Jumat, 22 Januari 2010

SEKSUALITAS DAN KRITIK SOSIAL Dalam Novel DH. LAWRENCE, LADY CHATTERLEY’S LOVER

Belum lama ini penerbit Alvabet mengeluarkan terjemahan novel Lady Chatterley’s Lover (untuk singkatnya ditulis LCL) karya penulis Inggris David Herbert Lawrence (1885-1930). Sebuah novel yang pada masanya menimbulkan kontroversi. Tentang seksualitas dan kritik terhadap cara dan perilaku hidup masyarakat industri modern awal abad 20. Sejauh ini tidak ada gejolak, penolakan, ataupun pemboikotan dari pihak tertentu terhadap terjemahan novel ini.

Mungkin karena khalayak pembaca kita belum banyak yang tahu bagaimana novel ini begitu menggemparkan pada masanya di Amerika dan Inggris. Bagi yang telah membaca versi bahasa Inggrisnya (tentunya yang punya kemampuan bahasa Inggris dan pengetahuan sejarah awal abad 20 yang memadai) akan menemukan “keberanian” dan “kejujuran” Lawrence mengupas dalam-dalam suatu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan, yaitu seksualitas. Penggambaran seksualnya dengan kata-kata eksplisit, blak-blakan, tapi juga dibahas dan dikupas dalam-dalam (kesulitan dan pertimbangan pilihan kata yang merujuk ke nama-nama organ seksual dalam menerjemahkan novel ini memungkinkannya untuk memperhalus padanannya). Pemakaian bahasa Inggris “posh”, berkelas dan elegan tapi juga menampilkan “accent” logat khas Inggris Midland, yang sering dianggap rendah (kesulitan dalam menerjemahkan novel ini tentunya ditemukan dalam hal logat khas Inggris ini, bahkan orang Inggris yang sudah terbiasa dengan bahasa Standart British akan sulit mengerti) . Tema yang diusung apalagi sangat memungkinkan merubah cara hidup dan struktur masyarakat. LCL adalah “novel terlarang” pada awal abad 20.

Topik “terlarang” seksualitas seperti kotak pandora. Membuka rahasia terpendam yang seringkali dibungkam oleh kekuasaan. Marquis de Sade di Perancis abad 18 harus dipenjara karena karya-karyanya yang berbau seksual. Hal yang sama juga terjadi pada penulis wanita Asia yang juga menuai pujian sekaligus kecaman. Di India peraih Man’s Booker Prize Arundhaty Roy dengan karyanya the god of small things. Di China ada Wei Hui dengan karyanya Shanghai Baby dan Chun Sue dengan Beijing Doll nya. Dan di negeri kita yang sarat dengan kompleksitas hidup dan krisis ini, novel Saman nya Ayu Utami dan Nayla nya Maesa Djenar Ayu, juga sangat berani mengeksplorasi daerah selangkangan sebagai tema atau sub-tema dalam karya mereka. Menggembirakan, sepertinya iklim keterbukaan masyarakat sekarang terhadap hal-hal yang dulunya “terlarang” sudah apresiatif pada tingkat tertentu, khususnya masyarakat urban perkotaan terdidik.

Pada awalnya usaha Lawrence menerbitkan novel ini ditolak mentah-mentah. Keberanian dan kejujurannya dalam menggambarkan bagaimana seharusnya pria dan wanita sebagai manusia berhubungan seksual dianggap mengancam tata nilai yang berlaku saat itu. Penggunaan kata-kata yang memang ada, dipakai dalam bahasa, merujuk pada organ tubuh manusia dianggap suatu kecabulan (nasty, dirty, obscene). Lawrence pun berusaha menerbitkan sendiri di Itali, dan mendapat respon yang luar biasa, malahan juga dibajak. Pada akhir 1950-an, setelah melalui sidang pengadilan, barulah karyanya dinyatakan tidak pornografis. Novelnya mendapatkan banyak pujian karena pencapaiannya menggugah kesadaran dan nilai manusiadari kebobrokan masyarakat modern. Dalam versi Perancis, novel ini dilayarlebarkan dan meraih Piala Cesar 2007 – penghargaan setara Piala Oscar Perancis, dan meraih Film Terbaik. LCL menjadi salah satu Roman Klasik yang paling berpengaruh abad 21 yang temanya masih relevan dengan keadaan masyarakat sekarang.

Dalam versi bahasa Inggrisnya, novel LCL ini diawali oleh satu paragraf yang ditulis dalam bentuk waktu Simple Present, bukan Simple Past seperti layaknya cerita dalam bahasa Inggris. Seperti menjadi nubuat, ramalan bahwa apa yang terjadi dalam novel ini pada masa itu juga terjadi di masa sekarang. “Ours is essentially a tragic age, so we refuse to take ot tragically……. We’ve got to live, no matter how many skies have fallen.” (Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolaknya dengan tragis……..Kita harus tetap hidup betapa pun langit telah runtuh). Menolak tragisnya keadaan zaman dengan cara yang tragis juga. Kehampaan hidup seorang istri bangsawan muda memberontak dengan perselingkuhan, terjun ke lautan purba seksualitas nan murni untuk memenuhi keutuhan terdalamnya sebagai manusia. Melabrak nilai dan norma yang melingkupi masyarakat kelas atas yang hipokrat. Melawan mesin industri kapitalis masyarakat modern dengan kuasa uangnya yang telah melumpuhkan sisi kemanusiaan.

LCL dilatari oleh kondisi perbedaan strata sosial dan masyarakat industri Inggris paska perang dunia pertama awal abad 20. LCL bercerita tentang ketidakbahagiaan Connie, seorang “Lady” istri bangsawan terhormat Clifford pemilik tambang batubara, seorang “Sir” dari keluarga Chatterley, pewaris takhta keluarga Wragby Hall. Kelumpuhan tubuh total dari daerah pinggang ke bawah Sir Clifford akibat perang membuatnya tidak mampu memberikan kebutuhan biologis, bahkan sentuhan rasa aman terdalam yang sangat dibutuhkan istrinya. Perselingkuhan sang Lady pun terjadi. Sangat menampar muka dingin arogansi kaum bangsawan, menggoyang sendi-sendi masyarakat aristokrat, karena selingkuhan si istri bangsawan yang memberontak ini adalah Mellor, si penjaga hutan pribadi milik Sir Clifford dari orang kebanyakan. Gugat cerai diajukan sang Lady yang telah membawa bibit bayi Mellor tapi tidak diberikan Clifford. Karena tradisi Katolik menegaskan: kalau Anda menikah, Anda menikah selamanya. Apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan lagi. Keputusan ini diterima masyarakat. Di dalamnya terdapat ikatan kuat dan ini didukung dengan rasa harga diri bangga yang tinggi oleh para bangsawan aristokrat. Akhirnya cerita berakhir dengan tidak selesai. Sang Lady dan selingkuhannya, Mellor hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Apakah si penulis, Lawrence mengimplikasikan bahwa seks melebihi ikatan suci pernikahan? Apakah ia menganjurkan perselingkuhan? Seksualitas apa yang dimaksud, apakah hanya untuk pengumbaran nafsu syahwat belaka? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang Lawrence berusaha jawab. Memang bukan jawaban yang pasti yang tergambar dalam novelnya, tapi lebih berupa pernyataan atau penegasan sikap dan pendirian dan harapan.

Pernikahan pria dan wanita tentu menghendaki terjadinya sexual intercourse: penetrasi organ penis yang ereksi ke dalam organ vagina sehingga mencapai orgasme, mengeluarkan sperma dan membuahi ovum untuk menjadi embryo cabang bayi penerus keturunan. Pernikahan Connie dan Clifford adalah nir-seks. Mereka hanya hidup untuk menjaga kestabilan, kenyamanan material dan kekuasaan bangsawan aristokrat. Memang berlangsung percakapan intelektual antara mereka berdua yang menandai kesamaan kalau boleh dibilang cinta. Sebagai wanita yang berkehendak memenuhi dirinya seutuhnya, Connie sadar ia tidak bisa hidup hanya dari hubungan pikiran intelektual kering dan kenyamanan material tapi ia juga harus hidup secara fisik. Ketidakbahagiaan dan kekosongan inilah yang terjadi pada dirinya, yang terpenuhi dengan perselingkuhannya dengan Oliver Mellor.Ada yang bergaung di dalam diri Connie. Beri aku kebangkitan tubuh! Demokrasi sentuhan” (hal.199) begitu Connie menjerit dari dalam dirinya, mengawali pemberontakannya. Dari Mellor lah, Connie mempelajari bahwa seks bukan sesuatu yang memalukan dan rendah. Dari beberapa kali perselingkuhannya, Connie sampai pada suatu kesadaran akan arti seks yang lebih berarti dan menyeluruh. Seks adalah pembersihan dan pembebasan kemanusiaan dari dominasi intelek, rasional kering masyarakat modern. “Sayang sekali karena pria sensual itu sangat jarang ditemukan! Sayang sekali kebanyakan pria itu bodoh, memalukan. Seperti Clifford! Ataupun Michaelis! Keduanya memalukan. Kenikmatan puncak dari akal! Apa gunanya hal itu bagi wanita?” (hal.475) Demikian Connie mengungkapkan ini.

Penggambaran fisik dan karakter Cilfford kelihatan lebih simbolis daripada ril. Kelumpuhan Clifford dari pinggang ke bawah menyiratkan impotensi masyarakat industri atau masyarakat yang terindustrialisasi oleh mesin kapitalis jahatnya uang. Mereka tidak bisa lagi berhubungan seks dengan semestinya. Kalaupun mereka berhubungan seks, hanya sekedar coitus, sexual intercourse, bukannya making love, tidak lebih dari suatu mesin pencetak bayi untuk melanjutkan keturunan. Dari pinggang ke kepala lah kehebatan Clifford. Kepiawaiannya dalam mengelola bisnis tambang batubara dan percakapan intelektual keringnya memperlihatkan cara pandang dan sikap masyarakat modern. Sebagai pelarian Clifford atas ketidakberdayaannya dalam hal seksual, ia betul-betul pandai memamfaatkan kuasanya sebagai juragan tambang batubara dan hak privilege- nya sebagai kalangan aristokrat.

Mellor adalah representasi ide Lawrence yang muak dengan segala kemunafikan hidup dan dampak cara pandang dan sikap hidup masyarakat modern. Mellor adalah veteran tentara dengan berbagai pengalaman hidup, berpengetahuan luas, yang mengundurkan diri dari peradaban modern yang edan walaupun ia sebenarnya bisa ikut berperan di dalamnya. Ia memilih bekerja sebagai penjaga hutan pribadi milik Clifford dan tinggal di dalam hutan itu di sebuah pondok sederhana. Hutan adalah pelariannya. Hidup menyendiri dan tidak peduli dengan dunia luar. Kegagalannya berkeluarga dengan Bertha Coutts membuatnya takut berhubungan dengan wanita. Mellor adalah perpaduan sensitifitas perasaan dan kekuatan tersembunyi seorang pria matang. Kesendirian yang ia rasakan sama dengan yang dirasakan Connie. Dari beberapa kali perselingkuhan yang mereka lakukan di dalam pondok di hutan, mereka sampai pada pengalaman dan pengetahuan bahwa yang meeka lakukan bukan sekadar pemenuhan nafsu syahwat tapi adalah kegairahan hidup penuh: kohesi tubuh, emosi dan pikiran. “Nay nay! Bersetubuh hanya kegiatannya. Binatang juga bersetubuh. Tetapi “itu” lebih lagi. Itulah yang membuatmu cantik, sayang!” (hal.366), Mellor menjelaskan hal ini dengan pada suatu peselingkuhannya. Seksualitas inilah yang dimaksud oleh Lawrence. Bagaimana pria dan wanita mampu memikirkan, mengalami seks secara penuh dan jujur. Bukan seksualitas yang mekanis. Bukan seksualitas atau pun perselingkuhan murahan yang memang pada awal abad 20 sedang melanda Eropa dan Amerika, seperti yang dikenal dengan nama “the lost generation” atau “the jazz age” dalam karya F. Scott Fitzgerald.

Walaupun seksualitas yang menjadi topik novel ini, sebenarnya Lawrence membidik dampak industrialisasi kapitalis terhadap individu, masyarakat dan lingkungan lah sasarannya. Malah dari awal cerita, pembaca akan deengan mudah mengetahui bagaimana industrialisasi merusak alam lingkungan. Melalui karakter Connie, Lawrence menuturkan kerusakan yang diakibatkan oleh cara hidup baru masyarakat modern. Perubahan Inggris agraris menjadi Inggris Industri. Ekspoitasi alam demi keuntungan uang yang didapatkan para juragan bangsawan dan keletihan lesu para pekerja tambang yang membuat mereka tidak tahu lagi caranya bersetubuh. Dalam suatu perjalanan, Connie merenungi ini apa yang tengah terjadi dengan Inggris, “tempat ini menghasilkan ras baru manusia, yang terlalu peduli pada uang dan hal-hal yang berbau politik dan sosial, sedangkan sisi intuitif spontan mereka mati, mati sama sekali” (hal.325).

Kalau Connie dan Mellor berselingkuh untuk menghindari hiruk pikuk kegilaan masyarakat industri modern. Ironisnya, seksualitas dan perselingkuhan apa yang ditawarkan oleh masyarakat di era informasi super-modern sekarang? Kelihatannya sih seksualitas untuk komoditas industri dan uang.

(diterbitkan di lampung post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar