanya Culture and Anarchy) dalam satu frase yang akrab sekarang “melakukan sesuatu sebagaimana yang seseorang sukai”. Para pemilik suara dari dalam ini suka menonton pertandingan sepak bola di Swansea, sambil mendengarkan suara dari dalam, menghirup pesan abadi kesia-sian, ketakutan dan nafsu.

            Mr. Murry akan mengatakan, dengan menunjukkan suatu pembenaran, bahwa ini merupakan kesalahan penasiran yang parah. Ia mengatakan: “kalau mereka itu (penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris) menggali lagi lebih dalam dalam usaha mereka memperoleh pengetahuan diri (self-knowledge) -  semacam penggalian diri yang tidak hanya dengan intelek, tapi juga dengan keseluruhan manusia – mereka akan sampai pada suatu diri yang universal” –  tentunya berupa latihan yang jauh melebihi kekuatan dalam antusias menonton pertandingan sepak bola. Tapi menurut saya, ini adalah latihan yang cukup menarik untuk ditulis dalam beberapa buku panduan praktik Katolik. Namun saya yakin juga, bahwa praktisi Katolik, dengan kemungkinan pengecualian beberapa pelaku bid’ah, tidak meragukan Narcissi; karena dalam Katolik tidak mempercayai Tuhan dan dirinya identik. Mr. Murry menambahkan, “manusia yang betul-betul mempertanyakan dirinya pada akhirnya akan mendengarkan suara Tuhan”, Dalam teorinya, hal ini akan berujung pada suatu bentuk pantheisme (menyatunya Tuhan dengan ciptaanNya) yang saya tahu bukan khas Eropa – sama halnya dengan Mr. Murry yang mendukung bahwa aliran “Klasik” bukanlah Inggris. Demi hasil yang praktis, orang bisa saja mengacu pada sajak Hudibras (sajak panjang Samuel Butler, 1612-80, yang menyindir sekte sesat puritan).

            Saya rupanya tidak menyadari bahwa Mr. Murry adalah pengikut suatu sekte berpengaruh, sampai saya membaca kolom editorial harian besar yang mengatakan, “pakar jenius luar biasa dan representatif telah muncul di Inggris, mereka tidak hanya semata-mata ekspresi karakter Inggris, yang tetap berdiamdi dasar sana dengan teguh “humoris” dan “non-konformis”. Penulis ini setengah-setengah dala menggunakan sifat “semata-mata”, dan dengan jujur tanpa aling menyifatkan “kehumorisan” pada “unsur Teutonik dalam diri kita yang tak bisa diraih”. Ini mengejutkan saya karena Mr. Murry dan suara dari dalam lainnya, tidak satupun yang terlalu teguh atau terlalu toleran. Pertanyaannnya adalah, yang pertama, tidak akan alamiah atau biasa buat kita, jadi, apa itu yang benar? Tak satu pun dari keduanya yang lebih baik dari yang lainnya, atau kalau bukan begitu ini tidak penting. Tapi bagaimana bisa suatu pilihan tidak penting lagi? Pastinya ini adalah masalah asal usul ras, atau pernyataan yang tak lebih seperti Perancis begini, dan Inggris sebaliknya, ini tidak akan menjawab pertanyaan: pandangan antithesis mana yang benar? Dan saya tidak bisa memahami kenapa oposisi antara Klasik dan Romantisme seharusnya sudah cukup saja di negeri Latin (begitulah yang dikatakan Mr. Murry) dan yang sama sekali tidak penting buat kita. Karena, kalaupun Perancis secara alamiah bersifat klasikal, kenapa harus ada “oposisi” di Perancis sendiri, yang lebih banyak lagi di sini? Dan kalau Klasik tidak alamiah buat mereka, tapi sesuatu yang harus diraih, kenapa tidak diraih saja di sini? Apakah Perancis pada tahun 1600 bersifat klasikal, dan Inggris pada tahun yang sama bersifat romantis? Perbedaan yanglebih penting menurut saya yaitu Perancis pada tahun 1600 telah menulis prosa yang lebih matang.       


III


Diskusi ini kelihatannya sudah menyeret kita keluar dari jalur subjek tulisan ini. Tapi cukup beralasan untuk melihat perbandingan Mr. Murry tentang Otoritas Luar (Outside Authority) dengan Suara Dari Dalam (Inner Voice). Karena, bagi orang yang mematuhi (obey) suara dari dalam ini (barangkali, kata mematuhi/ obey tidak terlalu pas di sini), saya tida bisa bilang apa-apa lagi tentang kritik dan semuanya tidak akan bernilai lagi. Karena mereka tidak akan tertarik dengan usaha mencari prinsip yang sama untuk tujuan kritik. Buat apa prinsip, kalau sudah punya suara dari dalam? Kalau saya suka sesuatu, itu lah yang saya ingini; dan kalau Anda sudah merasa cukup, teriakkan bersama, sukailah itu, itulah yang Anda (yang tidak menyukainya) harus ingini. Mr. Clutton Brock (kritikus asal Inggris) bilang, bahwa hukum tentang seni semuanya adalah kasus hukum. Kita tidak hanya suka apapun yang kita ingin sukai tapi kita bisa menyukainya karena adanya alasan yang kita pilih. Kenyataannya, kita tidak menaruh perhatian pada kesempurnaan sastra sama sekali – karena pencarian kesempurnaan adalah pertanda kepicikan, karena ini menunjukkan bahwa penulis mengakui otoritas spiritual diluar dirinya yang tak terbantah, yang padanya ia selalu berusaha untuk berdamai (conform). Kita tidak tertarik pada seni sama sekali. Kita tidak akan menyembah tuhan Baal. “Prinsip kepemimpinan klasikal adalah bahwa penyembahan ditujukan untuk perkantoran, atau tradisi, tapi tidak untuk manusia”. Yang kita inginkan adalah manusia, bukan prinsip.

            Demikianlah sang suara dari dalam berbicara. Ini adalah suara, yang demi kenyamanan, kita beri nama saja, saran saya adalah, Whiggery (catatan penerjemah: Whiggery berasal dari kata Whig, pada abad 16-an Inggris, partai politik yang menentang Raja James, Duke of York yang Katolik sewaktu menaiki takhta. Partai ini mendorong pembatasan Monarki, mendorong reformasi sosial, Industrialisai, dan liberalisme)


IV


Sekarang kita tinggalkan mereka yang punya kepastian panggilan dan pilihan hidup (kalimat ini adalah alusi ironis doktrin penyelamatan Calvinis) dan kembali pada mereka yang dengan memalukan bergantung pada tradisi dan kumpulan kebijaksanaan kuno, dan  membatasi tulisan ini pada mereka yang saling bersimpati dalam diskusi yang rentan ini, ada baiknya kita mengomentari istilah “kritikal” dan “kreatif” oleh seorang yang tempatnya, secara keseluruhan, bersama perkumpulan persaudaraannya yang rentan, Matthew Arnold. Kelihatannya, ia terlau jauh membedakan kedua istilah ini: ia meninjau dengan luas pokok-pokok penting kritik dalam kegiatan kreasi itu sendiri. Barangkali memang, kegiatan yang lebih menyita pikiran penulis dalam menghasilkan karyanya adalah kegiatan mengkritisi itu, penyelidikan lebih dalam, penggabungan, usaha membangun ide, membuang ide yang tidak perlu, koreksi, dan pengujian: inilah seabrek kegiatan kritik dan kreatifitas. Saya tetap berpendapat bahwa kritik paling vital dan tertingi seharusnya dilakukan oleh penulis yang terlatih dan punya keahlian dalam pekerjaannya, dan (seperti yang sudah saya katakan sebelumnya) ada penulis kreatif yang lebih superior dibanding lainnya karena daya kritisnya memang superior. Ada kecenderungan, saya pikir ini kecenderungan Whiggery, untuk mencela usaha luar biasa seniman ini; dengan mengemukakan tesis, bahwa seniman hebat adalah seniman yang tidak berkesadaran, yang secara tidak sadar memberi label diri mereka dengan Terobosan Kekacauan (Muddle Through). Tapi diantara  kita yang tidak punya suara dari dalam (Inner Deaf Mutes), kadang terimbangi oleh suatu kesadaran sederhana, yang, meski tanpa kehebatan kata-kata agung, tetap menganjurkan kita untuk berbuat yang terbaik, mengingatkan kita bahwa karya kita harus sebisanya bebas dari cacat apapun. (untuk menebus kekurangan inspirasi mereka), pendek kata, hanya membuang-buang waktu saja. Kita sadar juga, bahwa diskriminasi kritis yang ditujukan pada kita hanya ada pada orang yang cepat sekali beruntung dalam suatu kreasi yang angat hebat; kita tidak berasumsi bahwa hanya karena suatu karya sudah ditulis tanpa adanya kritikan yang jelas, bukan berarti tidak ada usaha kritis yang telah dilakukan. Kita tidak tahu usaha sebelumnya yang telah dipersiapkan, atau yang sedang berlangsung, dalam cara kritis, sepanjang waktu dalam pikiran para pencipta ini.

            Tapi afirmasi ini membuat kita kecut juga. Jika begitu besar bagian dari suatu penciptaan yang juga masuk dalam kegiatan kritik, tidakkah bagian besar itu dinamakan “tulisan kreatif” betul-betul kreatif? Jika demikian, tidak adakah kritik yang kreatif dalam artian biasa? Kelihatannya tidak ada jawaban untuk ini. Saya mengajukan suatu aksiomatis bahwa suatu kreasi, karya seni, adalah bersifat autotelic, adanya tujuan jelas dalam dirinya, dan kritik, dilihat dari defenisinya, adalah tentang sesuatu yang lain darinya. Dengan begitu, anda tidak bisa menyatukan penciptaan dengan kritik sebagaimana Anda menggabungkan kritik dengan penciptaan. Aktifitas kritikal sampai pada pencapaian tertingginya, dalam suatu penyatuan penciptaan apa yang dilakukan seorang seniman.

            Namun begitu, tak seorang penulis pun yang bisa sepenuhnya bekerja sendiri, dan banyak penulis kreatif punya kegiatan kritis yang tidak sepenuhnya tertumpah pada karyanya sendiri. Ada yang menjaga daya kritis mereka dengan melakukan latihan tanpa aturan jelas; ada yang menyelesaikan karya mereka, ada yang terus melanjutkan kegiatan kritik mereka dengan selalu mengomentarinya. Tidak ada aturan umumnya. Karena setiap orang bisa belajar dari orang lain, dan mereka saling mengambil dan memberi. Bahkan ada yang sangat berguna bagi orang yang bukan penulis.

            Pada suatu waktu saya tergerak untuk mengambil suatu sikap bahwa kritik yang pantas untuk dibaca hanya kritik yang dipraktikan dengan baik, dengan selera seni yang mereka punya. Tapi perlu saya perjelas lagi, sebagaimana usaha saya dalam mencari suatu rumus yang mencakup semua yang ingin saya nyatakan, meski ini melebihi dari apa yang saya inginkan. Kualifikasi paling penting yang bisa saya temukan, menyangkut pentingnya kritik bagi para praktisinya, adalah bahwa suatu kritik harus punya kepekaan akan fakta yang dikembangkan dengan sangat tinggi. Ini tidak sepele dan semata masalah bakat. Ini bukan tentang seseorang yang dengan mudahnya mendapatkan pujian orang banyak. Kepekaan akan fakta (the sense of fact) adalah sesuatu yang sangat lambat berkembang, dan perkembangannya yang lengkap mungkin berarti puncak peradaban. Begitu banyak fakta lapangan yang harus dikuasai, dan fakta lapangan terluar kita, pengetahuan, kontrol, terikat dengan kesenangan yang mencandu dalam bidang yang jauh lebih luas lagi. Buat anggota Browning Study Circle, diskusi para penyair tentang puisi kelihatannya membosankan, teknikal, dan terbatas. Diskusi ini hanya berkisar pada praktisi yang mengklarifikasi dan mengurangi fakta yang membuat segalanya jadi kabur; karena teknik tak memadai yang dipakai, dan bagi yang telah menguasainya, inilah yamg membuat anggota diskusi senang, hanya yang ringkas, terlacak dan bisa dikendalikan. Itulah yang menjadi satu alasan nilai kritik dari para praktisinya – ia berurusan dengan fakta darinya, ia bisa membantu kita untuk mengerjakan hal yang sama.

            Pada tiap tingkatan kritik, saya menemukan kesamaan yang selalu hadir. Ada bagian besar tulisan kritikal yang merupakan “penafsiran” si penulis, suatu karya. Ini tidak berada dalam tingkatan Kegiatan Diskusi (Study Circle); ini kadang terjadi saat seseorang bisa mengerti yang lainnya, atau penulis kreatif, yang bisa ia berkomunikasi dengannya meski setengah-setengah, dan kita merasa ia benar dan memberikan pemahaman. Sulit menyatakan “penafsiran” dengan bukti luar. Bagi orang yang punya kemampuan pada tingkatan ini tentu akan menjadi bukti sendiri. Tapi siapa yang akan membuktikan keahliannya sendiri? Dan setiap kesuksesan untuk jenis tulisan ini, selalu ada ribuan banyaknya amatiran. Bukannya mendapatkan suatu pemahaman, tapi malah fiksi yang didapatkan. Jalan keluarnya adalah dengan cara aplikasi terus menerus, dengan cara pandang orisinil yang akan menuntun Anda. Namun begitu, tak ada seorangpun yang akan menjamin kompetensi Anda, inilah dilemanya.

            Kita harus memutuskan apa yang berguna dan yang tidak, meski kita tidak begitu ada kemampuan untuk melakukannya. Tapi cukup meyakinkan bahwa “penafsiran” (di sini saya tidak bermaksud menyentuh elemen jumlah baris dalam karya sastra) akan diakui kalau ia bukan penafsiran sama sekali, tapi hanya dengan meletakkan posisi pembaca sebagai pemilik fakta yang kalau tidak begitu ia akan kehilangan. Dari pengalaman saya di perkuliahan Ekstensi (kelas dewasa yang diadakan pada malam hari di perguruan tinggi), saya temukan ada dua cara bagaimana membimbing siswa untuk menyukai sesuatu dengan kesukaan yan benar: pertama dengan memperkenalkan pada mereka seleksi bacaan dengan fakta yang lebih sederhana – bisa itu kondisinya, setting, dan asal usul, kedua dengan memupuk mereka dengan bacaan bermutu sehingga mereka tidak akan berprasangka menentangnya. Banyak cara bagaimana membantu mereka dalam hal drama periode Elizabeth: seperti pembacaan dengan keras puisi T.E. Hulme yang berfungsi memberikan efek langsung puisi tersebut.

            Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan yang juga dijelaskan oleh Remy de Gourmont sebelum saya (seorang pakar tentang fakta, yang kadang-kadang saya khawatirkan, ia bergerak ke luar dari bidang sastra, seorang pakar ilusi fakta), perbandingan dan analisis adalah alat utama kritik. Memang, sebagai alat, yang mesti dirawat, dan tidak digunakan dalam penyelidikan novel Inggris. Perbandingan dan analisis tidak digunakan dengan kesuksesan yang menyolok oleh penulis kontemporer. Anda harus tahu apa yang dibanding, dan apa yang analisa. Mendiang Profesor (W.P) Ker adalah seorang yang ahli dalam cara ini. Perbandingan dan analisi hanya butuh bangkai mati di atas meja; tapi penafsiran selalu menghasilkan bagian-bagian tubuh dari kantongnya, dan membenarkannya kembali. Buku apa saja, esei, catatan dalam Notes and Queries, yang menghasilkan fakta bahkan dari bagian terendah sekalipun dari suatu karya seni yang malah lebih baik dibanding sembilan persepuluh jurnal kritik paling berpengaruh, atau dalam buku. Kita mengira bahwa kita adalah tuan, bukan budaknya fakta, dan kita tahu bahwa penemuan kertas tagihan cucian Shakespeare tidak akan berguna banyak buat kita; tapi kita harus selalu mempertahankan penilaian akhir seperti halnya kesia-sian penilitian yang telah menemukan kertas tagihan tersebut, dalam suatu kemungkinan bahwa ada orang jenius yang akan muncul dan tahu gunanya untuk menaruh kertas itu kembali. Titel, sesederhana apapun, ada haknya untuk itu, dan kita menganggap kita tahu bagaimana cara menggunakannya dan membuangnya. Proses perbanyakan buku kritik dan esei bisa saja menciptakan, dan saya sudah lihat hal ini terjadi, selera bacaan yang tidak sehat, dimana bacaan karya seni lebih diutamakan daipada membaca karya itu sendiri, hal ini bisa menjadi sekedar penyaluran pendapat daripada mendidik selera bacaan. Namun, fakta tidak bisa mengalahkan selera; pada tingkat paling parah, hal ini membuat selera pembaca tidak berkembang – seperti bacaan sejarah tentang yang antik-antik, biografi, - semua dibawah ilusi bahwa ini akan membantu yang lainnya. Orang yang paling parah dan korup di sini adalah orang yang kerjanya menyalurkan opini atau sekedar kesenangan; dan Goethe dan Coleridge juga termasuk – lihat saja karya Coleridge, Hamlet: jujurkah penyelidikannya sejauh data yang digunakannya, atau apakah ini hanya semacam usaha Coleridge untuk tampil dalam kostum yang centil menarik?

            Kita belum juga menemukan semacam tes yang bisa diaplikasikan orang lain; kita sudah membuka jalan selebar-lebarnya untuk melahirkan buku-buku yang tak terhitung banyaknya dan yang juga tidak bermutu; tapi saya pikir, kita sudah menemukan suatu tes, yang bagi siapa saja yang mampu menggunakannya, akan membuang bagian-bagiannya yang ada cacatnya. Dengan tes ini kita bisa kembali pada pernyataan awal tentang kebijakan sastra dan kritiknya. Untuk jenis karya kritik yang kita akui, ada kemungkinan kegiatan saling kerja sama, dengan kemungkinan lebih jauh lagi untuk sampai pada sesuatu di luar diri kita sendiri, yang untuk sementara waktu kita sebut kebenaran. Tapi kalau ada orang yang tidask puas karena saya belum memberikan defenisi kebenaran, atau fakta, atau realitas, saya hamya bisa mengatakan rasa maaf karena bukan itu tujuan saya, karena saya hanya mencari suatu skema yang di dalamnya, apapun itu adanya, mereka pantas untuk itu, jika memang mereka ada.




Catatan : penerjemahan esei T.S. Eliot ini berusaha mempertahankan gaya bahasanya yang kelihatan memang berbelit, kalimatnya banyak menggunakan anak-anak kalimat (sub-ordinate clause), penggunaan istilah sastra baku, dan kompleksnya tema yang diangkat.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar