Jumat, 22 Januari 2010

HOME: KRISIS EKOLOGI GLOBAL DAN HARAPAN

Tolong, dengarlah aku! Kalian sama seperti aku, Homo Sapiens, manusia berpikir lagi bijak. Kehidupan, keajaiban di semesta raya, muncul 4 milyar tahun yang lalu, dan kita manusia, baru 200 ribu tahun yang lalu. Tapi, kita malah telah mengganggu keseimbangan hidup, yang begitu penting untuk kehidupan.

Tolong, betul-betul dengarlah cerita luar biasa ini, cerita tentang kalian, dan putuskan, apa yang akan kalian lakukan nantinya!

(Prolog film dokumenter HOME)

Demam kiamat Film 2012 garapan sutradara Roland Emmerich sedang melanda dunia dengan berbagai respon dan kontroversi yang mengikutinya. Kita pun diingatkan dengan film dokumenter tentang kerusakan bumi yang sangat pantas untuk ditonton, HOME.

Satu dekade belakangan sampai sekarang, para pemimpin dunia disibukkan dengan masalah krisis lingkungan yang telah mengglobal ini. Tidakkah ini mengkhawatirkan, tidak terhitung bencana alam sudah terjadi karena campur tangan tidak bertanggungjawab manusia, polusi, semakin sedikitnya lahan subur yang bisa ditanam, penggundulan hutan untuk diambil pohonnya dan pembukaan lahan baru, krisis kekurangan air bersih, kemarau yang berkepanjangan, perubahan cuaca yang tidak bisa diduga lagi, pemanasan suhu dan memucak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Mantan Wakil Presiden Amerika Al Gore setelah kekalahannya pada pemilu 2000 mengalihkan perhatian dan usahanya dalam menyelamatkan bumi dari masalah lingkungan yang sudah parah ini. Al Gore tampil di film dokumenter An Incoveniet Truth dengan menampilkan potret isu pemanasan global. Masalah global yang oleh para ilmuwan telah peringatkan tentang krisis ekologi bahwa kemanusiaan sedang menunggu detik-detik terakhir bom waktu raksasa bumi. Kemanusiaan yang telah mengganggu keseimbangan hidup di bumi yang dibangun oleh 4 milyar tahun evolusi. HOME adalah kampanye harapan bumi yang sedang mengkhawatirkan.

Tentang Film Domumentasi HOME

HOME adalah film dokumenter arahan sutradara Perancis Yann Arthus-Bertrand dan Luc Besson. Film produksi Eurocorp berdurasi 1 ½ jam versi free-release dan 2 jam theatre-release, dengan teknik pengambilan gambar aerial shots, penonton diajak terbang tinggi ke angkasa menikmati pesona bumi lebih dari 50 negeri (termasuk Indonesia, menyoroti kebakaran dan semakin berkurangnya hutan di Kalimantan, jantung bumi) yang luar biasa mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan.

Film ini memperlihatkan keragaman makhluk hidup di bumi dan bagaimana homo sapiens, dominasi spesies manusia mengganggu keseimbangan ekologis di bumi, planet yang sampai sekarang diyakini satu-satunya menampung kehidupan. Di release pada 5 juni 2009 yang lalu, bertepatan dengan World Environment Day, Hari Lingkungan Hidup, diputar di bioskop seluruh dunia, no copyright – gratis, dapat langsung di download lewat www.home.com.

HOME mendokumentasikan secara kronologis perkembangan kehidupan di bumi dari awal sampai sekarang dengan segala kerusakan dan krisis lingkungan global serta dampak kehancurannya di masa mendatang. Dari awal sampai akhir, artis senior Holywood, Glenn Close, si narator, bertutur dengan suara lembut meyakinkan penuh harap tentang “Linkage” . Kesaling-terikatan, bagaimana keseimbangan hidup semua organisme dan dunia yang saling terkait, sekecil apa pun organisme itu namun berperan krusial, bahwa tidak satu oraganisme pun yang bisa terlepas dari mata rantai ikatan ini, inilah tema yang diusung.

HOME: Fakta yang mengkhawatirkan

Diawali dengan visualisasi lanskap volcano yang menakjubkan, menyusuri jejak asal mula kehidupan. Rekaman kumpulan asap dari perut bumi menawarkan kilasan pandangan seperti apa bumi atmosfir bumi purba dulunya. Sekitar 15 menit awal, digambarkan dengan tuturan narator tentang asal usul kehidupan sel purba, dari archeobacteria, dan algae biru hijau, yang berevolusi dengan bantuan fotosintesis menjadi spesies tumbuhan, yang membutuhkan waktu 4 milyar tahun.Diikuti dengan munculnya spesies hewan, yang beradaptasi dengan lingkungan dan lingkungan juga beradaptasi dalam hubungan yang saing menguntungkan.

Dari sini melompati misteri bagaimana manusia tercipta, 200 ribu tahun yang lalu, tentu disengaja untuk menghindari debat dua kubu Kreasionis dan Evolusionis. Dari masyarakat nomadik primitif yang berburu untuk bertahan hidup, 180 ribu tahun yang lalu, mereka mulai menetap dan mengenal pertanian dan cocok tanam. Mereka membangun tempat tinggal di dekat perairan, sungai dan danau. Dengan cara hidup agraris awal, mereka mulai menaklukkan hewan sebagai alat transportasi dan daerah baru. Sekitar 10 ribu tahun yang lalu, penemuan agrikultur mengawali revolusi pertama manusia yang hebat menghasilkan kota dan peradaban.

Gambar-gambar film terus bergerak memperlihatkan perkembangan manusia, berkat kejeniusannya, kerja tenaga otot digantikan oleh mesin. Tenaga yang terkubur di dalam bumi dikeluarkan, batubara, gas, dan minyak. Dari sini, mulai lah era baru manusia, yang bebas dari rantai waktu. Semua atas nama progress, kemajuan masyarakat modern, dengan perkembangan kota besar, gedung-gedung pencakar langit, megacity, megalopolis seperti New York, Las Vegas, Los Angeles di Amerika, Shenzen dan Shanghai, China, Mumbay di India, Dubai di Mesir, dan banyak lagi. Semua menjadi berubah dengan sangat cepat.

Dipertengahan film, mulai lah dipertontonkan kerusakan, kesenjangan antara kemajuan dan dampak yang timbul terhadap alam, manusia, hewan, dan tanaman. Pemandangan mengkhawatirkan kerusakan alam ini terjadi di berbagai belahan bumi. Perluasan lahan pertanian dengan perambahan dan kebakaran hutan. Pesawat khusus pertanian yang menghujani lahan dengan pestisida. Hasil pertanian yang diangkut ke lahan peternakan penggemukan sapi yang tidak lagi memakan rumput tapi hasil panen gandum dan kacang kedelai. Eksploitasi mineral. Hilangnya humus dan erosi tanah Kelangkaan air bersih dan makanan. Migrasi manusia ke daerah perkotaan. Kesenjangan sosial di negara berkembang yang kaya sumber daya alam . Krisi energi dan pemakaian energi listrik di berbagai kota besar dunia. Lahan pertanian kosong tak terurus. Migrasi hewan-hewan tidak pada musimnya. Perubahan cuaca tak terduga. Banjir dan kekeringan. Bencana alam tak terduga. Pola hidup konsumerisme dan penghambur-hamburan energi listrik di kota-kota besar. Kenaikan permukaan air laut yang cukup drastis. Memuncak pada krisis karbon dan pemanasan global.

Visualisasi fakta kerusakan dan krisis lingkungan ini diselingi dengan munculnya tulisan dilayar film berupa data-data yang membuat kita terenyuh sedih dan berkata pada diri sendiri, “Sudah begini parah kah kerusakan bumi ini? Apa yang sudah kita lakukan pada bumi ini?” Bayangkan ini.

  • 1 milyar penduduk bumi tidak mendapatkan akses air minum bersih, dan 5000 orang meninggal karena tidak mengkonsumsi air bersih,
  • 1 milyar penduduk bumi kelaparan dan kurang gizi,
  • Lebih dari 50% hasil panen tanaman seperti kedelai dan gandum diperdagangkan di seluruh dunia untuk pakan penggemukan hewan atau biofuel,
  • Pemerintahan di berbagai negara menghabiskan pengeluaran militer 12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bantuan untuk negara terbelakang,
  • 40% lahan tanah tanaman terancam rusak karena penggunaan pestisida,
  • Setiap tahun, 13 juta hektar hutan hilang,
  • 1 dari 4 mamalia, 1 dari 8 burung, 1 dari 3 amfibi, terancam punah,
  • ¾ perairan untuk menangkap ikan terancam aus, dan habis,
  • Suhu rata-rata 15 tahun terakhir mencapai puncak tertinggi yang pernah terjadi,
  • Lapisan es kutub yang mencair 40% dibanding 40 tahun yang lalu,

HOME: Harapan

Begitu mahalnya harga yang harus dibayar atas apa yang sudah manusia lakukan pada bumi, but it’s too late to be a pessimist, terlambat sudah menjadi pesimis, begitu narator di bagian akhir mengajak. Sebuah sikap optimis di tengah-tengah berbagai kompleksitas masalah lingkungan. Kemanusiaan harus penuh harap dengan merubah cara pandang dan perilaku terhadap alam.

Kemanusiaan yang menjarah alam seperti memperkosa prostitusi harus dihentikan. Merubah pola hidup konsumtif. Daur ulang dan Inovasi pencarian sumber energi yang berkelanjutan. Konservasi alam dan Reboisasi. Kemanusiaan yang berusaha mengembalikan keseimbangan hidup dan menjalin hubungan yang “ramah” lingkungan alam demi menjaga harmoni kelangsungan hidup bersama di bumi.

Dari awal sampai akhir film, tidak sekali pun narator menyebut kata Tuhan. Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan segala kerusakan yang terjadi, karena memang semuanya adalah karena ulah manusia sendiri. Namun begitu, ada terasa nuansa religiusitas yang dalam dan menyeluruh dalam tema “linkage” , saling keterikatan semua hal. Bisa juga ini menunjukkan ketidakmampuan, atau tidak adanya peran agama-agama besar, yang terjebak dalam Teologi Ortodoks yang kelihatannya tidak mampu menyikapi permasalahan lingkungan. Makanya belakangan muncul Teologi Lingkungan yang diharapkan bisa memberikan sumbangannya dalam menanggulangi masalah lingkungan.

Kritik atas modernisme tentu menjadi bidikan film ini. Dari abad 15, gejala cara pandang Cartesian dengan cogito ergo sum, manusia meraih kebebasannya menjadi subjek bagi dirinya sendiri dan menjadikan alam sebagai objek. Industrialisasi, Progress dan Kapitalisme pun menjadi mesin kehidupan masyarakat modern yang memperlakukan alam seenaknya tanpa diikuti tanggungjawab. Ayu Utami dalam novel Bilangan Fu, dengan sikap kritis memperlihatkan permasalahan ini dengan begitu menyeluruh dalam konteks Indonesia dan Jawa, dalam cara pandang Post-Modernisme terhadap agama-agama Monoteis besar, Modernisme dan Militerisme.

Bumi dan kemanusiaan tetap ada harapan. Dibutuhkan kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan, linkage. Bagaimana kesadaran dan tanggungjawab global ini tumbuh butuh peran dari semua pihak dan individu. Dibutuhkan hubungan yang adil dan harmonis antara negara maju dan berkembang yang saling memberi dan menguntungkan. Pemerintah dengan kebijakan ekonomi yang bijak tanpa harus terus menggerus sumber daya alam yang bakal habis dan mendorong inovasi sumber daya alam dan energi yang bisa diperbaharui. LSM yang betul-betul mendorong pemberdayaan manusia. Individu-individu yang berkesadaran global dan berperilaku ramah lingkungan, to act locally and to think globaly.

Jostein Gaarder, dalam novelnya Maya, mewartakan: “Manusia mungkin adalah satu-satunya makhluk hidup di seluruh alam semesta yang memiliki kesadaran akan alam semesta. Maka melindungi lingkungan hidup di planet ini bukanlah hanya sebuah tanggungjawab global, melainkan merupakan tangungjawab kosmos”

(belum diterbitkan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar