“Inilah impianku/Inilah keyakinanku/Dunia sebagai semayam humanitas/Jikalah kita bisa mengangkat cinta ke maqam yang paling tinggi/Melebihi dari apa yang dunia pernah lihat”
(I have this dream/This I believe/The world a place for all humanity/If we could take love to its highest level/More than the world has ever seen) (I have this dream, Michael Jackson)
Semua anak tumbuh dewasa, kecuali Peter Pan. Ia tinggal dengan teman-temannya di negeri fantasi antah berantah Neverland. Dengan hanya memikirkan hal-hal yang indah menggembirakan, ia bisa terbang kemana ia suka. Bertualang, bermain, dunia peri, suku Indian, dan adu pedang dengan perompak Kapten Hook.
Begitulah J.M. Barry (1860-1937), seorang dramawan dan novelis Inggris menciptakan tokoh anak yang tidak mau dewasa dalam karyanya Peter Pan and Wendy, sebuah gambaran fantasi dunia anak. Michael Jackson adalah Peter Pan, yang menjadikan negeri antah berantah tersebut menjadi nyata di taman bermain Neverland Ranch-nya. Tapi Peter Pan bukan Michael Jackson, karena Peter Pan tidak suka menkonsumsi segala macam obat, dan ia tidak bisa mati.
Akhirnya sang Mega Bintang itu betul-betul telah pergi jauh. Meninggalkan kehidupan fana dan “dunia privasi” yang tercipta karena ekspose paparazzi berbagai media, dan yang Michael ciptakan sendiri. Harga suatu ketenaran atas sederet prediket yang melekat pada dirinya, atau segala kontroversi tentang dirinya harus ia bayar dengan masuk ke dunianya sendiri. Menghindari dunia di luar dunianya. Dalam lagu Destiny, Michael bersenandung sedih, “…aku ingin meninggalkan semua ini/ haruskah aku terbang bebas lepas kesana?” (I wanna be far from here/ should I up and fly away so fancy free?).
Dari masa kecil sampai maut merebutnya, Michael Joseph Jackson menjadi simbol pencapaian excellence dan self-expression seorang seniman yang memadukan fokus dan talenta untuk ide kesempurnaan berkarya. Berbagai penghargaan di bidang seni musik diraihnya menjadi saksi atas kejeniusan. Terlepas dari semua kontroversi dan skandal yang melingkupinya, Michael Jackson adalah seorang humanitarian, philanthropist, seorang dermawan yang sangat peka dan sensitif terhadap penderitaan orang lain, khususnya anak-anak yang tidak beruntung, tanpa pandang ras atau agama. Aspek dunia anak dan humanitas Michael banyak sekali ditemukan dalam lirik lagu dan tindak tanduknya. Pada 1992, Doubleday menerbitkan biografi Michael, Dancing The Dreams: Poems and Reflections, berisi kumpulan esei dan puisi – hasil observasi dan pemahaman Michael tentang kehidupan, dunia anak, humanis, dan Tuhan. Berbagai penghargaan di bidang kemanusiaan diberikan untuknya karena kedermawanannya, Organisasi atau Yayasan Kemanusiaan yang ia prakarsai. Terakhir pada 2008 ia dianugerahi Mother Theresa Award.
Perhatian, kepedulian dan rasa sensitif Michael Jackson terhadap anak-anak yang tidak beruntung berkemungkinan sekali dilatarbelakangi oleh hilangnya dunia anak masa kecilnya sendiri, terenggut oleh kesuksesannya sendiri. Hal ini diakuinya, “Sebelum kalian menghakimuku/Cobalah betul-betul mencintaiku/Lalu, tanyalah hatimu/Adakah pernah kau lihat masa kecilku?” (Before you judge me/Try hard to love me/Look within your heart, then ask/Have you seen my childhood?) tanya Michael kepada para pengecamnya karena keeksentrikan dan tuduhan Pedophilia atas dirinya dalam lagu Childhood.
Perubahan, adalah kata ajaib yang sangat mempengaruhi hidup Michael. Transformasinya dari seorang Negro menjadi Kaukasia, apakah karena zat pemutih (skin whitening), operasi plastik, atau karena penyakit Vitiligo yang secara berangsur memutihkan kulitnya karena proses depigmentasi kulit, adalah wujud nyata bagaimana Michael menyatakan ke-diri-annya, kemanusiaannya. Bahwa, ia ingin dilihat dari sifat, karakter, dan apa yang dilakukannya untuk sesama, bukan dari warna kulit. “Wajah, darimana darahmu mengalir/ menunjukkan dimana kalian berada/aku telah lihat orang yang berkulit lebih terang malah semakin membosankan/aku tidak akan menghabiskan hidupku dengan masalah kulit ini” (Faces/where your blood comes from/is where your space is/I’ve seen the bright get duller/I’m not going to spend my life being a color), demikian Michael menyatakan keterlepasan dirinya dengan masalah ras dalam lagu Black or White.
Ajakan perubahan yang ditawarkan Michael adalah untuk merubah kondisi dunia dan manusia yang tidak peduli pada penderitaan sesama, khususnya anak-anak (Michael tentunya tidak mengajak orang untuk merubah warna kulit dan bentuk tubuh, yang ironisnya, Michael sendiri menjadi icon budaya pop seperti citra cantik itu putih, hidung mancung, dan sebagainya). Dalam lagu Man in the Mirror, Michael memberitahu bagaimana ia melakukan perubahan dengan merubah cara pandang dan introspeksi diri, seperti seseorang yang sedang berdiri menatap pantulan dirinya dalam cermin. “Aku memulainya dari orang yang ada dalam cermin ini….Jika kau ingin menjadikan dunia ini suatu tempat yang semakin baik/Lihatlah dulu dirimu sendiri, barulah terjadi perubahan “(I am starting with the man in the mirror…If you wanna make the world a better place/Take a look at yourself and then make a change).
Tema perubahan dan ajakan untuk dunia yang lebih baik dan kondisi dunia anak mendominasi dalam lirik lagu Michael. Tidak hanya sekedar lagu, perubahan dan kepedulian ia wujudkan dalam praktiknya berupa bantuan kemanusiaan (charity). Untuk menyebutkan beberapa, pada 1985, dalam usaha menggalang dana bantuan kemanusiaan bencana kelaparan Afrika, Michael menggelar
Visi kemanusiaan dan perhatian Michael pada dunia anak semakin meluas. Dalam lagu People Make The World Go Around, ia bicara tentang masalah pendidikan, kemiskinan, dan ingkungan. Coba simak ini, “Guru-guru berdemo, sekolah pun libur hari ini/Mereka menuntutkenaikan gaji tapi para petinggi tak mau bayar/Semua orang ramai bicara ekologi/Karena polusi udara yang bikin susah bernafas”(Teachers on strike, no more school today/They want more money but the board won’t pay/Everybody’s talking about ecology/The air’s polluted that it’s hard to breathe). Michael juga menyuarakan jeritan Bumi yang menangis karena hutannya digunduli, anak-anak kelaparan dan mati korban perseteruan atas nama krido agama, habitat hewan yang semakin tergusur dan punah lagu The Earth Song, “Pernahkah kalian perhatikan/Bumi menangis pantai meraung sedih?” (Did you ever stop to notice/The crying earth the weeping shore).
Sejalan dengan proses seseorang memahami kedirian manusia dan kemanusiaan, akan membawanya pada tahap yang lebih tinggi, suatu kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual adalah fitrah semua manusia, apapun agamanya. Bahwasanya manusia itu terbatas, rapuh, dan tak berkuasa. Kesadaran ini juga terlihat pada diri Michael, seperti yang ia tuangkan dalam lagu How is Life Going to Be. Di sini ia bersenandung masygul, “Kau tak
Bahkan dalam lagu lain yang tentunya membuat pemeluk agama Islam kaget dan berpikir Michael menjadi Mualaf, karena ia menyanyikan lagu Islami, Give Thanks to Allah. Di sini semakin terlihat kualitas spiritual Michael karena bait lagunya juga dalam bahasa Arab, “Berterima Kasih lah pada Allah/Bahkan Bulan dan Bintang berzikir setiap saatnya setiap hari/ Dari dulu sampai sekarang/Berpegang teguhlah pada Iman/ Jangan menyerah pada ajakan Setan….Allah adalah Ghaffur Allah adalah Rahim/ Allah lah Satu-satunya yang mencintai para Muhsinin/ Huwa Khalikhun Huwa Razikhun/ Wahuwa ala kulli shaiin Khadir,”(Give Thanks to Allah/For the Moon and the Stars prays all day full/What is and what was/Take hold of your Iman/Don’t givin to Shaitan…Allah is Ghafur Allah is Rahim/Allah is the One who loves the Muhsinin/Huwa Khalikhun Huwa Razikhun/Wahuwa ala kulli shaiin Khadir).
Akhirnya, dalam suatu perenungan, Peter Pan dalam karya J.M. Barry berkata, “Kematian adalah suatu petualangan maha hebat” (To die will be an awfully big adventure). Entah kemana seseorang setelah kematian, hanya orang itu yang tahu. Semoga Michael menemukan surga Neverland yang selalu dicarinya sewaktu hidup.
(belum diterbitkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar