India dari zaman Mahabharata sampai zaman Internet selalu mengundang decak kagum. India ratusan tahun sebelum masehi sudah menjadi oase spiritual yang melahirkan tokoh agama, kitab dan tradisi sastra lisan sumber kebijakan hidup. Bahkan, Iskandar Zulkarnaen atau Kaisar Alexander sang Penguasa Roma yang diceritakan dalam Kitab Suci Al Qur’an sendiri pun tertarik mencari air suci keabadian sampai ke India. Diikuti nantinya oleh orang-orang Eropa yang mencari eksotika Dunia Timur, yang berujung dengan kolonialisasi.
India semenjak kemerdekaannya dari Inggris 1947 menjadi kisah sukses. Dulu, dari status negara miskin dengan populasi penduduk yang begitu luar biasa sekarang menjadi pemain utama perekonomian dunia, a new world power , yang bergandengan dengan China. Dulu, orang Eropa memasuki India, sekarang orang India bangkit dan keluar menunjukkan kemajuan yang mereka peroleh.
Bagaimana India bisa sedahsyat ini? Dunia pendidikan menjadi penentu penting keberhasilan India. India mencetak tenaga ahli terampil di berbagai bidang. Ratusan industri bidang informasi bermunculan di India yang dikenal dengan Silicon Valley of India, kawasan industri teknologi informatika seperti yang dikembangkan Bill Gates di California, menyerap ratusan ribu karyawan. Industri otomotif India melejit dan kompetitif secara global. Bisnis layanan jasa (outsourcing business) menyediakan tenaga kerja murah tapi handal di bidangnya serta mampu berbahasa Inggris menghadapi gelombang globalisasi. Industri film Bollywood apalagi, yang kini telah memasuki jalur perdagangan tingkat dunia. India sukses dalam perbankan, asuransi, barang konsumsi, mesin, telekomunikasi, tekstil, teknologi informasi dan lainnya.
Penentu lainnya adalah liberalisasi ekonomi dan alam demokrasi India awal 1990-an. Kebebasan mengeluarkan pendapat, media massa, teknologi komunikasi, hak asasi manusia, dan persamaan hak adalah aspek penentu kesuksesan India. Satu hal lain yang pasti, India mengalami kebangkitan sastranya. Penghargaan sastra internasional seperti Man Booker Prize diraih penulis-penulis India seperti Salman Rushdie (The Midnight Children), Anita Desai (Fasting, Feasting), Arundhati Roy (the gods of small things), Kiran Desai (Inheritence of Lost), Aravind Avida (The White Tiger), Jhumpa Lahiri yang meraih Pulitzer Prize dan Hemingway Award (Namesake dan Interpreter of Maladies), Vikas Swarup (Q & A, novel yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Danny Boyle, Slumdog Millionare dan meraih 8 penghargaan Academy Award), Divakaruni, Banarjee, dan banyak lainnya.
Ada empat aspek penting yang membuat sastra India bangkit dan malahan telah go-international dan mendapat pengakuan dunia. Pertama, secara sosio-geografis, alam India yang rentan dengan bencana alam, menjadi suatu berkah kekuatan tersembunyi. Masyarakat India dalam menghadapi segala bencana alam melahirkan suatu sikap, cara pandang dan filsafat hidup yang tahan banting. Mereka tetap bertahan meski dihantam begitu banyak bencana alam. Hal inilah yang tergambar dalam karya sastra mereka yang berkesan memperlihatkan kebijaksanaan Timur, kepedihan, duka, dan bahasa yang sendu liris. Ditambah lagi dengan kompleksitas masyarakatnya yang berlatar belakang perbedaan kelas, multikultur dan bahasa, etnis dan agama. Semua ini menjadi bahan, kekayaan topik yang diangkat dalam karya sastra India, seperti terlihat dalam karya-karya Rabindranath Tagore, yang meraih Penghargaan Nobel Sastra pada 1913.
Aspek kedua adalah dampak kolonialisasi dan pengaruh kebudayaan Eropa, khususnya Inggris, yang meninggalkan warisan pendidikan ala Barat dan bahasa Inggris. Masyarakat India yang multi-lingual berbaur dengan bahasa Inggris yang hampir digunakan di semua sekolah, pendidikan profesi dan pendidikan tinggi. Kekayaan imajinasi dunia Timur India, mitos, tradisi sastra lisan India bercampur dengan tradisi pendidikan Barat dengan memperkenalkan Sastra Eropa yang diajarkan lewat pendidikan. Perbauran budaya Barat dan Timur ini menjadi lahan yang begitu luas untuk dijadikan bahan dalam karya sastra India.
Keseriusan India dalam dunia pendidikan dan perbukuan sebagai tanda kehausan mereka terhadap pengetahuan adalah aspek yang sangat penting atas kebangkitan dunia sastra dan intelektual India. Tercatat 70.000 judul buku diproduksi setiap tahun dan 40 persennya berbahasa Inggris. Karya-karya klasik dari berbagai bahasa lokal diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan juga sebaliknya. Dengan semakin terbukanya investor asing, penerbit-penerbit besar luar muncul di India seperti Penguin Books, Harper Collins, Random House, Oxford, MacMillan dan lainnya. Malahan, India sudah dua kali jadi tamu kehormatan (Guest of Honour Country) 1986 dan 2006 di pameran buku internasional Frankfurt Book Fair. Bisa dikatakan India berhasil melalui tahap-tahap masyarakat informatif seperti yang diteorikan Alfin Toffler; masyarakat agraris berkembang menjadi industri, didukung dengan pengetahuan dan tradisi baca tulis, yang menjadi prasyarat keberhasilan masyarakat informatif.
Aspek keempat adalah fenomena diaspora masyarakat India ke berbagai belahan dunia. Sebagai perantau, masyarakat India menghadapi masalah yang lebih kompleks merentang dari masalah lokal, regional dan global. V.S. Naipaul, perantau India yang lahir di Trinidad kemudian menjadi warga negara Inggris kebanyakan banyak membahas topik ini dalam karya-karyanya. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra pada 2001. Empat aspek inilah: alam India dengan kerentanan akan bencana alam serta kekayaan materi yang ada dalam kompleksitas masyarakat India, percampuran warisan India dan kebudayaan Barat, dukungan fasilitas pendidikan dan penyebaran buku dan diaspora masyarakat India menjadi bahan topik, pemicu kebangkitan sastra India dan India sendiri dengan permasalahannya.
PARADOKS INDIA DALAM SASTRA
Kisah sukses India dibarengi dengan sisi berseberangan yang sama benarnya, yang tergambar dalam karya sastra mereka. Karya sastra, sebagai refleksi keadaan suatu masyarakat tentu mengandung kebenaran tersendiri. Karenanya India menjadi paradoks; di satu sisi menggambarkan keberhasilan pembangunan perekonomian, di satu sisi lainnya memperlihatkan kegagalan yang parah, merambah ke segala sisi kehidupan masyarakat India.
Arundhaty Roy, novelis dan aktifis peraih penghargaan sastra bergengsi Inggris dan negara persemakmuran The Man Booker Prize 1997, dalam eseinya Shall We Leave It To The Experts? mengungkapkan paradoks India yang hidup dalam bermacam-macam zaman yang membingungkan pada saat yang sama. India berhasil dalam kemajuan berbagai sektor pembangunan tapi juga mundur jauh ke belakang. Dalam dua esei panjangnya The Cost of Living, ia menantang dua ilusi kemajuan besar di India: proyek bendungan massal dan proyek bom pertama India dengan biaya tak terkira yang menelantarkan masyarakat papa pinggiran. Di sini terlihat bagaimana Arundhaty Roy membongkar kedok demokrasi, kemajuan dan kesejahteraan yang didengung-dengungkan mencabik-cabik wajah India, di mana hidup masyarakat banyak dikorbankan demi kesejateraan segelintir orang. Dalam the gods of small things, Arundhati Roy dengan bahasanya yang begitu indah menghujam dalam tapi juga akrobatik, dimana ia mempermainkan tata bahasa Inggris, merefleksikan carut marut masyarakat India dalam suatu keluarga. Tema kisah cinta antar kasta, warisan kolonial Inggris, benturan ideologi politik, dihadirkan dalam suatu plot cerita yang melingkar seperti spiral.
Kontradiksi ekonomi, kepincangan sosial, dan kebencian etnis dan agama digambarkan oleh Vikas Swarup dalam Q & A (Question and Answer). Dengan nada humor, Vikas Swarup yang adalah Diplomat yang telah bertugas ke berbagai negeri, mengejek kemajuan India yang sangat mengagung-agungkan pembangunanisme. Proyek pemberantasan kemiskinan didampingkan dengan fenomena anak-anak gelandangan yang tinggal di perkampungan kumuh. Novel ini dengan sangat sukses diangkat ke layar lebar menjadi Slumdog Millionare. Peraih Man Booker Prize 2008, Aravind Avida dalam novelnya The White Tiger, mengangkat masalah pendidikan yang terlunta, kemiskinan, perbedaan kasta, dan kesempatan setiap orang untuk sukses. Novel ini juga menghubungkan India dengan China sebagai teman gandengan dalam memposisikan diri sebagai pemain utama dunia baru. Anita Desai yang juga pernah meraih penghargaan Man Boker Prize menyuarakan perjuangan persamaan hak wanita India kelas menengah dalam novelnya In Guardian dan Fasting, Feasting.
SASTRA DIASPORA INDIA
Dalam rangka promosi novel terbaru Salman Rushdie, The Enchanters of Florence, ia menggunakan fasilitas teknologi informasi mutakhir internet, Google Tour Marathon. Dalam bincang-bincangnya, ia menjelaskan fenomena orang-orang India yang merantau ke luar negeri. Masalah identitas sebagai India, agama dan budaya yang tercerabut sebagai konsekwensi dari merantau, ketika harus menyesuaikan diri di negeri rantau baru. Migrasi orang-orang India ini mengharuskan mereka berhadapan dengan Budaya Barat sehingga mereka harus me-redefenisikan diri mereka menjadi individu baru, bahkan dengan cara yang radikal. Inilah yang menjadi tema sentral novel The Satanic Verses, yang secara penokohan, Salman Rushdie menampilkan Nabi dalam agama Islam yang membuatnya dianggap menyerang, melecehkan, memutarbalikkan kehidupan Nabi yang dipuja orang Islam sedunia tersebut. Dalam nada yang sama, Jhumpa Lahiri, wanita dengan tiga gelar Master Sastra Inggrisnya juga menggambarkan fenomena ini dalam novelnya Namesake dan kumpulan cerpen Interpreter of Maladies. Kiran Desai dalam Inheritence of Lose juga menggambarkan dua sisi berseberangan, bahkan dengan tema lokal, romantika warisan kolonial, politik, dan global perantau India di Eropa dan Amerika.
Menyebarnya orang-orang India ke negara Eropa dan Amerika adalah satu sisi keberhasilan India, karena faktor pendidikan dan tingginya keinginan penguasaan pengetahuan, keterampilan bahasa Inggris, penguasan teknologi informatika, dan kesiapan menghadapi arus globalisasi. Dengan kompleksitas masalah sosial ekonomi dan multi-kultur India, dan sekarang juga sedang berhadapan dengan suatu dunia baru tak bertepi dalam terpaan arus teknologi informatika, liberalisasi, dan globalisasi, semua ini menjadi bahan tak habis-habis yang diangkat oleh para intelektual dan penulis India. Keberhasilan India diberbagai bidang tidak hanya mereka terima dengan rasa bangga dan puas diri, tapi mereka melihat kembali, apa sebenarnya yang terjadi, dengan suatu refkeksi diri terus menerus yang tertuang dalam karya sastra mereka, dan mereka mendapatkan pengakuan dari dunia.
Acha, acha, India yang bangkit. Akh, negeriku,,. Kita bakal banyak belajar dari India, terutama pendidikan dan bahasa Inggris. Globalisasi bahasa Inggris sepertinya tidak bisa dihindari.
(belum diterbitkan)
India semenjak kemerdekaannya dari Inggris 1947 menjadi kisah sukses. Dulu, dari status negara miskin dengan populasi penduduk yang begitu luar biasa sekarang menjadi pemain utama perekonomian dunia, a new world power , yang bergandengan dengan China. Dulu, orang Eropa memasuki India, sekarang orang India bangkit dan keluar menunjukkan kemajuan yang mereka peroleh.
Bagaimana India bisa sedahsyat ini? Dunia pendidikan menjadi penentu penting keberhasilan India. India mencetak tenaga ahli terampil di berbagai bidang. Ratusan industri bidang informasi bermunculan di India yang dikenal dengan Silicon Valley of India, kawasan industri teknologi informatika seperti yang dikembangkan Bill Gates di California, menyerap ratusan ribu karyawan. Industri otomotif India melejit dan kompetitif secara global. Bisnis layanan jasa (outsourcing business) menyediakan tenaga kerja murah tapi handal di bidangnya serta mampu berbahasa Inggris menghadapi gelombang globalisasi. Industri film Bollywood apalagi, yang kini telah memasuki jalur perdagangan tingkat dunia. India sukses dalam perbankan, asuransi, barang konsumsi, mesin, telekomunikasi, tekstil, teknologi informasi dan lainnya.
Penentu lainnya adalah liberalisasi ekonomi dan alam demokrasi India awal 1990-an. Kebebasan mengeluarkan pendapat, media massa, teknologi komunikasi, hak asasi manusia, dan persamaan hak adalah aspek penentu kesuksesan India. Satu hal lain yang pasti, India mengalami kebangkitan sastranya. Penghargaan sastra internasional seperti Man Booker Prize diraih penulis-penulis India seperti Salman Rushdie (The Midnight Children), Anita Desai (Fasting, Feasting), Arundhati Roy (the gods of small things), Kiran Desai (Inheritence of Lost), Aravind Avida (The White Tiger), Jhumpa Lahiri yang meraih Pulitzer Prize dan Hemingway Award (Namesake dan Interpreter of Maladies), Vikas Swarup (Q & A, novel yang diangkat ke layar lebar oleh sutradara Danny Boyle, Slumdog Millionare dan meraih 8 penghargaan Academy Award), Divakaruni, Banarjee, dan banyak lainnya.
Ada empat aspek penting yang membuat sastra India bangkit dan malahan telah go-international dan mendapat pengakuan dunia. Pertama, secara sosio-geografis, alam India yang rentan dengan bencana alam, menjadi suatu berkah kekuatan tersembunyi. Masyarakat India dalam menghadapi segala bencana alam melahirkan suatu sikap, cara pandang dan filsafat hidup yang tahan banting. Mereka tetap bertahan meski dihantam begitu banyak bencana alam. Hal inilah yang tergambar dalam karya sastra mereka yang berkesan memperlihatkan kebijaksanaan Timur, kepedihan, duka, dan bahasa yang sendu liris. Ditambah lagi dengan kompleksitas masyarakatnya yang berlatar belakang perbedaan kelas, multikultur dan bahasa, etnis dan agama. Semua ini menjadi bahan, kekayaan topik yang diangkat dalam karya sastra India, seperti terlihat dalam karya-karya Rabindranath Tagore, yang meraih Penghargaan Nobel Sastra pada 1913.
Aspek kedua adalah dampak kolonialisasi dan pengaruh kebudayaan Eropa, khususnya Inggris, yang meninggalkan warisan pendidikan ala Barat dan bahasa Inggris. Masyarakat India yang multi-lingual berbaur dengan bahasa Inggris yang hampir digunakan di semua sekolah, pendidikan profesi dan pendidikan tinggi. Kekayaan imajinasi dunia Timur India, mitos, tradisi sastra lisan India bercampur dengan tradisi pendidikan Barat dengan memperkenalkan Sastra Eropa yang diajarkan lewat pendidikan. Perbauran budaya Barat dan Timur ini menjadi lahan yang begitu luas untuk dijadikan bahan dalam karya sastra India.
Keseriusan India dalam dunia pendidikan dan perbukuan sebagai tanda kehausan mereka terhadap pengetahuan adalah aspek yang sangat penting atas kebangkitan dunia sastra dan intelektual India. Tercatat 70.000 judul buku diproduksi setiap tahun dan 40 persennya berbahasa Inggris. Karya-karya klasik dari berbagai bahasa lokal diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan juga sebaliknya. Dengan semakin terbukanya investor asing, penerbit-penerbit besar luar muncul di India seperti Penguin Books, Harper Collins, Random House, Oxford, MacMillan dan lainnya. Malahan, India sudah dua kali jadi tamu kehormatan (Guest of Honour Country) 1986 dan 2006 di pameran buku internasional Frankfurt Book Fair. Bisa dikatakan India berhasil melalui tahap-tahap masyarakat informatif seperti yang diteorikan Alfin Toffler; masyarakat agraris berkembang menjadi industri, didukung dengan pengetahuan dan tradisi baca tulis, yang menjadi prasyarat keberhasilan masyarakat informatif.
Aspek keempat adalah fenomena diaspora masyarakat India ke berbagai belahan dunia. Sebagai perantau, masyarakat India menghadapi masalah yang lebih kompleks merentang dari masalah lokal, regional dan global. V.S. Naipaul, perantau India yang lahir di Trinidad kemudian menjadi warga negara Inggris kebanyakan banyak membahas topik ini dalam karya-karyanya. Ia meraih penghargaan Nobel Sastra pada 2001. Empat aspek inilah: alam India dengan kerentanan akan bencana alam serta kekayaan materi yang ada dalam kompleksitas masyarakat India, percampuran warisan India dan kebudayaan Barat, dukungan fasilitas pendidikan dan penyebaran buku dan diaspora masyarakat India menjadi bahan topik, pemicu kebangkitan sastra India dan India sendiri dengan permasalahannya.
PARADOKS INDIA DALAM SASTRA
Kisah sukses India dibarengi dengan sisi berseberangan yang sama benarnya, yang tergambar dalam karya sastra mereka. Karya sastra, sebagai refleksi keadaan suatu masyarakat tentu mengandung kebenaran tersendiri. Karenanya India menjadi paradoks; di satu sisi menggambarkan keberhasilan pembangunan perekonomian, di satu sisi lainnya memperlihatkan kegagalan yang parah, merambah ke segala sisi kehidupan masyarakat India.
Arundhaty Roy, novelis dan aktifis peraih penghargaan sastra bergengsi Inggris dan negara persemakmuran The Man Booker Prize 1997, dalam eseinya Shall We Leave It To The Experts? mengungkapkan paradoks India yang hidup dalam bermacam-macam zaman yang membingungkan pada saat yang sama. India berhasil dalam kemajuan berbagai sektor pembangunan tapi juga mundur jauh ke belakang. Dalam dua esei panjangnya The Cost of Living, ia menantang dua ilusi kemajuan besar di India: proyek bendungan massal dan proyek bom pertama India dengan biaya tak terkira yang menelantarkan masyarakat papa pinggiran. Di sini terlihat bagaimana Arundhaty Roy membongkar kedok demokrasi, kemajuan dan kesejahteraan yang didengung-dengungkan mencabik-cabik wajah India, di mana hidup masyarakat banyak dikorbankan demi kesejateraan segelintir orang. Dalam the gods of small things, Arundhati Roy dengan bahasanya yang begitu indah menghujam dalam tapi juga akrobatik, dimana ia mempermainkan tata bahasa Inggris, merefleksikan carut marut masyarakat India dalam suatu keluarga. Tema kisah cinta antar kasta, warisan kolonial Inggris, benturan ideologi politik, dihadirkan dalam suatu plot cerita yang melingkar seperti spiral.
Kontradiksi ekonomi, kepincangan sosial, dan kebencian etnis dan agama digambarkan oleh Vikas Swarup dalam Q & A (Question and Answer). Dengan nada humor, Vikas Swarup yang adalah Diplomat yang telah bertugas ke berbagai negeri, mengejek kemajuan India yang sangat mengagung-agungkan pembangunanisme. Proyek pemberantasan kemiskinan didampingkan dengan fenomena anak-anak gelandangan yang tinggal di perkampungan kumuh. Novel ini dengan sangat sukses diangkat ke layar lebar menjadi Slumdog Millionare. Peraih Man Booker Prize 2008, Aravind Avida dalam novelnya The White Tiger, mengangkat masalah pendidikan yang terlunta, kemiskinan, perbedaan kasta, dan kesempatan setiap orang untuk sukses. Novel ini juga menghubungkan India dengan China sebagai teman gandengan dalam memposisikan diri sebagai pemain utama dunia baru. Anita Desai yang juga pernah meraih penghargaan Man Boker Prize menyuarakan perjuangan persamaan hak wanita India kelas menengah dalam novelnya In Guardian dan Fasting, Feasting.
SASTRA DIASPORA INDIA
Dalam rangka promosi novel terbaru Salman Rushdie, The Enchanters of Florence, ia menggunakan fasilitas teknologi informasi mutakhir internet, Google Tour Marathon. Dalam bincang-bincangnya, ia menjelaskan fenomena orang-orang India yang merantau ke luar negeri. Masalah identitas sebagai India, agama dan budaya yang tercerabut sebagai konsekwensi dari merantau, ketika harus menyesuaikan diri di negeri rantau baru. Migrasi orang-orang India ini mengharuskan mereka berhadapan dengan Budaya Barat sehingga mereka harus me-redefenisikan diri mereka menjadi individu baru, bahkan dengan cara yang radikal. Inilah yang menjadi tema sentral novel The Satanic Verses, yang secara penokohan, Salman Rushdie menampilkan Nabi dalam agama Islam yang membuatnya dianggap menyerang, melecehkan, memutarbalikkan kehidupan Nabi yang dipuja orang Islam sedunia tersebut. Dalam nada yang sama, Jhumpa Lahiri, wanita dengan tiga gelar Master Sastra Inggrisnya juga menggambarkan fenomena ini dalam novelnya Namesake dan kumpulan cerpen Interpreter of Maladies. Kiran Desai dalam Inheritence of Lose juga menggambarkan dua sisi berseberangan, bahkan dengan tema lokal, romantika warisan kolonial, politik, dan global perantau India di Eropa dan Amerika.
Menyebarnya orang-orang India ke negara Eropa dan Amerika adalah satu sisi keberhasilan India, karena faktor pendidikan dan tingginya keinginan penguasaan pengetahuan, keterampilan bahasa Inggris, penguasan teknologi informatika, dan kesiapan menghadapi arus globalisasi. Dengan kompleksitas masalah sosial ekonomi dan multi-kultur India, dan sekarang juga sedang berhadapan dengan suatu dunia baru tak bertepi dalam terpaan arus teknologi informatika, liberalisasi, dan globalisasi, semua ini menjadi bahan tak habis-habis yang diangkat oleh para intelektual dan penulis India. Keberhasilan India diberbagai bidang tidak hanya mereka terima dengan rasa bangga dan puas diri, tapi mereka melihat kembali, apa sebenarnya yang terjadi, dengan suatu refkeksi diri terus menerus yang tertuang dalam karya sastra mereka, dan mereka mendapatkan pengakuan dari dunia.
Acha, acha, India yang bangkit. Akh, negeriku,,. Kita bakal banyak belajar dari India, terutama pendidikan dan bahasa Inggris. Globalisasi bahasa Inggris sepertinya tidak bisa dihindari.
(belum diterbitkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar