Bayangkan, kalau Anda bisa, anak-cucu pasukan khusus S.S Nazi bercerita dari sudut pandang mereka. Anak keturunan para pengikut penjahat perang sistematis ala Nazi, seperti yang tergambar dalam film Schlinder Lists, meminta dunia untuk memaafkan dan mengasihani orang tua mereka yang berpartisipasi dalam dehumanisasi (genocide) pembunuhan massal ribuan orang Yahudi di Eropa selama masa Perang Dunia ke 2.
Itulah inti dari film The Reader. Bagi para survivor, orang Yahudi yang selamat dari perisiwa tidak masuk akal (absurd) ini, tentu tidak pernah bisa melupakan dan memaafkannya begitu saja. Namun, bagi generasi Yahudi diaspora pertama setelah Perang Dunia ke-2 dan seterusnya peristiwa tragis yang menimpa orang tua mereka ini tidak begitu terikat lagi. Keterikatan mereka hanya karena mereka menyandang nama Yahudi dari orang tua mereka. Film The Reader pun hadir dengan latar kekejaman Holocaust yang dipilin dengan adegan menyentuh emosi yang membuat air mata tanpa sadar menetes menaruh rasa iba pada bekas penjaga camp tahanan Yahudi. Maka terbaliklah stereotip film-film dengan tema kekejaman Nazi terhadap Yahudi (Holocaust).
Lima Nominasi Oscar 2008 termasuk kategori The Best Picture akhirnya diraih film ini. Kesuksesan film ini menyiratkan bahwa kebanyakan penonton hanyut terbawa emosi dan menaruh rasa kasihan terhadap si penjaga camp tahanan yang tidak tahu apa yang sebenarnya yang telah ia lakukan. Inilah yang membuat cerita dalam film ini menarik, menjadi titik balik dalam budaya populer, sebagai suatu permulaan untuk memaafkan kalau bukan mengampuni rasa salah kolektif pemerintahan Nazi pimpinan Hitler Jerman.
The Reader dibintangi oleh Kate Winslet sebagai Hanna Scmitz dan Ralph Fiennes sebagai Michael Berg, kekasih masa remaja Hanna, dan juga sebagai pencerita dalam film ini. Penampilan mereka luar biasa menjiwai, meski Ralph Fiennes kelihatan lebih bagus bermain dalam The English Patient, The End of the Affair, atau The Constant Gardener. Tapi Winslet berperan sangat orisinil, sangat matang, berkarakter mengagumkan, melebihi perannya dalam Titanic. Apalagi film ini disutradarai Stephen Daldry yang juga meraih Nominasi The Best Director.
Ide cerita dalam film ini mengangkat kasus hukuman penjahat perang, dengan memasukkan elemen emosi dan mental untuk menemukan rasa kebersalahan. Skenario film bergerak bukan saja dengan cara menghadirkan latihan bagaimana memecahkan masalah pelik dalam kasus hukum dan proses pengadilan. Yang menarik lagi secara psikologi adalah film ini memasukkan teknik Bildungsroman. Cara bercerita ini biasanya terdapat dalam novel (karena memang film ini diangkat dari novel seorang penulis yang juga profesor dalam bidan hukum), tentang masa kehidupan proses pendewasaan seorang remaja, tahun-tahun masa pembentukan menjadi dewasa, secara seksual, mental dan cara pikir. Dengan teknik kilas balik (flashback), berceritalah tokoh Michael dewasa pada putrinya, kembali ke 1958 saat ia bertemu Hanna, seorang perempuan Jerman misterius berumur dua kali Michael, yang dengannya lah Michael terlibat dalam hubungan asmara yang mendalam.
Michael remaja, anak seorang profesor filsafat, adalah seorang siswa yang sering kikuk tapi sangat pintar. Hanna berasal dari keluarga petani, dan ia buta huruf. Pada umur 16, Hanna ke Berlin bekerja di pabrik, umur 21 ia ikut ketentaraan, dan pada masa-masa akhir perang dunia ke-2 ia bekerja diberbagai tempat. Saat Michael bertemu dengan Hanna, ia bekerja sebagai kondektur kereta api. Karena Michael menderita hepatitis, saat pulang dari sekolah ia muntah-muntah di gang kecil dekat apartemen Hanna. Hanna menolongnya dan membersihkan bekas muntah Michael di gang tersebut. Dua minggu kemudian, Michael menghaturkan terima kasih pada Hanna dengan membawa bunga ke apartemen Hanna. Di sinilah, Michael mulai merasa tertarik secara seksual pada Hanna, yang buat Hanna sendiri, ia terima, bahkan di sini malah Hanna yang memamfaatkan Michael.
Hanna mengerti dengan Michael sebagai remaja yang baru memasuki dunia orang dewasa, dan bisa dikatakan bahwa pada Hanna lah Michael “belajar secara praktik” tentang hubungan seksual. Rentetan hubungan ini tidak hanya sebagai suatu kesenangan biologis buat mereka, khususnya Hanna. Meski kelihatan Hanna tidak berpendidikan dan tidak bisa membaca (yang saat itu Michael remaja belum sadari), tapi ia punya selera rasa sastra yang tinggi. Sebelum atau sesudah mereka berhubungan seks, Hanna selalu meminta Michael membacakan karya sastra terkenal dunia seperti War and Peace-nya Tolstoy, Homerus, Goethe, dan banyak lagi. Dari mendengar bacaan sastra ini, Hanna mendapat pelajaran, bahwa, salah satu nilai utama dalam sastra adalah dengan menyatakan kebenaran tentang keadaan manusia.
Sulit dipercaya bagaimana karakter Hanna yang begitu murni, naif, halus sensitif, “membumi”, ternyata bekas penjaga camp tahanan Yahudi selama perang dunia kedua. Michael yang telah begitu terlanjur menyukai Hanna sangat terpukul sekaligus tidak bisa melupakan Hanna. Sebagai siswa yang mendalami bidang hukum, disinilah pertentangan batin Michael muncul. Hanna menyadari hal itu, dan ia pun menghilang meninggalkan Michael. Dampak menghindarnya Hanna dari Michael sangat besar dalam diri Michael.
Di satu sisi, hubungan intens yang telah mereka jalani meninggalkan bekas dan lubang kelam dalam diri Michael. Di sisi lainnya, Michael juga menyadari Hanna adalah bekas penjaga camp Auscwitz yang membunuh ribuan Yahudi, yang mencoreng muka Michael karena rasa malu. Setelah menyaksikan sendiri pengadilan bekas penjaga Auswich termasuk Hanna, akhirnya Michael malah memaafkan apa yang telah dilakukan Hanna, karena Michael yakin Hanna tidak pernah bermaksud membunuh mereka. Hanna hanya terjebak dalam situasi sistematis yang ia tidak bisa hindari. Inilah kesimpulan yang Michael ambil setelah Hanna diadili di pengadilan penjahat perang dan dihukum penjara selama tiga puluh tahun.
Jerman terkenal dengan nama Fatherland, tanah air Jerman yang patriarkat. Negeri yang dikuasai dan diperintah oleh kekuasaan Rejim Reich ini meninggalkan rasa bersalah dan dosa besar selama Perang Dunia Kedua. Hanna adalah simbol dari Jerman Motherland, tanah air, ibu pertiwi yang mendapatkan warisan rasa bersalah dan dosa besar pemerintahan Hitler. Hanna, si ibu pertiwi Jerman menjadi korban yang harus ia pertanggungjawabkan atas dosa penguasa Fatherland. Michael adalah anak generasi paska-perang yang butuh memberi maaf pada orang tua mereka. Karena, akankah mereka terus menolak memaafkan sedangkan mereka tetap terikat dengan darah orang tua mereka? Inilah yang dituju dalam film The Reader, memaafkan ibu pertiwi Jerman, dan tentunya bagi yang tidak bisa memaafkan, film ini tentu sangat pahit untuk ditelan.
Hanna seorang perempuan tangguh dengan integritas tinggi pada pekerjaannya. Ketika di pengadilan ia disuruh menceritakan kenapa ia melakukan pekerjaannya, Hanna menjawab: “Lalu suara teriak pedih terdengar semakin menyakitkan. Kalau kami buka pintu itu mereka semua pasti berhamburan keluar…..kami tentu tidak bisa melanggar aturan?...kami tentu tidak bisa saja membiarkan mereka kabur!..”Kita bisa menilai Hanna bahwa ia sangat dedikasi terhadap pekerjaannya, lebih mematuhi aturan daripada kepeduliannya terhadap kemanusiaan. Tindakannya adalah ketidakpedulian moral yang tertekan oleh kepatuhan total suatu aturan yang absurd tak manusiawi.
Penampilan Winslet meyakinkan kita bahwa Hanna masih tidak tahu kalau yang telah dilakukannya saat menjadi penjaga camp tahanan adalah kesalahan. Bertahun kemudian saat Hanna di dalam penjara, ketika ia telah bisa membaca dan menulis, barulah ia menyadari dan mengerti tentang kejahatan Holocaust dan perannya saat itu. Menarik sekali bagaimana usaha Michael untuk menghibur dan menemani Hanna dalam penjara. Michael membaca karya-karya sastra dunia, merekam dan mengirimkan rekaman itu ke Hanna, sampai akhirnya Hanna tergerak untuk belajar membaca dan menulis sendiri.
Di penghujung tiga puluh tahun masa akhir tahanan Hanna, Michael menemui Hanna dan Hanna meminta memberikan tabungannya pada seorang perempuan Yahudi di New York , sebagai tanda permintaan maaf yang tentu saja ditolak. Hanna yang akan keluar bebas dari penjara tidak tahu apa yang akan dilakukannya nanti, karena dunia yang dihadapinya sangat berbeda. Hanna yang merasa tidak terampuni akhirnya bunuh diri di saat ia bebas dari penjara. Tidak ada kemungkinan untuk dimaafkan lagi buat Hanna.
Michael adalah anak generasi pertama setelah Perang Dunia Kedua. Diakhir film, Michael menceritakan semua hal ini pada putrinya yang sudah dewasa meminta pengertian pada putrinya kenapa hidupnya begitu muram, berpisah dengan istrinya dan tidak bisa melupakan Hanna, sang Motherland korban kekejaman tirani Fatherland.
Kita bisa merasa semacam penyembuhan, atau sebentuk penebusan kesalahan yang tak terkira. Ada suara sentimentil lengking begitu dalam karena rasa bersalah dalam film ini.
(belum terbit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar