Selasa, 09 Februari 2010

KEBOHONGAN YANG MENYELAMATKAN Dalam Film “The Invention of Lying”

Alangkah keringnya kenyataan hidup tanpa kata yang dipoles, ditambah atau dikurangi dari keadaan yang sebenarnya, begitulah kira-kira Oscar Wilde, sastrawan Inggris akhir abad ke-20 pernah berkata. Kenyataan hidup sering atau mungkin selalu pahit, terombang-ambing tanpa tujuan, tidak enak dipandang, atau jelek. Lalu bagaimana menghadapinya? Lebih lanjut Oscar Wilde mengatakan bahwa berbohong, mengatakan sesuatu yang tidak benar dengan indah, adalah tujuan utama dari suatu seni, seni hidup, seni untuk hidup.

Tapi misalkan begini! Bagaimana kalau manusia hanya bisa berkata yang benar-benar saja? Semua yang bisa dikatakan hanyalah kebenaran semata? Tidak ada kebohongan dan kecurangan? Manusia mengutarakan dengan jujur apa yang ada dibenaknya dan apa yang dia rasa? Tidak ada rasa malu, semua orang menerima apa adanya suatu keadaan? Bayangkan saja kalau anda bertubuh besar dan ada teman anda bilang anda sangat gemuk seperti kerbau, muka anda jerawatan penuh bisul menjijikkan,  Anda hanya bisa menjawab, ya, saya memang demikian adanya, anda tidak malu mengakuinya. Atau kalau anda seorang pejabat, anda ditanya sudah berapa banyak uang rakyat yang anda telan lantas anda jawab sudah banyak sekali tak terhitung, tolong penjarakan saya! Dan seterusnya…

Inilah yang digambarkan film The Invention of Lying (Penemuan Kebohongan), diperankan oleh aktor komikal Inggris Ricky Gervais yang sekaligus sutradara. Film ini mengangkat dan memutabalikkan dunia menjadi sebuah kelucuan yang ganjil, menjadi suatu komedi satir tajam atas dunia nyata. Kenyataan paralel dalam film ini adalah sebuah dunia yang mempostulatkan setiap manusia yang ada di sana hanya mengatakan kebenaran, sepenuh-penuhnya kebenaran, tanpa kebohongan secuilpun.

Film dengan tema yang sama pernah ada sebelumnya, dalam “Liar, Liar” (1997), yang menampilkan Jim Carrey sebagai pegacara, lawyer, yang kalau dibaca hampir sama bunyinya dengan liar, pembohong. Dalam film ini, dunia nyata ditampilkan apa adanya, bahwa manusia dalam bermasyarakat terjebak tak terhindar dalam kebohongan, ketidak-jujuran, keculasan, pemutar-balikan fakta. Dan, Jim Carrey disini, karena permohonan anaknya waktu ulang tahun, ingin ayahnya tidak bisa berkata bohong dalam satu hari, sekecil apapun. Dan segala macam kebenaran muncul di tengah kebohongan hidup, ditambah dengan adegan slapstick ciri khas Jim Carrey, maka muncullah kebenaran hidup yang ditertwakan. Tapi dalam film The Invention of Lying ini, situasinya terbalik total.

Film ini diawali oleh narasi Mark dengan memberitahu pada penonton bahwa dunia yang didiaminya adalah sebuah kota dimana semua orang selalu mengatakan kebenaran apa adanya. Kebohongan tidak ada, belum ditemukan. Kebenaran ditelanjangi bulat-bulat, bahkan tidak menyisakan imajinasi sedikitpun untuk menyimpangkan suatu fakta.
Bahasa verbal dalam berinteraksi sesama manusianya blak-blakan. Mark, yang bekerja sebagai seorang penulis script-writer di perusahaan film, dikatakan oleh koleganya sebagai pecundang gendut berhidung besar. Ketika menjemput Anna di apartemen untuk blind date, (diperankan oleh Jeniffer Garner), begitu membuka pintu, Anna dengan tanpa malu mengatakan bahwa ia baru saja masturbasi. Dengan kikuk, Mark membalas dengan mengatakan kegiatan Anna itu membuatnya memikirkan tentang vaginanya. Keterus-terangan membicarakan hal-hal privasi pun dibeberkan dalam film ini. Saat di restoran yang tidak begitu mewah, Anna tanpa aling-aling mengatakan Mark bukan lelaki yang se-level dengannya, karena alasan fisik dan keuangan.

Tapi semua menjadi berubah drastis, bahkan revolusionis, dimulai saat Mark Bellison (Ricky Gervais) tanpa sengaja “menemukan” kebohongan kecil, yang terus bergulir diikuti dengan kebohongan yang lebih besar lagi. Eksplorasi kebohongan-kebohongan ini malah memuncak pada pembentukan keseluruhan sistem kepercayaan agama.

Ketelanjangan fakta dipertontonkan ke semua bidang kehidupan dalam film ini, media komunikasi TV, iklan, dan semua yang berbau budaya pop. Kita tidak menemukan bahasa iklan seperti di dunia nyata, lihat saja begitu sederhananya iklan Coke, “It Is Very Famous” (Coke Sangat Terkenal), atau “I am asking you to not buying Coke” (Saya Minta Anda Tidak Membeli Coke) dan Pepsi rivalnya dengan jujur beriklan, “When They Don’t Have Coke” (Kalau Lagi Tidak Ada Coke). Acara TV juga di isi dengan keterus-terangan berita yang terdengar menggelikan, malah menyakitkan. Penggunaan bahasa untuk nama-nama tempat juga tanpa penggunaan gaya bahasa yang diperhalus. Lihat saja tempat nama yang digunakan untuk panti jompo, “A Sad Place For Hopeless Old People”(Tempat Menyedihkan Untuk Orang-Orang Yang Tak Ada Harapan). Semua kejujuran ini menggelikan, tapi juga menyakitkan, dan merendahkan.

Kebongan pertama terjadi tanpa disengaja Mark saat ia menarik uangnya yang tidak seberapa di bank dengan menyebutkan jumlah uang yang melebihi dari apa yang ia punya. Si karyawan bank bukannya memarahi Mark tapi mengatakan kesalahan mungkin pada pencatatan komputer dan ia minta maaf untuk itu. Penemuan kebohongan pertama ini memicu Mark melakukan kebohongan-kebohongan lainnya demi apa yang menurutnya benar. Mark menemukan sesuatu yang sebenarnya tidak begitu adanya.

Dari sini, permainan kebohongan mulai. Mark dengan imajinasi suka-suka menciptakan skrip film yang katanya berdasarkan kisah nyata (based on true story), dan ia meraih sukses besar dengan karyanya ini. Tidak seorangpun yang meragukan kebenarannya. Ia bahkan bisa bilang bahwa ia berkulit hitam, dan yang mendengar hanya bilang, “ya, memang, aku tahu itu”. Dengan manipulasi fakta, Mark bisa mengajak orang yang belum ia kenal untuk berhubungan seks, meski akhirnya ia tidak melakukannya.

Film ini juga mengangkat tema filosofis dan teologis kering yang sangat bernuansa eksistensialis modern. Keberadaan manusia di dunia terasa mengambang tanpa tujuan yang jelas. Kematian tidak punya makna apa-apa bagi eksistensi manusia, karena begitu maut tiba, eksistensi pun selesai. Kematian berganti menjad ketidak-ada-an yang absurd, “nothingness”, begitulah Sartre membeberkan kodisi manusia. Untuk menenangkan ibunya yang sakit parah dan tak tertolong lagi di rumah panti jompo, Mark berusaha meyakinkan ibunya bahwa kematian bukan berarti ketiadaan yang sia-sia. Mark “mengantarkan kepergian” ibunya dengan mengatakan setelah kematian, ibunya akan tetap melanjutkan kehidupan dan kebahagiaan luar biasa, di sana ada rumah mewah yang pernah ada dalam pikiran ibunya. Penemuan sorga bikinan Mark didengar oleh beberapa dokter dan perawat di rumah jompo dan menyebar, bahkan sampai diberitakan dalam TV.       

Dari lokal sampai mengglobal, menggelindinglah berita ini kemana-mana dan menjadikan Mark sebagai figur sang Pembawa Berita Dari Dunia lain. Di sini Mark tampil sebagai figur Nabi Musa, atau John si Pembabtis. Bedanya, dulu, orang-orang percaya apa yang diwahyukan Nabi mereka, sedangkan pada Mark hanya mengarang-ngarang saja. Mark mewartakan bahwa kehidupan dan takdir manusia diatur oleh “a mysterious man in the sky”. The Ten Commandment (Sepuluh Perintah, Kitab Taurat yang diturunkan pada Nabi Musa) ala Mark  ditulis tergesa-gesa di atas kotak pizza demi memenuhi keinginan khalayak ramai tentang apa yang harus mereka lakukan di dunia. Entah ini lucu atau olok-olok sindiran tajam buat sistem Agama, dengan mengangkat kotak Pizza, Mark bersabda, “Segala sesuatu yang kalian butuhkan tertulis di kotak pizza ini”. Mark juga mewartakan bahwa kehidupan dan takdir manusia diatur oleh “a mysterious man in the sky”. Kelihatannya masuk akal sekali Gervais di sini menggunakan film ini untuk membuat gurauan tajam dan kelihatan merendahkan (mockery) tentang aspek spiritual manusia modern  yang begitu kering, haus ingin dipuaskan, meski dengan kebohongan.
Dengan “The Invention of Lying”, aktor, penulis skrip dan sutradara film ini berhasil melahirkan suatu komedi satir tajam tentang dunia yang diputar-balikkan. Gervais juga berhasil menggabungkan tema religiositas dalam kehidupan budaya popular.
(belum terbit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar