Film National Treasure bisa memasuki jenjang box office tentunya karena kecipratan ketenaran novel The Da Vinci Code. Kenapa harus menggali petunjuk-petunjuk dari simbol dalam gedung-gedung arsitektur tua dan organisasi rahasia di seluruh Eropa, kalau semuanya bisa ditemukan di Washington D.C dengan rahasia pendiri-pendiri Freemason. Ironisnya, Dan Brown malah sekarang memilih lokasi sama dengan basis tema persaudaraan Free Mason dalam novel terbarunya, The Lost Symbol.
Dari segi alur cerita dan pengembangan ide, film National Treasure berada di bawah The Da Vinci Code. Lantas, bagaimana bisa novel The Lost Symbol mengungguli novel The Da Vinci Code? Kelihatannya Dan Brown tidak bisa menjadikan novel terbarunya ini selevel dengan novel The Da Vinci Code.
The Lost Symbol tidak sebegitu menyatu secara alamiah seperti dalam The Da Vinci Code. Malahan, The Lost Symbol memberi kesan yang memang menarik tapi kelihatan agak memaksa, tidak begitu diramu dengan penilitian yang berhubungan dengan temanya. Meskipun demikian, karakter Langdon yang sudah enam tahun absen dari karya sebelumnya tetap menunjukkan trademark Dan Brown. Ia tetap menghadirkan ketegangan cerita (suspense) yang membuat jantung pembaca ikut berdegup kencang, kekerasan yang mengerikan, dan teka teki yang menggoda otak penggemar Dan Brown untuk mengetahuinya secepat mungkin, kalau bisa membacanya dalam waktu dua puluh empat jam. Karena dalam novel Langdon harus berhasil memecahkan suatu misteri dalam semalam.
Novel ini dibuka dengan perjalanan ahli simbol Robert Langdon ke gedung Capitol Amerika untuk menyampaikan pidato atau ceramah. Ia mendadak ditelpon oleh asisten pribadi teman sekaligus penasihatnya, Peter Solomon yang kaya raya, yang ternyata juga anggota Mason, untuk menggantikannya. Setelah sampai di sana terlambat, ternyata Langdon tertipu. Tak ada kursi, pendengar, atau juga Peter Solomon, hanya gerombolan turis yang berkeliling tanpa menghiraukan Langdon. Dengan bingung, Langdon pun menelpon Peter tapi yang menjawab asisten pribadinya dan mengatakan bahwa sang asisten ini rupanya telah ngerjain Langdon.
Dari situ, Langdon terperangkap dalam skenario yang menakutkan. Si asisten ini, yang sebenarnya tidak ada, telah menculik Peter dan jelas sudah berusaha mendapatkan informasi yang diinginkannya dengan segala cara. Informasi ini adalah tentang misteri keberadaan portal kuno, pintu gerbang rahasia menuju dunia lain, yang diyakini berada di Washington D.C. Si penculik ini percaya jika ia menemukan portal ini ia bisa mengetahui rahasia kehidupan dan kematian yang dijaga dari generasi ke generasi oleh para pimpinan persaudaraan Mason. Tapi Peter tidak memberitahu semua rahasia ini ke si penculik ini. Jadi, Peter pun meminta Langdon untuk menemukan dan menguraikan simbol-simbol penting portal itu dalam semalam, atau ia akan dibunuh.
Ada tokoh penting lain dalam novel ini yang harus dihadapi, Katherine, saudara perempuan Peter. Dia melakukan riset sains tentang noetic/ kesadaran di sebuah labor khusus dalam gedung Capitol. Si penculik Peter, yang rupanya pernah melakukan tindak kriminal terhadap keluarga Salomon sebelumnya, melakukan kembali usahanya dengan memperalat Katherine menentang Peter dan Langdon – dan kalau tidak berhasil ia bisa membunuhnya saja.
Dalam waktu jam-jam mengerikan selanjutnya, si penculik yang sangat bersemangat ini, Langdon, CIA, keluarga Salomon, arsitek gedung Capitol, dan tokoh lainnya dalam cerita ini saling berkeliwiran di sekitar D.C, khususnya di tempat-tempat khusus sekitar gedung. Mereka saling bertemu, saling menghindar, lari dari satu ke yang lain. Langdon dan Katherine fokus pada usaha penyelamatan Peter. Pihak pemerintah berusaha menyelamatkan para pemimpin politik dari terbukanya rahasia pimpinan persaudaraan Mason. Dan sang penculik, Mal’akh, seorang laki-laki tubuh penuh tatoo, dengan keyakinannya ia bisa meraih kebebasan melalui suatu ritual kematian suci, di suatu tempat rahasia, yang ia butuhkan keberadaannya dengan pertolongan Langdon.
Dari eksposisi alur cerita awal sampai pada taraf akhir, novel The Lost Symbol ini tidak bisa menyamai kehebatan novel Dan Brown sebelumnya. The Da Vinci Code berkisar pada tema misteri yang secara literal sangat manusiawi, tapi dalam The Lost Symbol tidak begitu kelihatan. Memang tidak bisa disangkal novel ini menampilkan drama kemanusiawian antara Langdon dan teman-temannya, Katherine dan Peter, dan keberadaan portal yang esoterik dan menggelitik intelektual untuk memecahkan rahasianya. Hal ini bukannya suatu cela, tapi kelihatan bagaimana kepiawaian Dan Brown mengangakat misteri sekitar arsitektur gedung Capitol dan kepercayaan persaudaraan Mason, bersama dengan riset noetic/kesadaran yang aneh dan setengah-setengah, pengalaman di ujung kematian, dan ramuan hal-hal lainnya yang tidak berhubungan, yang kesemuanya tidak bisa menyaingi pencairan Holy Grail dalam The Da Vinci Code. Kemungkinannya, membuka rahasia persaudaraan Mason dan kejadian-kejadian mengerikan lainnya dalam novel ini tidak begitu menghebohkan seperti mengguncang dasar Kristianitas dalam Da Vinci Code. Juga karena kontroversi tema Da Vinci Code yang dipercaya lebih berupa karya non-fiksi.
Dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown terlalu menghadirkan serbuan bencana besar jika Langdon dan tokoh lainnya tidak bisa memenuhi keinginan Mal’akh sesuai rencananya. Strategi dan perencanaan ini menghendaki sesuatu yang sangat luar biasa akan terjadi, tapi konsekwensi aktual ceritanya malah menjadi anti-klimaks dan mengecewakan.
Dari tokoh si penculik, Mal’akh, yang namanya sebenarnya banyak, tergambar seperti seorang psycho. Latar belakang dan motifnya yang dibeberkan sedikit demi sedikit malah seperti seseorang yang dalam kemarahan membabi buta tidak menimbulkan empati. Memang ada beberapa celah dalam ceritanya yang menimbulkan sedikit rasa empati tapi lalu kesempatan itu begitu kecil dan berlalu cepat.
Seperti biasa, Dan Brown membuat alur cerita bergulir cepat dengan teknik twist dan turn, alur yag dipilin dan berusaha tak terduga, tapi kebanyakan malah bisa ditebak pembaca yang sudah terbiasa dengan novel thriller. Mungkin juga Dan Brown sengaja membuat struktur novel ini begitu untuk membuat pembacanya merasa lebih pintar dari pahlawan dalam novel ini, Langdon. Jika demikian, taktik ini bisa menjadi pisau bermata ganda karena pembaca bisa menebak alurnya dengan mudah dan melihat clue yang menjadi petunjuk apa yang bakal terjadi (foreshadow).
Menariknya lagi, Robert Langdon dalam novel The Lost Symbol, malah sering ditampilkan dalam peran seorang student, bukannya teacher, ahli simbol. Langdon tidak diragukan lagi sangat ahli dan berpengetahuan luas dalam hal simbol, tapi karena ia bukan anggota Mason, lebih sering menyutujui saja apa yang orang lain katakan. Pendeknya, ia tampil lebih malu-malu, lebih seperti orang kedua, tidak seperti dalam The DaVinci Code. Keruwetan teka-teki dalam cerita novel ini juga tidak terlalu memunculkan Langdon sebagai pakarnya.
Novel The Lost Symbol tentunya sangat menghibur pembacanya walaupun tidak bisa setara dengan The Da Vinci Code. Dan, kalau nanti novel ini diangkat ke layar lebar, kita bisa bandingkan dengan film National Treasure. Nicholas Cage bersanding dengan Tom Hanks.
(belum diterbitkan)
Dari segi alur cerita dan pengembangan ide, film National Treasure berada di bawah The Da Vinci Code. Lantas, bagaimana bisa novel The Lost Symbol mengungguli novel The Da Vinci Code? Kelihatannya Dan Brown tidak bisa menjadikan novel terbarunya ini selevel dengan novel The Da Vinci Code.
The Lost Symbol tidak sebegitu menyatu secara alamiah seperti dalam The Da Vinci Code. Malahan, The Lost Symbol memberi kesan yang memang menarik tapi kelihatan agak memaksa, tidak begitu diramu dengan penilitian yang berhubungan dengan temanya. Meskipun demikian, karakter Langdon yang sudah enam tahun absen dari karya sebelumnya tetap menunjukkan trademark Dan Brown. Ia tetap menghadirkan ketegangan cerita (suspense) yang membuat jantung pembaca ikut berdegup kencang, kekerasan yang mengerikan, dan teka teki yang menggoda otak penggemar Dan Brown untuk mengetahuinya secepat mungkin, kalau bisa membacanya dalam waktu dua puluh empat jam. Karena dalam novel Langdon harus berhasil memecahkan suatu misteri dalam semalam.
Novel ini dibuka dengan perjalanan ahli simbol Robert Langdon ke gedung Capitol Amerika untuk menyampaikan pidato atau ceramah. Ia mendadak ditelpon oleh asisten pribadi teman sekaligus penasihatnya, Peter Solomon yang kaya raya, yang ternyata juga anggota Mason, untuk menggantikannya. Setelah sampai di sana terlambat, ternyata Langdon tertipu. Tak ada kursi, pendengar, atau juga Peter Solomon, hanya gerombolan turis yang berkeliling tanpa menghiraukan Langdon. Dengan bingung, Langdon pun menelpon Peter tapi yang menjawab asisten pribadinya dan mengatakan bahwa sang asisten ini rupanya telah ngerjain Langdon.
Dari situ, Langdon terperangkap dalam skenario yang menakutkan. Si asisten ini, yang sebenarnya tidak ada, telah menculik Peter dan jelas sudah berusaha mendapatkan informasi yang diinginkannya dengan segala cara. Informasi ini adalah tentang misteri keberadaan portal kuno, pintu gerbang rahasia menuju dunia lain, yang diyakini berada di Washington D.C. Si penculik ini percaya jika ia menemukan portal ini ia bisa mengetahui rahasia kehidupan dan kematian yang dijaga dari generasi ke generasi oleh para pimpinan persaudaraan Mason. Tapi Peter tidak memberitahu semua rahasia ini ke si penculik ini. Jadi, Peter pun meminta Langdon untuk menemukan dan menguraikan simbol-simbol penting portal itu dalam semalam, atau ia akan dibunuh.
Ada tokoh penting lain dalam novel ini yang harus dihadapi, Katherine, saudara perempuan Peter. Dia melakukan riset sains tentang noetic/ kesadaran di sebuah labor khusus dalam gedung Capitol. Si penculik Peter, yang rupanya pernah melakukan tindak kriminal terhadap keluarga Salomon sebelumnya, melakukan kembali usahanya dengan memperalat Katherine menentang Peter dan Langdon – dan kalau tidak berhasil ia bisa membunuhnya saja.
Dalam waktu jam-jam mengerikan selanjutnya, si penculik yang sangat bersemangat ini, Langdon, CIA, keluarga Salomon, arsitek gedung Capitol, dan tokoh lainnya dalam cerita ini saling berkeliwiran di sekitar D.C, khususnya di tempat-tempat khusus sekitar gedung. Mereka saling bertemu, saling menghindar, lari dari satu ke yang lain. Langdon dan Katherine fokus pada usaha penyelamatan Peter. Pihak pemerintah berusaha menyelamatkan para pemimpin politik dari terbukanya rahasia pimpinan persaudaraan Mason. Dan sang penculik, Mal’akh, seorang laki-laki tubuh penuh tatoo, dengan keyakinannya ia bisa meraih kebebasan melalui suatu ritual kematian suci, di suatu tempat rahasia, yang ia butuhkan keberadaannya dengan pertolongan Langdon.
Dari eksposisi alur cerita awal sampai pada taraf akhir, novel The Lost Symbol ini tidak bisa menyamai kehebatan novel Dan Brown sebelumnya. The Da Vinci Code berkisar pada tema misteri yang secara literal sangat manusiawi, tapi dalam The Lost Symbol tidak begitu kelihatan. Memang tidak bisa disangkal novel ini menampilkan drama kemanusiawian antara Langdon dan teman-temannya, Katherine dan Peter, dan keberadaan portal yang esoterik dan menggelitik intelektual untuk memecahkan rahasianya. Hal ini bukannya suatu cela, tapi kelihatan bagaimana kepiawaian Dan Brown mengangakat misteri sekitar arsitektur gedung Capitol dan kepercayaan persaudaraan Mason, bersama dengan riset noetic/kesadaran yang aneh dan setengah-setengah, pengalaman di ujung kematian, dan ramuan hal-hal lainnya yang tidak berhubungan, yang kesemuanya tidak bisa menyaingi pencairan Holy Grail dalam The Da Vinci Code. Kemungkinannya, membuka rahasia persaudaraan Mason dan kejadian-kejadian mengerikan lainnya dalam novel ini tidak begitu menghebohkan seperti mengguncang dasar Kristianitas dalam Da Vinci Code. Juga karena kontroversi tema Da Vinci Code yang dipercaya lebih berupa karya non-fiksi.
Dalam novel The Lost Symbol, Dan Brown terlalu menghadirkan serbuan bencana besar jika Langdon dan tokoh lainnya tidak bisa memenuhi keinginan Mal’akh sesuai rencananya. Strategi dan perencanaan ini menghendaki sesuatu yang sangat luar biasa akan terjadi, tapi konsekwensi aktual ceritanya malah menjadi anti-klimaks dan mengecewakan.
Dari tokoh si penculik, Mal’akh, yang namanya sebenarnya banyak, tergambar seperti seorang psycho. Latar belakang dan motifnya yang dibeberkan sedikit demi sedikit malah seperti seseorang yang dalam kemarahan membabi buta tidak menimbulkan empati. Memang ada beberapa celah dalam ceritanya yang menimbulkan sedikit rasa empati tapi lalu kesempatan itu begitu kecil dan berlalu cepat.
Seperti biasa, Dan Brown membuat alur cerita bergulir cepat dengan teknik twist dan turn, alur yag dipilin dan berusaha tak terduga, tapi kebanyakan malah bisa ditebak pembaca yang sudah terbiasa dengan novel thriller. Mungkin juga Dan Brown sengaja membuat struktur novel ini begitu untuk membuat pembacanya merasa lebih pintar dari pahlawan dalam novel ini, Langdon. Jika demikian, taktik ini bisa menjadi pisau bermata ganda karena pembaca bisa menebak alurnya dengan mudah dan melihat clue yang menjadi petunjuk apa yang bakal terjadi (foreshadow).
Menariknya lagi, Robert Langdon dalam novel The Lost Symbol, malah sering ditampilkan dalam peran seorang student, bukannya teacher, ahli simbol. Langdon tidak diragukan lagi sangat ahli dan berpengetahuan luas dalam hal simbol, tapi karena ia bukan anggota Mason, lebih sering menyutujui saja apa yang orang lain katakan. Pendeknya, ia tampil lebih malu-malu, lebih seperti orang kedua, tidak seperti dalam The DaVinci Code. Keruwetan teka-teki dalam cerita novel ini juga tidak terlalu memunculkan Langdon sebagai pakarnya.
Novel The Lost Symbol tentunya sangat menghibur pembacanya walaupun tidak bisa setara dengan The Da Vinci Code. Dan, kalau nanti novel ini diangkat ke layar lebar, kita bisa bandingkan dengan film National Treasure. Nicholas Cage bersanding dengan Tom Hanks.
(belum diterbitkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar